Konspirasi Cinta

Konspirasi Cinta
Menyebalkan tapi cinta


__ADS_3

Adi Putra saat ini langsung mendaratkan tubuhnya di atas sofa yang berada di ruangan kerja tersebut tanpa menunggu dipersilakan karena ia merupakan tamu tak diundang dan tidak disukai oleh pemilik tempat itu.


"Duduklah, Austin! Aku merasa sungkan saat melihat tuan rumah malah berdiri seperti itu," ucapnya dengan tersenyum simpul.


Melihat sikap sangat santai dari paman Yoshi, Austin akhirnya menuruti perkataan pria itu. "Aku tidak punya banyak waktu, jadi katakan pada intinya mengenai tujuanmu datang ke sini dan jangan bertele-tele."


"To the poin, ya? Baiklah, aku tidak akan membuang waktu karena bukan hanya kamu saja yang sibuk di dunia ini. Sebelumnya, aku ingin bertanya apakah kamu mengetahui bagaimana kabar Yoshi sekarang?" tanya Adi yang tidak mengalihkan perhatiannya pada pria dengan raut wajah datar tersebut.


Ia selama ini memang membiarkan Austin Matteo hidup tenang dan bahagia bersama anak istri. Itu bukan karena ia tidak peduli pada nasib keponakannya dan membiarkan sang kakak tersiksa karena tidak menuruti perintahnya untuk menghabisi wanita bernama Diandra yang merupakan istri dari pria di hadapannya tersebut.


Namun, ia tengah berencana untuk merencanakan sesuatu yang jauh lebih besar, tapi bukan langsung menghabisi nyawa mantan istri keponakannya. Namun, ingin mengatakan hal yang sebenarnya pada wanita itu mengenai sosok pria yang dianggap sangat munafik karena telah menipu Diandra demi bisa mendapatkannya.


Ia ingin membuat Diandra membenci Austin dengan mengatakan jika pria itu melakukan konspirasi besar hanya untuk mendapatkan cinta wanita itu. Baginya, itu jauh lebih besar imbasnya dan akan menghancurkan dua orang dalam sekali bergerak.


'Kakak, aku akan membalaskan dendam dengan cara yang lebih elegan tanpa melibatkan hukum yang akan menyeret kita,' gumam Adi yang kini mendengar suara bariton dari pria di hadapannya tersebut.


"Setelah aku datang ke London, tidak tahu menahu mengenai keadaan keponakanmu itu. Apa tujuanmu datang ke sini untuk mengabarkan bagaimana keadaannya? Sepertinya bukan itu yang ini kau katakan." Austin memang fokus pada rumah tangganya setelah mengatakan hal yang sebenarnya pada Yoshi.


Ia tidak ingin dibebani rasa bersalah jika mendengar kabar tentang Yoshi. Berusaha memenuhi pikirannya dengan hal-hal positif dan mengatakan bahwa dilakukannya adalah hal yang wajar karena mengungkapkan fakta.


Bahwa yang bersalah sebenarnya adalah ibu dari pria itu yang berbuat jahat karena mengurus perceraian setelah mengalami kecelakaan. Jadi, saat ini merasa heran melihat paman dari Yoshi datang secara tiba-tiba di perusahaannya dan berpikir ada rencana jahat di balik itu semua.


"Yoshi dan sudah 1 tahun ini masih sama. Apa kau pernah berpikir bagaimana perasaan seorang ibu yang setiap hari harus melihat keadaan putranya yang tidak berdaya?" Ia saat ini langsung menatap ke arah ruangan di sebelah kanan begitu mendengar ada suara benda terjatuh.


"Siapa itu?"


Austin yang kini berpikir jika sang istri terlalu lama menunggu di ruangan itu, tidak ingin pria di hadapannya mengetahui jika ada Diandra. Hingga ia pun saat ini mengarang sebuah kebohongan.


"Aku memelihara kucing dan terkadang membawanya ke kantor. Pasti kucingku tengah main sesuatu di dalam," ucapnya yang kini kembali menoleh pada pria di hadapannya.


Sementara itu, Diandra yang berada di dalam, tidak sengaja menjatuhkan ponselnya karena tadi berniat untuk mengambil dari saku baju begitu mendengar ada notifikasi masuk.


