
"Nyonya, kenapa tidak diangkat telepon dari tuan?" tanya pria yang saat ini sudah fokus mengemudi meninggalkan area sekolah.
Ia mendengar suara dering ponsel yang tidak kunjung dijawab dan akhirnya miliknya juga ikut berbunyi setelah panggilan wanita di belakangnya tersebut mati. Tentu saja ia sudah bisa menebak siapa yang menelpon dan benar saja begitu melihatnya, kontak dari bosnya yang menghubungi.
Jadi, sudah bisa menebak jika bosnya akan bertanya padanya apa alasan wanita yang duduk di belakang tersebut tidak mengangkat telepon meskipun sudah memegang ponsel.
Pria itu akhirnya memasang earphone dan berniat untuk menjawab. Ia tidak ingin mendapatkan kemurkaan bosnya tersebut karena lama mengangkat telepon.
Namun, mendengar suara dari istri majikannya yang melarang dan membuatnya merasa aneh dengan sikap wanita itu.
"Sebentar, aku sedang mengerjai suamiku. Jadi, jangan angkat teleponnya karena aku yang akan menelpon. Berikan waktu beberapa menit lagi." Diandra sebenarnya sangat tidak ingin berbicara dengan pria yang telah menciptakan sebuah konspirasi dari hidupnya.
Namun, ia sadar tidak mungkin bersikap seperti itu di depan seorang Austin Matteo yang selalu saja mencurigai apapun dan pastinya akan mengetahui sikapnya yang aneh. Sementara ia tidak ingin pria itu mengerti jika ia sudah pulih dari amnesia yang diderita akibat kecelakaan.
Ia masih merasa bingung serta bimbang mengenai apa yang harus dilakukan, sehingga memilih merahasiakannya.
"Nyonya, jika saya tidak menjawab telepon dari tuan, bisa-bisa babak belur atau dipecat dari pekerjaan ini," ucap sang bodyguard sambil fokus mengemudi untuk mengungkapkan ada protes karena merasa sangat beresiko jika sampai berani mengabaikan panggilan dari bosnya.
Diandra bisa memahami posisi dari pria yang memiliki tubuh gempal tersebut, sehingga berusaha untuk menenangkan agar tidak ada kesalahpahaman ataupun kekhawatiran yang dirasakan karena perbuatannya.
"Tenang saja karena aku akan menjamin bahwa suamiku tidak akan marah padamu. Aku yang akan bertanggung jawab atas semua perintah yang kuberikan padamu." Kemudian ia kini mulai mengambil nafas teratur agar tidak terdengar gugup ketika berbicara dengan Austin.
Ia saat ini benar-benar bingung dengan perasaannya karena saat amnesia, mengakui bahwa sangat mencintai seorang Austin Matteo yang menikahinya tanpa memperdulikan kondisi kakinya yang cacat.
Bahkan melakukan apapun agar ia bisa kembali berjalan dengan membiayai untuk ia mau terapi dan tidak pantang menyerah meskipun sangat lelah dan putus asa. Namun, saat ini semuanya berbeda begitu ingatannya kembali dan dikuasai oleh rasa ragu dan bimbang.
Apalagi dari dulu sangat membenci pria yang telah membuatnya hamil dan menjadi single parent selama beberapa tahun. Meskipun akhirnya berakhir kembali ke tangan pria itu yang menjadi penyebab hidupnya berantakan.
'Tenang, aku harus bisa bersikap seperti biasanya agar dia tidak curiga jika aku sudah mengingat semuanya. Sebelum aku mengetahui bagaimana bisa menikah dengannya dan juga di mana keberadaan Yoshi, harus berpura-pura masih amnesia di depan semua orang.'
Diandra yang saat ini berhasil menormalkan perasaannya yang berkecamuk, kini mulai memencet kontak yang disimpan dengan nama suami tersebut dan menunggu hingga pria di seberang telepon bersuara.
