Konspirasi Cinta

Konspirasi Cinta
Membuka lembaran baru


__ADS_3

Karena Austin tidak sadarkan diri, Yoshi yang merasa puas karena perbuatannya untuk menghentikan pria itu mengatakan tentang hal sebenarnya, yaitu belum menikah atau pun memiliki anak, kini memanggil supirnya.


Tentu saja ia memerintahkan pada supir untuk mengantarkan Yoshi ke Rumah Sakit yang ada di Jakarta. Bahkan kini ia mengangkat tubuh tidak berdaya Austin bersama sang supir ke dalam mobil.


"Kau tunggu dia sampai dokter mengatakan tentang keadaannya. Baru boleh pulang ke rumah. Oh ya, kabarkan pada keluarganya melalui ponselnya karena di sana pasti ada nomor orang tuanya." Kemudian Yoshi mengibaskan tangan untuk memerintahkan sang supir segera meninggalkan tempat itu.


"Siap, Tuan," jawab pria yang kini langsung membungkuk hormat dan berjalan memutar untuk masuk dan duduk di balik kemudi.


Yoshi masih berdiri di tempatnya untuk melihat mobil milik Austin yang sudah dikendarai oleh supirnya mulai berjalan meninggalkan tempat tinggal Diandra selama ini.


'Syukurlah Austin tidak sampai memberitahu tentang hal yang sebenarnya pada Diandra. Aku khawatir Diandra ragu menikah denganku jika sampai mengetahui jika Austin sampai sekarang belum menikah atau pun memiliki anak.'


Saat Yoshi merasa sangat lega bisa menyingkirkan Austin dari hadapannya, berbeda dengan Diandra.


Tadinya Diandra hanya diam saat melihat perbuatan Yoshi yang membuat Austin babak belur hingga tidak sadarkan diri. Hingga ia menoleh ke belakang saat sang ayah menggandeng tangannya.


Ayah Diandra merasa geram melihat putrinya yang dianggap terlalu kejam pada Austin, sehingga kini menarik ke samping rumah untuk berbicara empat mata. Ia yang tahu jika Austin hilang ingatan, meras sangat iba.


"Kenapa kamu sekarang berubah sangat kejam, Diandra?" ujar pria yang saat ini hanya bisa geleng-geleng kepala melihat putrinya yang dianggap tidak punya belas kasih pada Austin yang amnesia.


"Austin itu hilang ingatan dan hanya ingin mengetahui masa lalu. Bahkan dia sudah meminta maaf padamu tadi. Seharusnya kamu bisa bersikap baik padanya." Tidak perduli melihat wajah Diandra yang memerah karena kesal, ia ingin menyadarkan bahwa perbuatan Diandra sudah sangat keterlaluan.


Sebenarnya ia ingin menegur calon menantunya juga, tapi merasa tidak mempunyai hak karena putrinya sendiri saja tidak melerai dan hanya diam saja. Berpikir akan dianggap ikut campur, akhirnya memilih untuk berbicara pada Diandra.


Diandra kini hanya menatap ke arah ayahnya. Ia kecewa saat sang ayah malah lebih membela Austin ketimbang dirinya. "Ayah, Austin sudah berbuat tidak senonoh pada putrimu. Bisa-bisanya Ayah membela bajingan itu?"


"Aku yang merasakan tersiksa selama beberapa tahun karena hamil dan membesarkan putraku sendiri dengan menjadi single parent. Aku tidak mau hubungan di antara kita renggang hanya gara-gara si berengsek itu!" sarkas Diandra yang merasa kesal pada orang tuanya.


Apalagi jika ia mengingat perjuangannya saat harus hamil tanpa suami dan juga membesarkan Aksa sendirian, selalu membuatnya ingin menghabisi Austin yang malah hidup bahagia bersama dengan istrinya dan juga putrinya.


'Bisa-biasanya ayah membela pria berengsek tidak punya hati itu. Seharusnya membela putri sendiri dan merasa bangga karena aku bisa hidup dengan baik sampai sekarang ini meskipun banyak mengalami masalah, tapi malah fokus pada bajingan itu.'


Tidak ingin membuat situasi memanas karena amarahnya, Diandra yang hanya bisa mengumpat di dalam hati, kini sudah berjalan masuk ke area rumah untuk melanjutkan acara.


