Konspirasi Cinta

Konspirasi Cinta
Sangat menginginkannya


__ADS_3

Kini Leony seketika mengerti tentang alasan apa yang membuat seorang Austin Matteo memilih wanita di hadapannya tersebut daripada dirinya yang sudah lama bersahabat dengannya.


'Jadi, Austin memilihnya karena wanita ini menolaknya? Padahal selama ini banyak wanita yang mengantri ingin menjadi kekasihnya. Siapa wanita yang tidak menginginkan seorang pria tampan dengan tubuh yang bahkan sangat proporsional dan menjadi idaman para wanita.'


'Bahkan juga merupakan seorang anak tunggal dari keluarga konglomerat dan menjadi pemimpin perusahaan besar. Sementara wanita kampungan yang bahkan biasa saja ini telah berani menolaknya.' Leony benar-benar menyesal karena tidak tahu apa yang diinginkan oleh sahabatnya.


'Hanya dengan itu ia bisa memilihnya di antara banyaknya para wanita cantik, seksi dan kaya,' lirihnya di dalam hati yang saat ini benar-benar sangat iri pada nasib baik seorang wanita biasa di hadapannya tersebut.


Ia yang merasa sangat kecewa begitu mengetahui kenyataan sebenarnya, kini hanya berkomentar singkat untuk meluapkan apa yang dirasakan saat ini.


"Jadi, kamu menolaknya dan dia mengejarmu? Lalu kamu menerima dan dia menikahimu?" Saat ia berpikir perkataannya benar, sekarang mengerutkan kening karena kembali tidak mengerti saat Diandra membantahnya.


"Bukan. Ada alasan lain yang tidak bisa kukatakan padamu, tapi yang jelas adalah aku dan dia dipersatukan oleh takdir karena memang kami berjodoh. Kami sempat berpisah selama beberapa tahun dan akhirnya disatukan oleh sebuah kemenangan yang menimpaku, yaitu amnesia." Diandra tidak mungkin menceritakan tentang kejadian saat ia menjual diri demi menyelamatkan nyawa sang ayah.


Selain menjaga nama baik suami, juga ingin menjaga privasi dan tidak ada yang tahu selain dirinya dan pihak keluarga. Berpikir jika wanita itu tahu, hanya akan menjadi bumerang bagi keluarga kecil mereka.


'Semoga suamiku tidak menceritakan tentang masa lalu kami yang berawal dari aku menjual diri padanya,' gumam Diandra yang saat ini ingin mengakhiri tentang cerita masa lalunya karena tidak ingin semakin dikorek oleh sahabat baik sang suami yang terlihat tidak puas dengan penjelasannya.


"Kamu semakin membuatku penasaran," ucap Leony yang saat ini merasa bingung dengan kalimat ambigu yang baru saja didengarnya.


Ia tidak tahu bagaimana cara membuat wanita itu membuka mulut dan menceritakan semuanya agar tahu kejadian sesungguhnya dari perjalanan hidup mereka. Namun, merasa kecewa karena belum membuka mulut sudah dipotong oleh perkataan wanita itu yang seolah menyindirnya.


"Sekarang giliranmu menceritakan hidupmu. Apakah kamu tidak berniat untuk menikah? Ataukah kamu sudah memiliki pasangan?" Ingin sekali Diandra menanyakan tentang kedekatan wanita itu dengan sang suami, tapi tidak ingin terlihat cemburu, sehingga tidak jadi melakukannya.


Leony saat ini hanya berakting tertawa karena sama sekali tidak tertarik untuk membahas tentang kehidupannya yang dianggap sangat datar karena masih belum bisa move on dari sahabat baiknya yang dicintai.


"Kisahku tidak ada yang menarik karena sampai sekarang belum mempunyai pasangan. Mungkin karena para lelaki itu tidak percaya diri mendekatiku, sehingga sampai sekarang aku jomlo. Padahal jika ada yang berani serius denganku dan aku cocok, pasti akan langsung menikah." Ia sebenarnya merasa tersindir karena Diandra seperti ingin membahas tentang usianya yang sudah tidak muda lagi.


Namun, bertanya dengan cara halus agar ia sadar diri bukanlah seorang wanita yang menarik karena usia.


