Konspirasi Cinta

Konspirasi Cinta
Tidak akan pernah mengulangi kejahatan


__ADS_3

Seperti tertampar dengan apa yang baru saja disampaikan oleh Diandra, Austin hanya bisa menelan saliva dengan kasar. Namun, berakting tersenyum simpul dan menganggukkan kepala.


"Tentu saja, Sayang. Tidak akan ada rahasia di antara kita setelah menjadi pasangan suami istri."


"Jadi, aku ingin menceritakan mengenai apa yang kurasakan tadi sebelum pingsan," ucap Diandra yang tidak ingin bertele-tele. "Karena tadi ada orang tua kita, jadi berpikir jika lebih baik mengatakan terlebih dahulu padamu."


"Katakan saja, Sayang. Aku jadi makin penasaran jadinya," ujar Austin yang kini makin berdebar-debar karena berpikir jika Diandra perlahan mengingat sesuatu.


Padahal ia sangat berharap jika istrinya tersebut selamanya amnesia disosiatif dan tidak akan pernah mengingat kejahatannya dulu.


Setelah mengambil napas teratur dan lebih siap, kini Dewia ingin mengetahui bagaimana tanggapan dari pria yang dari tadi menatapnya intens.


"Saat kita menikah tadi, kenapa aku merasa seperti pernah mengalami situasi itu? Ada sekilas, tapi terlalu cepat hilang ketika ada sebuah potongan kejadian di memori otakku." Diandra menghentikan perkataannya untuk melihat bagaimana respon dari sosok pria di hadapan.


"Itu adalah sebuah hal yang wajar, Sayang," sahut Austin yang saat ini ingin menghilangkan pemikiran sang istri.


Tentu saja ia tadi sudah beberapa kali menelan saliva dengan kasar karena jujur saja perasaan saat ini benar-benar tidak karuan.


'Maafkan aku karena harus membohongimu karena ini demi kebaikan hubungan kita,' gumam Austin yang kini berusaha untuk bersikap biasa dengan cara menyembunyikan perasaan sebenarnya.


Sementara itu, Diandra yang kini mengerutkan kening, seketika mengeluarkan suara. "Wajar bagaimana?"


Diandra makin penasaran melihat sikap tenang sosok pria yang selalu dipenuhi pikiran positif jika itu menyangkut tentang dirinya.


Sementara Austin masih tidak melepaskan genggaman tangan dan berharap alasan yang diberikan dipercayai oleh wanita dengan wajah penuh kekhawatiran tersebut.

__ADS_1


"Semua orang akan merasa pernah mengalami situasi di acara pernikahan. Mungkin kamu dulu sering datang ke acara temanmu ketika menikah. Jadi, tadi merasa seperti pernah menikah."


Refleks Diandra menggelengkan kepalanya sebagai tanda tidak setuju. "Bukan seperti itu, tapi aku tadi seperti merasa jika ada suara lain yang menyebut namaku ketika mengucapkan akad nikah dan itu bukan suaramu."


"Apakah aku dulu memiliki kehidupan lain seperti di film-film, yaitu sebuah reinkarnasi? Ini terdengar sangat konyol, bahkan aku sendiri pun ingin tertawa karena bisa berbicara seperti ini."


"Namun hal yang membuatku pusing teramat sangat adalah karena tadi berusaha sekuat tenaga untuk mengingat sesuatu yang tiba-tiba ada kalimat itu dari suara bariton yang berbeda dari suaramu."


Diandra mengakhiri cerita dengan sesekali memijat kepala yang diarasa sangat pusing. "Aku merasa seperti sudah pernah menikah sebelumnya? Konyol, bukan?"


Tentu saja saat berbicara seperti itu, Diandra yang kini merasa bersalah saat meminta pendapat pada sosok pria yang seperti terbebani dengan perkataannya barusan.


"Maafkan aku. Sepertinya memang kecelakaan yang menimpaku berhasil membuatku hilang akal," ucap Diandra yang saat ini bingung harus bagaimana.


Bahkan ia merasa ada kejanggalan yang dirasakan ketika pikirannya mengacu pada hal tersebut.


