Konspirasi Cinta

Konspirasi Cinta
Bawa aku menemui wanita itu


__ADS_3

Yoshi saat ini sudah berada di dalam mobil miliknya dan berencana untuk berbicara dengan wanita yang duduk di sebelah kirinya. Namun, berpikir akan lebih baik berbicara di tempat nyaman karena merasa tidak enak.


"Kita makan di restoran yang mana? Apa ada tempat favoritmu?" tanya Yoshi yang kini berbicara dengan sekilas menatap ke arah Rosalia.


Sementara itu, Rosalia yang kini menoleh ke arah sosok pria di balik kemudi, merasa jika ada sesuatu yang hendak disampaikan padanya. Jadi, karena merasa sangat penasaran, membuatnya berpikir jika tidak ingin terlalu lama menunggu.


"Berhenti di tepi sana!" ucap Rosalia yang mengarahkan jari telunjuk ke depan.


"Baiklah." Yoshi kini menuruti perintah dari Rosalia dan berpikir ada yang hendak dikatakan, sehingga tidak menunggu sampai di restoran.


Hingga begitu ia menepikan kendaraan, menunggu hingga wanita dengan penampilan sangat elegan itu membuka suara dan benar apa yang dipikirkan, sang istri kini mengarahkan tatapan mengintimidasi.


"Sekarang lebih baik katakan apa yang ingin kamu sampaikan padaku. Aku tidak percaya kamu hanya ingin mengajakku makan di restoran. Aku merasa jika kamu tengah menyembunyikan sesuatu dariku." Rosalia kini masih menatap intens pria yang berstatus sebagai suaminya tersebut.

__ADS_1


Sementara di sisi lain, Yoshi yang tadinya mengulur waktu, kini kembali merasa seperti seorang tersangka ketahuan oleh polisi dan dihadapkan pada jaksa dan hakim.


Yoshi saat ini mengembuskan napas kasar dan membuatnya mengaku atas apa yang disembunyikan.


"Maafkan aku, Rosalia karena sebenarnya aku mencintai wanita lain dan menikahimu demi kesembuhan papa yang sangat ingin menjadikanmu sebagai menantu di keluarga kami."


Bahkan ia benar-benar merasa bersalah, tapi tahu jika harus mempertahankan hubungannya dengan Diandra. Namun, ia semakin kesal ketika mendengar suara wanita yang terlihat sangat santai itu.


"Kalau begitu sekalian saja! Jadi, akan lebih mudah ayahmu meninggal dunia begitu mengetahui kenyataan yang kamu jelaskan padaku tadi." Sebenarnya ia sadar jika saat ini perkataannya sangatlah kasar, tapi semua itu karena benar-benar marah.


"Apa kamu tidak bisa berbicara yang baik? Aku tahu jika papaku bukan siapa-siapa bagimu, tapi paling tidak, hanya benci aku saja dan tidak perlu mengaitkan papaku."


"Bukankah lebih baik mendoakan papaku yang tengah meregang nyawa agar kembali sehat agar kamu mendapatkan pahala?" Yoshi sudah bisa menduga wanita seperti apa yang dinikahinya.

__ADS_1


Bahwa seorang wanita dengan karir bagus dan memiliki segalanya serta wajah cantik membuatnya seperti dianggap hanyalah sampah ketika berbicara.


Yoshi bahkan saat ini bisa melihat seperti apa sosok wanita yang ada di hadapannya tersebut malah tertawa terbahak-bahak. Seolah ingin mengejeknya habis-habisan dengan memutar kata-katanya.


"Kamu lucu sekali, Suamiku. Bukankah kamu tengah mendobrak pintu dosa karena status adalah suami sah, tapi malah masih memikirkan wanita lain? Lalu, pantaskah kamu menasihatiku agar mendapatkan pahala?" Rosalia bahkan kini bertepuk tangan dengan tersenyum smirk.


Saat ini, Rosalia bahkan tidak bisa lagi mentolerir perbuatan Yoshi dan berpikir ingin mengetahui sosok wanita yang telah menjadi saingannya dan merasa harus disingkirkan.


Berbeda dengan Yoshi yang merasa tertampar dengan kalimat bernada ejekan tersebut. "Bukankah ada dalil yang mengatakan jika ada yang menasihati, jangan lihat siapa orangnya, tapi apa yang disampaikan."


Namun, karena merasa percuma berbicara dengan Rosalia yang sangat arogan, kini Yoshi tidak ingin terlalu lama asing.


"Baiklah. Terserah kamu saja."

__ADS_1


"Kamu benar jika semua terserah aku. Kalau begitu, cepat bawa aku menemui wanita itu!" sarkas Rosalia yang kini tidak ingin menyembunyikan rasa penasarannya.


To be continued...


__ADS_2