"Halo, Sayang. Kenapa tidak mengangkat teleponku dari tadi? Apa yang sebenarnya terjadi? Kamu dan putra kita baik-baik saja, kan?" Austin yang baru saja membaca pesan dari bodyguard mengenai kejadian hari ini di lampu merah, membuatnya merasa khawatir pada keadaan sang istri.
Ia khawatir jika apa yang dulu pernah dialaminya juga dirasakan oleh Diandra karena bisa mengingat masa lalu yang sempat hilang hanya karena melihat kecelakaan.
Jadi, dari tadi menelpon sang istri dan ingin memastikan jika Diandra masih amnesia atau sudah mengingat tentang masa lalu. Sebenarnya ia sangat takut jika sang istri bisa sembuh dari amnesia yang diderita karena khawatir akan dibenci dan Diandra menuntut cerai darinya.
Apalagi ia sadar jika semua yang dilakukannya adalah membohongi wanita yang sangat dicintainya tersebut agar bisa menikahinya, jadi saat ini pikirannya dipenuhi oleh hal-hal negatif. Sampai pada akhirnya, ia mendengar suara dari sang istri.
"Sayang, maafkan aku dari tadi menenangkan Aksa yang menangis karena kesakitan pada bagian belakang tubuhnya. Kamu sudah tahu apa yang terjadi pada Aksa, kan?" Diandra saat ini menatap ke arah putranya yang berbaring di pangkuannya dengan posisi memiringkan tubuh.
__ADS_1
Jika biasanya ia selalu menyebut dengan putra kita saat membahas dengan sang suami, tapi kali ini merasa sangat aneh dan membuatnya memanggil nama Aksa saja.
Ia seperti tidak terima jika mengatakan bahwa Aksa adalah putra pria yang sama sekali tidak pernah merasakan bagaimana perjuangannya menjadi single parent.
'Aksa hanya putraku dan selamanya hanya milikku karena dia tidak pernah ikut andil dalam membesarkan serta merawat Aksa. Meskipun di dalam diri Aksa memang mengalir darah yang sama dari pria itu, tetap saja putraku hanya milikku,' gumam Diandra yang saat ini hanya bisa berkeluh kesah di dalam hati.
Sementara itu, Austin yang merasa tidak ada yang aneh dari sang istri, kini membenarkan karena tadi bodyguard sudah menjelaskan semuanya melalui pesan yang dikirim dan baru dibaca setelah keluar dari ruangan meeting.
"Iya, Sayang. Lalu, bagaimana keadaan putra kita sekarang? Jika lukanya parah, lebih baik dirawat di rumah sakit agar cepat sembuh karena aku tidak ingin terjadi sesuatu hal yang buruk pada putra kita." Austin saat ini merasa sangat khawatir akan keadaan putranya begitu mengetahui jatuh dari ayunan.
"Aku akan pulang ke sekarang untuk mengantarkannya ke rumah sakit," ucap Austin yang saat ini berniat untuk berkemas sebelum pulang.
Sementara itu, Diandra yang masih belum siap untuk bertatapan langsung dengan pria yang dibenci sekaligus membuatnya mencintai ketika amnesia, sehingga mencari alasan yang tepat untuk mengulur waktu karena ia butuh menenangkan diri terlebih dahulu sebelum bertemu untuk pertama kali ketika sembuh dari amnesia.
"Aksa baik-baik saja dan tidak perlu mengkhawatirkannya karena saat ini sudah tertidur pulas di pangkuanku dan kami sedang dalam perjalanan pulang ke rumah. Kamu fokus saja bekerja dan nanti bisa bertemu dengan Aksa saat sore hari," ucap Diandra yang masih berusaha untuk membuat pria di seberang telepon tidak pulang cepat.
Apalagi ia berniat mengurung diri di kamar seharian untuk menenangkan pikiran setelah amnesia yang diderita sembuh. Jadi, berpikir semuanya akan kacau jika berhadapan dengan pria yang masih membuatnya bimbang untuk memutuskan harus melakukan apa.
