Konspirasi Cinta

Konspirasi Cinta
Tidak perduli


__ADS_3

Satu bulan kemudian...


Setelah Diandra memutuskan untuk menerima Yoshi yang mengungkapkan niat baik untuk menikahinya, hari ini adalah sebuah momen penting saat pihak keluarga pria itu datang ke puncak untuk melamar.


Mungkin orang lain akan berpikir jika ia menerima pinangan dari Yoshi karena mengetahui jika pria itu adalah pewaris tahta Perusahaan terkenal di Jakarta.


Bahkan ia tidak perduli dianggap menggantungkan hidup pada Yoshi yang berasal dari keluarga konglomerat. Baginya, Yoshi adalah sosok pria yang baik dan bisa menjadi ayah untuk putranya yang sangat disayangi.


Ia juga berpikir bahwa adalah Yoshi yang mandul tidak akan pernah menyakitinya dan juga putranya. Itulah yang menjadi pedomannya saat ini dan berusaha untuk menerima Yoshi menjadi calon suami.


Namun, dua minggu yang lalu, ia menyuruh orang untuk menjemput kedua orang tuanya yang berada di kampung dan menjelaskan semuanya tanpa ada yang ditutupi. Untungnya keluarganya tidak marah padanya dan menerima keputusannya.


Ia beralasan ingin menikah di Jakarta karena tidak ingin menikah di kampung demi menghindari gunjingan dari para tetangga yang mungkin akan banyak pertanyaan saat melihat putranya yang lahir tanpa memiliki seorang ayah. Ataupun hinaan anak haram.


"Maafkan aku, Ibu dan Ayah. Aku tidak ingin kalian menanggung rasa malu karena aku melahirkan anak tanpa suami."


Pria paruh baya yang tidak lain adalah ayah Diandra yang dulu sudah terlanjur menyukai Austin, sebenarnya saat ini merasa kecewa.


Namun, ia tidak ingin memaksakan kehendak dan menghentikan acara lamaran saat ada seorang pria yang mau menerima putri dan cucunya.


"Baiklah, apapun keputusanmu, Ayah akan mendukungmu. Semoga kamu selalu bahagia, Putriku."


Sementara wanita paruh baya yang dari tadi mengusap lembut punggung putrinya, ikut menimpali perkataan sang suami. "Semoga pilihanmu ini akan membuatmu bahagia. Apa kamu sudah tidak berencana untuk memiliki anak lagi, Nak?"


Terlihat Diandra yang saat ini bersimbah air mata, hanya mengangguk lemah untuk membenarkan pertanyaan dari sang ibu. "Aku yakin, Bu. Dia adalah seorang pria yang baik dan bisa membahagiakan aku dan putraku."


"Aku sudah memiliki Aksa dan duniaku terasa bahagia saat memilikinya. Aku harap Ayah dan Ibu tidak mengungkit masalah ayah biologis dari Aksa di depan keluarga besar Yoshi. Ini demi kebaikan bersama."


"Iya, kami mengerti karena tidak ingin Aksa menjadi incaran para awak media karena merupakan anak Austin," sahut pria paruh baya tersebut yang kini melihat putrinya menghapus bulir kesedihan di wajah.


Hingga ia melihat cucunya yang memanggil-manggil sang ibu dan berlari ke arah mereka dan langsung menghambur memeluk Diandra.


Diandra refleks langsung mencium pipi gembul putranya yang kini sudah berpindah ke pangkuannya. "Sayang, sebentar lagi papa datang sama nenek. Rafa tidak boleh nakal, ya."


Bocah laki-laki itu seketika mengangguk perlahan dan menatap ke arah sang ibu. "Papa bawa mainan?"

__ADS_1


"Iya, tentu saja. Makanya Aksa tidak boleh nakal nanti, oke!" Diandra mengarahkan high five dan langsung disambut oleh putranya.


