Konspirasi Cinta

Konspirasi Cinta
Takdir macam apa


__ADS_3

Austin yang saat ini sudah berbaring di atas ranjang perawatan dan menunggu sampai sang istri mengeluarkan suara setelah sadar dari pingsan akibat kehamilan di trimester pertama.


Bahkan ia tengah menormalkan degup jantungnya yang berdebar sangat kencang karena takut ketahuan telah berbohong dengan bersandiwara mengalami kecelakaan.


'Semoga Diandra tidak mengetahui jika ini hanyalah sebuah sandiwara karena jika ketahuan, aku bisa benar-benar tamat,' gumam Austin yang saat ini masih terus memejamkan mata dan mendengar suara pergerakan.


Sementara itu, Diandra yang baru saja membuka kedua matanya dan menormalkan cahaya yang masuk ke retina, kini memijat pelipis karena merasa sangat pusing.


Hingga ia menatap ke arah langit-langit kamar dan ke sekeliling kanan kiri yang dipenuhi dengan warna putih itu. Sampai tatapannya terhenti pada sosok pria yang berbaring di atas ranjang perawatan dengan beberapa alat terdengar memenuhi ruangan penuh kesunyian itu.

__ADS_1


Begitu mengingat-ingat semua yang terjadi, ia kini terdiam dan hanya menatap ke arah ranjang sebelah kirinya, di mana sosok pria yang masih memejamkan kedua mata itu.


'Tuhan masih melindunginya karena sekarang sudah diselamatkan oleh dokter dan tidak diterima oleh yang kuasa,' gumam Diandra saat memijat pelipis karena saat ini kembali pusing seperti saat ia tiba-tiba kehilangan kesadaran.


"Sebenarnya apa yang terjadi padaku? Kenapa aku tadi merasa sangat pusing dan tiba-tiba semuanya gelap hingga kehilangan kesadaran? Sepertinya pengawal yang menyuruh untuk membuat kami berada di satu ruangan yang sama." Diandra berniat untuk turun dari ranjang karena ingin bertanya apa yang sebenarnya terjadi padanya.


Ia bahkan merasa feeling-nya sangat buruk dan ingin memastikan apakah benar. "Semoga saja tidak."


"Kebetulan Anda datang, Suster. Ada yang ingin saya tanyakan." Diandra dari tadi tidak mengalihkan perhatian dari sosok wanita dengan seragam putih tersebut, kini semakin merasa gugup saat bertanya.

__ADS_1


"Anda tidak boleh turun dari ranjang, Nyonya karena sangat beresiko dengan kesehatan Anda dan dua janin di rahim Anda. Apalagi kandungan Anda sangat lemah, sehingga tadi pingsan di ruang IGD." Perawat wanita tersebut membawa obat yang tadi diresepkan dokter.


Kemudian menyerahkan pada pasien yang kini terlihat kembali duduk dan memijat pelipis, sehingga bisa ditebaknya jika saat ini tengah pusing. Ia yang sekilas menatap ke arah pria yang tengah berakting tidak sadarkan diri di atas ranjang, mendekati wanita dengan raut wajah pucat tersebut.


'Entah apa yang sebenarnya terjadi pada pasangan suami istri ini hingga membuat heboh di rumah sakit, tapi yang jelas sangat merepotkan seluruh tim medis,' gumam perawat yang kini langsung memberikan obat di tangannya.


Berbeda Diandra yang saat ini hampir jatuh pingsan lagi karena merasa sangat shock dengan apa yang didengarnya. "Apa, Suster? Saya hamil kembar?" Hal yang paling ditakutkannya kini menjadi kenyataan dan merasa sangat terluka karena semua terjadi selalu saja tidak pada kondisi dan waktu yang tepat.


"Apakah aku selamanya akan menjalani kehidupan yang rumit seperti ini? Kenapa saat aku mengetahui kenyataan yang sebenarnya, malah hamil?" Diandra berbicara dengan pandangan kosong karena merasa bingung apa yang harus dilakukannya setelah ini.

__ADS_1


Hingga ia beralih pandangannya pada sang suami yang masih belum sadarkan diri dengan perban yang membalut luka di kepala dan kaki. 'Kenapa kau selalu membuatku hidup menderita dengan benihmu? Takdir macam apa ini sebenarnya?'


To be continued...


__ADS_2