
Sosok pria yang terlihat mengemudi dengan kecepatan tinggi, kini berbelok di area apartemen dan memarkirkan mobilnya di tempat yang tersedia.
Tanpa membuang waktu, pria yang tak lain adalah Austin Matteo kini beranjak keluar dari mobil dan langsung menuju ke arah lobi apartemen.
Ia sengaja tidak menghubungi mantan kekasihnya untuk mengatakan bahwa saat ini sudah berada di apartemen karena ingin langsung menuju ke sana dan memastikan jika perkataan wanita itu benar.
Bahwa wanita yang saat ini tengah dicarinya tinggal di apartemen sebelah mantan kekasihnya tersebut. "Diandra, aku tidak akan melepaskanmu begitu menemukanmu, Sayang."
Kini, Austin terlihat buru-buru masuk ke dalam lift dan menatap ke arah angka digital yang bergerak menuju ke lantai 10. Ia bahkan saat ini merasa degup jantungnya berdetak kencang melebihi batas normal.
Ia kini tengah membayangkan jika sebentar lagi akan bertemu dengan wanita pujaan hati yang membuatnya gila hingga sangat terobsesi memiliki dengan cara apapun.
"Apa yang harus kulakukan jika Diandra menolakku?"
Austin seketika terbahak mendengar pertanyaannya sendiri yang sangat konyol karena selama ini selalu percaya diri bisa mendapatkan para wanita yang diinginkan.
"Tidak mungkin Diandra menolakku saat aku mengatakan ingin menikahinya. Ia pasti akan langsung memelukku dan bahagia karena aku bertanggung jawab dan tidak berpikir telah membelinya." Austin kini merasa yakin dan berusaha untuk seperti biasa, yaitu percaya diri seperti sebelumnya.
Hingga beberapa saat kemudian, pintu kotak besi tersebut terbuka. Austin yang saat ini melangkahkan kaki panjangnya menuju ke arah unit apartemen mantan kekasihnya, kini melihat pintu berwarna hitam yang tertutup rapat dan sangat yakin itulah tempat tinggal Diandra.
"Apa Diandra benar tinggal di sini?" Austin kini tidak membuang waktu dan langsung memencet bel pintu.
Ia memang tidak berencana untuk menemui mantan kekasih karena informasi dari wanita itu sudah membuatnya mengetahui jika tempat tinggal Diandra adalah di sana.
Austin sabar menunggu hingga pintu di hadapannya tersebut terbuka. Namun, meski sudah tiga kali memencet bel, tetap tidak kunjung terbuka juga.
Karena merasa jika Diandra sudah mengetahui kedatangannya dan tidak mau membuka pintu, sehingga ia langsung berteriak dari luar.
Berharap dengan melakukannya, bisa membuat Diandra keluar dari dalam apartemen dan menemuinya. "Diandra! Buka pintunya! Aku ingin berbicara denganmu!"
Bahkan saat ini ia tidak peduli jika suara teriakannya akan mengganggu para penghuni di apartemen karena satu-satunya yang dipikirkan adalah ingin segera bertemu dengan Diandra.
"Diandra!" Austin berkali-kali berteriak untuk membuat wanita yang berada di dalam sana keluar dan menemuinya.
Namun, keinginannya tidak terwujud begitu mendengar suara seorang wanita yang sangat dihafalnya dan membuatnya menoleh ke arah sebelah kiri tempatnya berdiri.
"Austin? Astaga! Apa kau tidak sadar bahwa perbuatanmu sangat mengganggu para penghuni apartemen? Untung di sebelah kiri orangnya tengah bekerja dan hanya aku yang berada di dalam karena libur kerja." Annisa yang tadinya asing menonton TV, mendengar suara bising dari luar dan seperti mengenalnya.
Jadi, langsung mengintip dari lubang pintu apartemen untuk memeriksa. Begitu melihat yang membuat ulah adalah mantan kekasihnya, seketika ia langsung membuka pintu dan menemuinya.
__ADS_1
Annisa saat ini bersedekap dada dan menatap ke arah sosok pria yang terlihat penuh kekhawatiran dan membuatnya sangat kesal.
