
Diandra langsung mengetik pesan balasan iya pada mantan mertuanya tersebut dan mengatakan agar tidak mengirimkan pesan apapun saat sore hari karena sang suami sudah pulang ke rumah. Jadi, berpikir bahwa pagi hari adalah waktu yang paling aman.
Kini, ia kembali menatap ke arah putranya dan mengucap lembut kening serta pipi putih gembil itu. 'Mama tidak akan pernah meninggalkanmu, Sayang. Jika Mama pergi, kamu harus ikut.'
Saat ini, Diandra niat jika dua satu hari lagi adalah hari ulang tahunnya dan biasanya selalu dirayakan di luar dengan makan malam. Namun, saat kemarin sang suami bertanya mengenai hadiah apa yang diinginkannya, sehingga membuatnya berpikir jika kali ini berbeda dari biasanya.
Bahwa mungkin Austin tidak merayakan di luar, tapi bisa jadi hanya makan malam biasa di rumah. "Apa aku harus mencari tahu sendiri kira-kira rencana apa yang akan disusun olehnya untuk merayakan ulang tahunku?"
"Aku sangat yakin jika dia tetap merayakannya, tapi biasanya selalu ada kejutan yang tidak pernah terduga sama sekali. Mungkin tahun ini juga akan demikian." Diandra yang saat ini tengah menatap ke arah pintu keluar, semoga apa kira-kira yang ada di pikiran sang suami.
Namun, ia memijat pelipis karena tidak pernah bisa menduga ataupun menebak apa yang ada di pikiran pria itu jika menginginkan sesuatu. Saat merasa ada yang bisa membantunya untuk mencari tahu, kini ia kembali mengambil ponsel miliknya dan menghubungi sang ibu yang akan dimanfaatkan agar mencari tahu tentang rencana Austin untuk ulang tahunnya.
Namun, begitu sambungan telepon tersambung, di saat bersamaan malah mendengar suara pintu yang diketuk dari luar dan membuatnya menebak jika itu adalah sang ibu.
Ternyata benar apa yang ada di pikirannya karena begitu pintu terbuka, melihat sosok wanita paruh baya yang merupakan sang ibu dengan berjalan masuk sambil tersenyum menyapa cucu.
"Cucuku, Nenek kangen ini," ucap Laksmi Mustika yang saat ini langsung mendekat ke arah ranjang dan mencium gemas cucunya.
Ia merasa sangat kesal pada putrinya karena tidak mengetahui jika cucunya baru saja mengalami kemalangan. Kemudian langsung menjewer telinga putrinya yang dianggap sangat keterlaluan karena tidak mengatakan padanya.
"Kenapa kemarin tidak memberitahu Ibu bahwa Aksa jatuh dari ayunan? Ibu tidak akan mengetahuinya jika hari ini tidak mengantarkan rendang ke sini." Laksmi Mustika akan menatap tajam putrinya agar tidak mengulangi kesalahan.
Apalagi berpikir bahwa sudah tidak menganggap dirinya sebagai orang penting yang merupakan kakek nenek dari Aksa yang sangat malam karena hanya bisa berbaring miring sambil menatap ke arah ponsel di tangan.
Namun, ia merasa senang ketika melihat senyuman dari cucunya dan juga menyapanya dengan suara yang menggemaskan ketika memanggil nenek.
"Ibu, lepasin! Sakit ini!" Diandra yang merasa kesakitan akibat perbuatan sang ibu, sangat kesal karena selalu saja dianggap seperti anak kecil meskipun sudah memiliki seorang anak.
"Aku kemarin juga tidak enak badan dan sore sudah tertidur. Jadi, lupa mengatakan pada kalian. Bukannya sengaja melakukannya atau tidak menganggap kalian sebagai orang tua yang merupakan nenek dan kakek dari Aksa, tapi benar-benar kemarin sangat lelah dan kepalaku pusing." Bahkan saat ini Diandra berarti untuk memijat pelipis agar sang ibu percaya pada perkataannya.
