Konspirasi Cinta

Konspirasi Cinta
Tidak kunjung kembali


__ADS_3

Austin yang beberapa saat lalu merasa sangat marah ketika ditegur oleh perawat dan ingin menemui siapa yang menyuruh, seketika merasa bersalah begitu melihat orang tua dari sahabatnya yang ternyata merasa terganggu.


Ia seketika berjalan mendekat dan mengungkapkan permohonan maafnya dengan tulus. Berharap pasangan suami istri tersebut mau memaafkan perbuatannya yang tadi dipenuhi oleh amarah.


"Saya tadi sebenarnya mengalami masalah, sehingga tidak bisa mengendalikan diri saat berbicara di telepon. Jadi, sekali lagi tolong maafkan saya, Om, Tante. Kalian masih ingat dengan saya, kan? Austin Matteo," ucapnya yang saat ini menunjuk pada diri sendiri.


Ia bahkan sebelumnya sudah mencium tangan pasangan suami istri tersebut agar tidak terus marah padanya. Hingga senyuman terbit dari pria paruh baya di atas ranjang yang dulu sangat menyukainya dan berharap bisa menjadi menantu di keluarga mereka.


"Aaah ... jadi tadi suaramu yang sangat berisik itu dan membuatku tidak bisa tidur? Austin Matteo, ternyata semakin tua kok malah terlihat semakin gagah." Samsudin Permadi saat ini menepuk lengan kekar pria yang pernah sangat diharapkannya menikahi putrinya.


Namun, alasan klise yang diungkapkan oleh pria itu ketika menolak putrinya, membuatnya sangat kecewa, tapi tidak bisa berbuat apa-apa karena hubungan yang berdasarkan atas pemaksaan juga tidaklah baik untuk putrinya yang memilih bekerja di luar negeri.


Meskipun ia tahu jika putrinya ingin melarikan diri dari kenyataan pahit yang dialami karena cintanya ditolak dan juga tidak ingin bertemu sosok pria yang tak lain adalah sahabat baiknya semenjak kuliah.


"Om bisa saja. Maaf karena membuat Om tadi tidak bisa tidur," ucap Austin yang tidak pernah bosan mengungkapkan penyesalannya agar pria paruh baya tersebut mau memaafkannya.


Hingga ia pun seketika meringis menahan rasa nyeri pada pinggangnya karena dicubit cukup kuat oleh wanita paruh baya yang saat ini mengungkapkan kekesalan padanya.


"Oh ... jadi ini yang membuat putriku patah hati dan memilih kabur meninggalkan orang tuanya?" rengut Arini Puspita yang saat ini meluapkan kekesalannya karena dari dulu tidak pernah bertemu dengan Austin semenjak lulus kuliah.


Ia tadinya sama sekali tidak mengetahui jika putrinya sudah tidak berhubungan lagi dengan Austin Matteo, hingga menyadari setelah memilih untuk bekerja di luar negeri dan saat dilarang karena merupakan putri satu-satunya, malah mencurahkan perasaan dengan menceritakan semuanya.


Dengan alasan agar bisa move on dari pria itu yang telah menolak cintanya, sehingga keinginan untuk bekerja di luar negeri agar tidak pernah bisa bertemu dengan sahabatnya tersebut.


Mau tidak mau, ia dan sang suami akhirnya terpaksa mengizinkan dengan satu syarat harus kembali setelah sukses. Namun, sudah beberapa tahun berlalu, putrinya tetap tidak mau stay di Indonesia hingga sekarang mau pulang karena sang ayah mengalami serangan jantung.


"Ampun, Tante. Saya tidak bermaksud untuk melakukan itu pada Leony. Saya ingin terus berhubungan baik dengan keluarga kalian dan juga Leony. Jika menjalin hubungan dan putus di tengah jalan, bukankah akan semakin membuat kita tidak akan bisa berhubungan baik lagi?" Masih berusaha membela diri dan tidak ingin disalahkan sepenuhnya, ia berharap wanita paruh baya tersebut mengerti.


Padahal yang sesungguhnya adalah ia tidak ingin dipaksa siapapun untuk menerima cinta seorang wanita jika tidak menginginkannya. Apalagi sangat menghormati sahabatnya dan tidak ingin menyakiti perasaan wanita itu yang sudah dianggap seperti saudara sendiri.


