Konspirasi Cinta

Konspirasi Cinta
Menunjukkan padaku


__ADS_3

"Mohon jangan ikut campur urusan pribadi antara pasangan kekasih yang tengah bertengkar. Kami bukan orang jahat dan itu adalah bos saya yang tidak mungkin menculik seorang wanita," ucap Daffa Ibrahim yang kini langsung mengambil sebuah kartu nama dari dompetnya.


Kemudian ia langsung memberikan pada sosok dua pria itu yang sepertinya berpikiran buruk. Hingga ia pun menoleh pada bosnya agar tidak merasa khawatir.


"Aah ... baiklah kalau begitu. Aku pikir tadi pria itu adalah orang jahat yang hendak berbuat mesum pada wanita itu," ucap salah satu pria yang baru saja membaca kartu nama di tangannya.


Kemudian ia mengajak temannya untuk pergi meninggalkan mereka dan akhirnya berjalan pergi meninggalkan area taman.


Kebetulan Austin yang sudah menggendong Diandra tadi mendekati mobil dan terlihat asisten pribadinya keluar dari mobil.


Pastinya mengetahui jika ada dua pria yang menghadangnya, sehingga tanpa perlu bersusah payah, Daffa sudah mengurus semuanya dengan berbicara pada mereka dan begitu melihatnya, kini tersenyum simpul.


"Kau memang selalu bisa diandalkan," ujar Austin yang kini bisa merasakan pergerakan dari wanita yang digendongnya meminta turun karena sibuk bergerak.


"Silakan, Tuan! Lebih baik kita segera pergi dari sini karena ini sudah sangat larut," sahut Daffa Ibrahim yang membuka pintu mobil untuk bosnya.


Tentu saja ia bisa melihat bagaimana pergerakan dari sosok wanita yang dari tadi menolak untuk digendong. Namun, hanya bisa mengumpat di dalam hati.

__ADS_1


'Wanita seperti ini benar-benar sangat langka. Pantas saja tuan Austin tergila-gila dengan Diandra. Di saat para wanita ingin bisa berada di posisi itu, tapi Diandra malah terang-terangan menolak tuan Austin.'


"Lebih baik kamu menurut kuantar pulang daripada aku benar-benar menculikmu dan membawa ke apartemenku!" sahut Austin dengan wajah kesal kala tangannya serasa mau patah akibat wanita digendongannya itu dari tadi sibuk bergerak meminta diturunkan.


Diandra yang tadinya semangat untuk bergerak karena ingin segera turun dari lengan kekar pria yang dibenci, kini seketika terdiam seribu bahasa.


'Lebih baik diam daripada si berengsek ini benar-benar menculikku dan membawa ke apartemennya,' gumam Diandra yang kini akhirnya pun mulai berjalan masuk ke dalam mobil begitu tubuhnya diturunkan oleh Austin.


'Aku sebenarnya bisa kabur dengan berlari, tapi tidak akan bisa mengalahkan kecepatan mobil dengan kakiku,' lirih Diandra yang kini duduk di kursi belakang dan melihat Austin bergerak masuk dan mendaratkan tubuh di sebelah kanannya.


Sementara itu, Austin yang dari tadi tidak mengalihkan perhatian dari wanita dengan wajah masam itu, malah merasa sangat senang karena Diandra tidak lagi keras kepala.


'Diandra seolah merasa punya pahlawan kesiangan yang akan selalu ada untuknya. Yoshi, aku tinggal membereskan pria itu agar tidak menjadi tempat berlindung sekaligus kekuatan Diandra.'


Saat Austin memikirkan sesuatu untuk menyingkirkan pria yang membuat Diandra jatuh cinta, ia melihat Daffa baru masuk dan duduk di balik kemudi sambil bertanya.


"Ke mana saya mengantar Anda, Nona Diandra?" tanya Daffa yang berinisiatif untuk bertanya sebelum mengemudikan mobil.

__ADS_1


Ia yakin jika bosnya tidak tahu tempat tinggal wanita yang dianggap sangat langka itu, sehingga memilih untuk mencari tahu sendiri.


Diandra yang masih terdiam karena bingung harus mengatakan apa, tengah mempertimbangkan sesuatu. 'Aku tidak mungkin bilang tinggal di apartemen Naura. Lebih baik aku berbohong,' gumamnya di dalam hati.


"Nanti ada halte tak jauh dari sini. Turunkan aku di sana." Diandra yang baru saja menutup mulut, kini seketika membulatkan mata begitu mendengar suara bariton dari Austin.


"Langsung ke apartemenku saja! Daripada kekasihku dijahati oleh orang malam-malam begini, lebih baik di tempatku saja jauh lebih aman," sarkas Austin yang saat ini menatap ke depan, di mana asistennya belum menyalakan mesin mobil.


Karena tidak ingin mengecewakan bosnya, kini Daffa langsung melaksanakan perintah tanpa memperdulikan nada protes dari wanita yang seketika berteriak memecahkan keheningan di dalam mobil.


"Jangan lakukan itu karena aku tinggal di apartemen di depan sana sendiri dan akan langsung masuk agar tidak ada orang jahat berani mendekatiku!" Diandra bahkan menaikkan nada suaranya.


Karena hal tersebut membuatnya berpikir jika itu adalah satu-satunya cara untuk menghentikan kegilaan seorang pria di sebelahnya tersebut.


Hingga ia seketika lega karena ternyata Austin benar-benar menepati janjinya, yaitu tidak menculiknya jika patuh pada perintah.


"Baiklah. Antarkan ia sampai di area apartemen!" Saat Austin menoleh ke arah Diandra dan tersenyum penuh kemenangan, sehingga membuatnya berpikir jika wanita pujaan hatinya tersebut kini menunjukkan sendiri tempat tinggalnya.

__ADS_1


'Inilah yang dari tadi kutunggu-tunggu, Sayang. Tanpa aku perlu repot-repot mencari tempat tinggalmu, malah kamu sendirilah yang menunjukkan padaku,' gumam Austin saat mobil melaju meninggalkan area taman kota.


To be continued...


__ADS_2