Sementara itu, Laksmi Mustika saat ini menatap ke arah putrinya untuk memastikan apakah pucat atau tidak. "Apa kamu sudah periksa? Siapa tahu kamu hamil?"
Kemudian mengarahkan telapak tangan ke pening putihnya dan beralih ke keningnya untuk mengetes seberapa perbedaannya karena ia merasa sangat sehat. "Ini tidak panas karena suhunya normal seperti Ibu."
"Ya, sakitnya semalam dan kata dokter hanya kelelahan dan juga stres. Aku tidak boleh memikirkan banyak hal agar tidak berakhir pada imunitas tubuh yang lemah." Diandra pada saat ini mengingat tentang rencananya, kini ia langsung menepuk ranjang di sebelahnya agar sang ibu duduk.
"Ibu, aku sekarang butuh bantuan."
"Bantuan apa?" Mengerutkan keningnya karena merasa curiga jika putrinya tengah merencanakan sesuatu.
__ADS_1
Diandra yang saat ini tidak ingin bertele-tele karena ini segera mengetahui apa sebenarnya rencana dari sang suami mengenai hari ulang tahunnya.
"Aku ingin Ibu mencari tahu tentang rencana Austin mengenai ulang tahunku. Aku selama ini mendapatkan kejutan darinya dan tidak pernah menyangka, berharap sekarang mengetahui karena aku juga ingin memberikan kejutan padanya."
"Biar sekali-sekali dia yang terkejut karena kejutan dariku," ucap Diandra yang saat ini menatap sang ibu dan meminta apa tanggapannya.
Hingga ia pun ingin mengetahui respon dari sang ibu yang tengah terdiam seolah memikirkan apakah menyetujui rencananya atau menolak karena lebih mendukung Austin daripada dirinya. Apalagi saat mengingat apa yang dikatakan oleh mertuanya jika orang tuanya lebih mendukung Austin daripada Yoshi yang mengalami koma.
Laksmi Mustika masih merasa bingung apakah ia akan membuka rahasia dari menantunya karena memang kemarin sudah bertanya pada Austin mengenai apa rencana untuk membuat kejutan di hari ulang tahun Diandra.
"Kenapa kamu tidak terima saja kejutan dari suamimu? Kenapa harus banyak tingkah seperti ini?" ucap Laksmi Mustika yang saat ini merasa heran dengan sikap putrinya berbeda dari biasanya.
"Isssh ... bukan banyak tingkah, tapi karena aku juga ingin membuatnya terkejut sekali-sekali. Jadi, tidak masalah, kan?" Diandra merasa yakin jika sang ibu sudah mengetahui rencana dari Austin di hari ulang tahunnya.
Namun, ia merasa sangat kesal ketika melihat respon dari wanita yang telah melahirkannya tersebut selalu saja membela Austin daripada dirinya. "Sebenarnya aku putrimu atau Austin putramu?"
Kembali menjewer telinga putrinya yang dianggap sangat kekanakan atas pertanyaan yang baru saja diungkapkan. "Dasar! Tentu saja dua-duanya karena kamu adalah putriku dan Austin juga putraku."
"Ibu ini menyebalkan sekali!" rengut Diandra dengan wajah kesal dan berekspresi mengerucutkan bibir. Ia bahkan mengembuskan napas kasar saat ini karena berpikir bahwa usahanya tidak akan membuahkan hasil ketika sang Ibu tidak mau membantu.
Melihat putrinya merajuk dan menampilkan wajah masam, saat ini Laksmi Mustika hanya geleng-geleng kepala karena menganggap kekanakan. Namun, karena tidak tega melihat putrinya yang kesal karena tidak dituruti permintaannya, akhirnya memilih menyerah dan mulai menceritakan tentang kejutan yang akan dilakukan oleh Austin.
"Kemarin sebenarnya Ibu sudah menelpon dan bertanya akan memberimu kejutan apa di hari ulang tahun. Jika kalian ingin makan malam romantis bersama, maka Ibu dan ayahmu yang akan menjaga Aksa di rumah. Namun, ternyata tahun ini Austin ini merayakan di rumah dengan berkumpul bersama dan melakukan pesta kebun di taman depan."