Ia bahkan melirik ke arah Leony agar menghentikan ulasan ibu yang masih belum melepaskan cubitan pada pinggangnya dan membuatnya meringis kesakitan.


Sementara itu, saat ini hanya tertawa terbahak-bahak karena tidak berniat untuk membantu sahabatnya. Ia sengaja melakukannya karena ingin membalas dendam saat masih merasakan kecewa ketika pria itu menolaknya untuk menjalin hubungan lebih dari seorang teman.


"Nikmati saja, Austin. Jarang-jarang kan kamu mendapatkan hadiah dari Mamaku," ucapnya dengan mengejek sosok pria yang saat ini terlihat sangat mengenaskan karena sudah meringis menahan rasa nyeri saat dicubit sang ibu.


Austin saat ini masih berusaha untuk menghindar agar tidak semakin merasakan cubitan cukup kuat dari wanita paruh baya yang seperti sangat dendam padanya.


"Ternyata aku salah menganggapmu teman karena tidak mau membantu," sindirnya pada Leony yang saat ini malah terlihat santai duduk di kursi sebelah ranjang perawatan sang ayah.


Hingga ia merasa terbebas dari kesakitan kala wanita paruh baya tersebut melepaskan cubitannya yang sangat kuat dan mungkin sudah meninggalkan bekas di pinggangnya.


Ia khawatir jika sang istri bertanya padanya dari mana mendapatkannya. Apalagi mengetahui jika saat ini wanita yang sudah pulih dari amnesia itu lebih sering cemburu padanya jika dekat dengan seorang wanita.


Jadi, khawatir akan terjadi kesalahpahaman dan membuat sang istri marah. "Saya harus kembali ke ruangan istri saya, Om, Tante. Tadi saya keluar dengan alasan ingin berbicara dengan dokter, tapi sampai lupa jika terlalu lama meninggalkannya."

__ADS_1


Merasa sangat khawatir karena sang istri sendirian di ruang perawatan, ia ingin buru-buru pergi mengecek wanita yang sangat dicintainya tersebut.


"Wah ... jadi kamu benar-benar sudah menikah setelah menolak putriku?" ucap Arini Puspita yang merasa sangat puas bisa meluapkan seluruh amarahnya yang selama ini dipendam karena merindukan putrinya.


Ia bahkan menatap kesalahan pada sahabat dari putrinya tersebut karena dengan percaya diri membahas mengenai sang istri dan membuatnya melirik sekilas ke arah putrinya.


Meskipun saat ini putrinya bersikap biasa dan tidak seperti layaknya orang yang pernah mencintai, tetap saja merasa yakin jika putrinya diam-diam juga merasa kecewa serta sakit hati mengetahui kenyataan itu.


"Sudah, Ma. Dia pasti saat ini sedang serba salah karena bingung menghadapi Mama. Dia hanya berbicara jujur dan itu jauh lebih baik daripada membohongiku dan mau menerima aku karena kasihan." Leony ini mengibaskan tangannya pada Austin.


"Cepat pergi sana dan temui istrimu! Nanti istrimu menangis mencari," sindirnya ya saat ini beralih menatap ke arah sang ayah. "Bagaimana perasaan, Papa? Sekarang jauh lebih baik, kan?"


Samsudin yang tadinya menatap interaksi antara sang istri dengan sahabat baik putrinya, sebenarnya ingin tertawa karena merasa sedikit terhibur melihat kekonyolan mereka.


Namun, merasa seperti tidak punya daya melakukannya dan hanya diam mengamati. Apalagi dari dulu sangat menyukai pria itu, tapi sekarang rasa sukanya seolah berkurang karena harapannya untuk menjadikan Austin menantu sudah pupus.


"Pergilah!"


Leony saat ini menatap ke arah sang ayah dengan menunjuk diri sendiri. Papa menyuruhku pergi saat aku baru saja datang jauh-jauh dari luar negeri hanya untuk bisa menemuimu?"


Bahkan saat ini Austin juga merasa heran ketika mendengar pria paruh baya tersebut mengusir Putri sendiri saat baru saja datang. Ia jadi belum pergi karena ingin melihat apa maksud dari ayah sahabatnya tersebut.


Namun, ia seketika merasa lega karena ternyata bukan reuni yang dimaksud. Pria paruh baya tersebut menggelengkan kepala dan menunjuk ke arahnya.


