Konspirasi Cinta

Konspirasi Cinta
Menghancurkan Yoshi


__ADS_3

Sosok pria yang terlihat sibuk di depan layar komputer sambil memeriksa beberapa dokumen yang harus ditandatangani hari ini, tak lain adalah Austin Matteo yang fokus pada pekerjaan dan tidak menyadari Jika waktu sudah menunjukkan jam istirahat.


Hingga suara ketukan pintu terdengar dan membuatnya menoleh ke arah seseorang yang tak lain adalah asisten pribadinya tengah membawa bungkusan makanan.


Setelah Diandra kabur dan pergi tanpa pesan, tentu saja tidak lagi bisa menyuruh wanita itu mengambil makanan dari restoran seberang perusahaan.


Jadi, ia menyuruh asisten pribadinya untuk menyuruh pihak restoran mengantarkan sendiri ke kantor. Seperti sekarang yang terlihat adalah pria dengan jas berwarna biru tersebut kini berjalan sambil membawa jatah makan siangnya.


"Makanannya sudah datang, Presdir," ucap Daffa Ibrahim yang saat ini berjalan mendekati bosnya yang masih terlihat serius bekerja dan meletakkan makanan di atas meja.


Ia bahkan ada kabar penting yang pastinya akan membuat bosnya merasa senang sekaligus marah karena baru saja orang suruhannya mengirimkan sebuah gambar mengenai wanita incaran bosnya.


"Apa belum ada kabar dari mata-mata yang ada di perusahaan Yoshi?" tanya Austin yang saat ini melirik ke arah bungkusan makanan di atas meja.


Setiap melihat makanan dari restoran itu, selalu membuatnya mengingat semua hal yang berhubungan dengan Diandra dan tentu saja membangkitkan amarah karena gagal membuat wanita itu jatuh ke tangannya saat dijemput di tempat wisata.


Hingga ia pun kini bergerak membuka kantong plastik berisi makan siangnya. Hingga ia seketika menghentikan perbuatannya begitu mendengar jawaban sangat menarik dari asisten pribadinya.


Daffa Ibrahim segera mengambil ponsel dari saku jasnya dan mengirimkan beberapa foto yang diambil tadi pagi di lobi perusahaan konsultan terbesar di Jakarta.


"Anda bisa melihatnya langsung dari foto yang saya kirimkan barusan, Presdir. Ternyata hari ini kabar sudah menyebar di perusahaan itu mengenai Yoshi yang menggandeng nona Diandra masuk ke dalam lift."


Kemudian menjelaskan semua informasi yang diberikan oleh mata-mata perusahaan karena semenjak mendapatkan perintah untuk mencari tahu segala hal mengenai Yoshi, ia mencari seseorang yang bisa memberikan semua informasi yang dibutuhkan.


Hingga ia bertemu dengan salah satu staf perusahaan konsultan itu di salah satu restoran dan membayarnya di muka agar bisa bekerja untuk bosnya.


Sementara itu, Austin yang langsung memeriksa gambar dari pria di hadapannya tersebut dan seketika mengepalkan tangan karena rasa cemburu dirasakan begitu melihat Diandra terlihat diam saja saat digandeng masuk ke dalam lift.


Ia benar-benar merasa sangat marah karena sikap Diandra yang sangat berbeda pada pria itu. Bahkan saat ini tertawa terbahak-bahak untuk meluapkan segala amarah yang memuncak.


'Wah ... apa aku harus menerima perbuatanmu padaku, Diandra? Kamu bahkan selalu marah padaku saat aku menyentuhmu, tapi saat pria itu melakukannya, kamu seolah diam dan menikmatinya.'


Kemudian ia beralih menatap ke arah asisten pribadinya tersebut. Ia sebenarnya sudah mempunyai rencana untuk memisahkan Diandra dari pria itu, tapi ia berpikir bahwa butuh waktu yang tepat dan meledakkan bom waktu hingga menghancurkan siapapun yang menghalangi jalannya.


"Kau memang bisa diandalkan. Apa belum ada informasi yang mengatakan tentang kelemahan keluarga Narendra? Aku akan membuat pria itu tidak berkutik agar tidak sombong di depanku."


