
Merasa sangat senang karena mendapatkan sebuah kesempatan saat di anda tidak menolak keinginannya, refleks Austin tidak membuang waktu dan langsung mengungkapkan sesuatu yang ada di pikirannya saat ini.
"Aku sangat yakin jika kita bersatu udah sebentar lagi benar-benar akan menikah. Jadi, aku ingin tahu konsep pernikahan apa yang kamu inginkan? Biar aku urus semuanya dan kamu tinggal tahu beres saja!" Austin bahkan bisa melihat raut wajah memerah dari Diandra yang saat ini menatapnya sangat tajam.
Namun, itu sama sekali tidak membuatnya merasa takut ataupun mengurungkan niat untuk membahas mengenai masalah pernikahan.
Karena setelah mendengar penjelasan dari detektif yang mengatakan jika besok Yoshi akan menikah di rumah sakit, membuatnya ingin mengikuti jejak pria itu karena tidak mau kalah cepat.
Meskipun ia tahu bahwa respon dari Diandra saat ini tidak bersahabat karena malah mengarahkan tatapan penuh kebencian padanya dan sama sekali tidak ia pedulikan.
"Dasar gila!" sarkas Diandra yang saat ini sudah sangat malas menanggapi pria yang dianggap tidak punya hati tersebut karena berbicara sangat konyol meskipun ia sudah menjelaskan perasaannya.
'Aku hanya mengorbankan waktu dan tenagaku sia-sia untuk berbicara dengan pria sialan itu. Aku bahkan sudah mengatakan tadi sangat mencintai Yoshi dan hanya ingin menikah dengannya, tapi sepertinya Austin adalah pria psycho gila yang sangat terobsesi padaku,' umpat Diandra yang saat ini berjalan cepat menuju ke arah lobi.
Bahkan ia buru-buru memencet lift agar bisa segera masuk dan tidak lagi bertemu dengan pria yang sangat dibencinya tersebut, tapi lagi dan lagi ia merasa sangat marah sekaligus kesal
Karena saat ini Austin sudah berdiri di depan lift dan menghalanginya masuk. Diandra tidak bisa masuk ke dalam lift karena jika sampai Austin mengikutinya sampai ke lantai atas, akan mengetahui tempat tinggalnya.
"Sayang, Kamu tinggal jawab saja dan tidak perlu memikirkan hal lainnya. Sebelum kamu menjawabnya, aku tidak akan pergi dan malah mengikutimu." Austin sama sekali tidak memperdulikan tanggapan buruk dari Diandra.
Ia hanya memikirkan jika keyakinannya untuk bisa menikah dengan wanita di hadapannya tersebut akan benar-benar menjadi kenyataan. Namun, sayangnya tidak bisa mengatakan hal sebenarnya mengenai Yoshi yang besok akan menikah secara sederhana di rumah sakit.
__ADS_1
Karena merasa sangat marah pada sosok pria yang berdiri di hadapannya tersebut seperti tidak punya perasaan karena tidak bisa mengerti dirinya, reflek Diandra seketika mengarahkan pukulan pada dada bidang Austin.
"Kau benar-benar sangat berengsek! Aku sangat membencimu dan tidak akan pernah mencintaimu. Kau tidak akan pernah mendapatkan apa yang kau inginkan! Aku tidak akan sudi menikah denganmu karena hanya mencintai Yoshi. Aku hanya akan menjadi istri Yoshi. Sadarlah itu!"
Diandra terus mengarahkan pukulan sambil berteriak memaki tanpa memperdulikan jika suaranya akan membuat gaduh lobi apartemen.
Satu-satunya yang dipikirkan olehnya saat ini hanyalah ingin mengusir pria yang sangat dibencinya tersebut agar pergi dari hadapannya.
"Terbuat dari apa hatimu hingga tidak bisa mengerti bagaimana perasaan seorang wanita. Bukankah kau lahir dari rahim seorang wanita? Apa kau tidak bisa menghormati seorang wanita seperti pada ibumu?" teriak Diandra yang saat ini merasa lelah karena meskipun mengarahkan pukulan bertubi-tubi, pria di hadapannya tersebut tidak kunjung pergi.
