
Asmita Cempaka sama sekali tidak memperdulikan suara saudara laki-laki yang mencoba untuk melarangnya mengakhiri hubungan Yoshi dengan Diandra.
Ia hanya ingin segera putus hubungan dengan keluarga Diandra agar tidak ada bayang-bayang dari pihak pengantin wanita yang dianggap akan membawa dampak negatif untuk putranya.
Ia tadi bertanya pada salah satu perawat mengenai ruangan dari Diandra dan diberitahu jika wanita yang sangat dicintai oleh putranya. Baginya, cinta putranya tidak jauh lebih penting dari nyawa yang sedang dipertaruhkan.
Beberapa saat kemudian, ia sudah tiba di depan ruang ICU dan melihat orang tua Diandra juga masih ada di sana. Karena tidak ingin membuang waktu lagi, ia mempercepat langkah kakinya untuk mendekati keluarga Diandra.
Bahwa saat ini ingin segera mengungkapkan apa yang ada di pikirannya saat ini. Namun, ia mengawali dengan bersikap sopan sebelum mengakhiri hubungan.
"Maafkan aku atas sikapku tadi." Menatap pasangan suami istri di hadapannya tersebut dengan intens.
Refleks orang tua Diandra bangkit dari kursi dan menggelengkan kepala dan menunjukkan jika tidak mengambil hati kalimat kasar yang tadi diungkapkan oleh wanita paruh baya tersebut.
Karena melihat sang suami diam saja, ibu Diandra kini membuka suara. "Tidak apa-apa, Nyonya. Kami bisa mengerti, tidak perlu meminta maaf. Kami sama sekali tidak mengambil hati."
"Terima kasih. Kalian memang orang-orang baik." Kemudian ia mengulurkan tangannya dan mengungkapkan apa yang diinginkannya.
"Lebih baik hubungan kita sampai di sini saja. Aku akan menyuruh pengacara untuk mengurus perceraian putraku karena akan membawanya berobat ke luar negeri." Sengaja alasan paling masuk akal menjadi awal ia berbicara.
Meskipun pada akhirnya mengungkapkan hal sesuai dengan apa yang ada di otaknya. "Maafkan aku, tapi aku harus melakukan ini sebelum semuanya lebih jauh terjadi."
"Aku hanya ingin melindungi putraku dari nasib buruk dengan melakukan apapun demi kesembuhannya. Aku takut jika putraku akan bernasib seperti ini lagi jika terus berhubungan dengan putri kalian."
Saat ini, ayah Diandra yang dari tadi hanya diam mendengarkan, mengepalkan tangannya karena merasa sangat marah ketika kalimat terakhir wanita paruh baya itu membuatnya ingin membalas.
Namun, saat bersitatap dengan sang istri, melihat wanita paruh baya yang sudah menemaninya selama bertahun-tahun itu melarangnya dengan sebuah gelengan kepala. Akhirnya lagi dan lagi ia hanya diam saja seperti seorang pria yang lemah dan tidak punya harga diri kala diinjak-injak oleh orang lain.
'Ya Allah, kenapa nasib malang selalu menimpa putriku? Bahkan ia sudah banyak hidup menderita selama ini dan saat menemukan kebahagiaan, ternyata semua itu hanyalah semu. Semoga putriku bisa menerima kenyataan jika mertuanya meminta untuk mengakhiri hubungan dengan Yoshi,' gumam sosok wanita yang tak lain adalah ibu Diandra.
Bahkan baru saja ia menguatkan hatinya untuk berserah diri pada Tuhan, kembali mendapatkan kata-kata menyakitkan dari wanita yang sebentar lagi tidak akan lagi menjadi besannya tersebut.
Asmita Cempaka tidak perduli saat melihat raut wajah penuh kekecewaan dari orang tua Diandra karena satu-satunya yang diinginkan hanyalah segera mengakhiri hubungan suami istri itu.