"Oke," sahut Aksa yang langsung mengarahkan tangannya untuk menyambut sang ibu, lalu langsung turun dari pangkuan wanita yang sangat disayanginya tersebut.


"Asa mau nunggu papa di depan." Kemudian berlari keluar dari ruangan kamar tanpa menunggu sang ibu berkomentar.


"Tolong kejar putraku, Baik. Tunggu di teras saja karena sebentar lagi rombongan keluarga dari Jakarta akan datang." Diandra tadi seketika bangkit dari kursi dan berniat untuk mengejar putranya, tapi begitu melihat pelayan yang biasa membantunya untuk menjaga Aksa, langsung meminta tolong.


Memang rumah keluarga Emran sepi karena sang tuan rumah berada di luar negeri. Rencana berada di sana satu bulan menjadi bertambah karena putri mereka malah hamil muda dan kondisinya drop.


Jadi, tidak jadi pulang dan membantu mengurus putri serta sang cucu yang dulu pernah diselamatkan dari kejadian di hotel.


Kemudian Diandra menatap ke arah orang tuanya. "Ayah dan Ibu sebaiknya pindah ke Jakarta untuk mengurus Aksa. Apalagi aku akan pindah di Jakarta dan bekerja di perusahaan Yoshi nanti setelah menikah."


Diandra sudah membicarakan semuanya dengan Yoshi mengenai hal-hal kecil setelah menikah. Bahkan ia terang-terangan mengatakan tidak ingin tinggal di rumah keluarga Yoshi setelah menikah.


"Aku ingin hidup nyaman dengan tinggal di rumah sendiri daripada hidup bersama mertua. Yoshi sama sekali tidak keberatan. Bagaimana menurut kalian?" Diandra sudah merencanakan semuanya, tapi ia berpikir butuh pendapat dari orang tua yang ingin ia mintai pertolongan.


Sementara itu, pasangan suami istri itu kini saling ber-sitatap begitu mendengar rencana putrinya. Apalagi mereka tahu jika calon menantunya adalah anak tunggal dan sang ayah telah meninggal, sehingga hanya tinggal dengan sang ibu.


"Mengenai itu, aku pun sudah membicarakannya dengan Yoshi. Aku menjelaskan jika ingin hidup damai tanpa ada campur tangan dari mertua. Aku sering melihat banyak masalah hanya karena tinggal di rumah mertua."


Diandra bahkan sudah mempertimbangkan banyak hal sebelum memutuskan untuk menikah dengan Yoshi. Bahkan bisa dibilang ia terlalu banyak permintaan, sedangkan pria itu sama sekali tidak meminta apapun darinya asal mau menjadi istrinya.


"Aku sudah berencana ingin Aksa dirawat kalian. Jadi, tidak mungkin tinggal di rumah orang tuanya dengan membawa kalian, bukan." Diandra berpikir jika itu merupakan keputusan terbaik.


Apalagi berpikir jika rumahnya tidak mungkin berada jauh dengan mertua. Bahwa mertua bisa datang kapan saja ke rumah dan ia pun berencana mengunjungi mertua saat hari libur.


Ia kini menatap ke arah sang ibu yang dianggap mempunyai pengalaman banyak dalam membina hubungan baik dengan mertua. "Bagaimana, Bu? Bukankah tinggal dengan mertua itu tidak enak? Aku tidak ingin semua keburukanku dilihat mertuaku dan akan berdampak buruk pada rumah tanggaku."


Sang ibu kini mengusap lembut pundak putrinya. Tentu saja ia bisa mengerti ketakutan putrinya. "Ya, menurut Ibu, itu adalah jalan terbaik karena kamu bukan wanita seperti kebanyakan. Kamu sudah mempunyai seorang anak dan butuh tempat yang nyaman tanpa harus memikirkan mertua. Kami pun akan sungkan jika tinggal bersama besan."


"Baiklah. Kaum pria tidak akan menang melawan kaum wanita yang tengah bersatu." Menoleh saat mendengar suara mengetuk pintu


"Nyonya, keluarga dari Jakarta telah tiba," ucap pria yang selama ini bekerja sebagai supir di keluarga Emran.

