Konspirasi Cinta

Konspirasi Cinta
Satu-satunya harapan


__ADS_3

Tanpa membuang waktu, Austin kini langsung berjalan menuju ke arah mobil dan sama sekali tidak berniat untuk menunggu hingga Diandra selesai berbicara di telpon dengan sang ibu. Tentunya dengan penuh keyakinan ia sangat yakin jika sosok wanita incarannya tersebut akan menghubunginya.


Hal itulah yang membuatnya dengan sangat percaya diri meninggalkan tempat kos wanita tersebut. Bahkan sudut bibirnya melengkung ke atas saat membayangkan jika nanti Diandra akan menelponnya begitu selesai berbicara dengan sang ibu.


Kini, ia sudah mengemudikan mobilnya menuju ke arah Club malam yang akan menjadi tempat untuk acara pesta ulang tahun palsu sahabatnya.


"Ini adalah bukti bahwa tidak ada yang bisa mengalahkan keberuntunganku dalam masalah wanita. Apalagi aku terlahir dari keluarga konglomerat dengan wajah yang dikagumi banyak wanita."


Austin yang fokus mengemudi tersebut kini mempunyai sebuah rencana baru dan ia menghubungi Mirza. Begitu sambungan telpon diangkat, langsung mengeluarkan suaranya.


"Halo," ucap Mirza di seberang telpon.


"Halo, Bro. Apa kau sudah tiba di sana?" Austin berbicara setelah sebelumnya memasang earphone.


"Belum, tapi aku sedang dalam perjalanan menuju ke sana. Tadi beberapa teman kita juga belum ada yang berangkat karena masih setengah jam lagi. Ada apa?" tanya Mirza yang kini merasa ada hal penting akan disampaikan oleh sahabatnya.


Sementara itu, sosok Austin yang kini tersenyum menyeringai kala mengingat rencananya, hanya terkekeh geli. "Kau memang sahabatku yang selalu tahu sesuatu yang ingin kusampaikan. Bilang pada semuanya bahwa acara pesta ulang tahun palsu dibatalkan."


"Dasar gila! Kau selalu saja berbuat seenak jidat seperti ini," sarkas Mirza yang kini terlihat memijat pelipisnya dan geleng-geleng kepala saat kesal pada ulah seenak jidat sahabatnya. "Sebenarnya apa maumu kali ini?"


Masih fokus menatap jalanan ibu kota yang dipenuhi lalu lalang kendaraan, kini Austin tidak ingin membiarkan kesalahpahaman semakin larut dan membuat beberapa sahabatnya menganggap ia adalah seorang penipu.


"Tenang, Bro. Sebenarnya aku sedang memberikan sebuah hukuman pada wanita bernama Diandra yang sangat berlagak itu. Ia harus membayar semua kerugianku karena telah menguji kesabaranku. Jadi, aku berencana membuatnya melayaniku saat kami hanya berdua di sana."

__ADS_1


Austin kemudian menyuruh sahabatnya tersebut mengajak yang lain untuk pergi ke Club lainnya. Itu karena ia hanya ingin berdua dengan Diandra tanpa ada yang mengganggu, termasuk para temannya.


"Tenang saja, aku yang akan membayar semuanya. Kalian tetap bisa bersenang-senang di Club lain." Austin yang baru saja menutup mulut, kini kembali tersenyum smirk karena melihat panggilan masuk.


"Nanti bilang saja habis berapa. Kelinci kecilku menelpon." Kemudian Austin menutup sambungan telpon tanpa menunggu jawaban dari Mirza.


Meskipun begitu, ia tidak langsung mengangkat panggilan dari wanita yang tak lain adalah Diandra. Itu karena ia ingin tahu sampai sejauh mana usaha wanita itu untuk berlari padanya.


"Diandra ... saat aku menyebut simbiosis mutualisme, akan selalu ada jalan untuk bekerjasama. Meskipun kau menolak, tapi sepertinya takdir sepenuhnya berpihak padaku."


Austin yang kini membelokkan kendaraan ke area club malam karena sudah tiba di tempat yang dituju. Ia merasa yakin jika panggilan telpon dari Diandra yang telah mati akan kembali berdering.


Semua itu karena ia yakin jika kekuatan uang mengalahkan kemiskinan dan takdir malang seorang Diandra Ishana yang dilahirkan dari kasta rendahan.