'Diandra membuatku seolah-olah tidak laku di hadapan para lelaki,' gumamnya yang saat ini sudah muak berada di hadapan wanita itu dan berharap Austin segera kembali.


Dari dulu ia sangat tidak suka jika ada yang membahas tentang apa alasan dia belum menikah sampai sekarang saat usianya sudah tidak lagi muda. Perbedaan signifikan saat hidup di negeri sendiri dan negeri orang adalah itu.


Itulah mengapa ia lebih nyaman berada di luar negeri daripada di negara. Jika di negeri sendiri banyak orang yang sibuk mengurus urusan orang lain, sedangkan di luar negeri sibuk dengan pekerjaan dan tidak ada waktu untuk sekedar ghibah mengomentari orang lain.


Bahkan untuk waktu istirahat saja bisa terbilang kurang dan tidak mungkin ada waktu untuk sekedar membahas masalah orang lain yang tidak penting. Itulah mengapa negeri kelahirannya tetap menjadi negara berkembang dan tidak berubah menjadi negara maju.


Karena sumber daya manusia sudah sangat berbeda dan ada banyak hal yang dianggapnya ketinggalan zaman. Apalagi orang lebih sibuk dengan sosial media daripada memperbaiki value diri dan bekerja keras untuk menggapai impian.


"Sepertinya kamu terlalu memilih, makanya sampai sekarang belum menemukan pasangan yang cocok. Sebenarnya hidup rumah tangga itu akan jauh lebih indah jika kita menikah dengan pria yang mencintai kita."


"Meskipun kita tidak mencintainya, perasaan itu lama-lama akan tumbuh seiring berjalannya waktu saat kita setiap hari dihujani banyak cinta."


"Faktanya, pria yang mencintai kita akan melakukan segala cara untuk meratukan wanitanya," ucap Diandra yang berusaha untuk menyadarkan wanita itu agar segera melupakan sang suami yang sudah hidup berbahagia bersama anak dan istri.

__ADS_1


Diandra memilih bersikap bijak pada para wanita yang mengincar sang suami, agar melupakan perasaannya. "Contohnya adalah suamiku. Aku dulu tidak mencintainya, tapi saat diratukan olehnya, hati siapa yang tidak luluh? Aku hanya ingin membagikan pengalaman hidupku, siapa tahu berguna untukmu."


"Aku tidak mungkin membahas tentang masalah kekayaan dan karir yang sukses karena tidak ada apa-apanya dibandingkan denganmu." Kemudian ia tersenyum simpul untuk membuat wanita itu tidak salah paham padanya.


Berharap setelah mendengarkan kejujurannya, wanita itu segera mendapatkan pasangan dengan membuka hati ketika ada pria yang ingin serius. Bahkan ingin sekali sang suami mencarikan teman yang mungkin belum menikah, tapi khawatir jika akan menjadi sebuah kesalahpahaman dengan menganggap wanita itu tidak pelaku.


Jadi, hanya menyimpan semua pemikirannya itu di dalam hati. Saat ia baru saja mengakhiri nasihat panjang lebar yang dianggapnya sebuah suntikan semangat, melihat itu yang terbuka setelah ketukan beberapa kali terdengar.


Ia seketika tersenyum lebar melihat sosok pria yang saat ini berjalan masuk. "Kamu sudah kembali, Sayang?"


Austin menganggukkan kepala saat berjalan mendekati sang istri dengan perasaan penuh kekhawatiran jika ada perdebatan di antara sahabat serta wanita yang sangat dicintainya tersebut.


Namun, ia seketika merasa lega karena melihat senyuman ibu dari anak-anaknya tersebut yang menandakan tidak ada yang perlu dikhawatirkan karena dua wanita itu sedang berbicara tanpa ada masalah.


"Ya, Sayang. Aku tadi sudah berbicara langsung dengan kenalan papanya Leony dan akan disampaikan secara langsung pada bagian yang mengurusi laporanku. Mungkin beberapa hari lagi wanita itu akan dipulangkan secara paksa untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya." Austin beralih menoleh ke arah sahabatnya yang terlihat diam dari tadi.