"Tidak, Sayang. Aku tetap akan pulang karena tidak bisa tenang sebelum melihat sendiri keadaan putraku dan memeriksa lukanya. Lagipula Aku baru saja selesai meeting dan bisa menyerahkan pekerjaan pada asisten pribadiku." Berjalan keluar dari ruangan sambil menenteng tas kerja miliknya.
Ia masih berbicara dengan sang istri ketika masuk ke dalam lift menuju ke lobby perusahaan. "Tunggu aku di rumah karena sebentar lagi akan tiba. I love you."
Diandra yang saat ini menelan saliva dengan kasar sekaligus degup jantungnya tidak beraturan karena perasaan bergejolak dirasakannya ketika kalimat terakhir yang selalu rutin dikatakan oleh sang suami sekarang susah untuk dijawab.
Kemudian ia mematikan sambungan telepon dan mengembuskan napas kasar yang memenuhi ruangan di dalam mobil mewah yang melaju menuju ke rumah.
Ia tadinya berbohong ketika mengatakan jika putranya sudah tertidur pulas, tapi sekarang benar-benar larut dalam alam bawah sadar dan berpikir bahwa mungkin kelelahan setelah lama menangis.
Mengetahui jika putranya tidak akan pernah bisa tenang sebelum bertemu dengannya ketika kesakitan, sehingga membuatnya kini mengusap lembut keningnya.
'Sayang, sebaiknya kita pergi dan menghilang dari hadapan semua orang yang mengenal kita? Mama harus berakting masih amnesia, padahal sudah mengingat semua perbuatan jahat papamu.'
'Ya, dia papa kandungmu, tapi mama membencinya, Sayang. Apa Mama salah jika membenci papamu atas perbuatannya dulu ke dunia ini dan membuat hidup Mama menderita?' gumam Diandra yang saat ini bersandar pada punggung mobil dan memejamkan mata.
Ia bahkan saat ini tengah flashback pada masa lalu saat membenci Austin serta ketika menjadi istri pria itu. 'Ya Allah, apa yang terjadi padaku? Kenapa aku merasa hidupku layaknya permainan karena semua orang telah menipuku.'
Ia saat ini tengah memikirkan bagaimana caranya menemukan semua informasi mengenai bagaimana bisa menikah dengan Austin saat statusnya menjadi seorang istri Yoshi.
Kini, ia menatap ke arah sosok pria yang tengah mengemudi dengan fokus ke jalanan yang dilalui. "Apa kau sudah lama bekerja untuk suamiku?"
Ia ingin mengorek informasi dari pria itu tentang kejadian ketika mengalami kecelakaan.
__ADS_1
"Sudah tiga tahun, Nyonya. Sebenarnya saya dulu bekerja untuk tuan besar, lalu diperintahkan untuk menjaga tuan Austin ke manapun pergi semenjak amnesia. Ada apa, Nyonya?" tanya pelayan yang saat ini sekilas menatap ke arah spion mobil.
Diandra yang tentu saja mengingat tentang amnesia yang diderita oleh Austin dulu, kebetulan mengingat tentang kejadian ketika ia pertama kali bertemu di salah satu restoran cepat saji saat membawa putranya ke Jakarta untuk pertama kali.
"Tidak. Aku hanya ingin tahu saja. Sebentar, aku tidak tahu jika suamiku mengalami amnesia. Memangnya kapan dan apa yang menyebabkannya amnesia? Aku sama sekali tidak tahu karena memang suamiku tidak pernah membahas itu denganku," ucap Diandra yang berharap pengawal itu mau bercerita.
Sang pengawal saat ini merutuki kebodohannya sendiri karena ceroboh dengan berani berbicara membahas bosnya. 'Bisa mati aku dihabisi bos jika tahu tengah berbicara dengan istrinya seperti ini.'
Tidak ingin mendapatkan sebuah hukuman, kini ia memilih untuk cari aman dengan mengalihkan pembicaraan. "Kita sudah tiba, Nyonya."
Saat memencet klakson agar pintu gerbang terbuka, kebetulan melihat di belakang ada mobil rekannya dan juga yang baru saja datang adalah bosnya. "Ternyata tuan Austin juga tiba."
