
Semua orang yang ada di ruangan perawatan terbaik rumah sakit itu seketika saling bersitatap dan terkejut begitu mendengar kalimat terakhir dari Diandra.
Begitu pun dengan Austin yang saat ini juga membulatkan mata karena kekhawatirannya benar-benar terjadi. Ia seketika merasa kehilangan tenaga dan membuat tubuhnya lemas karena khawatir jika wanita dengan watak sangat keras tersebut benar-benar pergi darinya tanpa memperdulikan apapun.
'Jadi, benar apa yang selama ini kukawatirkan. Rasanya sekarang aku seperti mengalami Dejavu. Situasinya sama seperti beberapa tahun silam ketika Diandra pergi tanpa pesan. Namun, kali ini aku tidak ingin mengulang kenyataan buruk itu dan harus melakukan segala cara untuk menahannya agar tidak pergi.'
Austin yang masih membungkam mulutnya rapat-rapat karena hanya bisa berkeluh kesah di dalam hati dan menelan saliva dengan kasar ketika mendapatkan tatapan tajam dari wanita di atas ranjang perawatan sebelah kirinya.
"Apa kalian semua terkejut? Khususnya kau, Austin Matteo?" Diandra bahkan merasa yakin jika Austin akan baik-baik saja karena sudah sadar. Apalagi mengetahui jika pria itu tidak memiliki riwayat penyakit jantung yang mungkin akan terkejut dan Anfal.
__ADS_1
Sementara itu, Laksmi Mustika yang merasa terkejut dan sekaligus khawatir jika hubungan rumah tangga putrinya hancur berantakan hanya karena pulihnya amnesia yang diderita.
Ia bahkan langsung mengusap lengan putrinya agar tidak semakin meluapkan amarah yang seolah meletup-letup di dalam hati dan ingin segera dikeluarkan.
"Nak, masa lalu tidaklah penting karena yang harus dipikirkan adalah masa depan dan bukankah selama ini kamu hidup bahagia bersama dengan suamimu? Apakah kamu sama sekali tidak berpikir jika semua yang terjadi adalah takdir dari Tuhan?"
"Bahkan takdirnya, kamu tetap kembali pada ayah dari anak-anakmu? Pikirkan baik-baik masa depan anak-anak kalian jika kamu egois dengan mengambil keputusan gegabah." Ia bahkan berani menatap ke arah sang suami yang dari tadi hanya diam saja karena kebingungan.
"Pak, cepat nasihati putrimu agar tidak mengambil keputusan yang salah." Sambil melirik sekilas ke arah sang menantu yang terlihat sangat kebingungan dan hanya bisa diam saja, seperti merasa takut pada istri sendiri.
__ADS_1
'Bahkan menantuku seperti seorang suami yang takut istri karena tidak berani membantah dan memilih hanya diam saja karena bingung harus mengatakan apa,' gumamnya yang juga menatap ke arah besannya.
Ia juga merasa tidak enak pada besannya karena menganggap putrinya seperti tidak tahu membalas budi setelah ditolong dan bisa keluar dari masalah. Namun, satu-satunya yang dipikirkan hanyalah ingin meredam amarah putrinya terlebih dahulu agar tidak berbicara kasar.
Berbeda dengan Romy Sudrajat yang kali ini ingin menyadarkan putrinya hanya dengan satu kalimat dan berharap tidak membuat masalah menjadi panjang lebar.
"Diandra, jika saat itu Austin tidak ada ataupun tidak perduli padamu, mungkin kamu akan selamanya menjadi seorang janda yang menyedihkan dengan kedua kaki cacat karena tidak bisa berjalan seumur hidup. Sadarlah!" Ia dengan kalimat penekanan dan suaranya benar-benar membelah keheningan di malam hari ini saat di ruangan perawatan.
To be continued...
__ADS_1