Benar saja, kini Austin kembali mendengar suara dering ponsel miliknya begitu selesai memarkirkan mobil. Tanpa membuang waktu, ia pun menjawab telpon.


"Halo, Tuan Austin. Apa Anda pulang? Saya tadi mencari keluar tempat kos, tapi Anda tidak ada. Maafkan saya karena tadi tidak memperdulikan saat mendapatkan telpon dari ibu di kampung," ucap Diandra yang saat ini masih berdiri di depan tempat kos setelah pandangan sibuk mencari.


Setelah menenangkan sang ibu agar tidak khawatir pada biaya rumah sakit dengan alasan ia akan meminjam uang untuk membayar biaya rumah sakit. Kemudian berpikir akan meminjam uang pada bos di perusahaan yang akan menjadi tempatnya bekerja.


Namun, saat menyadari bahwa pria yang tadi berdiri di depan pintu sudah tidak ada, sehingga membuatnya segera mencari keberadaannya dengan buru-buru keluar.


Namun, ia benar-benar sangat kecewa karena tidak melihat pria yang akan dimintai pertolongan, sehingga langsung menghubungi dan merasa sangat beruntung karena mengetahui nomor pria itu.

__ADS_1


"Kenapa kau mencariku? Bukannya tadi mengatakan tidak bersedia untuk kembali bersandiwara sebagai kekasihku?" Austin berbicara dengan nada kecewa dan menunjukkan kekesalan, agar wanita di seberang telpon tersebut menyadari telah melakukan kesalahan.


Jujur saja ia sangat kesal karena Diandra berbicara formal penuh kesopananan padanya karena membutuhkan sesuatu darinya. Seolah sikap liciknya mendapatkan balasan yang berakhir impas.


Sementara itu di sisi lain, Diandra menelan saliva dengan kasar kala mengingat sikap kasarnya pada pria yang sangat tidak disukai dan membuatnya ilfil karena sifat playboy-nya.


'Sial sekaligus nasib baik seolah sangat cocok dan mewakili situasi antara aku dan pria menyebalkan itu. Aku harus membuang ego dan harga diri yang selama ini kujunjung tinggi,' gumam Diandra yang berdehem sejenak untuk menormalkan rasa gugupnya saat hendak mengungkapkan sesuatu.


"Tuan Austin. Saya berubah pikiran. Saya bersedia untuk menemani Anda datang ke pesta ulang tahun dokter Mirza." Diandra yang merasa sangat lega setelah mengatakan apa yang ada di pikirannya, kini dengan perasaan tak menentu menunggu jawaban.


'Sial! Aku benci dengan situasi macam ini. Rasanya aku seperti tengah menjilat ludah sendiri sekarang,' gumam Diandra yang kini mengacak rambutnya saat frustasi.


'Semoga ia tidak memanfaatkan aku karena berubah pikiran.' Diandra harap-harap cemas kala memikirkan sesuatu yang dikhawatirkan karena bisa menilai seperti apa atasannya tersebut.


Namun, ia masih mencoba untuk berpikir positif mengenai atasannya tidak akan memanfaatkannya. Meskipun keheningan kini terasa karena tidak langsung mendengar jawaban pria yang membuat perasaan tidak karuan karena gugup.


Sementara itu di seberang telpon, Austin yang masih belum beranjak dari mobil dan menatap ke arah Club yang akan menjadi tempatnya bersenang-senang malam ini.


'Baiklah, kita mulai permainannya sekarang,' gumam Austin yang kini mulai mengarang sebuah cerita palsu.


"Semuanya sudah terlambat karena aku baru saja mendapatkan ejekan dari para sahabatku."


"Maafkan saya, Tuan Austin. Anda bisa beralasan pada mereka jika saya datang, tapi terlambat karena ada satu masalah." Diandra yang ingin bisa bertemu dan berbicara secara langsung dengan Austin, kini masih mencoba untuk berusaha mendapatkan kesempatan.

__ADS_1


'Aku tidak mungkin meminjam uang melalui telpon. Jadi, harus bertemu dengan pria sok keren ini,' gumam Diandra yang kini masih menunggu jawaban apa dari pria yang merupakan satu-satunya harapan untuk bisa menolongnya keluar dari masalah.


To be continued...


__ADS_2