'Sayang, aku tidak mungkin mengiyakan perkataanmu yang merupakan sebuah kebenaran karena jika melakukannya, akan kehilangan kamu selamanya,' gumam Austin yang kini memilih bangkit berdiri dari posisinya dan berjalan ke arah pintu.


Kemudian mengunci pintu karena ingin membuat wanita pujaan hati melupakan apa yang barusan dikatakan. Tidak tahu harus bagaimana, bahkan ia sendiri pun benar-benar pusing sekaligus khawatir jika sampai kehilangan wanita yang terbaring lemah di atas ranjang tersebut.


'Mungkin, jalan keluar satu-satunya adalah segera membuatmu hamil, agar tidak kabur dariku,' gumam Austin yang saat ini memutar kunci.


Sementara itu, Diandra kini memicingkan mata karena melihat pria dengan bahu lebar tersebut malah mengunci pintu. "Kenapa dikunci pintunya? Apa kamu mau ...."


Diandra tidak melanjutkan perkataan karena merasa jika apa yang ingin ditanyakan adalah sesuatu hal yang tabu. Hingga perbuatan pria dengan rahang tegas tersebut sudah berbalik badan dan berjalan mendekat sambil melepaskan dua kancing jas yang melekat di tubuh.

__ADS_1


Hingga beberapa detik kemudian melihat Austin melemparkan jas ke lantai dan melanjutkan membuka satu-persatu kancing kemeja berwarna putih tersebut, tentu saja mengetahui apa yang akan dilakukan pria berstatus suaminya itu.


'Astaga, apa yang harus kulakukan saat ini? Ia menuntut hak di saat pembicaraan kami belum selesai,' gumam Diandra yang kini mengerjapkan mata begitu melihat pemandangan di hadapannya.


Bahwa ada tubuh sixpack penuh cetakan otot perut kencang yang seperti melambai untuk segera ditelusuri dengan tangannya.


"Apa kamu mau melakukannya sekarang? Bagaimana jika orang tua kita datang? Lagipula aku masih belum sepenuhnya sehat. Jadi, mana mungkin bisa melakukannya. Kenapa tidak nanti malam saja?"


Saat baru menutup mulut, Diandra merasakan tangan dengan buku-buku kuat tersebut tengah menelusuri pipinya. Bahkan senyuman penuh seringai tampak jelas pada wajah dengan rahang tegas tersebut.


"Bukankah kita sudah sah menjadi suami istri? Jadi, wajar jika aku menginginkanmu, Sayang." Kemudian Austin mendekatkan wajahnya di dekat daun telinga sang istri untuk berbisik. "Apa sekarang kamu takut padaku?"


Diandra yang kini merasakan gugup, hanya bisa menelan saliva dengan kasar. "Aku tahu itu, tapi masih ada banyak orang di rumah. Apa kamu lupa jika ibuku tadi mengatakan akan membuatkan minuman hangat untukku? Pasti sebentar lagi akan datang."


Berharap dengan alasan tersebut, sang suami mau menunda untuk meminta haknya karena jujur saja saat ini tengah merasa sangat gugup dan bingung harus bagaimana.


Sementara hal berbeda dirasakan oleh Austin ketika makin bersemangat melihat sikap wanita dengan wajah memerah tersebut seperti ketakutan.


"Tidak perlu takut padaku, Sayang karena aku akan perlahan melakukannya," bisik Austin di dekat daun telinga sang istri.


Austin yang saat ini membungkuk dan mendekatkan wajah untuk segera membungkam bibir wanita yang dianggapnya takut berlebihan.


'Aku akan melakukannya dengan sangat lembut, Sayang karena tidak akan pernah mengulangi kejahatanku dulu saat menyakitimu dan membuatmu membenciku.' Austin hanya bisa bergumam sendiri di dalam hati karena saat ini sudah sibuk menyesap sari kemanisan dari bibir wanita yang mulai membalas ciumannya.


Ia berharap mulai hari ini hanya ada kebahagiaan yang dirasakan. Bukan seperti lima tahun lalu karena hanya meninggalkan luka pada wanita yang baru saja ia nikahi tersebut.

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2