Konspirasi Cinta

Konspirasi Cinta
Melaksanakan perintah


__ADS_3

Senja pun telah beranjak ke peraduannya dan kini berganti dengan suasana gelap yang dihiasi gemerlap cahaya bintang.


Semua orang yang sudah tidak lagi berkutat dengan pekerjaan masing-masing dan kini mulai beristirahat.


Begitu pula dengan sosok wanita yang tak lain adalah Diandra. Ia malah baru bangun tidur dan langsung membersihkan diri di kamar mandi agar tubuhnya yang lesu bisa kembali segar.


Ia benar-benar menghabiskan waktu dengan tidur nyenyak dan melupakan beban berat yang memenuhi pikirannya. Untuk sejenak ia melupakan hal penting, yaitu uang simpanan mulai menipis dan jika sampai habis saat belum mendapatkan pekerjaan, tidak akan bisa memenuhi kebutuhan hidup di perantauan.


Setelah mendapatkan pekerjaan dan besok mulai bekerja, meski dengan melalui cara yang tidak biasa, berpikir bahwa beban pikirannya mulai berkurang.


Saat ini, waktu sudah menunjukkan pukul enam petang, suasana di kamar kos Diandra terlihat sangat sepi karena semua penghuni berada di dalam kamar masing-masing.


Mereka bukan tipe orang yang suka menghabiskan waktu dengan mengobrol, tapi lebih suka beristirahat di dalam kamar setelah seharian bekerja.


Tentu saja semua penghuni tempat itu mayoritas adalah para wanita yang sibuk bekerja. Baik bekerja di perusahaan, Mall, Club dan beberapa tempat yang lainnya.


Saat ini, Diandra terlihat mengusap perutnya yang kini mulai kelaparan. Saat mengingat jika ia tadi membawa makanan sisa yang dibelikan oleh Austin, kini berjalan menuju ke arah meja. Kemudian membawa kotak makanan tersebut.


"Ini masih bisa dimakan karena tidak basi. Sayang sekali jika dibuang. Meskipun makanan ini tidak cocok di lidahku, bisa digunakan untuk mengganjal perutku yang sudah bermasalah."


Diandra yang kini sudah membawa kotak makanan di tangan, berjalan ke dekat ranjang dan mulai menikmatinya. Ia bahkan melihat makanan yang tadi dibelikan oleh asisten pribadi bos perusahaan, seolah ingin merekam di otaknya.


"Nanti saat kembali ke kampung, aku bisa menceritakan tentang hal ini. Bahwa aku pernah makan makanan Jepang." Diandra yang baru saja menutup mulut, kini terkekeh geli kala membayangkan sikap konyolnya.


Terlihat saat ini ia tengah mengenakan hotpant dengan atasan tanpa lengan dan rambut terlilit handuk karena masih basah.

__ADS_1


Ia masih mengunyah makanan dengan melihat sosial media dan juga aplikasi yang sedang tren saat ini.


"Sayangnya aku tidak sepede wanita ini. Ia pasti sudah menghasilkan banyak uang dengan membuat konten seperti ini. Hanya video mengenai kegiatan sehari-hari dengan bahasa Jawa dan dibumbui sesuatu hal yang lucu, sehingga bisa membuat banyak orang menyukainya."


Setengah jam kemudian, Diandra sudah menghabiskan makanannya dan ia bangkit berdiri untuk membuang kotak makanan di tempat sampah yang ada di sebelah pojok kiri kamar kos.


Begitu membuka pintu, Diandra seketika membulatkan kedua mata saat melihat seseorang tengah berdiri di depan pintu


Bahkan ia membekap mulut karena merasa tidak percaya pada pemandangan di depan mata. "Kamu? Apa yang kamu lakukan di sini? Dari mana tahu jika di sini adalah tempat tinggalku?"


Diandra beberapa kali mengerjapkan mata untuk memastikan tidak salah lihat. Ia berpikir bahwa mungkin sosok pria di hadapannya tersebut hanyalah sebuah bayangan semata.


Namun, Diandra seketika menelan kasar saliva saat mendengar suara bariton dari pria yang akan menjadi bosnya di tempat kerja.