"Terserah kalian mau menganggapku wanita jahat, yang jelas aku hanya ingin melindungi putraku dan menyelamatkan dari nasib malang." Kemudian ia melirik sekilas ke arah adiknya yang terlihat seperti tidak menyukai apa yang barusan dikatakan.
__ADS_1
Merasa kesabaran kini mulai setipis tisu, kini pria paruh baya itu tidak bisa lagi menahan sesuatu yang dari tadi ingin diungkapkan dan membuatnya sesak napas jika tidak mengatakannya.
"Lakukan apapun sesuka Anda. Tuhan telah menunjukkan sifat asli dari seorang wanita kaya raya yang sangat egois seperti Anda. Aku bersyukur karena putriku tidak akan mendapatkan mertua jahat seperti Anda."
"Semoga Yoshi selalu berbahagia saat mendapatkan sikap egois dari ibunya," ucapnya dengan raut wajah memerah karena saat ini tidak bisa lagi menyembunyikan apa yang dirasakan.
Sementara itu, sang istri sambil menggendong cucunya, sudah sibuk mengusap lengan sang suami untuk memenangkannya. "Mungkin ini sudah menjadi takdir Diandra. Kita serahkan saja semuanya pada Tuhan, agar Diandra kuat menghadapi ini semua."
Meskipun kesal, tapi ayah Diandra sedikit tentram mendengar penghiburan dari sang istri. Kini, ia mengembuskan napas kasar demi menahan amarah agar tidak kembali mengumpat dengan kalimat kasar pada sosok wanita yang diketahuinya berbeda kasta dengannya.
'Sabar. Semoga kesabaran kami bisa mengangkat derajat keluarga di mata Tuhan. Semoga kelak putriku pun akan mendapatkan kebahagiaan setelah mengalami banyak ujian,' gumamnya yang kini melihat beberapa pelayan dan dokter berjalan masuk ke dalam ruangan ICU.
Di mana di sana putrinya tengah dirawat dan membuatnya merasa sangat khawatir akan apa yang terjadi. "Suster, apa yang terjadi?"
"Sebaiknya Anda tunggu di luar saja saat dokter memastikan sesuatu," ucap perawat wanita yang kini masuk ke dalam ruangan ICU.
Tentu saja semua orang yang ada di depan ruangan ICU itu sama-sama merasa khawatir melihat pergerakan para perawat dan dokter yang tiba-tiba masuk ke dalam ruangan ICU.
"Semoga tidak terjadi sesuatu pada putri kita," lirih ibu Diandra yang kini merasakan pelukan dari sang suami.
Namun, beberapa saat kemudian pintu ruangan ICU terbuka dan membuat semua orang yang berada di sana menatap ke arah dokter dan menanyakan tentang apa yang terjadi.
"Putri kami tidak apa-apa, kan Dokter?" tanya ibu Diandra dengan perasaan berkecamuk dan dipenuhi oleh kekhawatiran dan langsung mendengarkan penjelasan dari sang dokter.
"Putri Anda baru saja melewati masa kritisnya dan tadi sudah sempat sadar. Karena mengalami cedera kepala, tetapi dari respon putri Anda tadi, kemungkinan besar mengalami amnesia."
Refleks pasangan suami istri itu merasa dunianya runtuh seketika akan apa yang menimpa putri mereka.
"Apa, Dokter? Amnesia?" Ibu Diandra kini beralih menatap ke arah bocah laki-laki yang ada di gendongan suami. "Lalu, bagaimana nasib cucu kami?"
Ayah Diandra kini juga merasa bingung saat menatap wajah damai cucunya yang tengah tidur pulas. Namun, ia ingin bertanya lebih jauh pada dokter. "Apakah putri kami bisa sembuh dari amnesianya, Dokter?"
"Tentu saja bisa dan itu tergantung amnesia dapat terjadi sementara atau permanen." Karena tadi sang dokter belum bisa berbicara banyak dengan pasien yang langsung diberikan obat penenang, jadi masih memastikan semuanya.