Gelengan kepala sekolah menunjukkan jawaban dari Daffa Ibrahim karena saat ini ia masih berusaha untuk mencari tahu dengan membayar detektif mahal yang akan mengorek semua informasi mengenai keluarga Narendra.


Namun, seolah bosnya ingin segera mengetahuinya dan tidak berpikir jika waktu satu hari saja tidaklah cukup untuk menyelidiki keluarga Narendra sampai ke akar-akarnya.


"Saya masih menunggu kabar dari detektif yang berusaha untuk mencari tahu semua hal mengenai keluarga Narendra, Tuan Austin. Semoga secepatnya detektif menghubungi saya dan mengatakan mengenai apa yang Anda cari."


Saat ini, Austin masih tidak mengalihkan pandangannya dari ponsel yang menampilkan beberapa gambar Diandra ketika berjalan di sebelah Yoshi dengan senyuman yang selalu terukir dari wajah.


Seolah membuatnya merasa tertampar karena saat bersamanya, Diandra sama sekali tidak pernah tersenyum seperti itu.


'Menyebalkan sekali! Kenapa dengan mudahnya ia terlihat bahagia bersama pria yang bahkan baru saja dikenal. Apa hebatnya Yoshi hingga Diandra terlihat sangat bahagia bersamanya? Bahkan aku jauh lebih baik darinya.'


Karena merasa kesal melihatnya, refleks ia langsung menghapus semua foto itu karena benar-benar sangat cemburu melihat Diandra yang bahagia ketika bersama dengan Yoshi.

__ADS_1


Ia tahu bagaimana Diandra dan Yoshi saling mengenal karena sudah mencari tahu. Hingga membuatnya merasa sangat iri sekaligus cemburu karena bisa dengan mudahnya Yoshi mendapatkan Diandra yang notabene sangat sulit ia dapatkan.


Padahal selama ini tidak ada yang bisa menolaknya, hanya Diandra yang berani melakukannya. Hal itulah yang membuatnya sangat marah karena ketika pertama kali memiliki keinginan untuk mengakhiri masa lajang, malah ditolak mentah-mentah oleh Diandra.


Ia seketika menaruh ponsel yang dari tadi dipegangnya di atas meja begitu mendapatkan kabar yang baru saja diingat oleh asistennya.


"Saya baru ingat sesuatu, Tuan." Kemudian Daffa saat ini langsung berjalan menuju ke arah bosnya untuk memberikan sesuatu.


Ia meletakkan flash disk di atas meja dan berharap bosnya tersebut segera memeriksa apa yang ia dapatkan hari ini mengenai perusahaan konsultan yang menjadi incaran pimpinannya tersebut.


"Jadi, saya melihat kejanggalan dari data yang diretas oleh ahli IT kita. Jadi, ada aliran dana terselubung yang sepertinya digunakan untuk mencuci uang. Tapi ini masih menjadi sebuah tebakan dan pertanyaan bagi saya. Apakah itu benar atau tidak."


Austin yang saat ini tengah menatap ke arah flash disk di atas meja, berniat untuk memeriksanya setelah makan siang karena ia tidak akan bisa berkonsentrasi saat belum mengisi energi.


"Baiklah. Aku akan melihatnya sendiri setelah makan. Oh iya." Austin saat ini tiba-tiba terpikirkan sebuah rencana kecil yang membuatnya berpikir bisa menang melawan Yoshi.


"Suruh orang pergi ke rumah sakit yang menjadi tempat ayah Diandra dirawat. Bukankah kau kemarin sudah menyelidiki tentang alamat tempat tinggal serta rumah sakit orang tua Diandra?"


Austin bahkan memiliki sebuah ide di kepalanya untuk memanfaatkan orang tua Diandra yang berpikir bahwa uang nya yang ditransfer merupakan sebuah pinjaman.


Daffa menganggukkan kepala karena memang ia sudah berhasil mendapatkan semua informasi mengenai wanita yang telah membuat bosnya berbuat konyol.


"Jadi, apa yang harus saya lakukan, Bos?" tanya Daffa sambil menunggu pria di atas kursi kebesarannya tersebut berbicara.