"Cepatlah bersiap karena ada tugas untukmu. Aku akan membayar lebih untuk hari ini. Anggap ini adalah pekerjaan pertamamu," ucap Austin yang saat ini tengah menatap intens wajah terkejut dari wanita incarannya.


"Tidak perlu terkejut karena aku tahu tempat tinggalmu. Bukankah semuanya ada dalam surat lamaranmu? Hari ini Mirza ulang tahun dan ia menyuruhku untuk mengajakmu."


Austin yang tadinya baru datang setelah bertanya pada tetangga sekitar sana mengenai alamat tempat kos Diandra, tidak menyangka saat ia ingin mengetuk pintu, kenyataannya adalah sudah dibuka oleh yang bersangkutan.


Sementara itu, Diandra yang masih merasa sangat terkejut dengan kedatangan tiba-tiba dari pria berpenampilan sangat rapi tersebut.


Ia bahkan menatap ke arah kamar kos lain yang ternyata pintunya tutup semua. Masih heran dari mana pria di hadapannya tersebut tahu ia tinggal di kamar sebelah mana.


"Tunggu, dari mana tahu aku berada di kamar yang ini? Aku bahkan tidak bilang setuju pada ajakanmu karena waktu untuk bekerja adalah dari pagi sampai sore. Jadi, perintahmu di luar pekerjaan bisa kutolak."

__ADS_1


Saat Diandra baru saja menutup mulut, kembali ia membulatkan mata karena terkejut.


"Tidak sulit untuk mencari tahu hal itu, Diandra. Kebetulan tadi aku bertemu dengan pemilik kos ini saat bertanya pada seorang wanita yang ada di depan rumah." Austin kini melihat jam tangan mewah yang dikenakan.


Merasa waktu semakin larut dan tidak ingin datang terlambat, kini Austin meraih ponsel miliknya dan memperlihatkan pesan Daru Mirza.


"Acara jam delapan malam. Kau harus cepat dan jangan mempermalukanku di depan sahabatku. Jadi, kamu harus mau karena aku tidak menerima penolakan."


Setelah menunjukkan pesan dari Mirza yang merupakan salah satu akal bulusnya karena tadi memberikan perintah pada sahabatnya agar mengirimkan pesan berupa undangan agar Diandra percaya.


Tidak hanya memberikan sebuah bukti mengenai pesan di ponselnya, Austin bahkan kini mengambil dompet dari saku celana.


Kemudian mengambil lembaran uang berwarna merah dari dalam dompet dan memberikan ke tangan wanita yang masih memegang kotak sushi dan membuatnya merasa sangat iba karena makan makanan dingin


"Ini uang satu juta untuk pekerjaan di luar kantor. Kalau kurang, katakan saja. Aku tidak ingin nama baikku ternoda karena kita tidak membawamu datang ke pesta ulang tahun Mirza."


"Kamu tahu, kan kalau harga diriku jauh lebih penting daripada uang ini?" ucap Austin yang kini melanjutkan perkataannya di dalam hati.


'Bisa-bisanya ia makan makanan dingin yang pastinya sudah tidak enak dimakan,' gumam Austin yang kini tengah menunggu keputusan dari Diandra atas ajakannya.


Ia sedikit merasa lega saat wanita di hadapannya tersebut sudah memegang uang pemberiannya. Jujur saja ia awalnya sangat ragu sekaligus khawatir jika uang itu akan dilemparkan ke wajahnya. Namun, kini merasa sangat lega karena tidak seperti yang dibayangkan olehnya.


Sementara itu di sisi lain, Diandra kini bisa melihat sepuluh lembar uang berwarna merah yang berada di tangannya.


Uang satu juta kini dengan mudah didapatkan dan membuatnya merasa seperti mendapatkan rezeki nomplok.

__ADS_1


'Pria ini seperti tahu saja kalau uangku menipis dan bingung untuk makan. Bagaimana ini? Apa aku terima saja uang ini dan melaksanakan perintahnya?' gumam Diandra yang kini tengah memikirkan keputusannya.


To be continued...


__ADS_2