Konspirasi Cinta

Konspirasi Cinta
Mengetahuinya sebentar lagi


__ADS_3

"Kamu dengar yang tadi dikatakan oleh perawat, kan Sayang? Jadi, jangan pamer kemesraan di depan orang lain atau pun media sosial. Aku tidak suka. Aku lebih suka bahagia di dunia nyata daripada di medsos. Kita tidak perlu mengekspos kebahagiaan kita di depan orang lain dan tunjukkan saja semuanya di rumah." Diandra saat ini sudah duduk di dalam mobil yang baru saja meninggalkan area rumah sakit.


Tadi ia membenarkan perkataan dari sang perawat yang membahas tentang pelakor zaman sekarang tidak punya hati ataupun malu mengumbar kegilaan ketika mengincar suami orang. Ia ingin menyuruh sang suami sadar jika tidak perlu menunjukkan keromantisan di depan umum yang hanya akan membuat orang merasa iri.


Austin yang memang selama ini tidak suka menunjukkan keromantisan di depan orang lain kecuali Diandra. Ia saat ini memeluk erat sang istri yang juga bersandar di pundaknya.


"Iya, Sayang. Aku akan mengingat hal itu dan tidak akan mengulanginya lagi agar tidak ada para wanita yang mengincarku dan membuatmu tenang. Begitu, kan konsepnya?" Kini mengusap lembut punggung tangan wanita yang hanya menganggukkan kepala untuk membenarkan.


Hingga mengingat sesuatu tentang pembicaraannya dengan ayah dari sahabat baiknya tadi. "Sayang, kata temannya ayah Leony, nanti kamu juga harus ke kantor polisi untuk bersaksi karena itu dibutuhkan demi menguatkan tuntutanku pada mamanya Yoshi. Kamu tidak masalah, kan?"


Sebenarnya ia tidak ingin sang istri datang ke kantor polisi dan harus repot untuk memberikan keterangan, tapi karena syaratnya memang seperti itu, akhirnya ia tidak bisa menolak. Mungkin nanti ia akan secara khusus mengantarkan agar sang istri tidak terlalu lelah atau berada di kantor polisi cukup lama.


Saat Diandra tadi bersandar sambil menatap ke arah jalanan yang dilalui dengan banyaknya kendaraan yang melintas hari ini, ia sebenarnya sangat malas untuk pergi, tapi karena tidak ada pilihan lain, sehingga membuatnya tidak ada pilihan lain.


"Memangnya kapan aku harus ke kantor polisi?" tanya Diandra yang saat ini mengangkat pandangannya.


"Masih belum dipastikan kapan, tapi sewaktu-waktu dipanggil harus siap untuk datang." Austin sebenarnya berencana untuk membuat sang istri memberikan kesaksian di rumah saja dengan alasan tidak fit karena hamil.


Namun, belum mengatakan itu dan nantinya akan berdiskusi jika berbicara dengan pihak kepolisian. Ia saat ini merapikan anak rambut yang terlihat berantakan.


"Lihatlah rambutmu sampai berantakan seperti ini. Satu hari nggak mandi dan nggak sisiran, tapi tetap wangi dan cantik," ucap Austin yang saat ini mengecup lembut kening wanita yang seketika mencubit pinggangnya hingga membuatnya tertawa karena melihat raut wajah memerah sang istri.


"Dasar lebay!" Diandra tadinya menatap serius sang suami ketika membahas tentang laporan yang membutuhkan kesaksiannya.


Jadi, begitu melihat pria itu memujinya, tentu saja membuatnya sangat malu sekaligus menganggap jika sang suami hanya sedang menipu.


"Mana ada orang nggak mandi masih wangi," ucap Diandra yang saat ini ingin memastikan perkataan dari sang suami dengan mencium bagian ketiaknya.


Namun, ia yang memang sama sekali tidak berkeringat selama di rumah sakit karena menggunakan AC, sehingga memang tidak bau.


"Ternyata benar masih wangi," ucapnya dengan terkekeh geli. "Kamu benar, Sayang. Aku memang masih wangi dan juga cantik seperti katamu." Kemudian ia langsung bergerak mencium pipi putih dengan rahang tegas tersebut.

__ADS_1


"Terima kasih, Sayang. Kamu selalu membuatku merasa menjadi wanita paling bahagia di dunia ini." Diandra yang tadinya berbinar wajahnya, seketika membulatkan mata melihat perbuatan dari sang suami.


Refleks Austin langsung membersihkan bekas ciuman dari sang istri dengan menghapusnya memakai sapu tangan miliknya yang tadi diraih dari saku celana.


"Apa yang sedang kamu lakukan?"


"Membersihkan bekas ciumanmu," sahut Austin dengan santai dan memasukkan kembali sapu tangan ke dalam saku celananya.


"Apa? Kamu membersihkan bekas ciumanku? Apa kamu sekarang jijik?" Wajah Diandra yang tadinya berbinar, seketika berubah masam karena merasa sangat kesal atas perbuatan sang suami.


Ia bahkan tidak mendapatkan jawaban yang pasti karena pria itu hanya diam saja, seolah tidak ingin mengatakan apapun karena khawatir ia tersinggung. Merasa sangat kesal, refleks ia kembali mencium di bagian yang sama seperti tadi.


Austin saat ini kembali melakukan hal sama seperti beberapa saat lalu. "Sudah, Sayang. Jangan terus menerus menciumku." Bahkan untuk kali ini, Austin membersihkan sampai dua kali.