Kemudian Austin bangkit berdiri dari kursi dan berjalan menghampiri pria yang berada di balik meja tersebut. "Aku ingin kamu sendiri yang langsung pergi ke sana untuk mewakiliku melamar Diandra."


Rencananya adalah ingin segera mendapatkan Restu dari orang tua Diandra karena berpikir itu jauh lebih penting dari yang lain.


"Jadi, Jangan katakan mengenai uang yang ku transfer pada keluarga mereka karena pastinya sudah tahu jika itu adalah pinjaman dari bos putrinya. Aku tidak ingin meninggalkan kesan buruk di mata orang tua Diandra."


Austin saat ini terdiam sejenak karena memikirkan untuk merubah rencana. Ia tadi melihat asisten pribadinya menganggukkan kepala sebagai tanda persetujuan.


Hingga ia pun berpikir sesuatu yang lebih baik. "Apa jadwalku hari ini besok? Apa ada pertemuan penting dengan klien?" tanya Austin yang berpikir untuk pergi sendiri daripada menyuruh asistennya menemui orang tua Diandra yang dianggapnya adalah calon mertua.


Karena ingin memastikan semuanya meskipun sudah merekam di otak mengenai jadwal bosnya hari ini dan besok, Daffa pun melihat pada ponselnya.


"Hanya ada satu pertemuan dengan tuan Rangga, Presdir. Memangnya ada apa, Presdir?" tanya Daffa yang merasa penasaran dengan rencana apalagi yang tengah disusun oleh bosnya tersebut.


Apalagi hanya gara-gara seorang Diandra yang bahkan menurutnya hanyalah seorang wanita biasa dan jauh dari kata seksi.


Karena sangat kurus serta tidak memperlihatkan bentuk tubuh ketika memakai pakaian.


Sementara ia selama ini mengetahui bahwa selera dari bosnya adalah para wanita seksi dengan pakaian kurang bahan dan pastinya adalah para wanita yang memiliki paras cantik.


"Lebih baik kau saja yang kalian kita satu itu karena aku sangat malas bertemu dengan pria kikir itu yang sangat perhitungan dalam hal apapun ketika mengajak bekerja sama."


Kemudian Austin merasa yakin jika ia benar-benar akan mengunjungi orang tua Diandra untuk bisa mencuri hati calon mertuanya tersebut. "Pesankan aku tiket ke Jawa saat ini karena ingin bertemu dengan calon mertuaku!"


Suara parutan dengan nada penuh ketegasan dari bosnya tersebut membuat Daffa hanya mengangguk setuju tanpa bertanya apapun.

__ADS_1


Ia bahkan sudah sangat hafal dan membuatnya tidak ingin mendapatkan kemurkaan dari bosnya yang terlihat sangat serius untuk pergi menemui orang tua Diandra.


"Baik, Bos." Daffa pun mengambil ponsel miliknya dan langsung mencari tiket penerbangan paling cepat karena tahu bahwa bosnya tidak pernah suka menunda pekerjaan.


Hingga ia sudah mendapatkannya meskipun harganya jauh lebih mahal dari tiket yang biasanya. "Penerbangan pukul 5 sore, Presdir. Masih ada waktu untuk bersiap. Apakah Anda ingin saya menyiapkan sesuatu?"


Refleks Austin saat ini tersenyum puas karena dalam hitungan jam akan bertemu dengan orang tua Diandra yang akan menjadi calon mertuanya.


"Tidak perlu! Aku tidak akan membawa apapun selain tubuhku serta uang yang bisa digunakan untuk membeli apapun." Kemudian Austin mengibaskan tangan sebagai tanda pengusiran agar asistennya tersebut melanjutkan pekerjaan.


"Aku makan dan bekerja seperti biasanya. Nanti, pukul setengah 4, aku akan langsung berangkat ke bandara dan pulang besok malam. Jadi, sekalian pesankan tiket untuk pulang. Aku sampai lupa."


Austin kemudian beranjak dari tempatnya dan kembali ke kursi kebesarannya untuk menikmati makanan di sana.


Ia tidak ingin makan dengan duduk di sofa karena membuatnya mengingat semua hal yang berhubungan dengan Diandra.


