
Diandra hanya diam tanpa membuka suara karena setelah beberapa kali melihat sikap seorang Yoshi, kini merasa sangat yakin jika pria yang sudah berjalan keluar dari lobi itu adalah pria yang baik.
Diandra kini berjalan mengekor pria yang menenteng paper bag di tangan kanan saat menuju taman dengan pikiran membuncah. Ia kini merasa bersalah karena menyamakan pria sebaik Yoshi dengan Austin karena selalu curiga dan khawatir.
'Yoshi adalah seorang pria yang baik. Aku tidak boleh membuatnya merasa tidak enak atas sikapku yang selalu berpikir negatif pada semua pria, tak terkecuali dia.'
Memang Diandra kini sibuk menyalahkan diri sendiri atas sikapnya yang jutek dan datar selama ini pada pria sebaik Yoshi. Apalagi sudah berkali-kali membuktikan padanya, tapi masih ia ragukan.
Hingga ia yang kini ingin tahu lebih jauh tentang pria dengan bahu lebar itu sudah mendaratkan tubuhnya begitu menemukan kursi kosong dan meletakkan makanan di atas meja bundar terbuat dari marmer.
Yoshi kini membuka paper bag dan mengambil makanan yang tak lain adalah hamburger dan Kentucky. Kemudian menyerahkan satu Hamburger pada wanita yang sudah duduk di hadapannya.
"Kebetulan aku tadi beli dua. Makanlah karena aku tidak ingin makan sendiri." Yoshi masih menunggu Diandra menerima pemberiannya dan merasa bersalah begitu melihat wanita itu menerimanya.
"Sebenarnya aku sudah makan spaghetti tadi, tapi aku tidak ingin mengecewakan orang baik sepertimu. Lagipula perutku masih muat untuk makan junk food ini." Diandra dari dulu sangat suka makanan junk food, tapi jarang membeli hamburger sekelas McDonald's.
Ia selama ini membeli burger di pinggir jalan yang harganya jauh lebih murah karena terjangkau untuk dompetnya. Jadi, begitu melihat merk ternama dari makanan di tangannya, seketika langsung membukanya dan menggigit roti dengan isian daging serta sayur tersebut.
Sementara itu, Yoshi yang sebenarnya merasa tidak enak, kini hanya diam saja melihat setiap pergerakan wanita yang sudah mengunyah makanannya tersebut.
"Kenapa hanya diam? Bukankah kamu yang memintaku untuk menemani makan? Lalu kenapa malah menontonku makan?" Diandra bahkan berbicara dengan mulut penuh makanan dan sama sekali tidak gengsi atau malu memperlihatkan cara makannya.
Jika biasanya para wanita akan terlihat jaim atau bersikap elegan kala makan di depan pria, berbeda dengan dirinya sekarang karena bersikap biasa tanpa ada yang ditutupi. Hingga saat ia menelan makanannya, merasa kesusahan.
Melihat Diandra yang memegangi tenggorokan, kini Yoshi langsung membuka botol air mineral dan memberikan pada wanita yang saat ini terlihat kesusahan menelan.
"Cepat minum ini!"
__ADS_1
Tanpa membuang waktu, Diandra langsung menerima air mineral itu dan langsung meneguknya hingga tenggorokan terasa lega.
"Terima kasih."
Diandra kini menaruh botol air mineral ke atas meja. "Semua ini gara-gara kamu melihatku makan tadi." Kemudian memasang wajah masamnya.
"Maaf." Yoshi kini tidak ingin membuat Diandra kesal dan langsung membuka Hamburger miliknya.
Kemudian menikmatinya sambil mengalihkan perhatian dari wanita yang menurutnya semakin cantik ketika sedang kesal.
'Diandra sangat cantik dan berhasil membuat jantungku berdegup kencang seperti ini. Konyol sekali jika dipikirkan aku jatuh cinta padanya, padahal kami baru beberapa hari bertemu. Apalagi aku belum tahu seperti apa Diandra.'
'Tapi rasanya sangat nyaman saat bersama wanita ini,' gumam Yoshi yang saat ini tengah mengunyah makanan sambil melihat beberapa orang yang berlalu lalang di taman.
Hingga ia seketika menoleh pada Diandra saat wanita itu mengungkapkan nada protes padanya.
