
Sosok pria paruh baya yang tak lain adalah Malik Matteo baru saja tiba di perusahaan dan berkeliling untuk mengecek pekerjaan para staf. Sebenarnya tujuan utama adalah ingin mengetahui komentar-komentar miring yang mungkin keluar dari bibir beberapa staf perusahaan.
Jadi, sengaja datang tanpa pemberitahuan terlebih dahulu, sengaja datang tiba-tiba. Bahkan putranya pun tidak tahu jika ia pagi ini sengaja mampir sebelum pergi menemui salah satu rekan bisnis yang akan bekerja sama dengan perusahaannya.
Langkah kaki panjang itu menyusuri koridor di lantai dua diikuti oleh sang asisten pribadinya. Ia melirik sekilas ke arah pria yang sudah bekerja selama lebih dari sepuluh tahun tersebut.
"Kau tidak memberitahu putraku, kan?"
"Tidak, Tuan. Anda tidak perlu khawatir karena semua orang tidak tahu dengan kedatangan Anda yang tiba-tiba. Mereka pasti berpikir jika Anda akan datang satu minggu lagi seperti biasanya," sahut sang asisten yang kini menghentikanku langkah kaki begitu bosnya berhenti.
Bahkan seolah seperti seorang penjahat yang menguping karena berdiri di dekat dinding pembatas yang ada di sebelah ruangan para staf di lantai dua tersebut. Di mana di sana ada beberapa saat pemasaran dan bagian humas.
Ia yang berdiri beberapa detik di balik dinding, berharap mendengar suara-suara yang membahas mengenai calon menantunya.
Tentu saja karena status dari Diandra yang dulu menikah dengan Yoshi dan sekarang seperti hantu karena tiba-tiba muncul lagi di perusahaan dengan putranya, pasti menimbulkan beragam pertanyaan dari semua orang yang bekerja di sana.
'Dulu Diandra tiba-tiba menghilang tanpa kabar dan sempat membuat beberapa staf perusahaan bertanya-tanya sekaligus penasaran. Hingga muncul berita pernikahan yang menggemparkan saat menikah dengan pewaris utama keluarga Narendra'
'Namun, sekarang tiba-tiba kembali sebagai sekretaris pribadi putraku sekaligus calon istri. Seperti apa para staf di perusahaan ini bergosip,' gumam Malik Matteo yang kini masih berdiri di tempatnya.
Namun, karena sama sekali tidak mendengar apapun meskipun sudah berdiri seperti orang tidak berguna di sana, sehingga memutuskan untuk kembali melangkahkan kaki panjangnya dan menampakkan diri di hadapan para staf.
Tentu saja para staf yang duduk di depan komputer, baik laki-laki maupun perempuan, seketika hendak berdiri untuk memberi hormat.
"Duduk saja dan lakukan pekerjaan kalian seperti biasa. Jangan perdulikan aku karena hanya ingin melihat seperti apa kalian saat bekerja ketika ada berita mengejutkan dari CEO perusahaan ini." Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling untuk melihat ekspresi wajah dari semua orang.
Semua staf hanya menunduk tanpa mengeluarkan sepatah kata pun karena sangat takut pada pria yang menjadi orang nomor satu tersebut. Berpikir jika salah satu kalimat saja, akan membuat mereka berakhir kehilangan pekerjaan.
Tentu saja bukan itu yang mereka inginkan, sehingga memilih untuk diam sebagai cara paling aman. Meskipun ada banyak hal yang menari-nari di pikiran saat ini mengenai seorang wanita yang tiba-tiba muncul kembali dengan kondisi sangat mengenaskan di kursi roda.
Malik Matteo masih memicingkan mata dan karena tidak mendengar suara apapun, kini memilih untuk kembali menegaskan mengenai status putranya dan Diandra.
__ADS_1
"Aku tahu jika putraku telah membungkam kalian semua dengan sebuah ancaman mengenai calon istrinya yang hari ini dibawa ke perusahaan sebagai sekretaris pribadi. Meskipun kalian semua berpikir jika posisi itu mengandalkan koneksi, tapi aku harap tidak ada yang berkomentar apapun."
"Karena jika sampai calon menantuku mendengar, kupastikan orang yang menjadi penyebabnya akan menyesal seumur hidup. Jadi, jangan sampai kebodohan karena rasa ingin tahu menghancurkan karir kalian gara-gara tidak bisa menjaga mulut!"
"Baik, Tuan. Kami mengerti," ucap semua staf perusahaan yang ada di lantai dua tersebut secara bersamaan.
Hingga beberapa saat kemudian, ia melirik sekilas ke jam tangan mahal miliknya. Merasa jika waktu sudah berlalu dan harus berbicara dengan putranya sebelum menemui klien, sehingga kini berbalik badan dan berjalan menuju ke arah lift.
Sementara sang asisten berjalan mengekor di belakang setelah memberikan kode pada semua orang agar kembali bekerja. Apalagi perintahnya akan dipatuhi karena disegani saat menjadi tangan kanan.
Begitu berada dalam ruangan kotak besi tersebut, menatap ke arah pria berusia setengah abad lebih tersebut.
"Tidak akan ada yang berani membuka mulut untuk membicarakan mengenai nona Diandra. Jadi, Anda tidak perlu khawatir karena tuan Austin berusaha keras untuk menghancurkan semua hal yang berhubungan dengan pernikahan."
Embusan napas panjang terdengar sangat jelas dari sosok pria paruh baya tersebut. Seolah sangat mewakili perasaan saat ini. Kini, mengarahkan tatapan mengintimidasi.