Ia merasa gugup dan khawatir ketahuan berada di dalam karena dari tadi mendengarkan pembicaraan suami dan tamunya. Kini, ia menepuk jidat dan akhirnya memilih berjalan ke arah ranjang.


'Dasar bodoh! Bagaimana jika tamu suamiku berpikir macam-macam. Lalu kenapa suamiku bilang jika aku adalah kucing? Apa dia tidak mau mengakuiku sebagai istrinya?' gumam Diandra yang kini menatap ke arah notifikasi yang dibukanya.


Ia membaca ada pesan dari mertuanya yang mengatakan jika hari ini mengajak cucu menginap dan membuatnya tersenyum. 'Pasti suamiku sangat senang dan tidak membuang kesempatan untuk menghajarku agar bisa hamil lagi.'


Ia pun mulai fokus mengetik balasan pesan untuk mertuanya dan tidak ingin mendengar pembicaraan sang suami. Kemudian memilih untuk merebahkan tubuhnya yang terasa lelah. Hingga beberapa saat kemudian terlelap dan suara napas teratur mulai terdengar memenuhi ruangan kamar.


Berbeda di luar ruangan, kini Austin yang menanggapi perkataan dari paman Yoshi, mulai menjelaskan jika apa yang dulu dilakukan adalah sebuah hal wajar.

__ADS_1


"Mungkin jika ibu Yoshi tidak ikut campur dalam urusan rumah tangga putranya, hal seperti itu tidak akan terjadi. Aku hanya mengatakan hal sebenarnya pada Yoshi, memangnya aku salah? Bukankah akan lebih parah jika dia masih berpikir menjadi seorang suami?" sarkas Austin yang saat ini tengah berpikir jika pria di hadapannya hanyalah seorang pengganggu saja.


'Aku jadi banyak membuang waktuku hanya gara-gara pria ini. Memangnya apa rencananya sebenarnya? Kenapa bertele-tele?' gumam Austin yang saat ini bergerak melihat pria itu bangkit dari posisi dan membuatnya mengerutkan kening.


"Baiklah kalau begitu. Aku hanya ingin mendengar pendapatmu saja. Sepertinya pemikiranmu sangat masuk akal, tapi faktanya adalah di London sana, ada seorang ibu yang sangat membencimu. Mungkin setiap hari berdoa untuk kehancuranmu." Tersenyum menyeringai kala membuat pria itu khawatir.


"Kamu tahu kan jika doa orang yang teraniaya itu sangat mustajab? Jadi, mungkin akan ada karma yang akan kamu dapatkan karena hukum tabur tuai berlaku di dunia ini." Saat ia melangkahkan kaki panjangnya menuju ke arah pintu keluar, seketika berhenti dan menoleh ke belakang.


"Hukum tabur tuai itu tengah dirasakan oleh kakakmu, sedangkan Yoshi mengalami kemalangan itu karena memang sudah menjadi takdirnya. Sementara aku dan Diandra pun sudah mengalami semua yang kau bilang itu." Austin pun bangkit dari posisinya dan mulai berjalan mendekat.


Bahkan saat ini berbicara di dekat daun telinga pria yang berusia lebih tua darinya tersebut. "Aku sama sekali tidak takut dengan apa yang kau katakan tadi karena sudah merasakan bagaimana hukum tabur tuai."


"Jadi, jangan berpikir bahwa aku hanyalah seorang pria lemah yang akan memohon padamu dan juga ibu dari Yoshi." Kemudian bergerak mundur untuk melihat ekspresi wajah paman dari mantan suami istrinya.


Adi Putra saat ini hanya tersenyum menyeringai melihat rasa percaya diri seorang Austin Matteo. Jadi, saat ini menunjukkan sikap yang tenang dan berniat untuk menunjukkan balasan atas perbuatan pria itu pada keluarganya.


Ia saat ini menepuk pundak kokoh Austin. "Kau memang sangat percaya diri, anak muda. Baiklah. Aku sebenarnya tadi mampir ke sini karena ada meeting di restoran sebelah perusahaanmu. Jadi, bukan sengaja bertujuan untuk datang ke sini mengancammu, tapi hanya ingin melihat kebahagiaan seorang Austin Matteo."


