
Austin sebenarnya kembali ke toko perhiasan setelah mengantarkan ayah Diandra kemarin. Ia kembali untuk membeli cincin berlian khusus yang akan dipakai untuk kejutan.
Bahkan itu tanpa sepengetahuan dari sosok ayah Diandra karena ingin merahasiakan mengenai rencana untuk membuat sang kekasih terkejut.
Kini, ia menatap sosok wanita yang terlihat tengah menunduk menatap ke arah es krim cake di atas meja. "Apa kamu tidak suka?"
Sementara itu, Diandra yang sebenarnya merasa sangat kesal pada Austin karena tidak menjawab pertanyaan darinya, tapi merasa terharu dengan perbuatan pria itu yang menyanyikan lagu mengenai lamaran.
Kini, ia mengangkat pandangan untuk menatap kesal pada pria dengan iris berkilat tersebut. "Kamu belum menjawab pertanyaanku tadi."
"Makan saja dulu itu. Nanti aku akan menjelaskan alasanku," ucap Austin yang kini memberikan sebuah kode agar wanita dengan wajah masam dan bibir mengerucut tersebut tidak marah lagi.
Berharap segera berubah menjadi wajah penuh binar kebahagiaan begitu melihat ada cincin berlian di dalam es krim cake tersebut.
Karena itu adalah makanan kesukaan dan berpikir rasa manis dari coklat akan menghilangkan emosi yang dirasakan, akhirnya tanpa membuka suara, Diandra memilih untuk mengangkat sendok kecil dan memotong es krim cake tersebut.
Kemudian mulai menikmati sensasi dari perpaduan antara kelembutan dan rasa manis yang sudah meledak di mulut. Bahkan karena sangat menyukai coklat yang melumer di lidah, ia kembali menyuapkan beberapa kali.
Austin tidak berkedip menatap ke arah Diandra dan menunggu detik-detik saat cincin terlihat oleh wanita yang mulai terlihat melunak karena seperti sudah tidak emosi seperti beberapa saat lalu.
Hingga Austin tersenyum begitu melihat Diandra mengerutkan kening dan membuka mulut ketika merasakan ada yang aneh.
Diandra tadinya sangat menikmati es krim cake, merasa aneh saat ada sesuatu yang keras di lidah dan segera mengambil dengan tangan kiri.
Hingga beberapa saat kemudian, memegang sesuatu di tangan dan seketika mengerjapkan kedua mata begitu melihat jika itu adalah cincin yang berkilauan.
Tentu saja ia seketika membulatkan mata begitu melihat jika sekarang tengah memegang cincin berlian.
Hingga begitu menatap wajah pria yang tersenyum kepadanya, semakin membekap mulut karena Austin bangkit berdiri dan berlutut di hadapannya.
"Maukah kamu menikah denganku, Diandra Ishana?" ujar Austin yang saat ini tidak bisa menahan perasaan membuncah ketika melamar sosok wanita yang selama ini sangat dicintai.
Bahkan dibutuhkan perjuangan untuk mendapatkan sosok wanita yang sudah disakitinya tersebut. Sudah lama menunggu saat-saat yang dinantikan tersebut dan sekarang merasa tidak ada hal yang paling membahagiakan selain bisa melamar wanita yang dicintai.
Diandra yang benar-benar merasa sangat terkejut dan tidak pernah menyangka dengan kejadian hari ini karena sebenarnya tujuan untuk mengajak pria itu makan malam adalah ingin melamar, tetapi malah dilamar.
"Austin ...."
__ADS_1
Seolah lidah kelu dan mendadak suara tercekat di tenggorokan karena berpikir jika kejadian hari ini benar-benar membuatnya shock.
Refleks ia mengarahkan tangan untuk memukul lengan kekar pria yang masih belum beranjak dari posisi. "Kamu benar-benar sangat menyebalkan! Kamu menghancurkan apa yang kurencanakan!"
Ia sudah tahu alasan Diandra memukulnya karena menghancurkan rencana wanita itu, jadi hanya tertawa kecil ketika melihat kemurkaan sang kekasih.
"Kenapa tertawa? Apa ada yang lucu?" sarkas Diandra yang kini beralih menatap ke arah beberapa pengunjung restoran saat bersorak begitu melihat perbuatan Austin yang melamarnya dan masih pada posisi berlutut di kakinya.
"Terima ... Terima ...."
Beberapa pengunjung yang tadi merasa sangat terhibur dengan suara merdu dari Austin, memang tidak mengalihkan perhatian dari pasangan kekasih tersebut, sehingga begitu melihat berlutut di lantai, langsung bersorak untuk memberikan sebuah dukungan.
Bahkan beberapa wanita merasa sangat iri melihat keromantisan pasangan kekasih itu. Meskipun sang wanita tidak mempunyai kesempurnaan seperti umumnya karena duduk di kursi roda, tetapi beruntung mendapatkan pria yang sangat mencintai dengan tulus.
Austin menatap pada beberapa orang yang mendukungnya. "Terima kasih."
Sementara itu, Diandra saat ini hanya tersenyum simpul dan beralih menatap ke arah Austin. "Cepat berdiri dan jangan buat aku malu di depan semua pengunjung restoran."
"Jawab dulu lamaranku. Ya atau tidak." Austin masih enggan bangkit berdiri meskipun mendapatkan ancaman dan tatapan tajam mengintimidasi dari Diandra.
"Lagipula, mana mungkin aku tidak menerima lamaran seorang pria tampan dan berhati malaikat sepertimu." Diandra mengulurkan jemari lentiknya agar Austin segera menyematkan cincin bertatahkan berlian tersebut.
