
Saat ini, Diandra terlihat sangat kesal begitu memasuki kamar kosnya. Ia saat ini mendaratkan tubuhnya pada kasur lantai tipis yang selama ini menjadi tempat nyaman untuk menghilangkan penat ketika beristirahat.
Ia masih mengingat jelas apa yang tadi dikatakan oleh pria di dalam mobil saat berbicara dengan sangat santai tanpa memperdulikan keinginannya.
Hukumanmu besok adalah menjadi pegawai khusus yang melayaniku dengan membuatkan aku minuman serta mengantarkan makanan untuk makan siang. Jadi, pasti akan ada berapa staf yang berpikir bahwa kamu adalah pegawai spesial karena khusus melayaniku.
"Astaga! Memangnya aku OB? Apa pikiran para staf lain saat melihat aku keluar masuk ke lantai paling atas perusahaan yang menjadi ruangan kerja si berengsek itu. Aku pasti akan mendapatkan banyak cemooh dari staf yang lain saat mengetahuinya."
Karena merasa sangat kesal ketika mengingat semua itu, Diandra saat ini hanya bisa meluapkan amarah dengan memakai bantal untuk menutupi wajahnya sambil sibuk menggerakkan kaki ke bawah dan mengempas kasur lantai itu.
"Dasar pria playboy sialan! Mana mungkin aku bisa bekerja dengan tenang jika besar kemungkinan akan mendapatkan hujatan serta bully dari pegawai senior? Apalagi aku hanyalah junior yang dimanfaatkan untuk memuaskan permainan yang telah dibuat oleh seorang Austin playboy itu.
Saat Diandra hendak kembali meluapkan kekesalan dengan mengempeskan tangan ke atas kasur lantai, mengurungkan niat begitu mendengar suara notifikasi dari ponselnya.
Ia meraih benda pipih di dalam tas selempang yang tadi ditaruh di samping kasur. Begitu membaca pesan yang tak lain dari sang ibu saat mengucapkan terima kasih penuh rasa syukur, kini ia menghembuskan napas kasar.
"Seandainya ibu tahu bahwa putrimu di sini menjual harga dirinya demi mendapatkan pinjaman itu, mungkin tidak akan berani mengatakan masalah biaya padaku."
Diandra saat ini menepuk jidat karena merasa sangat kesal pada diri sendiri karena tidak bisa bersyukur telah keluar dari masalah yang dihadapi.
"Dasar bodoh! Seharusnya aku banyak bersyukur karena sekarang tidak merasa pusing lagi untuk mencari pinjaman sebanyak itu. Apalagi tidak perlu sampai menjual keperawananku hanya demi bisa membayar biaya rumah sakit ayah."
Diandra saat ini menatap langit-langit kamar dengan lampu yang tidak terlalu terang tersebut. Kemudian kembali berkeluh kesah saat memikirkan nasib hidupnya.
"Seandainya aku dilahirkan dari keluarga berada, mungkin akan menjadi wanita menyebalkan versi Austin Matteo. Namun, meskipun begitu, ia sama sekali tidak memanfaatkan aku dengan meminta sebuah imbalan tubuhku. Aku harus bersyukur dan merasa lega, bukan?"
Diandra masih memikirkan keinginan atasannya yang dianggap sangat kekanak-kanakan karena menyuruhnya menjadi pelayan di kantor. "Dia memang sangat berkuasa dan berhak memperlakukan siapapun seperti pelayan."
"Jalani saja semuanya tanpa berkeluh kesah dan nikmati prosesnya. Setelah ia bosan, pasti akan berhenti sendiri dan tidak akan menyusahkan aku lagi. Mana mungkin ia menyuruhku menjadi pelanginya seumur hidup, bukan?"
Kini, Diandra mencoba untuk memenuhi pikirannya dengan energi positif. Bahkan saat ini ia berpikir untuk keluar dari perusahaan setelah mendapatkan simpanan yang cukup dan melamar di perusahaan lain yang lebih mengutamakan pengalaman.
"Semangat! Mulai besok, aku harus bekerja dengan baik serta menjadi pelayan pria itu entah sampai kapan karena tadi ia tidak mengatakannya."
__ADS_1
Diandra ini memilih untuk ganti pakaian piyama dan membersihkan diri di dalam kamar mandi sebelum tidur. Beberapa saat kemudian, ia yang sudah selesai melakukan ritual malam, perlahan membaringkan tubuhnya di tempat ternyamannya.
Namun, Baru beberapa menit memejamkan mata dan hampir saja terlelap, mendengar suara dering ponsel miliknya yang berbunyi.
Diandra benar-benar sangat terkejut karena terbiasa menaruh benda pipih tersebut di sebelah tempat tidur agar lebih mudah untuk memeriksa waktu ketika bangun.
"Astaga! Siapa yang menelpon malam-malam begini!" ujar Diandra tanpa berniat untuk membuka mata dan meraba di sekitar kasur untuk mengambil ponselnya.
Hingga ia yang sudah berhasil menemukan benda pipi tersebut, langsung mengangkat panggilan dan perlahan membuka mata.
Samar-samar melihat nama yang menghubungi, kini semakin bertambah besar begitu mendengar suara parutan dari pria yang baru saja diumpatnya beberapa kali.
"Apa kamu sudah tidur, Diandra?"
