Konspirasi Cinta

Konspirasi Cinta
Mencium dengan brutal


__ADS_3

Diandra melangkahkan kaki jenjangnya memasuki apartemen yang akan menjadi neraka dan mungkin membuatnya merasa menjadi wanita hina seumur hidup karena menjual keperawanannya pada pimpinan perusahaan.


Mungkin bagi orang lain, kehilangan keperawanan adalah sebuah hal biasa ketika dilakukan oleh sepasang kekasih yang saling menikmati, tapi itu tidak berlaku bagi Diandra yang selama ini tidak pernah menjalin hubungan dengan pria manapun.


Itu karena ia sangat takut terkena jerat hubungan terlarang penuh dosa atas nama cinta. Apalagi ia mempunyai teman yang berakhir jadi seorang pelacur setelah masa remajanya rusak gara-gara pacaran.


Sebuah hal lumrah yang sering terjadi di kalangan anak muda, yaitu tidak bisa menahan nafsu dan endingnya berakhir menjadi seorang pendosa karena berzina.


Saat Diandra menegang teguh prinsip hidup, tapi takdir tidak memihaknya sama sekali karena hari ini ia akan menjadi salah satu pendosa karena berzina. Ia tahu, alasan apapun tidak membenarkan perbuatannya meskipun itu demi sang ayah.


Diandra mengedarkan pandangannya ke sekeliling area ruangan depan dengan fasilitas lengkap nan mewah dan bulu kuduk meremang seketika kala berada di ruangan sangat sepi dan sunyi.


'Ayah, ibu, maafkan aku. Aku tahu jika kalian mengetahui apa yang kulakukan sekarang, pasti marah dan menyalahkan diri sendiri. Ini akan menjadi rahasiaku seumur hidup. Setelah hari ini, aku akan menghilang dari kota ini.'


'Aku akan pergi jauh dari kota yang membuatku menjadi seorang pendosa,' lirih Diandra yang kini menghentikan langkah kaki begitu melihat sosok pria yang terlihat memakai jubah handuk dengan rambut masih basah dan terlihat tetesan air membasahi wajah.


Mungkin bagi orang lain, pesona pria di hadapannya itu sangat luar biasa di mata para wanita. Namun, tidak baginya karena saat ini hanya sebuah kebencian yang ia rasakan saat ini karena menganggap jika seorang Austin Matteo adalah pria tidak punya perasaan.


Diandra merasa bingung harus berkata apa dan memilih untuk menunggu apa yang akan dikatakan oleh pria yang menurutnya sangat aneh karena tengah malam mandi.


Sangat kontras dengan penampilannya yang bahkan belum sempat mandi karena tadi berakhir di rumah sakit.


"Astaga!" Austin yang tadi baru selesai mandi mendengar passcode apartemen dipencet dan merasa senang saat wanita yang ditunggu datang, buru-buru berjalan keluar kamar.


Namun, begitu melihat sosok wanita dengan penampilan kusam dan masih menggunakan seragam kantor, sama seperti tadi pagi, membuatnya memicingkan mata.


"Apa kamu baru pulang dari kantor? Jam berapa ini? Bukankah ini sudah hampir tengah malam? Lihatlah keadaanmu saat ini yang sangat berantakan dan tidak menarik." Austin menatap penampilan Diandra mulai dari ujung kaki hingga ujung kepala.


Awalnya ia berpikir jika Diandra datang dengan keadaan yang jauh lebih baik, meskipun tidak bisa tampil seksi seperti para kekasihnya, tapi tidak seperti yang dilihatnya sekarang.


Bahkan ia beberapa kali geleng-geleng kepala melihat bagaimana seorang wanita dari pagi sampai hampir tengah malam belum mandi.


Diandra menelan ludah dengan kasar karena merasa sangat tertampar sekaligus terhina. Ia ingin marah dan membantah, tapi seolah lidahnya kelu dan tidak bisa mengungkapkan apa yang dirasakan.