Namun, ia mendengar pertanyaan dari calon mertuanya pada Yoshi dan hanya diam mendengarkan.

__ADS_1


"Sebenarnya siapa pria itu? Kenapa dia datang secara tiba-tiba dan terlihat sangat mencurigakan?" tanya mama Yoshi pada putranya yang baru saja kembali.


Ia tadi sempat melihat ulah putranya yang menghajar pria itu di depan, tapi tidak berani keluar karena sudah diberikan perintah agar diam di dalam rumah.


Tentu saja hal yang dilihatnya membuatnya merasa sangat penasaran dengan masa lalu putranya dan calon menantunya yang baru saja kembali dan duduk di kursi tak jauh darinya.


Yoshi refleks hanya menggelengkan kepala. "Bukan apa-apa, Ma. Hanya masalah tidak penting."


Kemudian ia beralih menatap ke arah Diandra. "Ayo, kita lanjutkan acara tukar cincinnya."


"Iya," sahut Diandra yang saat ini mengangukkan kepala dan tersenyum simpul. Namun, ia mengerutkan keningnya kala mendengar suara bariton dari Yoshi yang berjalan menghampirinya.


Yoshi memegang pergelangan tangan Diandra dan berbisik di dekat daun telinga wanita itu. "Aku ingin bertanya sesuatu dulu padamu, tapi jangan di sini."


Kemudian ia mengajak Diandra keluar sebentar karena ada yang ingin disampaikan pada wanita yang akan dinikahinya tersebut.


Diandra saat ini hanya diam berjalan mengekor Yoshi sambil bertanya-tanya dalam hati tentang apa yang ingin dikatakan pria itu hingga mengajaknya keluar. "Memangnya mau bicara tentang apa?"


Bahkan Diandra merasa sangat risi tangannya dari tadi berada dalam kuasa Yoshi, sehingga mengempaskannya. "Aku bisa jalan sendiri! Tidak perlu seperti ini."


Begitu berada agak jauh dari rumah karena tidak ingin perdebatannya membuat para orang tua mendengar, ia berbicara lirih setelah melepaskan tangan Diandra. Ia ingin membuat Diandra menyadari kesalahannya agar tidak bersikap sesuka hati.


"Sebelum kita melanjutkan acara ini, aku butuh kepastian sebelum melangkah ke jenjang pernikahan. Apakah kamu mencintai Austin?" Yoshi menatap raut wajah terkejut yang ditunjukkan oleh Diandra.


"Apa kau bilang? Memangnya aku gila apa mencintai pria berengsek itu." Diandra sama sekali tidak pernah menyangka akan mendapatkan pertanyaan yang dianggap sangat konyol dari Yoshi.


"Ya, aku gila karena berpikir kamu mencintai Austin karena bersikap sinis padaku. Apalagi tadi Austin bertanya padamu, bahwa kamu sama sekali tidak mencintaiku." Menatap penuh keraguan pada sosok wanita yang berdiri di hadapannya tersebut.


"Aku tidak ingin menyiksamu dengan pernikahan yang akan mengikat kita seumur hidup, Diandra. Salahkah aku bertanya seperti ini padamu? Ya, aku dulu berpikir, yang penting kita bersama, yang lain tidak penting. Namun, faktanya aku tidak bisa menutup mata untuk tidak memperdulikan perasaanmu."


Yoshi mengungkapkan semuanya agar Diandra tidak lagi bersikap buruk di hadapannya. Ia ingin menjalani kehidupan rumah tangga yang bahagia bersama Diandra.


Di sisi lain, saat ini Diandra sangat kebingungan untuk menjawabnya karena ia sendiri tidak tahu harus menjawab apa.


Seolah saat ini ia merasa hatinya telah mati dan tidak berniat membuka hati untuk pria manapun. Apalagi tujuannya mau menikah dengan Yoshi hanya demi menyelamatkan putranya dari Austin.

__ADS_1


Ia tidak ingin putranya diejek anak haram ketika sekolah nanti.


"Aku sama sekali tidak tersiksa, Yoshi. Kenapa kamu bisa berpikir seperti itu. Kita sudah dewasa dan bukan anak remaja yang suka mengumbar kata cinta. Apalagi kamu sudah pernah menikah, pasti tahu jika hidup berumah tangga tidak hanya membutuhkan cinta."