Tentu saja saat ini Austin benar-benar merasa sangat bahagia karena berhasil menggagalkan rencana yang dibuat oleh Diandra. Kemudian mengambil sapu tangan di celana dan membersihkan cincin berlian itu dari sisa-sisa cake yang menempel.
Begitu berhasil membersihkan, langsung menyematkan cincin bertatahkan berlian yang berkilauan itu ke jemari lentik Diandra.
"Terima kasih, Sayang." Memberikan sebuah kecupan lembut pada punggung tangan dengan jari lentik yang sudah dihiasi cincin darinya. "Cantik."
Kemudian ia bangkit berdiri dari posisinya yang awalnya berlutut dan berjalan mendekati sosok wanita dengan wajah memerah tersebut.
Jika beberapa saat lalu wajah memerah karena marah, sekarang karena sangat malu sekaligus bahagia dan itu diketahui oleh Austin sehingga kini merasa sangat gemas dan memberikan sebuah kecupan lembut pada kening Diandra.
"Aku sangat mencintaimu dan akan selamanya menjadikanmu wanita satu-satunya di hidupku."
Austin bahkan kembali mendengar suara dari beberapa pengunjung restoran yang saat ini ikut merasakan kebahagiaan yang dirasakan dan ditanggapi dengan senyuman sambil menyatukan kedua tangan untuk ungkapan rasa terima kasih.
Berbeda dengan Diandra yang saat ini merasakan berkecamuk dengan kejadian luar biasa pada hari ini. Antara senang, bahagia, kesal, seolah bercampur menjadi satu. Hingga tidak bisa berbicara apa-apa karena suara seolah tercekat di tenggorokan.
__ADS_1
'Kenapa Austin bisa sebaik ini padaku? Padahal aku hanyalah seorang wanita cacat dari kasta rendahan. Bahkan aku masih belum percaya pada semua sikap yang ditunjukkan oleh pria ini.'
'Namun, aku berpikir tidak akan pernah bisa menemukan pria sebaik ini yang sangat mencintaiku lain hari,' gumam Diandra yang saat ini tengah menatap intens wajah dengan rahang tegas di hadapan.
"Aku mengajakmu makan malam karena ingin memberimu kejutan, tapi sebelum itu ingin mengetahui jawaban mengenai laranganmu pada Aksa untuk datang menemuiku." Diandra mengeluarkan kotak kecil berbentuk hati dengan warna merah tersebut.
Kemudian menunjukkan pada sosok pria yang terlihat mengerjapkan mata karena terkejut. "Aku ingin melamarmu hari ini, tapi kamu malah melamarku duluan. Bukankah kamu telah menggagalkan rencanaku?"
Austin seketika berakting terkejut begitu menatap kotak perhiasan berisi cincin yang tadi dibelikan bersama calon ayah mertua. "Sayang, kamu mau melamarku? Astaga!"
Bahkan ia kini tengah memegangi kepala karena berpura-pura sangat shock. Padahal sebenarnya ingin tertawa terbahak-bahak, tetapi tidak bisa melakukan itu.
"Aku benar-benar sangat menyesal karena lebih dulu melamarmu. Harusnya aku tidak melakukan itu agar bisa merasakan dilamar oleh wanita yang kucintai. Aku mungkin akan menjadi satu-satunya pria paling beruntung dan bahagia dan menjadi satu dalam sejarah."
Kemudian ia mengulurkan tangan untuk berniat melepaskan cincin berlian di jari Diandra. "Lebih baik aku batalkan saja lamaran yang tadi, agar kamu bisa melamarku. Jadi, biar kulepaskan cincin itu dari tanganmu terlebih dulu."
Merasa jika perbuatan Austin sangat konyol, refleks Diandra menarik tangan dan menjauhkan dari kuasa pria itu.
"Konyol sekali! Mana bisa begitu."
"Bisa saja karena aku ingin merasakan dilamar olehmu," sahut Austin dengan sangat santai sambil menatap intens sosok wanita dengan bibir mengerucut tersebut.
"Rencana sudah kamu batalkan, jadi mana bisa. Lagipula aku sudah tidak mood untuk melamarmu. Oh iya, kamu belum mengatakan mengenai alasan mengapa melarang Aksa datang." Diandra berniat untuk memasukkan kembali kotak berwarna merah tersebut ke dalam tas, tapi direbut oleh Austin.
Austin ingin Diandra melakukan hal sama, sehingga tidak mengizinkan membatalkan niat. Kemudian membuka kotak perhiasan tersebut dan mengambil cincin yang dibeli tanpa sepengetahuan Diandra.
Kemudian memberikan pada Diandra. "Lakukan hal sama sepertiku tadi karena aku ingin kamu juga menyematkan cincin ini ke tanganku. Mengenai Aksa, itu karena aku tidak ingin kamu kelelahan karena merawat putraku. Aku merasa bersalah dan tidak ingin jika kondisimu sampai drop karenanya."
Akhirnya ia kembali berbohong untuk kesekian kalinya dan sebenarnya merasa sangat bersalah saat hubungan mereka berdasarkan tipu muslihat.
'Maafkan aku karena selalu membohongimu, Sayang,' gumam Austin yang kini melihat respon Diandra dan semakin merasa bersalah.
Tanpa bisa ditahan, bulir bening air mata sudah lolos membasahi pipi putih Diandra. Merasa sangat terharu sekaligus bahagia karena hari ini sangat bahagia dan beruntung dicintai oleh pria sebaik Austin.
"Kenapa kamu sangat mencintaiku? Padahal aku merasa sangat tidak pantas untukmu." Suara sesenggukan dari Diandra terdengar sangat jelas karena efek menangis terharu saat kebahagiaan tidak terkira dirasakan hari ini.
To be continued...
__ADS_1