Apakah hilangnya ingatan pasien pada kondisi berupa hilang ingatan sebagian atau seluruhnya? Apalagi pada umumnya, penderita masih dapat mengingat identitas dirinya, hanya saja akan kesulitan untuk mengingat hal baru atau mengingat kejadian di masa lalu.
__ADS_1
Kini, ia menatap ke arah pasangan suami istri yang merupakan orang tua pasien wanita itu. "Ada beberapa jenis amnesia dan kondisi yang dialami oleh putri Anda belum diketahui yang seperti apa "
"Nanti akan diketahui setelah putri Anda sepenuhnya sadar. Jika putri Anda
tidak bisa mengingat kejadian yang terjadi dalam 3 hingga 5 tahun awal kehidupannya, berarti mengalami Amnesia Infantil."
Saat ini, ibu Diandra langsung menunjuk ke arah cucunya yang digendong oleh sang suami. "Dokter, lalu bagaimana dengan cucu kami? Apakah putri kami tidak boleh tidak boleh mengetahui tentangnya putranya?"
Sang dokter pun mengangguk perlahan untuk membenarkan. "Untuk kebaikan pasien, jadi untuk sementara tidak boleh mengetahui tentang beberapa masa lalu yang dilupakannya."
Refleks pasangan suami istri itu saling bersitatap dan beralih ke arah cucunya yang malang. Tentu saja saat ini mereka merasa bingung bagaimana caranya menyembunyikan anak laki-laki tidak berdosa yang malang itu.
"Bagaimana caranya menyembunyikan seorang anak dari ibunya? Apalagi Aksa masih berusia dua tahun dan masih membutuhkan kasih sayang ibunya." Wanita paruh baya itu kini tengah memutar otak untuk menyelesaikan masalah baru yang harus ditangani.
"Ini semua demi kebaikan putri kita, lebih baik kita menuruti perintah dari dokter." Pria paruh baya itu tiba-tiba mendapat sebuah ide yang terlintas di pikirannya. Ia akan berbicara dengan sang istri setelah semua orang pergi nanti.
"Ada satu lagi kabar buruk yang harus saya sampaikan dan ini dibutuhkan kesabaran serta dukungan dari pihak keluarga untuk pasien. Kemungkinan besar, putri Anda mengalami kelumpuhan," ucap sang dokter dengan suara lirih.
"Astaghfirullah!" teriak ibu Diandra yang seketika tubuhnya terhuyung ke belakang dan untungnya ditahan oleh sang suami.
Saat ini, ia sudah berlinang air mata dengan tubuh lunglai tak berdaya. Bahkan suara menyayat hati dari seorang ibu menghiasi ruangan di depan ICU itu.
"Sabar, Bu. Kita harus kuat dan selalu mendampingi Diandra. Jika kita lemah, siapa yang mendukung putri kita." Ayah Diandra berusaha kuat karena menjadi kepala keluarga.
Sementara itu Asmita Cempaka yang dari tadi masih di sana, mengetahui apa yang terjadi pada Diandra. 'Disndra cacat dan amnesia? Berarti keputusanku sudah benar untuk mengurus perceraian.'
'Aku tidak akan membiarkan putraku mengurus wanita yang hanya menyusahkan saja. Memangnya siapa yang mau menerima wanita cacat dan amnesia yang bahkan lupa pada putranya sendiri?' gumamnya dengan perasaan lega karena telah mengambil keputusan bulat.
'Aku tidak akan mengurungkan keputusan untuk memisahkan putraku dengan wanita pembawa sial yang menjadi penyebab dari semua kemalangan.'
Kemudian ia menatap ke arah pasangan suami istri tersebut dan berbasa-basi untuk menyampaikan turut berdukacita atas kemalangan yang menimpa Diandra.
Meskipun sebenarnya di dalam hati ingin segera angkat kaki dari hadapan orang-orang yang dianggap hanya bisa merepotkan keluarganya saja karena tidak sederajat.
To be continued...
__ADS_1