"Pergilah untuk menyapa istri sahabatmu. Memangnya kamu tidak penasaran dengan wanita yang bisa menaklukkan hatinya? Bahkan menolakmu dan lebih memilih wanita lain yang kini jadi istrinya." Ia saat ini seolah kehabisan napas setelah berbicara beberapa patah dan kini hanya menggerakkan tangannya untuk membuat putrinya segera pergi.


Namun, merasa bingung menolak kemauan sang ayah yang sedang sakit dan pastinya akan kesal padanya. Kini, ia ingin meminta pendapat dari sahabatnya dengan menoleh ke arah pria itu apakah tidak keberatan.


"Bagaimana?"


"Tidak apa-apa jika kamu ingin menyapa istriku," ucap Austin yang terpaksa mengiyakan saat hati kecilnya dipenuhi oleh kekhawatiran jika sang istri cemburu.


Ia seolah sangat takut ketika Diandra marah ia dekat dengan wanita lain. Meskipun sebenarnya itu adalah bentuk rasa cinta, tapi tetap saja tidak membuatnya bisa bernapas lega saat sang istri cemburu dan akhirnya marah-marah padanya.


'Alamat bakal kena marah istriku lagi seperti saat perawat memeriksaku. Semoga saja tidak dan ini hanya ketakutan tidak berdasar,' gumamnya yang saat ini melihat sahabatnya bangkit berdiri dan menyetujui perkataannya.


Padahal sebenarnya jauh di dasar hati yang terdalam tadi ingin sekali wanita itu tidak mau menurutinya karena takut kecewa dan mengingat rasa cinta yang dirasakan.


Hingga ia terpaksa membiarkan wanita yang kini sudah berjalan mendekat padanya.


"Baiklah kalau begitu, aku akan menyapa istrimu. Wanita seperti apa yang berhasil menaklukkan hati seorang pria arogan dan dingin sepertimu. Aku jadi penasaran." Ia menatap ke arah orang tuanya untuk memberikan kode jika ia akan pergi.


"Papa benar karena memiliki pemikiran seperti ini. Aku pergi dulu, Pa, Ma. Nanti aku cepat kembali," seru Leony yang kini berjalan mengekor sosok pria yang baru saja keluar dari ruangan perawatan sang ayah setelah terlebih dulu berpamitan.


Sementara itu, orang tua Leony saat ini hanya terdiam dan saling bersitatap karena berpikir jika Putri mereka berhak untuk move on dari Austin. Mereka berpikir bahwa usia sudah renta dan ingin melihat putrinya menikah dan hidup bersama dengan pria yang mencintainya.

__ADS_1


Namun, cuma itu tidak akan bisa terjadi di saat Putri mereka masih menutup hati karena belum move on dari Austin Matteo. Hal itulah yang membuatnya ingin merubah perasaan Leony agar segera bisa move on dari Austin.


"Aku harap setelah melihat istri dari Austin Matteo, Leony bisa membuang cinta pada sahabatnya itu dan akhirnya membuka hati untuk menerima siapapun yang mencintainya," ucap wanita paruh baya yang dari tadi dia menatap ke arah pintu ruangan perawatan yang menunjukkan Putri mereka baru saja keluar bersama dengan pria yang dicintai.


Samsudin hanya bisa mengaminkan harapan dari sang istri karena ia juga tidak bisa berbuat apa-apa untuk putrinya yang masih terbelenggu dalam cinta yang bertepuk sebelah tangan.


"Semoga usahaku untuk menyadarkannya bisa membuatnya membuka hati kembali," ucapnya yang menunggu kabar baik dari putrinya setelah menemui istri seorang Austin Matteo.


Sementara di luar ruangan kamar perawatan, Austin dan Leony yang saat ini berjalan bersisihan sambil membahas tentang Diandra sebelum masuk ke dalam ruangan.


"Aku tidak ingin salah bicara, jadi katakan seperti apa istrimu agar aku lebih berhati-hati," ucap Leony yang saat ini tidak ingin terlihat bodoh di depan istri dari seorang Austin Matteo yang dipikirannya adalah merupakan wanita elegan dan sangat cantik melebihi dirinya.


Namun, ia mengerjakan mata beberapa kali begitu apa yang saat ini dipikirkannya salah.