__ADS_1


'Jika aku tidak menarik, kenapa ia bersedia untuk membeli keperawananku? Apa ia sudah biasa melakukan hal seperti ini? Menikmati tubuh para wanita demi nafsu,' gumam Diandra yang berjenggit kaget ketika saat melamun, tiba-tiba tubuhnya melayang ke atas, sehingga menjerit karena saking terkejutnya.


Saat ini, Austin yang geram melihat wanita yang sama sekali tidak bersuara atau pun menjawab pertanyaan darinya, sehingga langsung menggendong tubuh kurus Diandra dan membawanya ke kamar.


Dengan gerakan kaki menutup pintu, sehingga ruangan kamar yang penuh keheningan itu sejenak dihiasi oleh suara terhempasnya pelindung utama tempat paling privasi itu.


"Kenapa kau sekarang jadi berubah bisu? Padahal tadi asyik mengumpat padaku? Atau kau ingin kita main sekarang karena sudah tidak sabar?" tanya Austin yang seketika membanting tubuh Diandra ke atas ranjang king size miliknya.


Kemudian berniat untuk membuka tali ikatan jubah handuknya, tapi tidak jadi melakukannya begitu melihat wanita yang berada di atas ranjang dengan posisi telentang itu mengarahkan kedua tangan ke arahnya.


"Tunggu!" teriak Diandra yang merasa sangat ketakutan sambil meringis menahan tubuhnya yang tadi terhempas ke atas tempat tidur. "Aku tadi baru menolong orang kecelakaan dan membawanya ke rumah sakit."


"Jadi, aku belum sempat pulang ke tempat kos. Aku ingin mandi dulu karena rasanya tubuhku sangat lengket dan risi." Diandra berusaha untuk mengulur waktu karena jujur saja ia saat ini sangat ketakutan, tapi harus berakting seperti tidak merasakan apapun.


Ia tahu jika berteriak histeris ketika pria itu membanting tubuhnya dan mungkin akan melakukannya dengan kasar, membuatnya tidak seperti itu. Jadi, kini beralasan hal yang sempat menjadi nada protes pria dengan iris tajam berkilat seolah hendak menerkamnya bak binatang buas.


"Di mana kamar mandinya?" Sekali lagi Diandra bertanya untuk menghilangkan keheningan di ruangan kamar.


Sementara itu, Austin tadinya merasa sangat geram karena berpikir bahwa ia sudah mengeluarkan banyak uang untuk menolong wanita di hadapannya saat membutuhkan bantuan, tapi malah mendapatkan sikap dingin.


Hingga ia kini mengerti alasan apa yang membuatnya heran pada penampilan Diandra yang masih berpenampilan sama seperti tadi pagi saat bekerja di kantor.


"Kenapa kau harus repot-repot mengurus korban kecelakaan saat ada banyak orang? Apa tidak ada orang lain di sana? Bahkan kau tadi lembur dan pastinya banyak pikiran, sehingga membuatmu lelah."


Kini, Austin berjalan mendekat untuk menghampiri wanita yang sudah duduk di tepi ranjang. Kemudian mengarahkan jari telunjuk pada pipi putih mulus Diandra.


"Ternyata kamu sangat pintar karena berpikir akan mandi terlebih dulu sebelum kita bercinta. Memang benar harus terlihat segar dan wangi karena aku sudah membayar mahal keperawanan yang kamu jual."


Austin masih tidak berkedip dan tersenyum menyeringai ketika menelusuri setiap sudut bagian wajah Diandra yang hanya dia membisu atas apapun yang dilakukan olehnya.


Ia hari ini benar-benar sangat senang karena wanita yang selalu menolaknya serta kasar tersebut kini tidak berkutik dan membiarkannya berbuat apapun sesuka hati.


Merasa bahwa apapun yang diinginkan tidak akan pernah gagal, kini Austin seketika tertawa. "Sepertinya aku harus menunggu lebih lama karena kamu akan mandi terlebih dahulu."

