Konspirasi Cinta

Konspirasi Cinta
Sebuah perintah


__ADS_3

"Biasa, salah satu rekan bisnisku," sahut Austin yang kini ragu untuk mengangkat panggilan telpon. Namun, kembali mendapatkan sebuah perintah dari sosok wanita yang sangat ingin segera dihabisinya di atas ranjang.


"Angkat saja telponnya! Aku ingin mendengar pembicaraan para pengusaha. Jadi, aktifkan loudspeakernya." Diandra kini menepuk ranjang karena ingin memberikan sebuah kode agar pria dengan bertelanjang dada tersebut duduk di atas ranjang sebelahnya.


Tentu saja saat ini Austin benar-benar sangat terkejut dan menelan saliva dengan kasar karena kode dari Diandra seolah berhasil mengulitinya hidup-hidup.


Merasa ragu sekaligus bingung, saat ini ia menatap wanita yang seolah mengarahkan tatapan penuh kecurigaan. Apalagi mendengar suara dari Diandra yang seolah mengungkapkan sebuah kecurigaan.


"Kenapa tidak segera diangkat, Sayang? Apa jangan-jangan itu adalah dokter Maria Belinda?" Diandra yang awalnya merasa sangat penasaran, kini berganti kecurigaan dan refleks langsung mengarahkan tangan untuk meminta benda pipih tersebut.


"Berikan padaku!" Diandra bahkan merasa sangat yakin jika ada yang tengah disembunyikan oleh sang suami. Apalagi wajah pria yang sama sekali tidak membuka suara tersebut seolah tidak berkutik atas tuduhannya.


Hal yang paling tidak ia sukai adalah perasaan khawatir kehilangan suami sebaik Austin Matteo karena merasa sangat beruntung memiliki pasangan yang mau menerima semua kekurangannya tanpa mengeluh.


"Kenapa? Apa benar yang kutuduhkan padamu? Hingga kamu hanya diam berdiri di situ tanpa berbicara?" ujar Diandra saat berpikir jika suami tengah mencari alasan untuk pembenaran diri.


Sementara itu di sisi lain, Austin yang merutuki kebodohannya sendiri karena tidak memakai mode getar pada ponselnya karena khawatir tidak mendengar jika mendapatkan telpon dari rekan bisnis.


'Sial! Bagaimana ini? Jika sampai istriku mendengar kabar dari detektif yang mengatakan mengenai kabar Yoshi, pasti akan banyak bertanya dan apa yang harus kukatakan?' gumam Austin yang kini merasa lega karena panggilan telpon sudah mati.


Mencoba untuk membohongi Diandra, berharap sang istri percaya. "Sayang, aku hari ini ingin fokus menikmati bulan madu kita. Jadi, tadi ingin menonaktifkan ponsel, tapi melihat rekan bisnis yang menghubungi dan pasti ada hal penting yang ingin disampaikan, jadi berniat untuk mengangkat panggilan."


"Sayang, ini bukan doktermu, tapi salah satu klien. Aku tidak ingin kamu bosan mendengar pembicaraan mengenai bisnis karena ini hanya memusingkan." Austin masih memegang ponsel miliknya dan berharap bisa segera keluar dari kamar untuk kembali menghubungi detektif.


'Kenapa saat aku menunggu kabar dari detektif, malah tidak dihubungi. Namun, saat aku hendak melakukan hal penting dengan istriku, malah mendapatkan sebuah gangguan?'


Austin yang baru saja mendengar suara Diandra, kini merasa tidak ada pilihan lain, sehingga terpaksa menuruti perintah dan pasrah atas apapun yang akan terjadi.


"Aku tidak percaya sebelum mendengarnya sendiri." Masih menampilkan wajah masam, Diandra saat ini sama sekali tidak menurunkan tangan yang dari tadi menggantung di udara.


"Cepat sini ponselnya!" ucap Diandra saat ingin segera kembali menghubungi orang yang baru saja menelpon sang suami. "Sebelum aku mendengar sendiri, tidak akan berhenti menuduhmu."