Apalagi semenjak kepergian wanita itu dari hidupnya, ia seolah kehilangan semangat. Hingga ia pun berpikir jika ada sesuatu hal yang telah dicuri oleh Diandra, yaitu hatinya.


Bahwa hatinya yang selama ini beku dan dingin, berhasil dilelehkan oleh Diandra dan ia ingin wanita itu bertanggung jawab padanya dengan menjadi istrinya karena hanya menginginkannya, bukan wanita lain.


Sementara itu di sisi lain, Daffa yang tadi memang ingin bertanya mengenai tiket pulang apakah sekalian dipesan atau tidak. Jadi, ia merasa lega setelah mendapatkan jawaban dari pria itu.


"Baiklah, Presdir. Saya akan mengaturnya. Kalau begitu, Saya permisi kembali ke ruangan dan silakan menikmati makanannya." Daffa pun saat ini berbalik badan setelah melihat bosnya tersebut mengibaskan tangan sebagai tanda pengusiran.


Seolah ia saat ini mirip dengan pepatah 'habis manis sepah dibuang' karena sudah tidak dibutuhkan, jadi diusir dari ruangan.


"Tuan Austin bahkan sangat menyebalkan, tapi aku bisa bertahan bekerja di sini selama lebih dari 3 tahun dan membuatku banyak uang," ucap Daffa yang saat ini sudah kembali ke dalam ruangan kerja.


Berbeda dengan yang saat ini terlihat di ruangan kerja Austin. Ia sebenarnya sangat tidak berselera makan karena pikirannya dipenuhi oleh wajah Diandra. Apalagi setelah melihat wanita itu yang membuatnya merasa selalu bangkit gairahnya.


Keintiman yang melibatkan dirinya dan Diandra membuatnya tidak bisa berhenti membayangkan akan bisa melakukan itu lagi. Ia bahkan hanya menginginkan Diandra, bukan wanita lain yang pastinya belum jelas original atau sudah bekas.


"Diandra tidak akan melakukannya dengan Yoshi, bukan?" Austin yang tadinya membuka makanan dan ingin menikmatinya, seketika merasa kesal karena khawatir jika Diandra berhasil dirayu oleh Yoshi.


Ia sangat yakin jika Diandra tidak mungkin akan menggoda Yoshi karena beberapa hari saja mengenal wanita itu, sudah mengetahui seperti apa sifatnya. Bahwa Diandra bukanlah seorang wanita yang suka merayu pria lain.


Namun, justru pria lah yang selalu merasa penasaran pada Diandra dan lama-kelamaan ingin memilikinya begitu mengetahui seperti apa sosoknya.


"Aku harus bertindak secepatnya untuk membuat orang tua Diandra menyukaiku dan merestui niat baikku untuk menikahinya. Itu jauh lebih baik daripada hanya menggunakan cara cerdik untuk menghancurkan Yoshi."


Karena tidak ingin kelaparan karena akan melakukan perjalanan ke Jawa, Austin saat ini menikmati makanannya dengan suasana penuh keheningan di dalam ruangan kerja.


Sebenarnya ia mempunyai rencana untuk membuat orang tua Yoshi membenci Diandra dan tidak akan pernah memberikan restu. "Aku akan menunjukkan bukti transfer membeli keperawanan Diandra pada orang tua Yoshi."


"Aku ingin melihat seperti apa reaksi orang tua Yoshi." Austin tertawa lebar ketika membayangkan jika wanita incarannya sama sekali tidak diterima di keluarga Yoshi yang seolah sangat terobsesi memiliki Diandra setelah mengetahui bahwa wanita itu sudah tidak suci lagi karena ia-lah yang mendapatkannya.


Awalnya ia berpikir bahwa pria itu tidak akan lagi mau dekat-dekat dengan Diandra, tapi semuanya berbeda begitu mengetahui bahwa Yoshi sama sekali tidak memperdulikan perbuatannya.


"Bagaimana wajahmu begitu mendapatkan penolakan dari orang tua Yoshi? Aku sudah tidak sabar melihatnya sendiri dengan mata kepalaku," ujar Austin yang saat ini merasa bahwa dirinya sangat cerdas karena memiliki ide cemerlang untuk menghancurkan Yoshi dan mendapatkan diantara kembali ke pelukannya.

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2