Konspirasi Cinta

Konspirasi Cinta
Sekretaris pribadi


__ADS_3

Merasa tidak tega melihat wajah cantik wanita yang sangat dicintai berlinang air mata, kini Austin mengunakan ibu jari untuk mencoba menyingkirkan bulir bening yang menganak sungai tersebut.


Itu karena tidak bisa memakai sapu tangan yang tadi sudah digunakan untuk membersihkan cincin dari es krim cake.


"Apa kamu tidak menyadari jika adalah seorang wanita istimewa? Apalagi bagiku, kamu sangatlah penting dan berarti bagiku," ujar Austin yang saat ini tengah sibuk menghibur perasaan haru Diandra yang seolah menganggap jika sama sekali tidak pantas menjadi istrinya.


Padahal yang dipikirkan saat ini, justru merasa sangat berdosa karena membohongi Diandra demi bisa menjadikan wanita bernasib malang itu miliknya


'Seandainya nanti ingatanmu kembali, aku khawatir jika tatapan penuh kelembutan ini akan berubah penuh kebencian,' gumam Austin yang kini melihat Diandra memegang tangannya.


Diandra tidak kuasa menahan perasaan membuncah karena merasa sangat terharu sekaligus bahagia atas semua hal yang ditunjukkan oleh Austin hari ini, sehingga kini memegang tangan dengan buku-buku kuat tersebut.


"Aku hanyalah seorang wanita cacat dari keluarga miskin. Bahkan sama sekali tidak ada yang istimewa dariku, tapi kenapa kamu bisa seperti ini? Ada banyak wanita cantik yang tidak cacat, tapi kenapa kamu memilihku?"


Austin kini membalikkan posisi dengan mengusap punggung tangan Diandra sebagai bentuk cara untuk menghilangkan keraguan wanita di hadapannya.


"Aku tidak tahu alasannya, tapi satu hal yang pasti adalah cintaku tidak butuh sebuah alasan untuk menjelaskan padamu. Cintaku tidak memandang kekuranganmu karena di mataku, itu sama sekali tidak ada."


Kemudian ia mengulurkan jemari untuk kedua kali. Berharap Diandra segera menyematkan cincin di sana. "Aku menerima lamaranmu. Jadi, pakaikan cincin itu!"


Masih dengan perasaan membuncah penuh rasa haru, Diandra bersitatap dengan iris berkilat itu. Bahkan suara masih serak karena efek menangis beberapa saat lalu.


"Aku bahkan belum melamarmu, bagaimana bisa kamu menerimaku?"


"Lalu, apa sekarang kamu akan melamarku? Kalau begitu, lakukan saja," seru Austin yang kini terkekeh geli melihat ekspresi wajah sangat menggemaskan dari sosok wanita dengan bola mata memerah tersebut.


Merasa sangat malu dan tidak tahu cara melamar seorang pria, akhirnya Diandra menggelengkan kepala. Kemudian memilih cari aman dengan cara langsung menyematkan cincin yang kemarin dipesan dari sang ayah.


"Mood aku seketika berubah karena ulahmu yang menggagalkan rencanaku. Lebih baik langsung saja."


Kemudian Diandra langsung menyematkan cincin itu di jari manis Austin. "Aku tidak tahu apakah ukurannya pas atau longgar."


Saat Diandra mengerutkan kening, sedangkan di sisi lain, sosok Austin yang saat ini tengah menahan diri sekuat tenaga agar tidak ketahuan karena mengetahui bahwa cincin itu sangat pas di jarinya.


Itu karena kemarin sudah mencoba sebelum membayar bersama calon ayah mertua. 'Jika kamu tahu akulah yang membelikan ini, mungkin akan kesal pada ayahmu sekaligus murka padaku. Jadi, lebih baik aku diam,' gumamnya yang kini berakting sangat terkejut.

__ADS_1


"Wah ... luar biasa. Jadi, ini yang dinamakan jodoh karena cincin darimu sangat pas di jariku." Ia berpura-pura menatap intens cincin di jarinya.


Sementara itu, Diandra juga merasakan hal sama dan melakukan serupa. "Kamu pun membelikanku cincin berlian sangat pas di jariku. Apa benar jika kita adalah jodoh?"


Austin memicingkan mata karena merasa sangat aneh dengan tanggapan dari sosok wanita yang ada di hadapannya tersebut. "Apa kamu masih meragukan cintaku setelah perjuanganku untuk mendapatkanmu?"


Refleks Diandra menguraikan kesalahpahaman dengan menggelengkan kepala. "Bukan begitu. Aku masih takut sekaligus belum bisa percaya diri setelah kondisiku yang seperti ini."


Kemudian menundukkan kepala untuk melihat kedua kakinya. "Jika kakiku tidak cacat, responku tidak akan seperti ini. Aku benar-benar tidak bisa percaya diri bersanding dengan pria yang bahkan merupakan bos di perusahaan tempatku bekerja."


Bahkan ia tahu jika pria di hadapannya tersebut adalah seorang playboy yang memiliki banyak wanita cantik yang pastinya semakin membuatnya merasa tidak percaya diri.


"Sepertinya aku perlu membawakan cermin besar agar kamu bisa melihat jika wajah kita berdua hampir mirip. Bukankah kata orang itu jodoh memiliki wajah yang mirip?" Austin tadi mendengar suara beberapa pengunjung restoran yang mengatakan bahwa ia memiliki kemiripan dengan Diandra.


Jadi, berpedoman pada perkataan mayoritas orang yang mengatakan jika memiliki wajah hampir mirip dan itu merupakan ciri-ciri jodoh.