Ia bahkan merasa sangat aneh melihat diamnya seorang Leony yang selama ini selalu terlihat ceria di depannya. 'Apa yang terjadi padanya? Yang aku khawatirkan adalah istriku, tapi yang sekarang terlihat muram adalah Leony.'


'Haruskah aku merasa lega atau merasa iba?' gumamnya yang saat ini melihat sahabatnya bangkit berdiri dari kursi dan menatapnya.


"Aku baru saja sadar jika istrimu sangat pintar menasihati. Aku serasa mendapatkan siraman rohani darinya," ucap Leony yang saat ini mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Diandra.


"Terima kasih atas sarannya. Doakan aku bisa mendapatkan seorang suami seperti suamimu," ucapnya yang kini disambut dengan menjabat tangannya.


"Sama-sama. Aku pasti akan mendoakanmu, asalkan tidak mengincar suamiku," sahut Diandra yang saat ini berbicara sesuai dengan apa yang disampaikan Leony.


"Kamu tadi dipanggil papamu. Katanya ingin membahas hal penting." Austin berharap sahabatnya segera pergi dan melepaskan tangan sang istri karena masih berjabat tangan.


Saat ia berpikir jika Austin hanya tengah membohonginya untuk memisahkannya dengan Diandra, Leony saat ini hanya tertawa.


"Baiklah. Aku pergi dulu. Jaga baik-baik kesehatan serta kandunganmu, Diandra. Aku mungkin akan datang lagi saat anak kedua kalian lahir karena aku akan menetap di Jakarta dan tidak kembali ke luar negeri." Ia ini melepaskan tangannya dan berlalu pergi tanpa menunggu tanggapan dari wanita yang dianggapnya sama seperti orang-orang yang suka mengurus masalah orang lain.


Sementara Diandra yang sebenarnya ingin menambahkan poin anak ketiga karena yang dikandungnya adalah bayi kembar, tidak jadi melakukannya karena merasa sangat malas meladeni wanita yang tidak paham pada nasihatnya.


"Dasar wanita arogan," sarkas Diandra begitu wanita itu menghilang di balik pintu.


Austin yang dari tadi masih berdiri di sebelah kanan ranjang sang istri, kini hanya diam karena takut salah berbicara ketika wanita di hadapannya tersebut kembali berubah mood-nya.


'Lebih baik cari aman saja agar semuanya baik-baik saja,' gumam Austin yang beberapa saat kemudian bersitatap dengan netral kecoklatan sang istri dengan tatapan menyelidik.


"Kamu pasti merasa senang karena sahabatmu belum move on darimu selama bertahun-tahun, kan?" sarkas Diandra yang saat ini kesal karena niat baiknya untuk menyadarkan sahabat sang suami malah ditanggapi dengan kalimat bernada sindiran.


"Sayang, apa lagi ini? Mana mungkin aku merasa senang karena melihat sahabat sendiri tidak kunjung menemukan kebahagiaan hanya karena aku. Bukankah itu terkesan sangat jahat?" Ia kini mengingat tentang kejadian saat terakhir kali bertemu dengan Leony ketika ia baru pertama kali jatuh cinta pada Diandra.


Ia menatap ke arah Diandra dan mengingat tentang kejadian sebelum ia membeli harga diri sang istri. "Aku terakhir kali bertemu dengannya ketika baru mengenalmu dan sangat terobsesi padamu."

__ADS_1


"Bahkan saat itu aku sudah menasihatinya untuk membuka hati dan melupakanku. Hingga ia patah hati dan kembali ke luar negeri sangat lama karena tidak pulang dalam 5 tahun belakangan. Mungkin jika papanya tidak terkena serangan jantung, dia tidak pulang."


Ia mengakhiri ceritanya dan berharap sang istri mengerti bahwa sampai kapanpun hanya akan menganggap Leony layaknya teman baik.


Diandra saat ini mulai mengerti kenapa wanita itu tidak bisa menerima nasihatnya. "Oh ... jadi dia berpikir akulah yang merebutmu darinya. Pantas saja dia dia sama sekali tidak bisa mengerti jika aku menasihatinya karena peduli karena merupakan sahabatmu."