Ia bisa melihat sang istri kesal padanya karena wajahnya semakin memerah dan malah membuatnya merasa sangat senang berhasil mengerjai. 'Dasar istri tidak peka!' gumamnya yang saat ini merasa jika sebentar lagi sang istri akan menghukumnya dengan sesuatu yang ia sukai.


"Issh ... menyebalkan sekali kamu, Sayang!" Diandra seketika bergerak untuk kembali mencium pipi yang tadi dihapus bekasnya. "Ini rasakan! Bersihkan sampai ribuan kali sekalian!"


Diandra bahkan sudah berkali-kali mencium pipi kiri pria yang memantik amarahnya. "Nah, bersihkan lagi sana!"


Ia memilih untuk menatap ke arah sebelah kirinya. Melihat kendaraan yang melintas menjadi kesibukannya hari ini ketika di dalam mobil karena tidak ingin melihat sang suami yang membuatnya kesal.


Saat ia berusaha untuk menormalkan perasaannya karena kesal pada sang suami, indra pendengarannya menangkap suara bariton dari sang suami yang seolah menertawakannya.


"Dasar istri tidak peka! Jika suamimu ini menghapus bekas ciumanmu, itu berarti minta lagi. Bukan karena jijik. Apa itu saja perlu ku jelaskan? Bahkan kamu bukan gadis remaja atau anak kecil yang tidak tahu apa-apa tentang asmara. Atau istriku memang sepolos itu?"


Ia seketika melihat Diandra menoleh ke arahnya dengan raut wajah terkejut dan malah membuatnya tertawa.


Diandra makan sama sekali tidak berpikir jika apa yang dilakukan sang suami ternyata seperti itu artinya. Ia baru menyadari jika benar-benar tidak peka karena dikerjai oleh sang suami yang ternyata ingin ia terus menciumnya.


Merasa sangat kesal, ia refleks memukul berkali-kali lengan kekar di balik kaos kasual berwarna putih tersebut. "Sayang benar-benar sangat menyebalkan!"

__ADS_1


Diandra berteriak penuh kekesalan karena saat ini merasa jika pria itu telah membuatnya seperti seorang wanita yang sangat bodoh. "Aku memang wanita polos yang tidak berpengalaman dalam masalah cinta "


Austin hanya tertawa terbahak-bahak melihat raut wajah kesal yang ditunjukkan oleh sang istri. Ia bahkan sama sekali tidak merasa sakit atas pukulan bertubi-tubi yang dilayangkan padanya.


Ingin membuat sang istri melampiaskan apa yang dirasakan saat ini, sehingga tidak menghentikannya. "Ya, tentu saja aku tahu jika kamu tidak mempunyai pengalaman sama sekali, Sayang. Makanya aku mengerjaimu tadi karena sudah sangat yakin jika kamu akan terus menciumku karena kesal."


"Mana mungkin aku melakukannya jika kamu sudah berpengalaman? Itu tidak akan berhasil, bukan?" Kemudian ia membuka tangannya untuk memberikan kode pada sang istri agar kembali ke pelukannya dan tidak duduk berjauhan seperti orang yang sedang bermusuhan.


"Kemarilah! Jangan duduk di pojok seperti kita tidak saling mengenal saja. Bukankah sangat nyaman berada di pelukanku?" Ia pun mengedipkan mata dan membuatnya tidak lagi bisa menahan rasa gemas pada wanita yang kini seketika menggeser tubuh dan memeluknya dengan manja.


Diandra benar-benar tidak habis pikir, bagaimana sang suami bisa mengerjainya dan ia tidak tahu apapun. Namun, ia kali ini kembali merasa sangat senang karena pikirannya salah.


"Lain kali jangan seperti ini lagi karena aku tidak suka main teka-teki," sahut Diandra yang saat ini sudah membenamkan wajahnya di dada bidang pria yang tengah memeluknya dengan erat.


Ia mencium harum khas maskulin dari sang suami yang selalu menjadikan dunia. "Wangi maskulin."


Austin saat ini hanya terkekeh geli melihat sang istri mengendus aroma tubuhnya. "Tentu saja karena ini adalah peletku untuk mendapatkanmu."


"Aku bahkan membeli parfum dari luar negeri dengan harum khas yang tidak terlupakan dan membuatmu ingin selalu memelukku, kan karena ketagihan dengan wanginya." Ia yang ingin menggoda sang istri, kini mendengar suara dering ponsel miliknya dan meraih dari saku celana.


Saat melihat panggilan internasional, sudah bisa menebak jika itu mungkin adalah Yoshi. "Sebentar, Sayang."


Diandra yang tadinya bermanja-manja dipelukan sang suami, kini menarik diri dan membuatnya merasa penasaran, sehingga membuat ia menatap ke arah ponsel di tangan pria itu.


"Siapa?" Ia yang saat ini melihat nama mantan mertuanya, seketika bersitatap dengan sang suami. "Mamanya Yoshi? Apa jangan-jangan sudah tahu apa yang kita lakukan karena melaporkannya pada polisi?"


Yoshi berpikiran yang sama dan merasa sangat senang jika itu benar-benar terjadi karena papa dari Leony dengan cepat membantunya. "Kita akan mengetahuinya sebentar lagi."


Kemudian menggeser tombol hijau ke atas untuk mendengarkan suara dari seberang telepon. Hingga ia mendengar suara umpatan dari sosok pria yang ada di seberang telpon sana.


"Berengsek kau Austin Matteo!"

__ADS_1


Refleks Austin dan Diandra seketika saling menatap dan sudah mengetahui apa yang terjadi dan membuat pria di seberang telepon murka.


To be continued...


__ADS_2