"Bukankah jauh lebih baik bisa berkumpul bersama dengan keluarga besar daripada hanya makan malam romantis di restoran? Atau kamu hanya ingin berduaan dengan suamimu tanpa ada yang mengganggu?" tanya Laksmi Mustika yang saat ini tengah menatap ke arah putrinya yang dianggapnya sangat aneh.
Saat ini, Diandra yang memang merasa sangat kecewa karena tidak bisa melakukan rencananya di hari ulang tahun, berakting menggelengkan kepala agar sang ibu tidak merasa curiga.
"Tidak, Bu. Aku bukan kecewa karena kejutan dari Austin dengan berkumpul bersama keluarga yang lain. Aku sebenarnya ingin merekomendasikan tempat yang belum pernah kukunjungi, tapi sangat recommended karena makanannya sangat enak."
"Tadinya berpikir untuk menyuruh Ibu mengatakan padanya tentang restoran itu agar kita bisa makan bersama di sana, tapi kalau sudah berencana di rumah, aku mana bisa melakukannya? Atau Ibu membujuknya untuk mengubah kejutan untukku dengan memberitahu restoran itu?" Diandra berencana untuk kabur di hari itu dengan cara izin pergi ke toilet dan membawa putranya.
Ia saat ini menatap sang ibu yang tengah mempertimbangkan perkataannya dan sangat berharap jika disetujui karena satu-satunya harapan untuk bisa keluar dari rumah tanpa bodyguard hanyalah itu saja.
"Memangnya Ibu harus berbicara bagaimana untuk mengatakan restoran yang kamu sebutkan itu? Lagipula Ibu selama ini tidak tahu menahu tentang restoran. Nanti Austin merasa curiga, bagaimana?" Awalnya Laksmi Mustika tidak berencana untuk memenuhi keinginan dari putrinya.
Namun, karena berpikir bahwa putrinya ulang tahun setahun sekali, sehingga kali ini berubah pikiran dan ingin menuruti apapun yang diinginkan. Apalagi mengetahui kecelakaan yang dialami oleh putrinya hingga harus berakhir di kursi roda, membuatnya berjanji untuk selalu membuat putrinya bahagia dan senang.
Merasa ada harapan karena sang ibu sudah masuk dalam perangkapnya, kini Diandra mulai mengungkapkan semua yang sudah terekam di otaknya saat ini. "Jadi, nanti Ibu bilang baru pergi ke rumah untuk mengantarkan rendang dan ngobrol denganku."
__ADS_1
"Lalu, aku menceritakan tentang restoran baru yang sangat recommended untuk anak muda maupun keluarga karena view di sana juga sangat cantik. Jadi, Ibu hanya bilang seperti itu pada Austin, pasti dia sudah paham." Diandra mengakhiri ceritanya dan berharap sang Ibu menelpon Austin nanti setelah sudah pulang dari rumah.
Ia bahkan sangat hafal dengan Austin yang selalu peka dengan perkataan orang lain, sehingga tidak perlu menjelaskan secara detail dan itu membuatnya berpikir bahwa semua rencananya akan berjalan mudah dan lancar.
"Bagaimana, Bu? Apa Ibu mau mengatakan pada Austin agar merayakan ulang tahun di sana? Aku benar-benar suka dengan pemandangannya dan juga menu makanannya yang jarang dimiliki oleh beberapa restoran lain.
Tidak mungkin bisa menolak keinginan putri satu-satunya, kini Laksmi Mustika menganggukkan kepala dan tidak lagi mengungkapkan ada protes karena keinginan aneh-aneh. "Baiklah. Semoga suamimu nanti menyetujuinya dan benar-benar memberikan kejutan di tempat yang kamu sukai itu."
"Lalu, memangnya kamu ingin membuat dia terkejut seperti apa?" tanya Laksmi Mustika saat ini tersenyum simpul melihat cucunya sudah tertidur pulas dengan tangan yang memegang ponsel dan terjatuh di ranjang. "Jam segini sudah tertidur. Tumben sekali."
