
Beberapa saat lalu, Austin yang berjalan keluar dari ruangan perawatan Diandra tanpa sengaja bertemu dengan sosok wanita yang tak lain adalah ibu Yoshi.
Hal nggak sempat terlewatkan olehnya, yaitu melupakan jika saat ini Diandra masih dirawat di rumah sakit yang sama dengan suami yang sebentar lagi akan menceraikan karena perbuatan ibu mertua.
Begitu melihat wanita paruh baya tersebut berjalan keluar dari lift, ia berniat untuk tidak memperdulikan, tapi karena mendengar suara yang seolah mengejek dan menghina, sehingga tidak jadi melangkah masuk ke dalam lift.
"Hei, anak muda! Kamu akan menyesal karena memihak Diandra dan keluarganya. Wanita itu hanya pembawa sial dan kamu akan menyadari saat mengalami nasib buruk begitu dekat-dekat dengannya." sarkas Asmita Cempaka yang baru saja kembali dari kantin.
Tidak ingin melihat wanita yang menjadi penyebab utama kecelakaan putranya bahagia bersama pria lain, membuatnya ingin mempengaruhi pria tersebut. Berharap pria tersebut berpikir bahwa Diandra adalah wanita yang tidak pantas untuk dicintai.
Namun, ia semakin merasa kesal begitu mendengar tanggapan dari pria yang bisa dibilang memiliki aura dingin itu.
Austin benar-benar ingin membuat wanita itu menyadari kesalahan dan tidak lagi mengincar Diandra. "Jaga mulut Anda, Nyonya!"
"Daripada mulut digunakan untuk menghina orang lain, akan lebih baik berguna ketika mendoakan putra Anda dari maut. Bukan malah menyalahkan wanita yang bahkan menjadi korban kecelakaan."
"Seharusnya Anda sekarang banyak berdoa untuk Yoshi. Jika membuat Tuhan murka, satu kali saja Tuhan berkehendak, bisa merubah semua hal sesuai dengan keinginan. Jadi, sebelum hal buruk terjadi, lebih baik Anda sibuk mendoakan putra Anda agar segera melewati masa kritis."
Kemudian ia langsung masuk ke dalam lift setelah beberapa saat lalu memencet tombol. Tanpa membuang waktu, mengambil ponsel untuk menghubungi seseorang.
"Wanita itu kapan saja bisa mengganggu ketenangan Diandra. Tidak ada yang boleh mengusik Dewia dengan mengatakan yang sebenarnya bahwa memiliki seorang suami yang bahkan langsung mengajukan perceraian di hari pertama menikah.
"Diandra tidak boleh tahu mengenai masa lalunya karena itu hanya akan membuat masalah dalam hubungan kami yang bahkan baru dimulai."
Setelah menghubungi pengawal untuk segera berangkat ke rumah sakit dan menjaga ruangan yang dihuni oleh Diandra agar tidak ada yang bisa mengganggu sang kekasih, ia pun pulang ke apartemen.
"Aku tidak ingin mengambil resiko untuk keselamatan Diandra. Saat ini ia tidak boleh mendengar kabar mengenai pernikahannya bersama Yoshi dan aku harus menutup semua akses agar tidak mengetahui apapun."
Ia saat ini sudah berjalan keluar dari lobi Rumah Sakit dan menuju ke parkiran, lalu meninggalkan area tersebut menuju ke apartemen.
Bahkan sudah tidak sabar ingin segera bertemu dengan putranya yang bersama para pelayan dan kemungkinan besar sang ibu sudah berada di sana untuk melihat seperti apa keturunannya.
Setengah jam kemudian, ia sudah tiba di apartemen dan berjalan dengan cepat karena tidak sabar ingin segera melihat putranya. Bahkan ingin membiasakan diri agar putranya tersebut terbiasa memanggilnya papa.
__ADS_1
Apalagi sudah mengarang cerita pada Diandra bahwa memiliki seorang anak laki-laki dan wanita yang dicintainya tersebut tanpa ragu langsung setuju untuk menjadi ibu dari putranya.
Saat hendak memencet passcode apartemen, dering ponsel miliknya terdengar dan membuatnya langsung mengecek siapa yang menghubungi.
Begitu melihat kontak calon ayah mertua, tanpa membuang waktu langsung menggeser tombol hijau ke atas. "Iya, Ayah. Apakah ada sesuatu yang terjadi di rumah sakit?"
"Iya, terima kasih karena telah menyelamatkan putriku dari wanita kejam itu dengan menyuruh dua pengawal berjaga di depan pintu ruangan," ucap pria paruh baya yang saat ini langsung menceritakan kejadian beberapa saat lalu tanpa terkecuali.
Sementara itu, Austin yang mendengarkan semua penjelasan dari calon ayah mertua, kini bernapas lega karena tidak terlambat saat memberikan perintah pada orang-orangnya untuk berjaga di depan pintu dan tidak membiarkan siapapun mengganggu Diandra.
"Syukurlah jika ulah wanita itu bisa dihentikan karena tadi bertemu denganku di dalam lift dan mengungkapkan kebencian pada Diandra. Bahkan masih berpikir kemalangan yang menimpa adalah salah Diandra. Padahal jelas-jelas ia juga menjadi salah satu korban dengan berakhir kaki yang lumpuh dan juga amnesia disosiatif."