"Bersikap seperti biasa saja karena istriku adalah orang yang sangat sederhana. Asalkan kamu tidak membuat terlalu mengakrabkan diri padaku yang memicu kecemburuannya, kamu aman," sahut Austin yang sekaligus ingin mengingatkan agar sahabatnya berhati-hati mengenai perbuatan yang dilakukan.


Apalagi ia tadi merasakan bagaimana sahabatnya tersebut ketika pertama kali bertemu dengannya sudah membawa adat Barat dengan mencium bibit kanan dan kiri serta memeluknya. Jadi, berharap tidak mengulangi hal itu di depan sang istri yang pastinya akan memantik kecemburuan.


Leony saat ini terdiam dan bisa membaca ke mana arah pembicaraan Austin. "Wah ... jadi istrimu adalah seorang wanita yang sangat sederhana cemburuan? Apa dia merasa tidak percaya diri dengan dirinya?"


"Apa istrimu merasa jika dia bisa kehilanganmu karena digoda oleh pelakor?" tanya Leony yang saat ini seperti merasa jika ia mengetahui kelemahan istri dari sahabatnya tersebut.


Austin saat ini menghentikan langkah agar tidak sampai di depan ruangan perawatan sang istri ketika berbicara dengan sahabatnya. "Bukan seperti itu, tapi ada banyak hal yang terjadi pada kami akhir-akhir ini. Mungkin jika diceritakan tidak akan kelar satu hari."


"Kalau begitu, ceritakan saja garis besarnya." Leony benar-benar makin penasaran dengan apa yang sebenarnya dimaksud oleh Austin.


Jadi, ingin sepenuhnya tahu agar bisa mengerti seperti apa sosok wanita yang beruntung itu dan dengan mudah mengalahkannya karena mendapatkan cinta pria yang sangat dicintainya tersebut.


Austin yang merasa bingung harus memulai dari mana karena memang ceritanya panjang kali lebar jika diceritakan dan ia malah akan terlalu lama meninggalkan sang istri dan pastinya akan murka.


"Ehm ... intinya adalah istriku baru pulih dari mnesia karena kecelakaan dan harus dijaga pikiran serta perasaannya. Untuk cerita lebih lengkapnya, kapan-kapan aku akan menceritakannya padamu." Kemudian ia berjalan menuju ke arah ruangan perawatan sang istri dan beberapa kali merapal doa agar tidak mendapatkan kecemburuan.


'Semoga mood istriku baik dan tidak merasa cemburu pada Leony,' gumam Austin yang saat ini membuka pintu setelah mengetuknya terlebih dahulu agar sang istri bisa bersiap jika sedang melakukan sesuatu.


Leony sebenarnya merasa tidak puas dengan cerita dari Austin, tapi tidak ada pilihan lain selain menuruti perintah pria itu dan berjalan mengikuti di belakangnya.


Saat melangkah masuk ke dalam ruangan perawatan, ia seketika merasa sangat terkejut begitu melihat perbuatan wanita yang di atas ranjang perawatan tersebut.


Austin seketika berjenggit ketika sang istri melemparkan botol air mineral ke lantai. Ia yang bahkan belum selesai merapal doa agar sang istri tidak merasa cemburu ketika masuk bersama dengan seorang wanita yang merupakan sahabatnya, tentu saja sangat terkejut dengan perbuatan sang istri.


"Sayang, ada apa? Kenapa marah? Aku sebenarnya tadi ...." Ia tidak bisa melanjutkan perkataannya karena sudah dipotong oleh suara teriakan dari wanita yang tengah hamil anak kembar itu.


"Dari mana saja? Kenapa lama sekali?" sarkas Diandra yang dari tadi menahan rasa kesalnya karena menunggu sang suami yang terlalu lama keluar dengan alasan berbicara dengan dokter.


Apalagi sekarang melihat pria itu malah masuk bersama dengan seorang wanita cantik dengan tubuh tinggi dan seksi seperti seorang model.

__ADS_1


'Apa itu adalah mantan kekasihnya? Apa dia keluar tadi untuk menemui wanita itu? Kenapa dia bisa mengajaknya masuk ke sini? Apa sengaja ingin membuatku cemburu untuk mengetes ku,' gumamnya yang saat ini tidak bisa mengendalikan amarah ketika menatap sosok pria yang dari tadi ditunggu dan tidak kunjung kembali juga.


To be continued...


__ADS_2