Tadinya ia pikir perutnya akan muat menghabiskan Hamburger itu, tapi karena ukurannya cukup besar dan berbeda dengan yang dibelinya di pinggir jalan, sehingga tidak kuat untuk melanjutkan.
Ia merasa sangat bersalah dan ingin mengakhiri semua ketidaknyamanan yang disebabkan karenanya. Jadi, ingin interaksinya dengan Yoshi lebih baik dan normal.
'Aku ingin mengakhiri keterpurukanku dengan mengorbankan pria sebaik Yoshi. Ia adalah seorang pria baik yang tidak pantas mendapatkan sikap kasarku karena hanya si berengsek itulah yang salah.'
Yoshi tidak langsung menjawab karena lebih memilih untuk menikmati makanan yang sudah melumer di mulutnya. Meskipun sebenarnya merasa sangat senang karena Diandra kini sudah lebih banyak berbicara dari sebelumnya.
Hanya keheningan yang melanda keduanya karena saat ini Yoshi memilih untuk menghabiskan Hamburger di tangan.
Sementara Diandra memilih untuk menunggu dalam diam sambil menatap intens wajah dengan rahang tegas di hadapannya tersebut. Ia khawatir jika Yoshi marah padanya, sehingga hanya diam tanpa berkomentar.
__ADS_1
'Apa Yoshi kesal padaku?' gumam Diandra yang kini memicingkan mata ketika kembali mendengar suara bariton pria yang saat ini menunjukkan ponsel padanya.
"Ada lowongan di perusahaanku dan ini adalah sebuah bukti bahwa aku tidak berbohong. Bukankah kamu membutuhkan pekerjaan? Kamu bisa mencobanya dulu. Siapa tahu diterima karena belum ada yang cocok menempatinya."
Yoshi kini membiarkan Diandra membaca lowongan kerja yang dijelaskan kriterianya. Ia menyuruh asisten pribadinya untuk membuatkan lowongan dengan satu syarat penting, yaitu sesuai dengan kriteria pemimpin perusahaan.
Bukan syarat muluk-muluk yang seringkali disebutkan, yaitu pengalaman adalah syarat paling utama, tapi kali ini ia hanya ingin sekretaris pribadi yang mengerti dirinya dan membuatnya nyaman.
Hingga tanggapan dari Diandra seketika membuatnya tersedak.
"Kamu ingin mencari sekretaris pribadi atau calon istri?" tanya Diandra yang kini mengungkapkan pemikirannya begitu membaca syarat yang menurutnya sangat tidak masuk akal karena ia sudah sering melamar di perusahaan yang memiliki persyaratan banyak.
Hingga ia melakukan hal sama seperti Yoshi dengan memberikan minuman mineral bekasnya tadi karena hanya ada satu. Meskipun merasa tidak enak karena itu adalah bekasnya, tapi berpikir bahwa itu jauh lebih baik daripada tidak sama sekali.
"Sepertinya kamu tadi tidak berdoa dulu sebelum makan." Diandra bahkan terkekeh geli melihat ekspresi Yoshi yang langsung meneguk minuman hingga tersisa sedikit.
Berbeda dengan Yoshi yang saat ini merasa lega setelah rasa panas di tenggorokan perlahan sirna. Kemudian ia menatap kesal wanita yang baru saja menertawakannya.
"Sepertinya kamu sengaja ingin membuatku tersedak, ya?"
"Aku hanya berbicara jujur begitu melihat syarat dari lowongan kerja yang kamu tunjukkan." Diandra bahkan seolah betah menatap wajah rupawan pria yang diakuinya memiliki sejuta pesona yang bisa memikat para wanita itu.
Hanya saja ia heran, kenapa pria tampan seperti Yoshi belum mempunyai kekasih seperti yang dikatakan oleh sepupunya.
Yoshi kini ingin Diandra bisa memahami pemikirannya, meskipun sebenarnya tujuan utamanya adalah ingin wanita itu mau menerima kebaikannya. "Tapi syarat itulah yang menurutku paling penting karena aku membutuhkan sekretaris pribadi yang bisa membuatku nyaman."
"Bukan istri seperti yang kamu katakan. Bukankah dalam bekerja itu paling penting adalah rasa nyaman?" ucap Yoshi yang saat ini kembali mengungkapkan hal di pikirannya agar Diandra mau menerima tawarannya.
__ADS_1
'Aku ingin dekat dengan Diandra agar bisa semakin mengenalnya karena jujur saja saat ini tertarik padanya.'