Namun, ia tersenyum menyeringai karena mengetahui bahwa kedatangan Austin Matteo sama sekali tidak berguna karena wanita yang dicari telah pergi setelah diberikan pelajaran.
'Dasar pria bodoh! Salah sendiri tadi mematikan sambungan telpon sepihak. Padahal aku belum selesai berbicara untuk mengatakan bahwa wanita itu pergi karena malu padaku,' gumam Annisa yang saat ini tengah menatap ke Austin berjalan mendekat dan mengajukan pertanyaan.
"Apa Diandra tadi kembali masuk ke dalam apartemen itu setelah kamu memberikan pelajaran? Kenapa dari tadi tidak kunjung membuka pintu? Atau kamu saja yang memencet belnya? Siapa tahu ia membukanya." Austin kini tengah menanti jawaban dari wanita yang memberikan kabar baik padanya.
Meskipun ini adalah pertama kalinya ia datang menemui mantan karena selama ini memang sangat anti dengan wanita yang sudah diputuskannya. Bahkan Austin berpikir akan menggunakan cara kekerasan jika tidak ada titik terang.
Jika sampai Diandra tetap tidak membuka pintu, ia berencana untuk memanggil para polisi dan membuat Diandra bisa keluar. Bahwa ia akan melaporkan Diandra meminjam uang padanya dan kabur setelah ditransfer.
Ya, ia tahu jika saat ini bisa segila itu hanya karena seorang wanita yang telah direnggut kesucian olehnya. Jadi, tidak akan pernah berpikir untuk melepaskan wanita cantik polos yang ingin segera dinikahi.
Namun, rencananya itu hanyalah sebatas angan semu yang sia-sia begitu mengetahui kenyataan sebenarnya dari mantan kekasih.
"Sepertinya seorang Austin Matteo berubah sangat bodoh, ya! Sampai mulutmu berbuih untuk memanggil nama wanita murahan itu, tidak akan pernah pintu itu terbuka atau bertemu dengan Diandra karena ia sudah pergi dari sebelum aku menelponmu."
Annisa yang masih bersedekap dada, kini tertawa sinis dan merasa sangat puas melihat wajah yang tadinya bersemangat itu telah menjadi muram dan penuh kekecewaan.
Austin seketika meluapkan amarah dengan meninjau udara. Bahkan ia saat ini mengarahkan tatapan tajam pada mantan kekasih yang dianggap tidak berguna karena membuat usahanya percuma.
Austin yang saat ini mengingat jika perkataan dari Anissa yang membahas pemilik apartemen itu adalah seorang lelaki dengan paras tampan dan membuatnya merasa sangat khawatir jika benar.
Ia tidak ingin menjadi seorang pecundang yang bersaing dengan pria lain untuk mendapatkan Diandra. Austin memang merasa khawatir jika Diandra dimanfaatkan oleh pria lain.
Apalagi bisa mengerti seperti apa sosok wanita yang sangat dicintainya itu bukanlah jenis wanita yang suka menggoda para pria hanya demi mendapatkan jalan pintas untuk kemewahan.
Berbeda dengan pemikiran Annisa yang selalu buruk dengan berpikir bahwa Diandra adalah wanita simpanan pria pemilik apartemen.
"Aku tidak tahu karena pria itu sangatlah sombong dan datang dua minggu sekali. Jadi, mana aku tahu. Oh ya, yang pasti, pria itu lebih tampan darimu, Austin. Pantas saja Diandra lebih memilihnya dan meninggalkanmu. Kasihaaan!"
Puas mengejek, Annisa kini membulatkan matanya begitu melihat tangan Austin tiba-tiba berada di lehernya.
Meski tidak mencekiknya, tapi ia merasa bulu kuduk meremang begitu Austin mendekatkan wajah dan berbisik di dekat daun telinganya.
"Jika kau tidak ingin aku memintamu mengembalikan semua barang-barang branded yang kubelikan, jangan pernah melawan atau berpikir untuk membalas dendam padaku karena kamu akan menyesalinya, Annisa!"