Bahkan tadi ia benar-benar sekuat tenaga menahan diri agar tidak mencekik wanita itu karena berkata kasar mengenai Diandra.
Tentu saja ia tidak terima dengan penghinaan itu, tapi berpikir bahwa akan semakin membuat masalah bertambah besar, sehingga memilih jalan terbaik, yaitu menjaga Diandra.
"Ayah tenang saja karena aku tidak akan tinggal diam mengenai masalah Diandra. Aku akan mengusahakan untuk menutup semua akses informasi mengenai pernikahan Diandra dengan Yoshi."
Austin mengungkapkan sesuatu yang tadi ingin disampaikan. "Kalau bisa, Diandra tidak boleh memegang ponsel ataupun menonton televisi dalam waktu dekat ini."
Austin yang baru saja hendak menanggapi, melihat pintu apartemen terbuka. Di sana, terlihat sang ibu yang menggendong Aksa dan juga ayahnya hendak keluar dan dipastikan akan pergi ke kantor.
"Baiklah, Ayah. Nanti aku hubungi lagi," ucap Austin yang saat ini ingin bertanya pada sang ayah karena tadi belum selesai membahas mengenai larangan untuk menikahi Diandra.
Kemudian mematikan sambungan telpon setelah mendengar jawaban dari seberang dan beralih menatap ke arah sang ayah.
"Papa juga di sini? Aku pikir sudah berangkat ke kantor untuk menggantikanku sementara karena sepertinya beberapa hari ini tidak bisa memimpin perusahaan. Jadi, Papa bisa menolongku sementara waktu karena aku akan fokus pada anak dan calon istri."
Ia memang sengaja terus terang agar sang ayah tidak melarangnya untuk menikahi wanita yang bahkan sudah tiga tahun ini masih sangat dicintai.
Sementara itu, Malik Matteo yang tadi ingin melihat seperti apa cucu laki-laki yang akan menjadi generasi penerusnya, merasa ada ikatan batin dan bisa langsung menyayangi.
Bahkan sebenarnya belum puas untuk bermain dengan Aksa tadi. Memang saat perjalanan menuju ke apartemen putranya, mampir ke salah satu toko dan membelikan banyak mainan.
__ADS_1
Hal itu dilakukan sebagai rayuan agar cucunya mau didekati karena memang belum pernah bertemu dan pastinya akan sangat sulit untuk mengajak cucunya ikut dengannya.
Hingga begitu melihat banyaknya mainan yang dibawa, tanpa meminta, anak laki-laki itu berlari padanya untuk melihat mainan apa saja yang dibelikan.
Bahkan saat ini Aksa masih memegang mainan di tangan dan terlihat sangat menggemaskan.
Bahkan berkali-kali ia mencium pipi putih cucunya sebelum pergi dan melihat Austin di depan pintu.
"Kamu tenang saja dan serahkan semua pada Papa." Ia kini menepuk bahu kokoh putranya. "Jika memang kamu sudah yakin menikahi Diandra meskipun saat ini dalam kondisi kaki cacat, sepertinya Papa tidak akan bisa melarangmu."
"Kamu boleh melakukan apapun sesuka hati dan kami tidak akan lagi menghalangimu mengambil keputusan," ujarnya yang kini merasa kalah jika berdebat dengan keinginan putranya.
Tentu saja kini Austin merasa sangat lega dan senang karena akhirnya tidak ada yang menghalangi niatnya untuk menikahi Diandra. Kemudian ia memeluk sang ayah dengan wajah berbinar.
"Terima kasih, Pa. Aku tidak bisa berbuat apapun tanpa kalian," seru Austin yang saat ini semakin yakin dengan niatnya menikahi Diandra.
Malik Matteo beberapa kali menepuk bahu putranya. "Semua ini karena Papa tidak ingin kamu yang baru bangkit dari keterpurukan mengalami hal itu untuk kedua kali. Tidak ada yang ingin putranya hancur."
Austin kini baru melepaskan pelukan dan ingin mengungkapkan sesuatu yang ada di pikiran saat ini. "Aku tahu jika kalian menginginkan yang terbaik untukku dan itu adalah ingin selamanya bersama Diandra dan putra kami, tapi untuk itu, aku butuh bantuan Papa"
"Bantuan apa?" tanya Malik Matteo yang kini menyipitkan mata.
"Aku ingin media dan para awak media tidak memberitakan apapun mengenai Diandra dan Yoshi. Hubungi koneksi Papa untuk menghentikan ini. Aku tidak ingin Diandra melihat berita pernikahan itu karena saat ini tidak bisa mengingat kejadian tiga tahun terakhir ini."
Ia berharap sang ayah bisa membantu dan sedikit lega dengan anggukan pria yang sangat disayangi tersebut.
"Baiklah, aku akan mengusahakannya. Cucuku sangat pintar dan tampan. Pasti kelak akan semakin memajukan perusahaan," ucap Malik Matteo yang tadi sengaja berangkat terlalu pagi agar lama di apartemen.
Austin kini beralih ke arah putranya dan langsung mengulurkan kedua tangan agar anak laki-laki menggemaskan itu ikut dengannya.
"Sini, Rafa ikut Papa," ucap Austin yang kini merasa kecewa begitu mendengar suara Aksa.
"Bukan papa." Aksa menggelengkan kepala perlahan dan beberapa saat kemudian menangis tersedu-sedu karena mencari keberadaan sang ayah dan ibu.
__ADS_1
To be continued...