Konspirasi Cinta

Konspirasi Cinta
Menangis dalam dekapan


__ADS_3

Diandra saat ini merasa tubuhnya lunglai dan kekuatannya seolah hilang saat panggilan tiba-tiba terputus secara sepihak setelah mendengarkan sebuah ancaman dari pria yang telah memporak-porandakan hatinya.


Tidak ingin jatuh terhuyung belakang karena tubuhnya sangat lemas, ia saat ini memilih untuk mendaratkan tubuhnya pada salah satu kursi tak jauh dari tempatnya berdiri.


Bahkan ia saat ini menunduk ke arah telapak tangannya yang gemetar dan berkeringat karena memikirkan berbagai macam kemungkinan buruk yang akan terjadi.


"Apa yang akan dilakukan pria berengsek itu?" tanya Diandra yang saat ini mencoba untuk menenangkan diri dengan beberapa kali mengepal dan membuka telapak tangan agar tidak terlihat bergetar.


Ia bahkan saat ini berpikir jika sesuatu hal yang sangat ditakutkan mungkin sebentar lagi terjadi padanya. "Apa Austin akan mengarang sebuah cerita baru untuk menghancurkan harga diriku demi bisa memenuhi keinginan gilanya."


"Aku tidak mungkin menikah dengan pria berengsek sepertinya karena tidak pernah bisa menghargai seorang wanita. Ia hanya menganggap aku sebagai seorang budak yang harus patuh padanya tanpa memikirkan bagaimana perasaanku."


Diandra bahkan tidak pernah sekalipun berpikir jika ia akan menghabiskan seluruh sisa hidupnya dengan pria seperti Austin yang dianggap tidak bisa membuatnya bahagia.


"Aku sangat membencinya dan pasti hanya akan hidup tertekan jika ia bisa melaksanakan rencananya untuk menikahiku." Diandra yang saat ini merasa sangat frustasi pada hidupnya yang kacau, kini mengacak frustasi rambutnya hingga berantakan.


Ia beralih menatap ke arah para pengunjung yang berlalu lalang di hadapannya dan beberapa orang yang sudah bermain wahana di sana.


Mereka terlihat penuh kebahagiaan dan memang tujuan datang ke tempat wisata seperti itu adalah ingin mencari penghiburan.


Jika ia tadi berpikiran seperti itu, sekarang menyesal karena datang ke sana dan akhirnya bertemu dengan Austin.


"Bahkan hanya ingin menghilangkan stres di pikiranku saja tidak bisa setelah melihat Austin hari ini. Aku sangat lelah dan ingin beristirahat, tapi tidak punya tempat untuk berteduh karena harus mencari terlebih dahulu."


Saat Diandra mengembuskan napas kasar mengungkapkan perasaan yang membuncah saat ini, ia mendengar suara bariton dari pria yang sangat dihafalnya tengah memanggil namanya dan membuatnya menolehkan kepala ke sebelah kanan untuk mencari sumber suara.


"Diandra!" teriak Yoshi yang masih berada cukup jauh dan merasa sangat lega begitu melihat wanita yang dari tadi dicarinya.


Setelah tadi Austin pergi dan mengejeknya untuk mengungkapkan kepercayaan diri bisa mendapatkan Diandra, ia segera mencari keberadaan wanita yang sangat dikhawatirkan olehnya.

__ADS_1


Ia sangat khawatir jika Diandra melakukan sesuatu yang buruk pada diri sendiri karena merasa terpuruk setelah bertemu dengan pria yang telah memperkosanya.


Sepanjang perjalanan mencari keberadaan Diandra, merasa sangat cemas pada wanita yang ternyata mengalami sebuah hal yang sangat menghancurkan harga diri.


Ia tahu bahwa Diandra pasti sangat terpukul mengalami kejadian paling menyesakkan itu. Namun, ia tahu bahwa yang terjadi hari ini membuat Diandra sangat malu karena Austin berbicara dengan sangat keras saat mengungkapkan hal tersebut.


Begitu menemukan wanita yang sangat dikhawatirkannya, Yoshi segera berlari menghampiri dan kini sudah berdiri di hadapan Diandra yang masih duduk dan mendongak ke arahnya.


"Syukurlah aku bisa menemukanmu." Deru napas memburu terdengar sangat jelas, seolah menegaskan bahwa Yoshi tadi berjalan cukup jauh untuk mencari keberadaan Diandra.


Sementara itu, Diandra hanya diam saja karena merasa bingung harus bagaimana menghadapi pria yang berdiri di hadapannya tersebut. Ia seolah tidak mempunyai harga diri setelah Austin mengatakan dengan jelas telah memperkosanya.


"Kenapa kamu datang ke sini? Seharusnya kamu menelponku agar aku datang ke sana." Akhirnya Diandra berbicara singkat karena tidak ingin membuat Yoshi dicueki olehnya.


Refleks Yoshi mendaratkan tubuhnya di kursi kosong sebelah Diandra. Ia saat ini tidak menatap wajah murung wanita itu karena tengah mengedarkan pandangan pada para pengunjung yang berlalu lalang.


