Konspirasi Cinta

Konspirasi Cinta
Banyak masalah


__ADS_3

Diandra masih berdiri di belakang pintu dan mencoba untuk menenangkan perasaan yang saat ini memuncak karena dikuasai oleh berbagai macam hal yang berhubungan dengan dua pria bertolak belakang itu.


"Ya Allah, apa yang harus kulakukan sekarang? Aku tidak akan sudi menerima bajingan itu yang menghalalkan segala cara untuk membuat orang tuaku memberikan restu." Diandra saat ini mengepalkan kedua tangan dan menatap kosong sekeliling ruangan apartemen yang saat ini ditempati.


"Akulah yang akan menjalani kehidupan rumah tangga dan berhak untuk mengambil keputusan penting dalam hidupku. Bukan orang tuaku yang akan menjalani semuanya. Jadi, lebih baik aku memikirkan tentang kesehatan ayah Yoshi."


Diandra merapal doa untuk kesembuhan dari ayah pria yang sangat dicintai. Ia tahu bagaimana perasaan Yoshi yang merupakan seorang pria baik dan selalu melakukan apapun untuk membuatnya merasa nyaman.


"Aku harus mendukung Yoshi dengan sering menelpon atau pun mengirimkan pesan padanya untuk menanyakan keadaan ayahnya. Aku pun tidak ingin ia mengkhawatirkanku karena masalah si berengsek itu!" Kemudian ia berjalan menuju ke arah ruangan kamar dan berniat untuk membersihkan diri.


Diandra memilih untuk mandi air dingin meskipun hari sudah gelap. Ia berpikir bisa mendinginkan kepalanya yang saat ini dipenuhi oleh berbagai macam hal yang membuatnya stres.


Bahkan selama beberapa menit berdiri di bawah guyuran air shower yang dingin sambil mencari ide mengenai sesuatu hal untuk menghentikan kegilaan seorang Austin yang dianggapnya sangat terobsesi padanya.

__ADS_1


Beberapa menit telah berlalu dan Diandra menemukan satu solusi dan langsung memakai handuk untuk mengeringkan tubuhnya yang basah setelah mandi.


Dengan kaki telanjangnya, ia berjalan menyusuri lantai dingin menuju ke arah ruang ganti dan setelah mengenakan piyama, mengambil ponsel di atas nakas.


Diandra melirik sekilas ke arah waktu di ponselnya. "Apa si berengsek itu sudah tiba di Jakarta? Tadi ayah bilang jika ia langsung ke bandara karena susah memesan tiket pesawat pulang pergi."


Karena tidak ingin bertanya-tanya sendiri, ia memutuskan untuk memencet tombol panggil dan begitu operator seluler yang menjawab, seketika membuatnya mengerti karena sudah mendapatkan jawaban atas pertanyaannya.


"Ternyata si berengsek itu belum tiba di Jakarta dan mungkin masih di dalam pesawat." Diandra kini beralih mengirimkan pesan pada Yoshi.


Kemudian Diandra merebahkan tubuhnya di atas ranjang dan menatap langit-langit kamar. "Takdir apa yang harus kujalani? Aku tidak pernah berharap hal-hal yang muluk. Aku hanya ingin ada satu pria baik yang sangat mencintaiku dengan tulus."


"Sekarang aku telah menemukannya dan Yoshi-lah orangnya. Ya Allah, aku sangat berharap Yoshi adalah jodohku. Bolehkah aku memaksa? Jodoh nggak jodoh, harus jodoh. Apa aku sudah gila karena memaksa seperti ini?"

__ADS_1


Diandra benar-benar hanya menginginkan bisa menikah dengan Yoshi dan tidak akan pernah mau menikah dengan Austin meskipun dipaksa sekali pun.


"Aku akan mengatakan pada Austin jika ia tetap memaksa, lebih baik jujur pada orang tuaku. Aku ancam saja si berengsek itu mengatasnamakan orang tuaku. Pasti ia akan takut dan mundur. Ia tidak berani mengatakan tentang hal yang sebenarnya karena akan merendahkan harga dirinya."


Yakin dengan keputusannya, kini Diandra mengirimkan sebuah pesan pada Austin. "Aku harus bertemu dengan bajingan itu karena berbicara di telpon tidak akan menyelesaikan masalah."


Kemudian ia mulai menggerakkan jari-jari lincahnya untuk mengetik sebuah pesan.


Temui aku setelah tiba di Jakarta. Aku ingin membahas mengenai kegilaanmu saat datang mengunjungi orang tuaku.


Diandra yang tidak ingin mengirim pesan panjang lebar, kini langsung memencet tombol kirim. "Entah jam berapa ia tiba di Jakarta, tapi aku harap tidak terlalu malam." Diandra pun kini meletakkan ponsel pintar miliknya ke sebelah tempat tidur.


Berharap saat Austin menelpon, ia bisa langsung mendengarnya. "Lebih baik aku tidur dulu karena rasanya kepalaku benar-benar pusing hari ini."

__ADS_1


Kemudian ia memejamkan mata dan berharap bisa beristirahat sejenak untuk merehatkan pikiran yang hari ini terlalu diforsir karena banyak masalah yang dihadapi.


To be continued...


__ADS_2