Bahkan malah tersenyum padanya dan membuatnya tidak habis pikir dengan pikiran pria itu. "Bisa-bisanya kau tertawa setelah membuat seorang wanita menangis dan hancur seperti ini?"
Sementara itu, Austin saat ini tengah memikirkan jika besok Diandra jauh lebih hancur dari yang sekarang begitu mengetahui Yoshi mengabarkan pernikahan.
Ia masih menunggu hingga Diandra lebih tenang dan mengungkapkan mengenai perihal Yoshi yang besok akan menikah dengan wanita lain.
Awalnya ia ingin merahasiakan hal itu, tapi melihat respon Diandra seolah yakin bisa menikah dengan Yoshi, membuatnya ingin menjelaskan mengenai kabar dari sang detektif yang dibayarnya mahal.
Hingga begitu bibir sensual yang dari tadi mengumpatnya tersebut sudah tertutup rapat, sehingga berpikir bahwa saat ini gilirannya untuk menjelaskan hal yang sebenarnya terjadi.
"Sayang, ada sesuatu yang ingin kusampaikan mengenai Yoshi dan pastinya ini akan membuatmu tidak lagi murka padaku seperti ini seolah Aku adalah seorang penjahat wanita," ucap Austin yang saat ini melihat ekspresi wajah Diandra yang penasaran.
__ADS_1
"Jangan terus panggil aku dengan kalimat menjijikkan itu! Aku tidak mau mendengar apapun darimu karena hanya ingin pulang! Menyingkirlah dari hadapanku!" sarkas Diandra yang saat ini menatap penuh kebencian sosok pria dengan iris tajam tersebut.
'Aku tidak tahu cara menghadapi pria brengsek ini agar tidak lagi mengincarku. Bahkan tadi aku sudah mengatakan akan berlutut di bawah kakinya agar, tapi sama sekali tidak membuatnya melepaskanku. Apa yang harus kulakukan saat ini untuk membuatnya tidak lagi terobsesi padaku?'
Diandra berniat untuk naik tangga darurat jika sampai Austin tidak segera pergi dari hadapannya karena berhadapan dengan pria itu hanya membuatnya terluka karena mengingat jika saat ini hanyalah seorang wanita tanpa harga diri karena kehilangan kesucian.
Satu-satunya hal yang harusnya dibanggakan olehnya sebagai seorang wanita yang bahkan bukan berasal dari keluarga berada tidak dimilikinya dan membuatnya seperti seorang wanita tanpa harga diri.
Ia bahkan selalu merasa tidak percaya diri jika nanti dikenalkan oleh Yoshi pada orang tuanya.
Meskipun pria yang dicintainya tersebut adalah seorang pria baik dan bertanggung jawab tanpa memperdulikan statusnya yang sudah tidak perawan, tetap saja ada banyak hal yang membuatnya ragu karena khawatir tidak mendapatkan restu.
Diandra tidak bisa meninggalkan Austin karena saat ini pria itu sudah menahan kedua sisi lengannya dengan berdiri tepat di hadapannya dan hanya berjarak beberapa senti saja.
"Aku tidak akan pergi sebelum mengatakan hal ini padamu, Sayang. Karena apa yang akan kusampaikan ini membuatmu akan menyadari arti posisimu di dekat pria yang kau banggakan itu."
Satu-satunya jalan yang diambil oleh Austin hanyalah menghalangi kepergian Diandra sebelum menceritakan semua hal yang didengarnya beberapa saat lalu. Jadi, ia saat ini mencengkeram erat kedua sisi lengan wanita yang selalu saja hendak kabur darinya.
Sementara itu di sisi lain, Diandra yang sebenarnya sangat malas dan tidak ingin selalu berada pada posisi intim dengan pria yang dibenci, mencoba untuk melepaskan lengannya dari kuasa.
"Lepaskan aku! Kau tidak perlu melakukan hal seperti ini saat ingin berbicara denganku! Katakan saja semuanya karena aku tidak akan kabur!" umpat Diandra yang saat ini berharap Austin akan melepaskannya karena ia sangat risi serta jijik ketika pria itu menyentuhnya karena selalu mengingatkannya pada harga dirinya yang terkoyak.
__ADS_1
To be continued...