Konspirasi Cinta

Konspirasi Cinta
Merasa lega


__ADS_3

"Mama ... papaaa!" lirih Aksa yang saat ini sudah menangis tersedu-sedu karena mencari orang tua yang sangat dirindukan. Apalagi dari semalam tidak bertemu.


Tentu saja Austin yang tadi merasa sangat percaya diri dengan mengulurkan tangan untuk memanggil putranya, tapi tidak mendapatkan sambutan dan hanya menerima sebuah penolakan, mendengar suara tangisan anak laki-laki yang merupakan darah dagingnya tersebut menggema di apartemen.


Ibu Austin yang tadi berniat menyerahkan cucu laki-laki pada putranya mengurungkan niat karena sudah menangis di gendongan dan mencoba untuk menggeliat agar diturunkan. Seolah ingin mencari keberadaan ibu dan ayah.


"Papa di sini, Sayang. Nanti kita pergi menemui mama, oke?" Austin berpikir akan sangat mudah untuk meluluhkan hati putranya, tetapi yang terjadi malah sebaliknya karena tetap saja menangis dengan suara kencang yang memekakkan telinga.


Bahkan mungkin sudah terdengar oleh beberapa tetangga dekat yang tinggal di apartemen, sehingga langsung diajak masuk oleh sang ibu dan berusaha untuk menenangkan.


Austin yang merasa bingung untuk menenangkan putranya karena ini baru pertama kali berinteraksi secara dekat dengan Aksa, mendengar suara sang ayah yang menepuk bahunya.


"Semua butuh proses dan kamu harus berusaha agar selalu dekat dengan Aksa karena sepertinya cucuku lebih dekat dengan Yoshi yang dianggap sebagai ayah." Malik Matteo tadinya hendak berangkat, tapi begitu melihat respon dari cucunya, merasa khawatir jika putranya tidak bisa meluluhkan anak laki-laki tersebut.


Austin mengangguk lemah karena sekarang merasa ragu. Apakah bisa menaklukkan hati putranya karena tiba-tiba tidak memiliki rasa percaya diri. Semua itu karena meskipun sudah lama berhubungan dekat dengan Diandra, tetapi wanita itu tidak memiliki perasaan padanya.


Jadi, sekarang merasa takut jika kembali merasakan itu pada darah dagingnya. Austin seperti sedang mengalami Dejavu berkali-kali dan khawatir apa yang ditakutkan terjadi.


Bahwa putranya tidak akan mau menyayanginya karena sudah menganggap Yoshi sebagai ayah. Embusan napas kasar mewakili perasaan Austin saat ini.


Namun, kembali mendapatkan dukungan dari sang ayah. "Jika kamu tidak menyerah pada Diandra, apakah sekarang berpikir untuk menyerah pada putramu? Aksa adalah darah dagingmu dan kamu yang paling berhak merawat dan memberikan semua yang dibutuhkan oleh putramu."


Merasa sedikit terhibur dengan apa yang baru saja dikatakan oleh sang ayah, saat ini Austin merasa percaya diri dan akan berusaha untuk membuat putranya luluh padanya.


"Terima kasih, Pa. Aku memang orang yang paling berhak untuk merawat putraku. Jadi, akan berusaha untuk mencuri hatinya dengan membiasakan diri bersamaku."


Merasa nasehatnya tidak sia-sia untuk memberikan semangat pada putranya, kini Malik Matteo tersenyum simpul dan beranjak pergi meninggalkan apartemen tersebut untuk menuju ke perusahaan.


Saat Austin masih menatap siluet pria paruh baya dengan bahu kokoh tersebut, sudut bibirnya melengkung ke atas karena merasa sangat bahagia setelah mendapatkan restu dari orang tua yang tidak menghalangi niatnya untuk menikahi diri.


"Akhirnya papa tidak menghalangi aku untuk menikahi Diandra meskipun saat ini mengalami cacat." Austin segera masuk ke dalam apartemen untuk melihat putranya yang terdengar masih menangis.


Begitu berada di dalam dan mencari putranya yang masih ditenangkan oleh sang ibu, tetapi terus saja menangis memanggil mama.

__ADS_1


Sang ibu saat ini merasa kebingungan karena tidak bisa menenangkan anak kecil tersebut dan melihat putranya baru masuk ke dalam ruang santai.


"Putramu sangat susah dirayu. Padahal Mama sudah menunjukkan berbagai macam film kartun agar mengalihkan perhatian dari ingatan mengenai Diandra." Masih mencoba untuk menggendong, tetapi Aksa bergerak turun dan memanggil-manggil sang ibu sambil berjalan ke sana-kemari.


Austin yang tadi bisa mendengarkan suara tangisan putranya karena terdengar dari luar, masih sibuk memikirkan ide untuk mencuri hati anak kecil yang masih terus memanggil sang ibu.


"Apakah mama mengingat saat aku masih kecil bisa ditenangkan dengan apa ketika menangis? Bukankah buah tidak jatuh dari pohonnya dan aku merasa yakin bahwa putraku memiliki persamaan denganku."


Sang ibu saat ini mencoba untuk mengingat saat putranya berusia sepantaran dengan cucunya. Kemudian mengingat dua makanan yang menjadi kesukaan Austin di masa kecil.


"Belikan es krim dan coklat untuk Aksa. Aku sangat yakin jika cucuku menyukai dua makanan itu," ucapnya yang saat ini bangkit dari kursi dan kembali mencoba untuk kembali menenangkan anak laki-laki yang sudah menangis di lantai.


Sementara itu, Austin seketika menyuruh pelayan untuk membelikan banyak coklat dan es krim di minimarket sebelah apartemen.


