
Satu bulan lalu ....
Sosok pria yang saat ini berjalan keluar dari terminal kedatangan di bandara Singapura, langsung mencari taksi dan menyuruhnya untuk menuju ke salah satu rumah sakit yang terkenal di sana.
Sosok pria yang tak lain adalah Austin Matteo, kini mengeluarkan ponsel yang berada di sabuk celana begitu naik ke dalam taksi yang mulai melaju meninggalkan bandara.
Ia mencari kontak wanita yang akan ditemuinya hari ini. Setelah menemukan kontak dengan nama Maria Belinda, ia pun menunggu hingga sambungan telepon tersambung. Begitu mendengar suara seorang wanita dari seberang telepon, langsung membuka suara.
"Halo."
"Maria Belinda?" tanya Austin yang saat ini ingin memperkenalkan diri siapa dirinya dan apa alasan menghubungi wanita yang ternyata sudah lama dijodohkan dengannya. "Aku Austin Matteo."
"Iya. Aku tahu karena sudah lama menyimpan nomormu, tapi tidak berani menghubungi karena tidak ingin membuatmu berpikir bahwa aku adalah seorang wanita yang suka mengejar para pria. Meskipun aku tahu bahwa kita sudah dijodohkan oleh orang tua, tetap saja aku tidak berniat untuk menghubungimu terlebih dahulu."
Austin sama sekali tidak menyangka jika ternyata nomornya sudah lama disimpan oleh wanita di seberang telepon yang baru saja mengungkapkan semua hal tanpa diketahui olehnya.
Bahkan ia merasa menjadi seorang pria bodoh karena tidak mengetahui apapun mengenai perjodohan yang dilakukan para orang tua. Padahal ia adalah tokoh utama dari perjodohan itu, seolah dianggap seperti seorang anak kecil yang tidak berhak tahu.
Ia pun saat ini tertawa miris mengetahui paling akhir pada detik-detik sibuk mencari keberadaan Diandra yang ingin dinikahi. Kini, ia merasa harus segera berbicara dengan wanita yang dijodohkan dengannya tersebut.
"Jadi, sepertinya aku tidak perlu susah-susah untuk memperkenalkan diri padamu. Aku saat ini dalam perjalanan menuju ke rumah sakit dan hendak menemuimu untuk membicarakan mengenai masalah perjodohan yang dilakukan oleh para orang tua kita."
Austin menunggu hingga sosok wanita di seberang telpon mengiyakan ajakannya, yang terjadi adalah ia mendapatkan sebuah pertanyaan yang membuatnya merasa tidak enak jika harus membahas tanpa bertemu.
"Hanya ada dua kemungkinan kamu ingin bertemu denganku, hingga jauh-jauh dari Jakarta pergi ke sini, yaitu menerima dan menolak perjodohan. Sekarang katakan padaku mengenai apa yang kamu pikirkan. Apakah kamu menolak perjodohan ini?"
Maria Belinda yang merupakan wanita dewasa dengan pemikiran bijak dan sudah tidak lagi kekanakan seperti anak remaja saat usianya sekarang sudah menginjak 30 tahun. Jadi, berpikir bahwa ia tidak ingin sakit hati menemui pria yang dijodohkan dengannya jika sampai menolak keinginan para orang tua mereka.
Ia berpikir bahwa tidak ada gunanya bertemu dengan seorang Austin Matteo jika menolak perjodohan. Namun, jika mengetahui pria itu menerima perjodohan yang dilakukan oleh orang tua, baru ia mau menerima ajakan untuk bertemu.
Alasannya adalah simpel, yaitu tidak ingin sakit hati ketika bertemu dengan pria yang sama sekali tidak menginginkannya. Apalagi ia saat ini sedang tidak menjalin hubungan dengan siapapun karena terlalu sibuk dengan karirnya yang mulai meroket.
__ADS_1
Sementara itu, Austin yang saat ini tidak langsung menjawab karena merasa tidak enak berbicara di telepon ketika menolak perjodohan dengan alasan mencintai wanita lain.