Tanpa pikir panjang karena merasa waktu untuk bertemu dengan klien semakin dekat, ia pun berlalu pergi meninggalkan ruangan kerja tersebut. Ia yang sudah berada di luar ruangan, seketika mengepalkan kedua tangan dan wajahnya berubah memerah saat menuju ke arah lift yang akan membawanya ke lobi perusahaan.


'Kita lihat saja nanti. Apakah kau masih bisa terlihat sombong saat Diandra membencimu setelah mengetahui semuanya,' gumamnya saat memasuki pintu kotak besi tersebut dan memencet tombol.


Sementara di dalam ruangan kerja Austin Matteo, kini ingin melihat dan memastikan apakah sang istri mendengar semua pembicaraan dengan paman Yoshi. 'Aku harus kembali mengarang cerita untuk membohongi istriku.'


Austin yang sudah melangkah masuk, terdiam dan geleng-geleng kepala karena melihat sang istri malah tertidur pulas di atas ranjang dan tidak jadi bercinta untuk menabur benih.


"Jadi dari tadi istriku tertidur?" Ia sedikit merasa lega karena wanita yang terlihat masih memegang ponsel di tangan itu tidak mendengar pembicaraan dengan paman Yoshi.


Kini ia melangkahkan kaki panjangnya menuju ke arah ranjang berukuran sedang tersebut dan mendaratkan tubuhnya di sebelah kiri sang istri. Ia mengambil ponsel dari tangan dengan jemari lentik itu dan membuatnya membaca pesan karena berpikir jika sang istri baru saja menghubungi seseorang.


Begitu membaca pesan dari sang ibu, ia seketika tersenyum dan merasa senang karena otaknya tengah dipenuhi berbagai macam hal yang akan dilakukan malam nanti karena putranya tidak ada di rumah dan pastinya tidak akan mengganggu ritual rutinnya.


"Yes! Mama sangat pengertian sekali karena hari ini membawa putraku menginap di sana. Aku bisa melakukan apapun sepuasnya pada istriku yang sangat cantik ini," lirih Austin yang saat ini beralih menatap ke arah wanita dengan mata terpejam itu.


Ia merapikan anak rambut Diandra yang menutupi pandangannya dan mengingat tatapan menyeringai dari paman Yoshi beberapa saat lalu. 'Aku sangat yakin jika dia memiliki rencana untuk menghancurkanku. Jika sampai mengincar istri dan anakku, aku akan menghabisinya dengan tanganku sendiri.'


Austin beralih mengusap lembut pipi putih sang istri dan setiap menatap wanita dengan paras cantik itu, selalu merasa hatinya sangat damai dan cintanya semakin bertambah besar.


"I love you, Sayang. Aku berharap kita akan selamanya bersama sampai tua nanti. Bahkan sampai mempunyai cucu-cucu yang lucu dari anak-anak kita." Saat ia baru saja menutup mulut, melihat pergerakan dari sang istri, tapi tidak sampai terbangun.


Ia kini tidak ingin mengganggu istirahat sang istri yang terlihat sangat lelah dan memilih untuk bangkit berdiri karena hendak melanjutkan pekerjaannya yang menumpuk agar bisa pulang lebih awal dan berbulan madu untuk kesekian kali.

__ADS_1


Bahkan ia berjalan dengan perlahan agar tidak menimbulkan suara yang mengganggu ketika membuka pintu dan menutupnya kembali. Kemudian mulai fokus memeriksa panjangnya dokumen yang mendukung di atas meja dan menandatangani.


Dua jam telah berlalu dan saat Austin yang kebetulan baru saja menyelesaikan pekerjaan, melihat wanita dengan wajah khas bangun tidur yang terlihat sangat kusut berjalan mendekat dan membuatnya terkekeh geli.


"Sayang, kamu tidak membangunkanku, ya? Ini bahkan sudah jam 3. Aku tidur sangat lama tadi. Bisa-bisanya datang ke kantor hanya untuk numpang tidur." Diandra yang berjalan mendekati sang suami, kini langsung mendaratkan tubuhnya di atas pangkuan pria yang sangat dicintainya tersebut.