Seperti mendapatkan sebuah tamparan dari jawaban Diandra karena ia telah gagal membina biduk rumah tangga di masa lalu, sehingga membuatnya ingin sekali wanita itu berubah.


"Diandra, kamu pun tahu itu sangat berbeda karena dulu aku dijodohkan atau bisa dibilang dipaksa. Saat itu aku mencintaimu dan sama sekali tidak mencintainya. Jadi, aku tidak ingin mengulangi kegagalan."


"Aku dari dulu sangat mencintaimu dan ingin menikahimu. Bukan hanya itu, aku juga ingin kamu mau mencintaiku." Yoshi bahkan seperti seorang pengemis cinta saat berada di hadapan wanita yang malah tengah memijat pelipis.


Diandra bahkan mendadak pusing mendengar perkataan konyol pria di depannya. Ia merasa konyol saat membahas masalah cinta. Namun, ia tidak ingin terlalu lama berdebat dan memilih mengalah.


"Aku tidak pernah mencintai Austin. Kalau kamu ingin tahu apa yang membuatku mau menikah denganmu, aku akan menjawabnya dengan jujur. Aku ingin Aksa memiliki sosok ayah yang menyayanginya dengan tulus." Diandra ingin Yoshi tahu hal utama baginya.


Bahwa tidak ada yang lebih penting baginya selain Aksa. "Kamu adalah orang yang paling tepat menjadi ayah untuk putraku. Jika kamu tidak bersedia atau keberatan dengan pemikiranku, kamu bisa membatalkan lamaran hari ini karena aku tidak akan memaksamu."


Seolah keadaan menjadi terbalik, Yoshi saat ini menelan saliva dengan kasar karena merasa sangat bingung dan khawatir kehilangan Diandra. Ia berpikir akan berusaha keras untuk membuat Diandra mencintainya.


"Tidak, Diandra. Aku tidak bisa membatalkannya karena sangat mencintaimu. Tadi aku hanya ingin mengungkapkan keluh kesah di hatiku saja."


"Bagiku, tidak ada yang lebih penting dari kepercayaanmu. Aku akan berusaha menjadi ayah yang baik untuk Aksa seperti keinginanmu. Ayo, kita lanjutkan acaranya. Keluarga kita nanti khawatir." Yoshi menunggu tanggapan Diandra dan tersenyum kala melihat wanita itu mengangguk tanpa pikir panjang.


Sebenarnya Diandra tidak suka disudutkan posisinya, tapi karena menyadari jika apa yang dirasakan Yoshi itu sangat wajar, sehingga membuatnya berusaha mengerti.


"Baiklah." Kemudian ia melangkah mengikuti Yoshi dan saat ini tidak ingin membuat semua orang terlalu lama menunggu.


'Aku sangat mencintai Diandra dan dari ingin menikah dengannya. Kini, mimpiku menjadi kenyataan meskipun ia mengetahui kekuranganku. Terima kasih, Diandra,' gumam Yoshi yang melihat sekilas ke arah sosok wanita yang sangat dicintai semenjak dahulu.


Kemudian acara tukar cincin dilanjutkan dan Yoshi tanpa malu mengungkapkan perasaannya di depan orang-orang. Bahwa ia tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya dan mengungkapkan perasaannya.


Bahkan mengakhirinya dengan mendaratkan sebuah kecupan lembut di punggung tangan Diandra. "Terima kasih karena mau menerimaku sebagai suamimu dan menerima kekuranganku, Sayang."


Diandra hanya tersenyum simpul dan ia tahu jika Yoshi adalah pria yang lembut dan baik hati serta penyayang. "Aku percaya kamu bisa menjadi suami sekaligus ayah yang baik untuk putraku. Kita bertiga akan membuka lembaran baru dan hidup bahagia bersama sebagai keluarga bahagia."


Semua orang yang menjadi saksi dari acara lamaran antara Yoshi dan Diandra, kini mengaminkan doa dari kedua mempelai tersebut. Tentu saja mereka berharap anak-anak mereka akan bahagia dan acara pernikahan berlangsung lancar tanpa hambatan.

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2