Bahkan kini masih melihat interaksi antara nenek dan cucu laki-laki yang berada di lantai. Merasa sangat terharu melihat kasih sayang dari sang nenek pada cucunya, ia merasa sangat berdosa sekaligus bersalah karena membiarkan Diandra mengurus sendiri putranya tanpa suami.


'Kamu pasti selama ini sangat kesusahan saat harus mengurus Aksa sendirian. Seharusnya kamu mencariku dan meminta pertanggungjawaban. Sikapmu yang sangat keras, seolah membuatku tidak bisa berbuat apa-apa.'


Sang ibu yang dari tadi sibuk mengusap lembut punggung dan rambut cucunya, sudah menyebutkan es krim dan coklat. Namun, karena memang belum ada bentuknya, sehingga anak kecil itu tetap terus menangis.


"Mama?" ucap anak laki-laki yang saat ini sangat merindukan sang ibu.


Austin kini menatap ke arah sang ibu dan mengungkapkan pemikiran. "Aku bawa Aksa ke rumah sakit saja untuk bertemu dengan Diandra. Sepertinya putraku memang sangat merindukan ibunya."


Kemudian beralih bangkit berdiri. "Aku mandi dulu, Ma. Mungkin sebentar lagi, pelayan akan datang membawa coklat dan es krim."


Sebenarnya sang ibu ingin bertanya mengenai bagaimana keadaan Diandra jika bertemu dengan Aksa. Apalagi mengetahui bahwa wanita itu mengalami amnesia dan berpikir akan bermasalah jika membawa Aksa ke rumah sakit.


Namun, putranya sudah menghilang di balik dinding dan berniat untuk bertanya nanti. Kemudian beralih menatap ke arah cucunya yang tidak mau berhenti menangis tersebut.


Hingga beberapa saat kemudian, pelayan datang membawa es krim dan coklat satu kantong plastik besar dan seketika ia membulatkan mata.


"Apa kau memborong di minimarket? Ini terlalu berlebihan." Ia menepuk jidat begitu melihat aneka jenis coklat dan es krim dengan banyak rasa.

__ADS_1


Sementara itu, wanita yang tadi disuruh untuk membeli semua jenis makanan itu oleh sang majikan, sehingga hanya patuh saja. "Maaf, Nyonya. Tadi, tuan Austin mengatakan harus membeli semua jenis karena tidak mengetahui rasa apa yang disukai oleh tuan Aksa."


Meskipun pemikiran putranya benar, tapi melihat banyaknya es krim dan coklat di tangan dan sudah dipegang oleh cucunya yang mendadak berbinar, membuatnya tidak lagi mempermasalahkan.


"Ternyata Aksa benar-benar darah daging Austin karena tingkah masa kecil sama." Kemudian melihat cucunya memilih es krim rasa coklat.


Ia mengambil dua es krim dan coklat karena ingin menyuruh pelayan menyimpan di kulkas. Kemudian melihat cucunya memilih sendiri dengan rasa berbeda. Bahkan juga mengambil beberapa coklat.


"Aksa memanglah putra papa karena dulu papamu juga langsung diam begitu dibelikan es krim dan coklat." Menoleh ke arah pelayan. "Lanjutkan pekerjaanmu setelah menyimpan ini di kulkas."


"Siap, Nyonya." Mengambil kantong plastik berisi es krim dan coklat sebagai persediaan untuk anak kecil itu dan mulai berjalan menuju ke arah dapur dan menaruh freezer.


Sang ibu yang dari tadi menatap intens cucu laki-laki di hadapannya menikmati es krim yang tadi langsung dibukanya, merasa sangat sedih ketika membayangkan selama dua tahun menjalani hidup tanpa mendapatkan kasih sayang seorang ayah.


"Jika Diandra menuntut pertanggungjawaban dari putraku dulu sepertinya ibumu akan semakin terluka. Namun, ketika memilih untuk membesarkanmu sendiri, pasti sangat berat karena wanita hamil butuh kasih sayang seorang suami dan juga merawat sendiri tanpa ada yang membantu."


Saat baru saja selesai berbicara sendiri, di saat bersamaan, mendengar suara bariton putranya.


"Karena itulah aku ingin mengganti penderitaan Diandra dengan memberinya kebahagiaan," ucap Austin yang baru saja selesai mandi dan sudah terlihat sangat rapi untuk segera pergi ke Rumah Sakit.


Sang ibu menatap ke arah Austin yang sudah terlihat segar dengan rambut masih basah. "Mama setuju saat kamu mengambil keputusan besar dalam hidup dan menjadi seorang pria gentleman dengan tetap menerima Diandra."


"Nanti Mama ikut ke Rumah Sakit karena ingin melihat calon menantuku," ucapnya yang merasa sangat bangga bisa memiliki seorang putra yang bertanggungjawab.


Austin yang kini bisa melihat putranya sudah sibuk dengan es krim dan tidak lagi menangis, kini merasa sangat lega. "Sepertinya tidak perlu ke Rumah Sakit, Ma karena putraku kini telah lupa."


"Baiklah. Mama bisa datang lain kali karena masih ada banyak waktu. Atau nanti Mama dan papamu yang datang setelah pulang kerja," sahutnya yang tengah memikirkan itu.


"Iya, Ma. Kalian bisa datang ke rumah sakit untuk membicarakan mengenai pernikahan karena ada orang tua Diandra di sana."


"Aksa nanti pasti akan disayangi Diandra meskipun amnesia karena memiliki ikatan batin sangat kuat sebagai ibu dan anak." Austin kini merasa sangat lega setelah putranya tidak menangis lagi dan berniat untuk menghabiskan waktu bersama seharian dengan menemani bermain.


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2