'Aku sangat yakin jika kita adalah jodoh karena pernikahanmu dengan Yoshi sama sekali tidak membuatmu bisa hidup bahagia seperti layaknya pasangan suami istri. Itulah kenapa kecelakaan terjadi saat kalian baru menikah dan aku melihat dengan mata kepala sendiri, hingga membuatku bisa kembali pulih ingatan.'


Meskipun ia hanya bisa berbicara sendiri di dalam hati, tapi saat ini menyunggingkan senyumnya begitu melihat sosok wanita yang ada di hadapan tengah membenarkan perkataannya.


"Sebenarnya aku juga merasa begitu," sahut Diandra singkat.


"Pasti akan ada banyak wanita yang iri sekaligus menghujatku tidak pantas untuk seorang pria sepertimu," sahut Diandra sebagai pembenaran diri.


"Apa kamu hidup untuk memuaskan pendapat orang lain?" Tidak ingin semakin membahas hal yang dianggap menghina cinta tulusnya, Austin memilih untuk mengalihkan pembicaraan.


"Buktikan pada semua orang yang merendahkanmu, bahwa kamu bisa dan pantas untuk menjadi istriku. Dengan cara rajin ikut terapi dan harus bekerja keras karena aku tahu jika semua hal butuh proses."


Mengingat jika salah satu tujuan Diandra adalah ingin membahas hal tersebut, kini menatap intens wajah dengan pahatan sempurna tersebut.


"Tentu saja aku akan selalu rajin mengikuti terapi agar bisa berjalan lagi karena itu adalah tujuan utamaku. Hanya saja, aku tidak ingin ke luar negeri karena kasihan nanti Aksa jika kamu menemaniku menjalani terapi. Aku tidak ingin menjadi penyebab seorang anak kehilangan kasih sayang ayah selama beberapa waktu."


Diandra menghentikan perkataan karena ingin mengetahui respon dari Austin. Meskipun ada banyak hal yang belum disampaikan olehnya.


Awalnya, Austin terdiam selama beberapa saat karena hanya ingin menjeda ucapannya agar tidak dicurigai oleh Diandra. Apalagi semua yang dikatakan oleh wanita itu sama persis dengan perkataan calon ayah mertua.

__ADS_1


"Sebenarnya akan lebih baik jika berobat di luar negeri, tapi jika itu memang keinginanmu, aku tidak mungkin memaksa. Lagipula semua perkataanmu memang benar. Terima kasih karena sudah menyayangi putraku. Itulah kenapa aku yakin jika kamulah yang pantas menjadi istri sekaligus ibu dari putraku."


Kemudian ia menggenggam erat telapak tangan dengan jemari lentik milik Diandra. "Jadi, jangan selalu mengatakan tidak percaya diri karena bagiku, kamu adalah satu-satunya wanita yang bisa mencintaiku saat sudah mempunyai anak."


Diandra kini mengangguk perlahan dan tersenyum simpul karena sangat bahagia. "Baiklah. Mulai sekarang, aku akan kembali memupuk rasa percaya diri yang sempat hilang dari hidupku."


"Ada satu hal lagi."


"Apa?"


"Aku ingin kembali bekerja di perusahaan mulai besok karena sangat bosan dan sekarang sudah lebih baik, jadi ingin mengisi waktu saat tidak ada terapi. Kali ini, aku memanfaatkanmu untuk membungkam mulut semua orang agar tidak komplain saat aku hanya bekerja ketika tidak ada terapi."


Tanpa berpikir, refleks Austin mengangkat ibu jari sebagai tanda persetujuan karena setelah sang ayah mertua menceritakan keinginan Diandra, langsung memberikan sebuah ultimatum di perusahaan.


Mengenai perihal Diandra yang hilang ingatan, jadi semua staf perusahaan dilarang berbicara apapun mengenai pernikahan wanita itu dengan Yoshi.


Bahkan mengumumkan secara resmi agar tidak sampai bertanya pada Diandra yang sama sekali tidak tahu apapun karena amnesia.


"Kamu boleh melakukan apapun sesuka hati, asal bahagia. Bahkan apapun akan kulakukan hanya demi Kamu senang. Jadi, bisa bekerja di perusahaan kapan pun."


Sebenarnya ingin sekali Diandra mengungkapkan rasa bahagia dengan memeluk Austin, tapi karena kondisinya yang terbatas, sehingga tidak bisa melakukan itu.


"Kalau begitu, besok aku ingin mulai kembali bekerja."


"Tentu saja, tapi dengan satu syarat." Austin ingin Diandra kembali patuh padanya karena ada sesuatu yang ingin dipastikan.


"Syarat? Memangnya apa syaratnya?" Diandra benar-benar selalu dikuasai rasa penasaran karena Austin tidak langsung mengungkapkan.


"Aku ingin kamu selalu berada di dekatku ketika bekerja karena tidak bisa membiarkanmu terlalu lelah setelah kondisimu yang tidak sama dengan orang lain. Jadi, akan mengangkatmu sebagai sekretaris pribadiku. Bagaimana?" tanya Austin dengan wajah yang terlihat sangat serius.


Sementara itu, Diandra yang sama sekali tidak pernah menyangka jika Austin akan menggunakan kekuasaan hanya karena ia ingin kembali bekerja, merasa bingung.


Namun, karena merasa jika Austin sudah terlalu banyak menolongnya, sehingga kini berbicara dengan pertama kali menganggukkan kepala.


"Baiklah, aku bersedia menjadi sekretaris pribadimu karena itu sangat menguntungkan bagiku. Bukankah tidak ada ruginya menjadi sekretaris pribadi calon suami sendiri? Aku bisa menjagamu dari para wanita penggoda juga."

__ADS_1


Saat ini, Austin hanya tertawa menanggapi perkataan Diandra yang dianggap tengah mengungkapkan kecemburuan. "Lakukan apapun yang kamu mau, Sayang."


To be continued...


__ADS_2