
Austin tidak ingin membangunkan istrinya yang terlihat sedang tertidur pulas, sehingga ia memilih berganti pakaian setelah membersihkan diri di kamar mandi.
Karena tidak sabar ingin segera naik ke tempat tidur dan memeluk istrinya yang sangat ia rindukan, kini perlahan melakukannya agar tidak membangunkan ibu dan anaknya tersebut.
Padahal ia sebenarnya merasa sangat tersiksa karena niat bercinta harus ditunda besok karena istri sudah tertidur lelap.
Begitu berbaring di belakang istrinya dengan hanya menyisakan sedikit ruang untuknya, ia memilih untuk miring sambil melingkarkan tangannya di perut rata Diandra.
Seperti hal wajib yang harus dilakukannya saat tidur adalah mencium aroma khas strawberry dari rambut hitam berkilau itu.
Bahkan merasa seperti candu yang membuatnya tidak bisa berhenti melakukan hal itu sudah menjadi ritual rutin baginya.
"Seperti biasa, aroma tubuhmu selalu memabukkan, sayang." Austin kini menutup matanya karena jujur saja matanya terasa perih saat tiga hari kurang tidur.
Setelah pergi ke Rumah Sakit dan bertemu Yoshi yang tampak datar seolah tidak terkejut sedikit pun, Austin merasa lega.
__ADS_1
Namun, saat baru di hotel, ia mendapat kabar buruk dari salah satu orang yang bekerja di Rumah Sakit tersebut.
Itu bukan salahnya karena ia hanya bilang sudah menikah dengan Diandra. Tidak ada ancaman, tidak ada kekerasan, jadi tidak ada yang mengasosiasikan dengan kejahatan.
'Jika kamu mati, Diandra dan aku akan hidup damai selamanya. Bukannya aku takut pada Yoshi, tapi menganggap masa lalu tidak perlu dikenang karena hanya akan merusak masa depan.'
Saat ia baru saja mengatupkan mulutnya, terdengar suara napas teratur dari bibir istrinya. Tentu merasa khawatir jika istrinya terbangun dari tidurnya dalam keadaan tidur lelap, hanya akan membuat kepala pusing seperti migrain.
Ia kini memilih melakukan hal yang sama dengan istrinya dan berharap bisa segera terlelap tanpa berhubungan badan, meski sebenarnya sangat menginginkannya.
Obat rindu yang mujarab adalah bertemu dan saat di hadapannya. Namun, sang istri masih belum sadar bahwa kini dirinya ada di rumah.
Hingga saat ia menahan semua perasaan bimbangnya karena sang istri bergerak saat dipeluk erat, tapi mendengar suara yang tadi mengatakan cinta dan rindu sambil mengigau. Akhirnya ia meloloskan kalimat dari bibirnya.
"Sayang?"
__ADS_1
Diandra yang merasa sangat nyaman saat memeluk sesuatu yang sangat familiar, refleks membuka matanya dan ingin melihat apakah yang dipikirkannya benar.
Begitu melihat suaminya, ternyata sudah pulang dan sedang tidur berpelukan seperti biasanya, sehingga saat ini matanya terbelalak seperti tidak percaya.
"Apa kamu sangat merindukanku, Sayang?" Austin tersenyum menyeringai sambil mengarahkan jari telunjuknya ke setiap sudut bibir merah muda yang ingin diciumnya lagi.
Refleks Diandra terkekeh karena keterkejutannya tak terobati. Bahkan, merasa sangat kaget karena mengira yang dipeluk adalah guling.
"Ternyata mimpiku menjadi kenyataan karena tadi aku bermimpi digigit ular, sekarang aku bertemu dengan pawangnya. Ya, aku sangat merindukanmu, Sayang."
Awalnya Diandra ingin pura-pura menjaga image dan tidak mau mengakuinya, tapi mengingat tersiksa oleh rindu, maka segera mengeratkan pelukannya pada tubuh berotot kencang itu.
"Ya, aku sangat mencintaimu dan tiga hari ini tidak nyaman tanpamu. Lain kali, aku ingin ikut karena aku tidak ingin tidur sendirian."
"Sebelum itu, lebih baik sekarang wujudkan mimpimu. Bahwa kamu benar-benar digigit ular." Austin menyeringai dan bangkit dari tempat tidur untuk bisa menggendong istrinya dan pindah ke kamar sebelah.
__ADS_1
To be continued...