'Kenapa susah sekali menemui wanita ini? Bagaimana mungkin aku mengungkapkan semuanya ditelepon tanpa bertemu dengannya setelah jauh-jauh dari Jakarta ke Singapura? Wanita ini benar-benar sangat menyebalkan.'
Austin saat ini masih sibuk mengumpat di dalam hati sosok wanita yang dijodohkan dengannya tersebut. Ia masih berusaha untuk membujuk wanita itu agar mau bertemu dengannya.
"Aku harus mengatakannya secara langsung padamu. Jadi, kita bertemu di rumah sakit karena aku sedang dalam perjalanan ke sana." Saat Austin baru saja menutup mulut, ia mendengar suara dengan nada penuh ketegasan dan membuatnya makin kesal.
"Aku tidak akan pernah menemuimu jika kamu menolak perjodohan yang dilakukan para orang tua kita, begitu pun sebaliknya. Jika tujuanmu datang ke rumah sakit adalah ingin membicarakan mengenai perjodohan kita karena menerimanya, aku akan menemuimu dengan senang hati, Austin Matteo."
Begitu mengungkapkan apa yang saat ini membuatnya kesal karena tidak langsung dijawab, sehingga Maria Melinda langsung mematikan sambungan telpon sepihak.
Sementara itu, Austin yang merasa sangat kesal melihat apa yang baru saja dilakukan oleh sosok wanita di seberang telepon. "Wah ... wanita itu benar-benar sangat arogan. Bahkan aku belum selesai bicara, ia sudah mematikan sambungan telpon sepihak."
Austin saat ini menatap ke arah sang supir dan merasa bingung harus ke rumah sakit atau tidak. Bahkan ia tahu bahwa Maria Belinda tidak mau menemuinya dan pasti akan percuma ke rumah sakit.
Kini, ia menyuruh sang sopir untuk berhenti di pinggir jalan karena akan menelpon sekali lagi sosok wanita yang dianggapnya tidak sopan karena memutuskan sambungan telpon saat belum selesai berbicara.
Begitu taksi berhenti di tepi jalan, Austin kembali menghubungi dokter bedah yang sangat terkenal di Singapura tersebut. Hingga beberapa detik berlalu, tapi panggilannya tidak langsung diangkat.
Maria Belinda, sebenarnya ada banyak hal yang ingin kukatakan padamu mengenai perjodohan yang dilakukan oleh orang tua kita. Aku mungkin tidak tahu diri karena berniat untuk memohon padamu orang tuamu untuk tidak menjodohkan kita karena aku sudah mencintai wanita lain.
Saat kemarin baru mengetahui perjodohan kita dari orang tuaku yang memaksa karena mengungkit masalah pertolongan orang tuamu saat menyelamatkan perusahaan. Apakah kamu mau menikah dengan pria yang sama sekali tidak mencintaimu hanya demi membalas budi?
Sebenarnya masih ada banyak hal yang ingin dituliskan di pesannya pada sosok wanita yang akan dijodohkan dengannya tersebut, tapi ia sadar diri jika mungkin Maria Belinda tidak akan mau membaca pesannya.
Jadi, berpikir untuk mengirimkan pesan tersebut terlebih dahulu dan menunggu jawaban dari wanita itu, baru ia memutuskan untuk mengirimkan pesan lagi dan berharap bisa menemui Maria Belinda secara langsung untuk berbicara mengenai perjodohan yang sama sekali tidak diinginkan.
Setelah memencet tombol kirim, Austin masih menatap ke arah ponselnya untuk melihat apakah Maria Belinda membaca pesan darinya. Hingga begitu melihat pesannya sudah dibaca, berharap wanita itu membalas.
Begitu melihat tulisan mengetik yang menandakan Maria hendak membalas pesannya, Austin masih dengan sabar menunggu dan berharap mendapatkan sebuah kabar baik.
__ADS_1
Hingga begitu bunyi notifikasi terdengar, ia membaca pesan dari wanita yang tidak ingin menemuinya tersebut.
Baiklah. Kembalilah ke Jakarta karena aku tidak ingin menemui pria yang menolak dijodohkan denganku. Aku akan berbicara dengan orang tuaku untuk membatalkan perjodohan. Aku pun tidak ingin mengemis cinta dari pria yang sama sekali tidak mencintaiku. Seumur hidup terlalu lama untuk kusia-siakan jika menikah dengan pria sepertimu.