Karena tidak ada pilihan, Austin akhirnya bergerak mendekat dan mau tidak mau memberikan ponselnya. Nasib baik ia menyimpan nomor detektif dengan nama saja.


"Baiklah, periksa saja dan lakukan apapun sesukamu." Austin kini mendaratkan tubuhnya di sebelah wanita yang sudah mulai beraksi membuka ponselnya.


Meskipun tadi harus memberitahu sandi ponselnya adalah tanggal pernikahan, sehingga melihat sang istri tersenyum simpul.

__ADS_1


"Jangan terlalu berlebihan dengan mencurigai suamimu yang sempurna ini, Sayang."


Diandra hanya mengerucutkan bibir karena merasa sikap suami terlalu lebay, segera ingin menghapuskan rasa ingin tahu dengan cara menekan tombol panggil pada kontak yang tadi ada di daftar panggilan paling atas.


Kemudian mengaktifkan loudspeaker agar bisa mendengar suara dari seberang telpon apakah perempuan atau wanita. Hingga ia merasa sangat lega karena kecemburuannya terlalu berlebihan.


Bahwa yang dikatakan suami benar, jika seorang pria merupakan rekan bisnis menelpon. Namun, ia mengerutkan kening begitu merasakan perkataan pria di seberang telpon.


"Halo, Tuan Austin. Saya membawa kabar mengenai tuan Yoshi."


Austin hanya diam tak berkutik ketika ponselnya masih dipegang istri. Apalagi wanita yang ada di hadapannya tersebut tengah mengarahkan ponsel tepat di dekat bibirnya.


Tentu saja agar bisa berbicara dan didengar jelas oleh sang detektif. 'Astaga, bagaimana ini? Bahkan detektif sudah menyebutkan tentang Yoshi,' gumam Austin yang saat ini langsung menghentikan perkataan sang detektif.


"Benarkah? Apakah tuan Yoshi bersedia menurunkan standar dari tender yang dimenangkan oleh perusahaan Matteo? Aku dari tadi sudah menunggu kabar baik darimu."


Austin berbicara dengan berakting sangat meyakinkan dan berpikir harus bisa meyakinkan istri. "Bahkan istriku pun sama. Ingin mengetahui apakah suaminya bekerja dengan baik dan tidak berhubungan dengan staf wanita di perusahaan."


Setelah berusaha untuk menormalkan perasaan dan bersandiwara, Austin benar-benar berharap jika sang detektif mengerti kodenya dan tidak menceritakan mengenai perkembangan Yoshi.


Di sisi berbeda, pria di balik telpon yang tidak lain adalah detektif, sering mengetahui bagaimana cara orang kala memberikan sebuah kode, sehingga mengikuti serta mengimbangi.


"Anda benar, Tuan Austin. Hari ini saya menelpon untuk mengabarkan bahwa tuan Yoshi menyetujui permintaan Anda. Jadi, saya mewakili karena saat ini tuan Yoshi berangkat ke New York untuk perjalanan bisnis dan menyerahkan tanggungjawab pada saya."


Raut wajah berbinar kini terlihat sangat jelas dari wajah Austin dan antusias ketika menanggapi. "Syukurlah. Sampaikan pada tuan Yoshi bahwa semuanya akan sesuai dengan target waktu yang telah ditentukan."


"Baik, Tuan Austin. Kalau begitu, saya akan menyampaikan pada tuan Yoshi. Terima kasih dan selamat beraktivitas kembali."


Panggilan telpon pun terputus dan Austin melihat jika saat ini sosok wanita yang ada di hadapannya seperti sangat menyesal dengan wajah murung.


"Maafkan aku, Sayang." Diandra kini kembali merasa bersalah karena terlalu mencurigai pria yang bahkan merupakan Dewa berhati malaikat.


Merasa sangat berdosa pada suami, kali ini Diandra mengembalikan ponsel yang dari tadi berada dalam genggaman. "Sayang, maafkan aku karena selalu saja curiga padamu."