Kemudian Austin menjauh dan tersenyum menyeringai begitu berhasil membuat wanita itu diam tak berkutik karena ancamannya.
__ADS_1
Setelah puas memberikan sebuah ancaman, kini Austin menarik diri agar bisa segera melihat seperti apa wajah ketakutan mantan kekasihnya itu. Hingga ia pun seketika tertawa terbahak-bahak melihat wajah penuh ketakutan.
"Dasar bodoh! Sebelum melawan, seharusnya lihat dulu siapa lawanmu. Apa perlu aku membelikanmu cermin besar untuk mengaca?"
Refleks Annisa menelan saliva dengan kasar kala menyadari siapa sesungguhnya seorang Austin Matteo. Ia bahkan berpikir bahwa pria itu seperti seorang iblis tidak punya perasaan karena tidak bisa mengerti dirinya.
Hingga ia pun berusaha menenangkan diri dengan bersikap normal. "Austin, jangan jadi pria yang jahat dengan meminta kembali apa yang diberikan. Apa kata orang nanti jika mengetahuinya?"
"Lebih baik kamu cari tahu siapa pria itu dengan menyuruh orang-orangmu. Bukankah kau adalah pria hebat yang bisa mencari informasi apapun dengan para ahli IT di perusahaan?"
Saat ini Annisa ingin segera masuk ke dalam apartemen agar pria yang masih belum bisa dilupakannya itu tidak meminta barang-barang branded koleksinya.
'Tidak, Austin tidak boleh memintanya karena nanti apa yang bisa kupakai saat hang out bersama teman-teman? Mana mereka tahu jika barang-barang itu ORI dan sangat mahal.'
Karena merasa semua yang didengar masuk akal, kini Austin tidak lagi memperdulikan mantannya tersebut karena sudah beralih meraih ponsel miliknya di saku celana.
'Sia-sia aku jauh-jauh ke sini. Tahu gitu tadi tidak mematikan telpon. Sepertinya Diandra benar-benar ingin menguji kesabaranku. Ia berusaha untuk kabur dariku dan tidak ingin bertemu denganku.'
Austin kini langsung menghubungi ahli IT perusahaan dan menyebutkan nomor apartemen agar bisa segera di cari tahu.
"Berapa menit kira-kira kau bisa menyelesaikannya?"
"Sekitar 15 menit, Bos. Itu adalah paling tercepat," ucap pria yang berada di seberang telpon.
"Baiklah! Kabari aku setelah mengetahui pemiliknya." Austin kini merasa jika apa yang dilakukannya di apartemen percuma.
Apalagi mengetahui jika Diandra telah pergi dari sana. Ingin sekali ia marah pada Annisa karena membuat Diandra pergi, tapi berpikir lagi jika mantan kekasihnya itu tidak melakukannya, mana mungkin ia bisa mengetahui tempat tinggal sementara wanita yang telah kabur darinya.
'Sial ... sial! Ternyata Diandra sudah pergi dari sini hanya gara-gara takut kembali mendapatkan kekasaran dari Annisa. Pasti ia sangat ketakutan dan kesakitan tadi.'
Merasa miris karena ditinggalkan oleh seorang wanita yang bahkan telah direnggut kesuciannya, Austin kini sudah kehilangan seluruh rasa percaya dirinya.
Ia khawatir telah meninggalkan kesan buruk pada wanita yang bahkan telah membuatnya berubah pikiran untuk mengakhiri masa lajang.
'Baiklah, kita tunggu sebentar lagi karena aku akan mendapatkan Diandra meski harus melakukan apapun.' Austin bahkan beberapa kali mengecek waktu di ponselnya untuk memastikan kurang berapa menit menunggu.
Bahkan ia mengibaskan tangan pada Annisa karena berpikir sudah tidak butuh lagi. "Pergilah! Sebelum aku berubah pikiran!"
"Iya. Aku akan masuk, Austin! Semoga kamu sukses mencari Diandra." Kemudian buru-buru berbalik badan dan masuk ke dalam apartemen dengan bernapas lega karena tidak ditanya lagi.
__ADS_1
To be continued...