Konspirasi Cinta

Konspirasi Cinta
Iri


__ADS_3

Setelah selesai mengurus administrasi dan semua syarat untuk pulang, kini Austin melihat perawat yang masuk dengan mendorong kursi roda.


"Sudah siap untuk pulang, Nyonya?" Sang perawat yang saat ini tersenyum karena melihat pasien yang terlihat berbinar ketika sudah diperbolehkan pulang.


"Iya, Suster. Tentu saja sangat senang karena rasanya seperti terbebas dari penjara. Apalagi akan segera bertemu dengan putra saya yang pasti sangat merindukan mamanya," ucap yang saat ini berniat untuk turun dari ranjang.


Namun, sang suami secepat kilat bergerak menggendongnya dan membuatnya sedikit menjerit kecil ketika tubuhnya melayang dan sudah berada di atas lengan kekar pria yang selalu over protektif padanya semenjak hamil.


"Jika ada aku, jangan banyak bergerak," seru Austin yang tidak mengizinkan sang istri untuk berjalan.


Ia bahkan sudah diberitahu oleh sang dokter agar sang istri bed rest selama di rumah karena efek kehamilan yang sangat lemah dan tidak boleh banyak bergerak agar tidak terjadi suatu hal yang buruk.


Diandra seketika memukul ringan lengan kekar sang suami yang menurutnya terlalu berlebihan karena ia hanya ingin turun dari ranjang. Apalagi merasa malu dilihat oleh sang perawat yang terkekeh melihat sang suami saat tiba-tiba membuatnya terkejut.


"Aku hanya ingin turun dari ranjang dan pindah ke kursi roda, bukan berjalan jauh, Sayang." Diandra kemudian berbisik di dekat daun telinga sang suami. "Malu dilihat suster. Kalau di rumah nggak masalah."


Austin seketika menatap ke arah suster yang berdiri tak jauh dari hadapannya dan menurunkan sang istri di kursi roda.


"Istriku malu dilihat, Suster katanya. Sama suami sendiri kok malu. Bukankah hal seperti ini sangat lumrah, Suster?" tanya Austin yang saat ini berniat untuk mendorong kursi roda. "Biar saya saja yang melakukannya."


Sang perawat yang masih berstatus single itu merasa sangat iri melihat kemesraan dari pasangan suami istri itu. "Memang sangat lumrah, Tuan. Hanya saja, cuma beberapa pria saja yang seperti Anda."


Ia selama ini sering melihat pasangan suami istri, tapi jarang yang terlihat romantis karena pada umumnya setelah menikah, sudah tidak terlihat lagi keromantisan dari suami untuk istri.

__ADS_1


Mungkin saat masih menjalin kasih, romantis adalah sebuah hal yang wajib. Namun, faktanya setelah menikah, hal seperti itu tidak lagi dilakukan oleh para suami dan kembali ke setelan pabrik, yaitu pria yang serba cuek.


Austin yang tadinya menatap ke arah sopir ketika membantu berkemas dan membawa semua barang agar tidak terlupa. Hingga kemudian mendorong kursi roda sang istri yang diikuti oleh perawat yang membuatnya mengerutkan kening.


Bahkan apa yang disampaikan oleh perawat tersebut mendapatkan dukungan dari sang istri.


"Iya, Suster. Itu memang faktanya karena biasanya seorang suami sudah bersikap cuek pada istri setelah lama menikah. Padahal keromantisan itu sangat penting untuk menjaga hubungan agar tidak berkurang rasa cinta pada pasangan lho, tapi jarang yang menerapkannya." Diandra kemudian sedikit menoleh ke belakang untuk melihat sang suami.


"Kalau semua pria yang sudah menikah itu sama seperti suamiku, pasti tidak ada perselingkuhan maupun perceraian di dunia ini," ucap Diandra yang sengaja memuji sang suami karena merasa beruntung mendapatkan pria seperti Austin Matteo.