"Aku janji, mulai sekarang tidak akan pernah curiga padamu lagi dan percaya sepenuhnya. Juga tentang dokter Maria Belinda, aku tidak jadi ingin menggantinya karena tidak ingin dokter laki-laki."


Meskipun merasa sangat bersalah pada wanita dengan raut wajah penuh penyesalan tersebut, tidak dipungkiri embusan napas lega mewakili perasaan Austin yang baru saja menerima kembali ponselnya.

__ADS_1


Akhirnya ia langsung menonaktifkan benda pipih yang dianggap merupakan nyawa kedua tersebut. Tentunya ia tidak ingin momen honeymoon terganggu dan akan menghubungi detektif setelah semuanya selesai.


Kemudian menaruh di atas meja dan kini menatap ke arah sosok wanita yang terlihat muram karena rasa penyesalan. Ia mengusap lembut pipi putih itu dan mendekatkan wajahnya untuk kembali berbisik di dekat daun telinga Diandra.


"Aku sangat suka melihatmu cemburu seperti ini karena itu adalah tanda bahwa kamu sangat mencintaiku. Hanya saja, merasa sedih jika masih meragukan cintaku." Austin tidak ingin suasana keintiman yang baru saja tercipta berubah dengan ketegangan.


Jadi, begitu menutup mulut untuk berbicara, seketika melanjutkan kembali kegiatan liar penuh gairah dengan menggigit daun telinga Diandra.


Ia bahkan tanpa ampun menelusuri di sana dan membiarkan istri bergerak dengan menggeliat dan mendesah. Hingga dengan gerakan cepat, langsung melemparkan selimut tebal yang tadi digunakan untuk melindungi diri sang istri.


"Kamu lebih memesona seperti ini," lirih Austin yang kembali menelusuri setiap sudut kulit tubuh sang istri mulai dari atas hingga bawah.


Mulai dari telinga, leher, dada, perut, paha dan terakhir pusat dunianya karena akan menjadi suami seutuhnya dan memiliki wanita yang selama ini dipuja.


"Sayang ...."


Diandra merintih dan mengangkat pinggang ketika kembali merasakan kenikmatan yang dikirimkan oleh pria di bawahnya. Hingga ia kini merasa kecewa saat suami menghentikan dan turun dari ranjang.


"Apa kamu sudah siap, Sayang?" tanya Austin yang saat ini sudah bergerak untuk menurunkan celana panjang hitam dan juga pelindung terakhir.


Bahkan ia merasa bangga dan percaya diri ketika sang istri tidak ingin mengalihkan pandangan saat melakukan itu. "Apa kamu mau memegangnya, Sayang?"


Sebenarnya Austin sudah tidak tahan menunda lebih lama karena ingin segera memiliki sang istri seutuhnya dan tidak akan mengkhawatirkan mengenai apa yang akan dilakukan oleh Yoshi.


Hingga ia pun kembali tersenyum puas ketika wanita yang hanya bisa telentang itu menganggukkan kepala dan mengarahkan tangan.


Tidak membuang waktu, kini Austin berjalan mendekat dan membiarkan Diandra melakukan apapun pada senjatanya yang terasa sesak dari tadi.


Diandra awalnya merasa sangat terkejut karena pertama kali melihat urat panjang yang menegang itu, tapi mencoba untuk membiasakan diri karena semua pasangan suami istri merasakan hal sama.


Bahwa tujuan pria dan wanita menikah adalah ingin menyatu tanpa ada jarak dan mereguk kebahagiaan untuk mencapai puncak kenikmatan.


Hingga ia membulatkan matanya ketika sedang sibuk memegang dan mengusap, malah mendengar sebuah perintah dan membuatnya menelan saliva dengan kasar.


"Anggap ini es krim dan nikmatilah, Sayang." Austin merasa sangat bergairah kala tangan dengan jemari lentik itu mengusap di sana dan ingin sesuatu yang lebih, sehingga langsung mengungkapkan pada istri.


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2