Refleks Diandra yang merasa sangat terkejut, kini menoleh ke arah belakang untuk memastikannya sendiri dan benar saja apa yang saat ini dikatakan oleh bodyguard.
'Cepat sekali dia tiba di rumah? Apa tadi dia ngebut?' gumam Diandra yang mengingat tentang perbuatan sang suami ketika mengemudi dengan kecepatan tinggi dan menerobos lampu merah beberapa hari lalu.
Niat untuk menenangkan perasaan gagal begitu melihat sosok pria yang saat ini turun dari mobil dan menyuruh pengawal untuk mengemudikan kendaraan memasuki pintu gerbang utama rumah karena menghampirinya.
Ia melihat Austin membuka pintu dan masuk ke dalam, lalu duduk di sebelahnya. Bahkan saat ini merasa sangat aneh ketika berdekatan dengan pria yang sudah duduk di sebelah kirinya dan langsung mencium keningnya seperti biasa.
"Sayang, kamu benar-benar baik-baik saja, kan?" Austin yang baru saja mencium sang istri setelah memangku putranya yang tengah tertidur pulas, masih menatap intens sosok wanita yang tersenyum simpul padanya.
"Tentu saja aku baik-baik saja dan kamu bisa melihatnya sendiri, kan? Jadi, jangan terlalu berpikir macam-macam karena aku tidak apa-apa." Kemudian Diandra beralih menatap ke arah putranya karena tidak nyaman bersitatap dengan Austin yang tidak berkedip menatapnya.
"Syukurlah Aksa hanya terluka sedikit dan tadi sudah dibawakan obat oleh kepala sekolah. Dokter sudah memeriksanya dan mengobati lukanya." Kemudian ia membicarakan tentang apa yang terjadi pada putranya untuk mengalihkan perhatian pria itu agar menatap ke arah Aksa.
Austin yang merasa sangat lega melihat sang istri masih belum mengingat tentang masa lalu, kini mendengarkan cerita tentang putranya dari sang istri dengan mengusap lembut beberapa kali rambut hitam berkilat malaikat kecilnya tersebut.
"Jagoan Papa sangat kuat dan luka kecil makan segera sembuh. Sepertinya putra kita menangis agar kamu segera datang ke sekolah karena ingin bermanja-manja. Saat merasakan sakit, tidak mungkin bermanja-manja pada guru maupun kepala sekolah, kan?" Kemudian ia mencium kening putranya yang masih tertidur pulas di pangkuan.
Ia tadi mengemudi dengan kecepatan tinggi agar bisa segera di rumah karena khawatir akan keadaan istri dan anak dan langsung menghambur masuk ke dalam mobil yang ditumpangi wanitanya.
"Aku benar-benar sangat mengkhawatirkan keadaanmu tadi begitu pengawal mengatakan ada kecelakaan di lampu merah dan kamu tepat berada di bagian paling depan sendiri, sehingga bisa melihat secara langsung dan jelas." Austin saat ini mengarahkan tangannya untuk mengusap lembut wajah cantik sang istri.
"Syukurlah jika kamu baik-baik saja, Sayang." Austin jangan yakin jika iya tidak akan bisa melihat lagi sang istri jika ingatannya kembali.
Jadi, saat ini merasa senang sekaligus lega karena wanita yang sangat dicintainya tersebut masih berada di hadapannya dan bersikap seperti biasa.
'Buat istriku selamanya mengalami amnesia dan tidak mengingat tentang masa lalu, Tuhan. Aku benar-benar sangat mencintainya. Aku tidak ingin kehilangan istri dan anakku karena merekalah pusat duniaku saat ini,' gumam Austin yang saat ini melihat mobil sudah memasuki area depan pintu utama.
"Ya, tentu saja aku baik-baik saja karena tidak mengalami kecelakaan. Ayo, kita keluar sekarang dan membaringkan Aksa ke dalam kamar," ucap Diandra yang saat ini beranjak keluar dari mobil.
__ADS_1
To be continued...