Austin menelan saliva dengan kasar ketika membaca pesan dari Maria Belinda. Tadinya ia berpikir bisa menemui wanita itu untuk membicarakan secara langsung, tapi yang terjadi malah sebaliknya karena tidak bisa menemuinya dengan alasan yang masuk akal.
"Benar apa yang dikatakan oleh Maria Belinda. Bahwa apa gunanya bertemu dengan orang sama sekali tidak menginginkan kita? Ternyata percuma aku datang ke sini. Seharusnya aku meneleponnya terlebih dahulu sebelum memutuskan datang ke Singapura."
Austin saat ini kembali menatap ke arah sang supir. "Kita kembali ke bandara saja." Menatap suara mesin waktu yang melingkar di pergelangan tangan kiri. "Penerbangan ke Jakarta masih 2 jam lagi. Tidak apa-apa aku menunggu di bandara saja."
Sementara itu, sang supir yang tidak ingin bertanya pada penumpang, hanya melakukan perintah dan melajukan kendaraan untuk menuju ke bandara lagi.
'Sepertinya pria ini sangat bingung karena kembali ke bandara,' gumam sang supir yang saat ini melajukan kendaraan menuju ke bandara sesuai perintah dari penumpang.
Austin saat ini bersandar di jok mobil dan memejamkan kedua mata. 'Semoga wanita itu mau membantuku dengan membatalkan perjodohan. Jika ia sendiri yang menolak perjodohan, papa tidak akan menyalahkanku dan perusahaan tetap aman.'
Kini, ia tidak ingin membuang waktu karena berpikir harus mengatakan hal itu pada Maria Belinda dan tidak mau pedulikan rasa malu. Ia pun kembali mengetik pesan agar wanita itu mau membantunya.
Perusahaan keluargaku terancam bangkrut jika menolak perjodohan ini. Jadi, tujuanku datang ke sini adalah ingin meminta bantuanmu agar kamulah yang menolak perjodohannya. Aku dengan egois dan tolong maafkan aku karena lebih mengkhawatirkan kondisi perusahaan daripada perasaanmu, tapi ada jauh lebih baik jika kamu menikah dengan pria yang mencintaimu.
Setelah mengirimkan pesan panjang lebar, Austin kini kembali memasukkan ponsel miliknya di saku celana. Hingga ia pun menatap ke arah jalanan banyaknya gedung menjulang di kanan kiri.
Hingga tiba-tiba ia seketika membulatkan mata dan merasakan nyeri luar biasa ketika taksi dihantam dari belakang dan kaca mobil itu ketika pecahkan hamburan dan saat ia masih bisa melihat mobil yang diturunkannya berputar hingga beberapa kali terbalik dan memenuhi badan jalan.
Seketika ia bisa melihat kilasan balik dari hidupmu seperti kaset yang diputar. Mulai dari masa kecil remaja hingga dewasa dan terakhir adalah raja Diandra yang terbayang jelas di pikirannya saat ini.
'Apa ini adalah akhir dari hidupku dan tidak akan pernah bertemu dengan Diandra lagi. Diandra, aku jauh-jauh datang ke Singapura hanya demi bisa tetap bersamamu, Sayang. Jika aku mati, apakah kamu bisa merasa kehilangan?'
Austin yang merasakan tubuhnya remuk redam ketika mobil terbalik dan kepalanya terasa seperti mau pecah, kesadarannya menghilang dengan kelopak mata yang perlahan-lahan tertutup rapat.
Kini, terlihat Austin yang sudah kehilangan kesadaran dan bulir darah menghiasi kepalanya.
__ADS_1
Kecelakaan hebat di jalanan utama tersebut melibatkan sebuah truk besar pengangkut barang yang tiba-tiba mengalami rem blong saat hendak mendahului mobil di depannya. Hingga berakhir menghantam taksi yang melaju di depannya hingga terbalik dan mengakibatkan kemacetan di sana.
To be continued...