__ADS_1


Kemudian ia mengarahkan jari telunjuk pada kamar mandi. "Mandilah di sana! Aku akan mentransfer uangnya saat kau mandi dan bisa digunakan oleh orang tuamu untuk biaya rumah sakit."


"Jadi, kau tidak perlu ragu lagi ketika memikirkan uang untuk biaya operasi ayahmu karena semuanya sudah beres. Jadi, tinggal kamu melayaniku dengan baik di atas ranjang ini."


Kalimat terakhir dari pria yang membuatnya merasa sangat hina, seolah anak panah yang menembus jantung Diandra. Ia tersenyum simpul dan berakting sebaik mungkin.


"Terima kasih, Tuan Austin. Aku akan mandi sekarang agar Anda tidak terlalu lama menunggu." Kemudian segera bangkit berdiri dan buru-buru berjalan ke arah kamar mandi.


Ruangan kamar mandi dengan segala furniture mewah dan berkelas yang pertama kali dilihat, membuat Diandra menyadari bahwa ia jauh lebih hina dari perlengkapan yang ada di hadapannya.


Hingga saat ia mengunci pintu dan langsung menanggalkan semua pakaiannya, bulir air mata seketika terjun bebas tanpa seizinnya dan ia berjalan ke bawah shower karena ingin menangis dan tidak terdengar oleh pria di luar ruangan.


'Aku benar-benar sangat jijik saat pria itu sedikit menyentuhku. Bagaimana jika nanti pria itu melakukannya? Aku harus bagaimana?' gumam Diandra yang saat ini sudah menangis dengan memejamkan mata dan membiarkan bulir air membasahi tubuhnya yang sudah polos.


'Hanya satu kali, Diandra. Pasti kamu bisa dan bayangkan saja bahwa saat ini ibumu sudah tidak lagi bersedih setelah menerima uang untuk biaya operasi.'


Diandra masih berusaha untuk menguatkan diri agar tidak terlihat kacau saat keluar dari kamar mandi dan membuat pria yang baru saja mengatakan akan mentransfer uangnya sebelum melakukannya itu tidak kecewa atau marah padanya dan berakhir dengan cara kasar menggaulinya.


"Hanya sekali saja dan aku akan langsung pergi dari sini!" lirih Diandra yang kini sudah menggosok tubuhnya dengan sabun beraroma khas maskulin laki-laki.


Hingga beberapa saat kemudian, ia sudah selesai dan mengenakan jubah handuk milik pria pemilik apartemen mewah itu. Kini, ia tengah berdiri di depan cermin dan menatap penampilannya yang saat ini tidak memakai pelindung tubuh di bagian paling sensitif.


Ia beberapa kali menutup wajahnya ketika merasa gugup akan keluar dari ruangan kamar mandi. 'Rasanya aku ingin waktu berhenti sampai di sini saja karena benar-benar takut.'


Diandra tadi sengaja berlama-lama di dalam kamar mandi untuk mengulur waktu, tapi sepertinya pria di luar sana menyadarinya dan kini terdengar suara ketukan pintu. Ia seketika menoleh ke arah pintu.


"Kenapa lama sekali?" teriak Austin yang saat ini tengah berdiri di depan pintu karena dari tadi merasa waktu berjalan sangat lama ketika menunggu Diandra mandi.


Ia sudah tidak sabar untuk segera mencumbu wanita itu di atas ranjang sepuasnya, jadi segera menyuruh Diandra keluar dari kamar mandi begitu suara gemericik air sudah tidak terdengar lagi.


"Ya, sebentar!" teriak Diandra yang saat ini mengambil napas teratur untuk menormalkan perasaan memuncak dan bergejolak penuh dengan kegugupan.


Kemudian ia melangkahkan kakinya menuju ke arah pintu dan membukanya. Melihat pria yang berdiri di hadapannya, membuat ia seketika membulatkan mata karena menghambur ke arahnya untuk menciumnya dengan brutal.

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2