Konspirasi Cinta

Konspirasi Cinta
Rasa haru


__ADS_3

Diandra yang berada di dalam lift, mengingat kejadian yang terjadi di dalam ruangan pria bernama Austin Matteo itu. Ia menyadari saat menatap papan nama di atas meja pria itu.


 


Saat tadi keluar dari ruangan istirahat pria itu, sempat terpana dengan pesona pria tampan terbalut jas tersebut. Namun, menyadari kebodohannya karena malah mengagumi paras rupawan seorang pria playboy.


"Dasar bodoh! Kenapa aku sama seperti kebanyakan para wanita yang suka dengan para rupawan? Pria tampan itu kebanyakan sering menyakiti perasaan wanita. Aku tidak ingin menjadi salah satu dari wanita bodoh pemuja paras tampan."


Diandra bahkan menepuk jidat berkali-kali untuk menyadarkan diri sendiri agar tidak sampai terkena sihir dari pesona pria yang akan menjadi bos di kantor.


Apalagi menyadari hanyalah seorang wanita dari kasta rendahan yang tidak mungkin bisa naik kasta seperti di film-film karena dicintai oleh CEO perusahaan besar di tempat kerja.


"Kenapa aku malah berhayal yang tidak masuk akal? Apalagi jika bukan bodoh." Diandra kini mendengar suara denting lift dan ia kemudian melangkahkan kaki jenjangnya menuju ke arah lobi.

__ADS_1


Saat sudah tiba di depan, ia mendengar suara dering ponsel miliknya dan memeriksa siapa yang menghubungi. Saat ada nomor asing yang menelpon, tidak diangkat karena selama ini tidak pernah mau menerima panggilan dari kontak asing.


Namun, saat tiba di halte bus, mendapatkan sebuah pesan dan langsung dibaca karena berpikir jika itu dari orang yang menghubungi.


Karena hari ini adalah jadwal wawancaramu, tapi kamu tidak datang. Itu karena aku menabrakmu. Jadi, besok katakan jika saat dalam perjalanan menuju ke perusahaan, mendapatkan sebuah musibah. Mengenai yang lain serahkan padaku.


 


Diandra yang baru membaca pesan tersebut, malah merasa sangat heran. "Dari mana presdir mengetahui nomorku?"


"Pasti tadi ia memeriksa surat lamaranku. Makanya tahu." Diandra kini menyimpan nomor baru tersebut dengan nama CEO berengsek.


Kemudian membalas pesan dengan mengiyakan perintah pria yang akan menjadi bosnya tersebut.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian, bus datang dan ia masuk ke dalam. Kebetulan hari ini ia mendapatkan tempat duduk dan saat bus melaju di depan bangunan tinggi menjulang itu, sudut bibirnya melengkung ke atas.


'Perusahaan ini akan menjadi tempatku bekerja. Di gedung tinggi itu, aku akan mengais rezeki. Semoga aku akan mendapatkan keberuntungan saat bekerja di perusahaan itu.'


Bisa memenuhi impian untuk bisa bekerja di sebuah perusahaan adalah keinginan Diandra dari dulu. Bisa bekerja di tempat bersih dan ber-AC, mempunyai rekan kerja menyenangkan dan berangkat serta pulang tepat waktu, ingin dirasakan olehnya.


Tidak muluk-muluk merajut masa depan karena baginya adalah bisa membayar utang-utang keluarga, itu sudah lebih dari cukup. Meskipun ia sebenarnya berpikir untuk menabung demi masa depan, tapi lebih mengutamakan orang tua dibanding dirinya.


"Ini adalah hari baikku karena sangat beruntung bisa bekerja tanpa melakukan interview. Apakah bertemu dengan pemimpin perusahaan adalah sesuatu hal yang baik? Ataukah kemalangan di suatu hari nanti?"


“Aku sangat senang sekali karena aku akan menjadi seperti seorang wanita karir lainnya."


Hanya dengan membayangkannya saja sudah berhasil membuat wajah Diandra berbinar. Apalagi jika sampai benar-benar bekerja di perusahaan besar itu.

__ADS_1


'Rasanya seperti sebuah mimpi yang sulit digapai dan tiba-tiba semuanya terasa mudah seperti ini. Terima kasih, Tuhan karena telah membukakan pintu rezeki untukku.'


To be continued...


__ADS_2