"Maafkan aku karena mengajakmu ke sini dan bertemu dengan bajingan itu." Ia tidak tahu harus bagaimana untuk menghibur Diandra yang terlihat sangat terpukul hari ini.


"Maaf?" Diandra tertawa miris karena kalimat itu harusnya diungkapkan oleh Austin setelah merenggut kesuciannya.


Namun, malah mendapatkannya dari pria yang ia ketahui sangat baik hati. Justru saat ini ia merasa miris karena nasibnya sangat buruk setelah bertemu dengan Austin.


"Yoshi."


"Ehm ...." Yoshi refleks menolehkan kepala ke sebelah kiri untuk menatap wanita yang berbicara sambil menatap ke arah para pengunjung.


Ia ingin tahu apa yang saat ini dipikirkan oleh Diandra dan berharap bisa menghibur dengan memberikan sebuah semangat agar wanita itu tidak semakin terpuruk atau pun putus asa karena mendengar ancaman dari Austin tadi.


Hingga ia merasa bahwa pertanyaan yang baru saja lolos dari bibir Diandra membuatnya menjadi orang tidak berguna.

__ADS_1


"Kenapa kita tidak bertemu sebelum aku mengenal Austin? Jika aku tidak bertemu dengan Austin dan terlebih dahulu mengenalmu, pasti hidupku tidak akan semiris ini. Sebenarnya Austin tidak memperkosa aku karena akulah yang menyerahkan diri padanya."


Yoshi mengerjapkan mata dan merasa sangat terkejut dengan kalimat ambigu dari Diandra. "Apa maksudmu? Aku tidak percaya kamu melakukan itu. Karena sangat yakin bahwa kamu adalah seorang wanita yang baik."


"Jadi, jangan menjelekkan diri sendiri hanya demi si berengsek itu." Yoshi yang baru saja menutup mulut, seketika bersitatap dengan iris kecoklatan karena Diandra seketika menoleh ke arahnya.


"Aku membutuhkan biaya besar untuk operasi jantung ayahku dan sama sekali tidak tahu jika kamu sudah mentransfer uang pada ibuku." Kemudian Diandra mulai menceritakan semuanya saat ia pergi dari rumah sakit.


Bahkan ia menceritakan semuanya tanpa ada yang ditutupi karena saat ini satu-satunya pria yang sangat dipercayai adalah Yoshi.


Diandra tidak peduli pria itu akan menganggapnya seperti apa, tapi yang jelas, ia sudah merasa lega karena tidak lagi menyembunyikan hal yang selalu ingin diketahui oleh pria itu karena sangat mengkhawatirkannya.


"Akulah yang bersalah karena tidak memeriksa ponselku saat itu. Padahal ibu sudah mengirimkan pesan padaku bahwa kamu mentransfer sejumlah uang yang dibutuhkan untuk biaya rumah sakit."


Bahkan karena menyesali perbuatannya yang sangat bodoh, Diandra saat ini tidak kuasa untuk menahan kesedihan yang dirasakan, sehingga bulir air mata sudah membasahi wajahnya.


Kini, Yoshi mulai mengerti semuanya dan merasa tidak tega melihat wanita itu menangis tersedu-sedu, sehingga tanpa pikir panjang, langsung mengarahkan tangannya memeluk tubuh Diandra dan mendekapnya untuk memberikan sebuah ketenangan.


"Menangislah, Diandra. Kamu harus mengeluarkan semuanya agar tidak merasa tertekan karena beban yang kamu tanggung saat ini teramat berat. Aku akan selalu ada untukmu." Yoshi kini mengungkapkan perasaannya dan berharap Diandra mau menerimanya dengan membuka hati.


Ia ingin menjadi tempat nyaman untuk Diandra dan akan menyatakan niat baiknya untuk menjalin hubungan tanpa memperdulikan masa lalu wanita malang itu.


'Aku akan menerimamu tanpa mempermasalahkan jika Austin sudah mengambil mahkota berharga yang kamu jaga selama ini. Bagiku, keperawanan tidaklah penting karena yang paling berharga bagiku adalah hatimu yang sangat baik karena rela mengorbankan diri demi ayahmu.'


Yoshi hanya bisa mengungkapkan semuanya di dalam hati karena ia sadar jika mengungkapkan perasaannya saat ini, justru akan membebani pikiran Diandra dan akan membuatnya merasa tertekan.


Jadi, memilih untuk menundanya dan berharap Diandra bisa mengobati luka hatinya setelah lama mengenalnya.


Sementara itu, Diandra yang memang merasa sangat sedih hari ini, sudah meluapkan semua yang dirasakan dengan menangis dalam dekapan pria yang dianggapnya sebagai Dewa penolong untuknya.

__ADS_1


'Terima kasih, Yoshi. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku jika tidak bertemu dengan pria sebaik dirimu.'


To be continued...


__ADS_2