Ia memasang wajah kesal karena tidak dibangunkan. "Kenapa membiarkanku tidur cukup lama? Aku tadi tertidur saat menunggu kamu selesai berbicara dengan rekan bisnismu."


Austin yang saat ini menopang beban tubuh wanita yang duduk di atas pahanya sambil memeluk erat pinggang ramping itu, kini kembali tertawa dan merapikan rambut kusut sang istri.


"Aku melihatmu sangat puas dan tidak tega membangunkanmu, Sayang. Jadi, tadi membiarkanmu beristirahat karena mengurungkan niat untuk menghajarmu di kantor. Aku berubah pikiran setelah membaca pesan dari mama. Jadi, membiarkanmu beristirahat karena nanti malam tidak akan mengizinkanmu tidur." Mengedipkan mata untuk menggoda wanita yang kembali mencubit pahanya.


"Punya suami mesum itu seperti ini ya rasanya. Harus kuat mental dan tenaga jika dihajar habis-habisan," seru Diandra yang kini mengingat sesuatu hal tentang pria yang tadi berbicara dengan sang suami.


"Oh iya, Sayang. Aku sering mendengar rekan bisnismu yang bernama Yoshi. Memangnya dia siapa? Aku bahkan tidak asing dengan namanya yang sering kamu sebut," tanya Diandra yang kini berniat untuk bangkit berdiri karena tidak ingin membuat sang suami kelelahan menopang beban tubuhnya.


Namun, tidak bisa melakukannya karena ditahan oleh sang suami dan akhirnya tetap duduk di atas pangkuan pria itu.


"Dia merupakan penerus tunggal dari perusahaan konsultan terbesar di Jakarta. Jadi, dulu sering bertemu dengannya. Namun, sekarang dia pindah ke London karena menjalani pengobatan karena mengalami kecelakaan." Austin saat ini ingin melihat reaksi dari wanita yang duduk di pangkuannya tersebut.


Hingga ia merasa lega karena Diandra tidak mengingat masa lalu meskipun ia sudah menyebutkan nama Yoshi.


"Oh ... jadi dia sekarang ada di London? Apa dia juga cacat sepertiku karena mengalami kecelakaan? Aaah ... lupakan! Buat apa membahas hal tidak penting," ucap Diandra yang saat ini merasa sangat haus, tapi ingin sekali menikmati minuman segar.


"Sayang, nanti pulang, belikan aku es kacang merah, ya! Aku sangat haus dan ingin menikmati sesuatu yang segar. Aku tadi melihat di sosial media dan sepertinya sangat enak karena saat ini tengah viral. Aku bahkan sudah menyimpan alamatnya tadi agar bisa langsung ke sana pulang dari kantor."


Kemudian langsung mengirimkan alamat yang tadi disimpannya ke nomor sang suami. "Lihat ini. Enak, kan kelihatannya?"


"Iya, enak. Apapun akan kubelikan untukmu, Sayang. Ayo, kita berangkat sekarang karena pekerjaanku sudah selesai." Ia kini tidak mengalami sang istri yang bangkit dari pangkuannya.


"Cepat sekali? Apa boleh atasan pulang duluan daripada pegawainya?" Ia berpura-pura bertanya hanya untuk berbasa-basi.


"Pertanyaan tidak perlu dijawab," sahut Austin yang saat ini mengarahkan cubitan pada pipi putih sang istri dan berkemas sebelum meninggalkan ruangan kerjanya.


Berbeda dengan Diandra yang saat ini hanya mengurutkan bibirnya karena merasa kesal dengan jawaban menohok sang suami. "Isssh ... menyebalkan!"


"Menyebalkan, tapi kamu cinta, kan?" Austin berbicara sambil mengedipkan mata begitu selesai merapikan pekerjaannya.


Diandra tidak mau menjawab karena berpikir jika sang suami akan besar kepala. Ia hanya bisa mengungkapkan di dalam hati karena malu mengakuinya.


'Sialnya, itu memang benar karena aku sangat mencintai suamiku.'

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2