"Tuan Austin? Astaga, apa Anda menelpon saat larut begini hanya untuk menanyakan itu? Aku baru saja tidur dan hampir terlelap dalam alam mimpi, tapi tidak jadi begitu mendengar ponsel berbunyi."
Wajah masam yang ditunjukkan oleh Diandra saat ini mewakili perasaannya yang sangat kacau dan benar-benar berpikir seperti mendapatkan sebuah kemalangan saat berbicara dengan periode balik telpon tersebut.
"Maafkan aku karena menganggumu mengganggumu, tapi ada yang tak lupa untukku katakan padamu. Setiap pagi, belikan aku sarapan di tempat yang ditunjukkan. Aku sudah transfer uang untuk melakukan pekerjaan menyiapkan menu makanan untukku setiap hari."
'Padahal aku tadi berpikir hanya menyiapkan makan siang dan membuatkan kopi serta minuman lain untuknya. Ternyata ada tambahan lainnya dan membuang-buang buang-buang waktuku saat pagi hari.
Saat puas mengumpat di dalam hati, kini Diandra kembali mendapatkan sebuah titah dan membuatnya menelan saliva dengan sambil mengepalkan tangan dan wajah memerah mewakili apa yang dirasakan saat ini.
"Apa kamu sudah tidur, Diandra? Atau mau lari dari tanggung jawab? Bukankah dukunganku sangat gampang? Nasib baik aku tidak menyuruhmu untuk melayaniku di atas ranjang." Austin berbicara sambil terkekeh geli di balik telpon.
Ia yang baru saja sampai di rumah, seolah merasa sangat bersemangat untuk menghiasi malam panjang hari ini dengan memberikan sebuah pelajaran pada Diandra.
Sementara itu, Diandra yang masih mencoba untuk menahan kemurkaan, saat ini berpikir bahwa apa yang baru saja diungkapkan oleh pria di seberang telepon tersebut benar-benar menguji kesabarannya.
"Besok, jangan sampai berbicara vulgar seperti itu di depan pegawai yang lain. Baiklah, saya akan bertanggung jawab atas kesalahan dengan melakukan perintah Anda tanpa mengeluh."
"Bagus. Kalau begitu, sampai jumpa besok di Perusahaan!" sahut Austin yang langsung mematikan sambungan telpon tanpa menunggu jawaban dari Diandra.
__ADS_1
Berbeda dengan Diandra yang saat ini hanya merasa lemas, kini mulai kembali menaruh ponsel di dekat kasur lantai.
"Sabar ... sabar!" Sambil mengusap dadanya dan kembali mengempaskan tubuhnya di kasur.
"Aaarh ... bodo amatlah!" sarkas Diandra yang kini memilih untuk tidak lagi mengeluh dan memanjakan tubuhnya dengan beristirahat.
"Tidur dan nikmati waktu istirahat ini dengan membuang semua bebanmu, Diandra. Kamu membutuhkan stamina yang kuat untuk bekerja sebagai staf di perusahaan sekaligus pelayan pria berengsek itu. Semangat pejuang rupiah!"
Setelah mengungkapkan hal itu, kini Diandra mulai memejamkan kedua mata dan berharap akan segera bisa masuk ke dalam mimpi.
Hingga beberapa saat kemudian, suara napas teratur terdengar sangat jelas memenuhi ruangan kamar berukuran tiga meter tersebut.
Berbeda dengan yang saat ini terlihat di tempat lain, yaitu ruangan kamar milik pria yang saat ini terus tersenyum karena merasa di atas angin.
Sosok pria yang tak lain adalah Austin, kini mengetik pesan panjang kali lebar saat membuat daftar menu sarapan dan makan siang yang akan disiapkan oleh Diandra.
Jika biasanya ia menyerahkan tugas tersebut pada asisten pribadi, kini mengalihkan semuanya pada Diandra.
"Membiasakan diri untuk selalu dekat denganku, akan membuat Diandra lama-kelamaan menyukaiku. Aku sangat yakin itu. Tidak ada yang bisa menolak pesona seorang Austin Matteo."
Begitu selesai mengetiknya, langsung mengirimkan pada Diandra. Saat ia menunggu pesan dibaca, kini memicingkan mata karena belum centang hijau.
"Sepertinya ia sudah tidur. Pasti kelinci kecilku sudah sangat mengantuk dan kelelahan setelah hari ini, jadi segera tidur untuk mengumpulkan tenaga ketika besok akan bekerja di perusahaan."
"Baiklah, aku kali ini akan berbalik hati dengan tidak mengganggunya. Biarkan ia beristirahat dengan tenang malam ini karena besok aku akan membuatnya tersiksa."
Austin kini tersenyum smirk saat mengingat hari esok yang akan menambah semangatnya untuk bekerja.
"Baiklah, aku pun juga harus tidur, agar besok bisa berangkat lebih awal." Austin kini membaringkan tubuhnya dan menyalakan lampu tidur setelah mematikan lampu utama.
Niatnya untuk menyiksa secara mental Diandra ada membuat wanita itu tidak tahan dan akhirnya memilih jalan pintas, yaitu menjadi kekasihnya agar diperlakukan manis dan sangat disukai oleh para kekasihnya selama ini.
Berharap Diandra akan menyerahkan diri padanya seperti para wanita yang selama ini tergila-gila dan memujanya.
__ADS_1
To be continued...