"Itu karena tadi minum obat pereda nyeri dan pastinya mengandung obat tidur. Biar Aksa tidur agar tidak merasakan nyeri pada punggungnya. Aku akan tampil di depan panggung untuk menyanyikan sebuah lagu untuknya. Itu pasti akan membuatnya sangat terkejut." Diandra sebenarnya hanya berbohong pada sang Ibu karena tidak mungkin bisa tampil di depan banyak orang hanya untuk menyanyikan sebuah lagu.
Namun, ia benar-benar berharap jika wanita yang telah melahirkannya tersebut mengerti dan mau menuruti keinginannya. Hingga ia ketika tersenyum simple dan memeluk rasa ibu begitu melihat wanita itu menentukan kepala dan juga mengangkat jempol sebagai applause atas ide cemerlang yang baru saja didapatkan.
"Itu bagus karena pastinya dia akan sangat terkejut dengan surprise yang kamu berikan," ucap Laksmi Mustika yang saat ini tengah memikirkan tentang cara untuk membuat menantunya berubah pikiran.
Saat ini, Diandra merasa sangat lega karena sang ibu tidak lagi marah-marah dan memaksakan kehendak, tapi malah menuruti keinginannya. 'Maafkan aku, Bu karena saat ini telah berbohong padamu. Anggap ini karena kalian juga membohongiku habis-habisan hingga sampai ke titik ini.'
Diandra yang baru saja bergumam sendiri di dalam hati untuk mengungkapkan keluh kesah yang dirasakan, saat ini melihat pergerakan sang ibu yang bangkit berdiri dari ranjang.
"Aku akan mengambilkan menu makanan kesukaanmu. Bahkan mengatakan jika kamu harus banyak beristirahat agar cepat sembuh dan makan di dalam kamar karena akan diambilkan."
"Ingat ini, Diandra, bahwa kamu sangat beruntung memiliki seorang suami seperti Austin yang sangat mencintaimu dan tidak pernah mengeluh ketika merawatmu saat masih cacat. Jadi, Jangan hanya kesalahan sedikit saja, sehingga membuat kalian bermasalah," ucapnya sambil menatap ke arah putrinya.
Seolah ingin memberikan sebuah ultimatum pada putrinya agar suatu saat nanti tidak mempermasalahkan hal-hal kecil setelah kembali mengingat masa lalu. Kemudian langsung pacaran keluar tanpa menunggu tanggapan dari putrinya tersebut.
Diandra saat ini bisa mengerti arah pembicaraan dari sang ibu, tapi berpikir bahwa ia akan melakukan hal yang benar karena hanya ingin melihat bagaimana kondisi Yoshi yang ditinggalkannya karena ulah orang tua serta Austin.
'Ibu sepertinya tengah mengingatkanku agar memaafkan kesalahan Austin karena sudah terlalu baik padaku. Apalagi jika aku sudah mengingat semuanya, pasti seperti ini yang kurasakan.'
'Bahwa semuanya tidaklah semudah membalikan telapak tangan hanya dengan memaafkan,' gumamnya di dalam hati dan membuatnya saat ini tidak bisa berkata-kata lagi.
Diandra yang saat ini langsung mengirimkan pesan pada mertuanya, mengatakan jika ia telah mengurus semuanya dan kali ini berharap bisa sekali saja bertemu dengan Yoshi.
'Aku perlu memastikan bagaimana keadaan Yoshi dan juga apakah tetap bertahan ataupun kembali pada Yoshi,' gumamnya di dalam hati.
Kini, ia kembali menunggu pesan balasan dari mertuanya yang sangat fast respon dan di saat bersamaan mendengar suara dari sang ibu yang sudah membawa nampan berisi makanan untuknya.
"Ibu, kenapa harus menuruti perintah Austin? Padahal konyol karena aku bisa mengambil sendiri dan tidak akan pingsan?" Diandra yang saat ini merasa tidak enak karena malah menyuruh orang tua untuk melayaninya.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, Semua ini adalah harapan baik dari suamimu," ucap Laksmi Mustika yang saat ini mendekat dan langsung duduk di sebelah putrinya, berniat untuk menyuapi.
To be continued...