Seketika raut wajah Austin berubah berbinar karena mendapatkan pujian dari sang istri yang kini sudah tidak malu lagi di depan orang lain. "Sekarang istriku baru sadar jika suaminya ini adalah suami yang langka."


Ia berbicara pada sang perawat yang berada di sebelahnya. "Jadi, bersyukurlah mempunyai suami sepertiku, Sayang," ucap Austin yang kini masuk ke dalam lift begitu perawat memencet tombol dan terbuka.


Meskipun kisah cinta mereka penuh perjuangan dan harus mengalami banyak cobaan, tapi berakhir dengan kebahagiaan yang saat ini membuatnya benar-benar bersyukur memiliki seorang suami seperti Austin Matteo.


Ia saat ini menatap ke arah sang perawat. "Suster sudah menikah atau belum?"


"Belum, Nyonya," sahut sang perawat yang saat ini mengungkapkan fakta mengenai dirinya.


"Nanti kalau cari suami itu yang seperti suami saya, Suster. Dijamin akan hidup bahagia." Diandra memang tidak menunjukkan rasa syukurnya melalui ucapan pada pria di belakangnya tersebut, tapi lebih kepada pujian di depan orang lain.


Hingga ia merasa sangat terkejut ketika tiba-tiba pipinya mendapatkan kecupan dari sang suami.

__ADS_1


"I love you, Istriku," ucap Austin yang saat ini merasa sangat bahagia karena hatinya tengah berbunga-bunga begitu mendengar sang istri yang memujinya di depan perawat wanita tersebut.


Refleks Diandra bergerak mencubit pinggang kokoh sang suami karena merasa malu. "Dasar tidak tahu malu! Jangan membuat orang lain merasa iri karena melihatmu terlalu tergila-gila padaku, Sayang."


"Tidak apa-apa, Nyonya karena melihat pasangan suami istri yang sangat bahagia dan saling mencintai, membawa energi positif untuk orang lain. Semoga suatu saat nanti saya mendapatkan seorang pria seperti suami Anda." Sang perawat yang pernah mengalami patah hati karena sang kekasih berselingkuh dan trauma menjalani hubungan lagi, kini seolah mendapatkan suntikan semangat.


Ia benar-benar berharap bisa mendapatkan seorang suami seperti pria disampingnya tersebut. Dulu ia selalu berpikir jika semua pria sangat brengsek dan suka berselingkuh.


Namun, saat melihat pria di sebelahnya tersebut yang sangat mencintai sang istri, sehingga pikiran buruknya kini teralihkan dan mempercayai bahwa pria yang tulus itu masih ada.


"Nah kan, kubilang juga apa. Suamimu ini adalah idaman para wanita. Jadi, jangan melarang apa yang dilakukan suamimu ketika menunjukkan rasa cintanya." Kini, Austin kembali mendorong kursi roda keluar dari lift menuju ke arah lobby.


Sementara itu, sang supir langsung perjalanan menuju parkiran untuk mengambil mobil sambil membawa barang-barang majikannya.


Diandra saat ini merasa kesal pada kalimat pria yang dianggapnya terlalu percaya diri. Ia tidak ingin sang suami besar kepala, jadi menampilkan wajah masam. "Jangan sombong, Sayang. Nanti jadinya takabur. Cukup aku saja yang melihat keromantisanmu karena aku tidak ingin orang lain melihatnya."


"Memangnya kenapa, Sayang? Bukannya kamu harusnya bangga karena orang lain pasti sangat iri padamu." Austin kini beralih menatap ke arah sang suster untuk meminta dukungan.


Namun, ia seketika mengerti apa yang dimaksud oleh sang istri ketika sang perawat berkomentar.


"Banyak wanita yang menghalalkan segala cara untuk merebut suami orang karena merasa iri melihat istri diratukan oleh suami. Bukankah begitu, Nyonya Diandra?" Sang perawat yang selama ini sering lihat banyak kasus para pelakor yang sukses membuat para istri sah menjadi janda dan harus mencari nafkah untuk menghidupi anak-anaknya.


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2