"Meskipun begitu, tetap saja aku harus berhati-hati. Putraku sudah cukup lama hidup menderita karena ditinggalkan oleh wanita yang bahkan hamil dan membesarkan putranya sendiri. Aku sebenarnya ingin mengajukan banyak pertanyaan pada Diandra, tapi tidak tega melihat keadaan calon menantuku saat ini."
Ia memberikan kode mata pada sang asisten dan berjalan menuju ke ruangan kerja putra dan calon menantunya. Begitu mengetuk pintu dan langsung membuka, seketika membulatkan mata begitu melihat pemandangan di hadapan.
"Apa kamu mau dipecat, Austin?" teriaknya yang sangat marah melihat kegilaan putranya.
Bahkan sempat merasa heran karena mengetahui jika Diandra yang mengalami amnesia disosiatif, kini telah berubah dan terlihat sangat berbeda.
"Bisa-bisanya kalian bermesraan di ruangan ini, sedangkan sekarang masih jam kerja." Memijat pelipisnya hari ini karena sangat pusing melihat kelakuan putranya.
Austin yang kini berbalik badan menghadap sang ayah, sebelumnya menatap wajah wanita yang dianggap adalah miliknya tersebut.
'Diandra pastinya sangat malu karena ayah yang tiba-tiba datang dan melihat kami berciuman. Jangan sampai perbuatanku ini membuat nama baik perusahaan tercemar,' gumam Austin yang kini berjalan mendekati sang ayah dan berpura-pura sangat terkejut.
"Papa? Kenapa tidak memberitahu jika hari ini akan datang? Maaf karena harus melihat kami berciuman sebelum bekerja." Kemudian ia membungkuk hormat dan berharap sang ayah tidak mempermasalahkan apa yang baru saja dilakukan.
__ADS_1
Hal berbeda kini dirasakan oleh Diandra yang seperti tidak punya muka di hadapan calon ayah mertua. Jika pertama kali dulu merasa sangat pusing begitu melihat pria paruh baya tersebut, tapi setelah beberapa kali bertemu, tidak lagi merasakan apapun.
Jadi, berpikir jika itu hanyalah karena pengaruh kecelakaan yang membuatnya sering merasa pusing.
'Apa yang dipikirkan ayah Austin saat ini? Pasti menganggapku adalah wanita tidak berguna di perusahaan karena hanya mengganggu konsentrasi putranya ketika bekerja di perusahaan,' gumam Diandra yang merasa sangat tidak nyaman karena saat ini masih duduk di atas meja kerja.
Bahkan merasa jika menjadi seorang wanita cacat, sama saja dengan orang tidak berguna. Namun, itu hanya berlaku bagi dirinya. Sementara saat masih bisa berjalan dulu, ia yang melihat orang cacat, sangat kagum dan salut atas kekuatan mereka.
Meskipun itu sangat berbeda ketika merasakan sendiri perubahannya yang tidak bisa menggerakkan kakinya sama sekali setelah kecelakaan. Dengan mengumpulkan semua nyali dan menyingkirkan rasa malu, kini menatap calon ayah mertua.
"Maafkan aku karena telah membawa pengaruh buruk pada pimpinan perusahaan. Aku janji jika ini tidak akan pernah terulang lagi untuk kesekian kalinya. Aku akan fokus bekerja dan membantu presdir."
Diandra membungkuk hormat sebagai permohonan maaf dan berharap calon ayah mertuanya tidak lagi marah pada Austin karena tadi ia yang memancing pria itu. Padahal Austin sudah melepaskan, tapi malah mengulang ciuman seperti seorang wanita yang haus akan belaian.
'Aku bahkan sekarang seperti seorang wanita yang nakal dan seperti sengaja menggodanya,' gumam Diandra di dalam hati sambil masih terus menatap ekspresi datar dari pria yang terlihat sangat berwibawa dan tegas pada siapapun tersebut.
Malik Matteo yang kini memijat pelipis karena pusing, melihat putranya yang tiba-tiba mencoba untuk meringankan beban pikirannya.
"Tentu saja ini tidak akan pernah terulang karena aku memutuskan untuk segera menikahkan kalian!" Akhirnya ia mengungkapkan pikiran yang terlintas begitu pertama kali melihat perbuatan putranya.
Ia sangat yakin jika putranya akan selalu diluar kendali jika terus berdekatan dengan wanita yang dipuja selama tiga tahun terakhir. Kemudian mengeluarkan ponsel miliknya dari saku jas untuk menghubungi seseorang.
Sementara itu, Austin dan Diandra saling bersitatap karena merasa sangat terkejut dengan keputusan tiba-tiba dari sang ayah.
"Apa yang harus kita lakukan sekarang? Bujuk papa untuk tidak mengambil keputusan saat sedang emosi." Diandra tahu jika tujuan akhirnya bersama Austin adalah sebuah pernikahan, tapi sama sekali tidak menyangka jika akan secepat itu.
Berharap dengan berbicara pada Austin, akan membujuk sang ayah, tapi melihat senyuman mengembang dari bibir pria yang seperti sangat senang, menjelaskan jika permintaannya tidak akan dipatuhi.
Hingga Diandra kembali terkejut begitu mengetahui siapa yang di telpon oleh calon ayah mertua, sehingga kini kembali bersitatap dengan sang kekasih sekaligus bosnya di perusahaan.
To be continued...
__ADS_1