__ADS_1


"Iya!" teriak Diandra yang kini menatap ke arah orang tuanya saat bangkit berdiri. "Ayo, Ayah, Ibu, sambut calon menantu kalian. Yoshi adalah pria yang baik. Aku yakin kalian akan menyukainya daripada Austin."


Diandra yang memakai kebaya, kini tersenyum simpul begitu orang tuanya mengangguk perlahan. Kemudian ia keluar menyambut kedatangan keluarga Yoshi bersama orang tuanya.


Mungkin kebanyakan wanita selalu deg-degan saat dilamar, tapi saat ini sama sekali tidak merasakan itu. Baginya, memberikan sosok ayah pada putranya jauh lebih dibutuhkan.


'Aku tidak ingin putraku mendapatkan hujatan dari teman-temannya karena tidak punya ayah. Ini adalah hal paling penting untuk putraku,' gumam Diandra yang kini sudah berada di depan pintu.


Kini, ia melihat Yoshi yang datang bersama sang ibu serta pamannya.


Awalnya, ia ingin langsung menikah secara sah saja hanya dengan ijab qobul. Namun, Yoshi tidak setuju.


Akhirnya ia memilih menuruti permintaan keluarga Yoshi yang ingin menggelar acara resepsi pernikahan. Apalagi mertuanya sudah mengurus semuanya.


Saat ini, Yoshi terlihat menggendong Aksa yang sudah dianggap sebagai putra kandungnya sendiri. Bahkan seperti sudah menjadi kebiasaan baginya untuk membawa mainan saat berjumpa dengan Aksa demi mencuri hati bocah laki-laki itu.


"Ini robot yang bisa berubah jadi mobil, Sayang. Nanti mainan sama Papa, ya." Yoshi pun mencium gemas Aksa begitu mendaratkan tubuhnya di dekat Diandra.


Hingga ia terkekeh mendengar logat anak kecil yang mengungkapkan jawaban lucu. Mengungkapkan bahwa bocah laki-laki tersebut sangat suka dengan hadiahnya.


"Iya, main lobotnya ini ama Papa. Aciiih, Papa," seru Aksa yang kini asyik memeluk kotak besar di tangan.


Kemudian menoleh pada Diandra dan membisikkan sesuatu saat para orang tua sibuk berbincang mengenai acara pernikahan yang akan dilakukan dua minggu lagi karena ia tidak ingin menunda terlalu lama.


"Aksa sangat menggemaskan, Sayang. Aku benar-benar sangat beruntung bisa memiliki kalian. Aku sangat mencintaimu dan menyayangi Aksa seperti putra kandungku sendiri." Yoshi yang terlihat sangat berbinar, kini menatap ke arah putranya yang memang terlihat sangat menggemaskan.


"Iya. Semoga kamu kali ini bisa menepati janjimu." Diandra sebenarnya sedikit merasa ragu bisa hidup bahagia dengan Yoshi karena mengingat jalannya yang dulu sangat terjal untuk bersatu.


Ia tidak ingin terlalu berlebihan terlena dengan kebahagiaan. Seolah berpikir jika ia tidak berhak hidup bahagia semenjak mengenal Austin.


Yoshi kini mengaminkan doa dari Diandra, meskipun ada sebersit keraguan di dalam hatinya saat ini. Ia melihat wajah datar Diandra yang seperti tidak merasakan bahagia.


'Diandra, kamu sudah kembali padaku, tapi kenapa aku merasa ada sesuatu yang kurang dari dirimu? Aku merasa kamu seperti bukanlah Diandraku yang dulu pernah mencintaiku, tapi aku tidak perduli karena saat ini hanya menginginkanmu.'


Yoshi berusaha mengerti dan menganggap bahwa apa yang dilakukan oleh Diandra karena pernah menjalani hari-hari yang buruk.

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2