Tidak ingin mengambil pusing dengan masalah yang bahkan tidak penting, ia merasa sangat bosan berada di ruangan kamar itu dan ingin bertemu dengan putranya.


"Nanti katakan pada dokter jika aku ingin pulang. Aku rawat jalan atau bed rest saja di rumah. Setiap detik hanya memandang tembok putih dengan gorden senada, membuat mood-ku tidak baik. Aku pun sangat merindukan Aksa." Saat ia mengerucutkan bibirnya karena kesal, kebetulan di saat bersamaan pintu terbuka.


Hingga ia melihat seorang wanita dengan jubah putih yang berjalan masuk ke dalam dan menyapanya.


"Bagaimana, Nyonya Diandra? Apakah sudah tidak pusing serta lemas?" tanya sama dokter yang kini memeriksa tanda-tanda vital pasien.


"Sudah tidak, Dokter. Saya bahkan saat ini sangat baik dan tidak merasakan apa-apa. Apa saya hari ini boleh pulang?" tanya Diandra yang berpikir tidak perlu menunggu sang suami berbicara ketika kebetulan dokter tiba.


"Sepertinya Anda sudah sangat bosan berada di Rumah Sakit," sang dokter kini memberikan kode pada perawat untuk mengecek tensi.


"Iya, Dokter. Saya ingin segera pulang agar bisa bertemu dengan putra saya yang pasti mencari mamanya." Diandra sangat berharap dokter mengizinkannya pulang agar tidak melihat sahabat dari sang suami.


Ia sudah benar-benar malas berinteraksi dengan wanita yang dianggapnya sangat arogan itu. Hingga sudah bibirnya berangkat ke atas begitu melihat sang dokter menganggukkan kepala.


"Iya, Nyonya. Anda boleh pulang hari ini karena memang kondisi Anda sudah membaik dan tidak seperti kemarin. Nanti vitamin dan obatnya diminum secara teratur dan juga memenuhi gizi seimbang agar kondisi janin dalam kandungan sehat."


Kemudian sang dokter berlalu pergi setelah pasangan suami istri tersebut terlihat berbinar wajahnya dan mengucapkan terima kasih.


"Anda bisa ke kantor untuk mengurus administrasinya, Tuan," sahut perawat yang saat ini baru selesai mengecek tensi dan mencatatnya.


Austin yang saat ini langsung mengangguk perlahan pada sang perawat beralih menatap ke arah sang istri yang berbinar wajahnya seperti seorang anak kecil baru saja mendapatkan mainan dari ibunya.


Ia kini mencubit gemas pipi putih itu.


"Lihatlah, tingkahmu seperti anak kecil baru bebas dari penjara orang tua. Aku keluar dulu untuk mengurus administrasinya. Jangan marah ataupun kesal jika nanti lama." Menatap tajam ke arah sang istri agar tidak kembali melemparnya botol air.


"Iya, maaf," sahut Diandra yang terkekeh geli mengingat perbuatannya beberapa saat lalu saat kesal melihat sang suami yang ditunggu malah masuk bersama dengan seorang wanita cantik dan membuatnya cemburu.


"Aku tidak akan marah-marah lagi saat sudah berada di rumah karena hawa di rumah sakit sangat berbeda dan membuatku selalu ingin melampiaskannya padamu. Sudah, cepat urus semuanya agar aku bisa bertemu dengan putraku."


Kemudian Diandra mengibaskan tangan dan ia merasa sangat lega karena tadi perawat sudah melepaskan infus di tangannya.


Ia bahkan saat ini bebas bergerak leluasa dan tidak perlu mengkhawatirkan tangannya berdarah jika bergerak.


"Akhirnya aku bisa pulang ke rumah dan memulai lembaran baru bersama suami setelah menyadari perasaanku yang sebenarnya bersamanya." Diandra kini mengusap lembut perutnya yang masih datar.


"Sehat-sehat di sana, ya Sayang. Mama ingin kalian lahir ke dunia dengan selamat dan sehat. Semoga nanti anak kembar ini adalah perempuan karena aku sangat menginginkannya." Diandra masih terus mengusap lembut perutnya untuk menyalurkan kasih sayang pada janin yang dikandungnya saat ini.

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2