
Sosok wanita apa yang saat ini tengah menunggu proses operasi putranya, membaca sebuah pesan dari orang suruhannya sekaligus saudara laki-laki satu-satunya yang dimiliki.
Ia awalnya merasa sangat marah sekaligus kesal ketika mengetahui jika orang yang dipekerjakannya ketahuan oleh Austin Matteo dan berhasil kabur ketika diikuti. Namun, berubah senang kala membaca pesan dari adiknya.
Kak, aku akan membalaskan dendammu dengan cara yang sangat elegan, yaitu memisahkan Diandra dengan Austin Matteo. Meskipun tidak membunuhnya seperti yang kakak inginkan, tapi kupastikan jika mereka berdua akan hancur.
Asmita Cempaka yang saat ini merasa senang begitu mengetahui jika saudara laki-lakinya memiliki sebuah rencana besar. Meskipun tidak ia ketahui apa yang akan dilakukan untuk menghancurkan pasangan suami istri yang membuatnya marah itu, tetap saja merasa senang karena akhirnya saudaranya berubah pikiran.
Awalnya ia berpikir jika saudaranya sudah tidak menganggap dirinya, tapi ternyata memiliki sebuah rencana besar. Namun, ia sama sekali tidak berniat untuk membalas agar adiknya tersebut berpikir jika ia masih marah.
"Biar dia menganggapku masih kesal padanya agar mau menjelaskan rencananya. Pria yang kusuruh untuk membuntuti Diandra malah membuat masalah karena Austin Matteo menyadari ketika diikuti." Ia yang saat ini memilih untuk memasukkan ponsel ke dalam saku bajunya, berusaha menebak apa yang akan dilakukan oleh saudaranya tersebut.
Namun, meskipun sudah memutar otak untuk mencari tahu, tetap saja tidak menemukannya. "Biar dia mengatakan sendiri saja," ucapnya dengan bersandar pada kursi yang berada di sebelah dinding.
Ia kembali menatap ke arah pintu ruangan operasi. "Sayang, kamu harus sembuh karena Mama dan pamanmu akan membalaskan dendam pada mereka yang berbahagia di atas penderitaanmu. Kamu harus melihat sendiri kehancuran mereka, jadi sadarlah, Sayang!"
Asmita Cempaka kini melihat jam tangan yang menunjukkan waktu semakin bergulir. Detik berganti menit dan jam yang menunjukkan waktu berlalu. Namun, ia merasa waktu lambat bergulir dan tidak sabar ingin mengetahui bagaimana hasil operasi putranya.
Ia mengambil keputusan terberat sepanjang sejarah hidupnya dengan harapan putranya akan kembali sehat seperti dulu lagi. "Lindungi putraku dan berikan keajaibanmu, Tuhan."
Saat merapal doa penuh ketulusan, kini ia fokus menunggu proses operasi. Sampai pada akhirnya ia memijat pelipis kala merasakan nyeri di sana. Usia yang makin menua membuatnya tidak sesehat dulu.
Apalagi setelah putranya dirawat sangat lama di Rumah Sakit, membuatnya tidak bisa melakukan ritual rutin pergi fitnes bersama teman-temannya seperti dulu.
"Mama tidak pernah menyesal menghabiskan waktu menjagamu, Sayang. Jadi, berjuanglah untuk bangun dan kembali hidup normal serta bahagia bersama Mama." Saat ia baru menutup mulut, melihat pintu ruangan operasi terbuka.
Refleks ia bangkit berdiri dan berjalan mendekati pria yang masih mengenakan seragam operasi. "Bagaimana proses operasi putra saya, Dokter?"
__ADS_1
Sang dokter dengan iris kebiruan itu pun kini mulai menjelaskan semua proses operasi putra wanita di hadapannya. "Kami bekerja sama untuk mencari sumber syaraf yang menjadi penyebab utama putra Anda tidak berdaya. Hingga usaha kami berhasil dan operasi berjalan lancar.
"Namun, kami masih memantau perkembangan kinerja otak yang sudah cukup lama tidak aktif. Semuanya akan terlihat jelas dalam beberapa jam kemudian ketika efek obat bius hilang." Sang dokter pun mulai beranjak pergi meninggalkan wanita paruh baya tersebut.
"Terima kasih atas semua kerja kerasnya, Dokter!" Asmita Cempaka kini sedikit menaikkan nada suaranya agar didengar oleh pria yang sudah berjalan semakin menjauh darinya.
Ia kini bisa bernapas lega karena akhirnya mendapatkan sebuah harapan baru setelah lama putus asa dan dipenuhi oleh kekhawatiran serta ketakutan.
Sampai pada akhirnya ia melihat sosok putranya yang didorong oleh para perawat cekatan keluar dari ruangan operasi kembali ke ruangan perawatan.
"Putraku," lirihnya yang kini berjalan cepat membuntuti para perawat.
Selama melihat putranya, ia tidak bisa menghentikan bulir air mata yang menghiasi wajah karena lolos tanpa seizinnya. Sampai di ruangan, menunggu hingga pekerjaan para aparat medis selesai.
