
Beberapa saat lalu, Diandra merasa sangat gugup berada pada posisi sangat intim dengan Yoshi yang memeluknya erat. Bahkan tidak ada jarak di antara mereka karena tubuh yang saling menempel dan bisa merasakan embusan napas beraroma mint dari bibir Yoshi.
Hingga ia berusaha melepaskan diri karena merasa sangat malu ditatap sangat intens oleh pria dengan pahatan sempurna di hadapannya. Sampai suara dering ponsel miliknya terdengar dan langsung melepaskan diri dari kuasa Yoshi.
Diandra menelan ludah dengan kasar kala melihat kontak sang ayah dan khawatir jika Austin yang saat ini masih berada di rumah sakit, sehingga orang tuanya langsung menghubunginya.
Bahkan kali ini benar-benar dikuasai oleh kekhawatiran jika sampai Austin mengatakan pada orang tuanya jika ia sudah menjual keperawanan. Meskipun Yoshi sudah memberikan sebuah semangat, tetap saja merasa khawatir.
Namun, mengetahui jika ia tidak bisa menghindar lagi dan tetap harus mengangkat telpon, akhirnya kini dengan ragu-ragu menggeser tombol hijau ke atas dan langsung mengucapkan salam pada sang ayah.
"Iya, Ayah." Diandra menunggu dengan harap-harap cemas sambil menatap ke arah sosok pria yang baru saja mengenggam erat telapak tangan kanannya karena tangan kiri memegang ponsel.
"Diandra, Ayah ingin membicarakan sesuatu hal penting hari ini. Jadi, kembali mengganggumu. Apa kamu sibuk? Kamu sudah di tempat kos, kan?" tanya Romy Sudrajat yang saat ini ingin memastikan sesuatu agar putrinya tidak terkejut atas apa yang hendak disampaikan.
Sementara itu, Diandra menatap ke arah Yoshi dan menunjuk ke arah masakan pria itu. Bahwa mungkin ia akan cukup lama berbicara dengan sang ayah dan makanan yang tadi tinggal disantap akan dingin.
__ADS_1
Refleks Yoshi mengungkapkan bahwa ia tidak masalah dan mendekatkan wajah pada daun telinga wanita itu. "Tidak apa-apa. Itu bisa dimakan nanti setelah kamu selesai berbicara dengan ayahmu. Kita harus tahu apa yang dikatakan oleh si berengsek itu."
Diandra kini mengangguk perlahan sebagai tanda persetujuan karena jujur saja ia juga sangat penasaran tentang apa yang dikatakan oleh pria yang telah membuatnya tidak perawan lagi.
"Iya, Ayah. Aku sudah ada di tempat kos saat ini dan sudah pulang kerja dari tadi. Ini tadi baru selesai memasak dan berniat untuk makan malam, tapi sepertinya ada hal penting yang Ayah hendak sampaikan padaku. Memangnya apa itu?" tanya Diandra yang kini melangkahkan kaki jenjangnya menuju ke arah ruang makan.
Yoshi yakin jika pembicaraan antara ayah dan anak itu akan berlangsung cukup lama, sehingga tadi menarik pergelangan tangan kanan Diandra agar berjalan mengekornya.
Kemudian ia menarik kursi agar Diandra duduk di sana. Begitu melihat Diandra duduk, ia pun mendaratkan tubuhnya di sebelah kanan agar bisa ikut mendengarkan pembicaraan dari ponsel itu.
"Syukurlah jika kamu hari ini sudah pulang kerja dan tidak lembur. Mungkin jika bosmu bukan nak Austin, hidupmu akan miris karena harus bekerja keras untuk bisa membayar pinjaman dari perusahaan." Romy sengaja menunda sejenak.
Ia ingin mendengar tanggapan dari putrinya terlebih dahulu sebelum membahas hal yang lebih privasi mengenai hubungan antara pria yang tadi datang ke Rumah Sakit dengan putri satu-satunya.
Namun, sama sekali tidak mendengar suara dari putrinya dan membuatnya mengerutkan kening. "Diandra, kamu mendengar kata-kata Ayah, kan?"
__ADS_1
Diandra benar-benar bingung harus menjawab karena ia sudah tidak bekerja untuk Austin Matteo. 'Apa yang sebenarnya telah dikatakan oleh bajingan itu pada ayahku? Kenapa rasanya ayah bertele-tele?'
Diandra yang saat ini tidak ingin membuat kondisi sang ayah drop, sehingga kini masih berusaha bersikap setenang mungkin. "Iya, Ayah. Aku mendengar Ayah dari tadi. Memangnya kenapa, Yang?"
Karena tidak ingin membuang waktu, kini Romy Sudrajat memilih menjelaskan semua hal yang tadi dikatakan oleh Austin Matteo tanpa ada yang terlewatkan.
Sementara itu, Diandra yang merasa tubuhnya seketika lunglai dan kehilangan tenaga hingga tangannya gemetar, sampai ia meremas pakaian yang dikenakan.
Ia benar-benar sangat shock dengan apa yang saat ini menjadi akhir dari perkataan sang ayah.
"Jadi, kalian harus segera menikah untuk mempertahankan perbuatan sebelum terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Apalagi tuan Austin sudah menunjukkan keseriusannya padamu dengan datang mengunjungi Ayah di rumah sakit," ujar Romy Sudrajat yang kini merasa sangat lega begitu mengungkapkan semuanya.
Diandra seketika bersitatap dengan sosok pria yang duduk di sebelah kanan. Ia bahkan saat ini melihat keraguan di mata Yoshi begitu mengetahui bahwa Austin mengarang cerita.
'Apa yang harus kulakukan sekarang? Aku benar-benar tidak ingin menikah dengan pria berengsek itu karena hidupku akan semakin menderita,' gumam Diandra yang kini memilih diam terlebih dahulu untuk menenangkan pikiran dan juga emosinya yang sudah meletup-letup bagaikan gunung berapi.
__ADS_1
To be continued...