Saat berniat untuk bertanya, tidak jadi melakukannya begitu tiba-tiba suara ponselnya yang berdering. Refleks ia langsung keluar dari ruangan perawatan tersebut untuk mengangkat telpon yang ternyata dari adiknya.
Ia bahkan saat ini juga ingin mendengar bagaimana hasil dari operasi kedua keponakannya dan berharap semuanya lancar dan ada kabar baik.
"Kau masih ingat punya saudara, hah!" sarkas Asmita Cempaka kala ingin mengerjai saudaranya.
Ia selama ini memang selalu kesal pada adiknya tersebut, tapi hanya dengan mengetahui bahwa memiliki rencana untuk menghancurkan kebahagiaan Diandra dan Austin Matteo, merasa jika bencinya seketika hilang.
"Kak, jangan seperti itu karena aku tidak pernah sekalipun melupakanmu. Aku hanya ingin melindungi kakak dan Yoshi. Selama ini aku berusaha untuk mencari ide cemerlang yang bisa menghancurkanku Austin dan Diandra tanpa melibatkan kepolisian," seru Adi Putra yang tengah berusaha untuk membuat sang kakak paham.
"Itu jauh lebih baik daripada membunuh dan malah kita mendapatkan sebuah hukuman," ucapnya sesuai logika.
Berbeda dengan yang saat ini tengah dirasakan oleh Asmita Cempaka saat masih berakting kesal. "Sekarang katakan apa rencanamu untuk membalaskan dendam keponakanmu?"
__ADS_1
Setelah tadi ia pergi ke perusahaan Austin Matteo, ada banyak hal yang tiba-tiba terlintas begitu saja. Jadi, menyampaikannya untuk mencari tahu tanggapan saudaranya.
"Aku berencana untuk membuat shock terapi agar dia mengingat beberapa potongan tentang kenangan saat membenci Austin dan lebih memilih Yoshi. Aku sudah tahu seperti apa cinta mereka karena langsung diceritakan sendiri oleh Yoshi dulu." Adi Putra yang baru saja tiba di perusahaan dengan banyak staf membungkuk hormat serta menyapanya.
Ia terkenal murah senyum dan membuat siapapun menghormatinya, baik tua maupun muda.
"Tujuan kita adalah ingin Diandra segera menyadari jika Austin selama ini menciptakan konspirasi besar demi mendapatkan cintanya. Pasti Diandra akan pergi meninggalkan Austin begitu mengetahui jika dulu sangat membenci mantan bosnya." Meminta pendapat tentang rencananya.
Merasa jika rencana adiknya sangat sempurna, Asmita Cempaka saat ini masih menunggu hingga putranya bisa melihat semuanya dan berhasil membalas dendam.
"Aku akan menunggu kabar baik itu. Lebih baik persiapkan dengan baik agar bajingan itu mendapatkan balasan setimpal atas perbuatannya pada Yoshi yang mengatakan hal sebenarnya dulu hingga berakhir drop dan makin memburuk." Ia saat ini mengepal erat telapak tangan karena marah mengingat kejadian di masa lalu.
Bahkan wajahnya berubah memerah kala dikuasai oleh kemurkaan. Ingin sekali ia bilang agar adiknya hari ini mulai bergerak, tapi tidak mengatakannya.
"Aku akan mulai bergerak malam ini, Kak. Memberikan shock terapi dengan kejadian-kejadian kecelakaan sampai mobil terbalik, siapa tahu bisa memunculkan kilasan balik saat kecelakaan dengan Yoshi dulu. Kakak sekarang jangan pikirkan tentang masalah balas dendam lagi, oke!"
Adi Putra yang kini sudah berhasil mendapatkan nomor Diandra, mulai akan bergerak nanti malam ketika jam-jam istirahat. Ia sangat yakin jika bisa mengingat kembali kepingan yang hilang milik wanita itu.
"Baiklah. Aku percaya padamu dan tidak akan lagi memikirkan mereka karena menyerahkan padamu," ucap Asmita Cempaka yang saat ini berbohong pada adiknya.
Ia tetap saja ingin menyingkirkan Diandra dari dunia ini tepat di hari ulang tahunnya satu minggu lagi. 'Tak segampang itu ku melupakan semua penderitaan yang kuhadapi selama di sini. Hanya kematian yang pantas untuk Diandra. Saat itu terjadi, Austin Matteo akan hancur lebur tak tersisa!'
Ia kini mematikan sambungan telpon setelah saudaranya berpamitan untuk kembali bekerja. Hingga tiba-tiba ia mengetahui ada sesuatu hal paling mendasar yang perlu digarisbawahi.
Bahwa Diandra yang sebentar lagi akan dikirimkan ke neraka masih memiliki keturunan dan berniat untuk menculiknya, lalu mengirim ke tempat sangat jauh. Bahkan sudut bibirnya melengkung ke atas saat membayangkan wajah hancur seorang Austin Matteo.
"Kita lihat saja, siapa di antara kita yang menang. Seorang ibu atau seorang suami?" Kembali ke ruangan perawatan untuk bertanya-tanya mengenai kondisi putranya setelah dioperasi.
__ADS_1
To be continued...