
Dua minggu kemudian...
Saat ini, acara pernikahan antara Yoshi dan Diandra telah tiba dan dilaksanakan di hotel mewah bintang lima.
Acara yang sudah ditunggu-tunggu oleh para awak media itu menjadi pernikahan paling fenomenal karena terlihat sangat indah.
Apalagi pelaminan terlihat dihiasi banyaknya bunga berwarna-warni yang menghiasi dekorasi di acara resepsi pernikahan itu.
Tidak segan-segan Yoshi rela mengeluarkan banyak uang untuk membuat acara resepsi pernikahannya terlihat sempurna. Dekorasi pernikahan dipenuhi oleh bunga mawar karena berharap mampu membawa kebahagiaan bagi pasangan antar suami istri tersebut.
Tadi pagi sudah dilangsungkan prosesi ijab kabul dan dilanjutkan acara resepsi pernikahan pada malam hari.
Kini, terlihat pasangan pengantin yang duduk di singgasana itu seperti seorang Raja dan Ratu sehari karena penampilan keduanya terlihat sama-sama sempurna.
Wajah tampan pengantin pria dengan dibalut setelan jas berwarna putih itu tidak berhenti tersenyum saat melihat wajah cantik nan anggun dari wanita yang sudah sah menjadi istrinya sekarang.
Ia dari tadi melihat Diandra tidak berkedip yang memakai gaun pengantin berwarna putih yang sengaja didesain khusus oleh perancang terkenal. Kemudian ia berbisik di dekat daun telinga Diandra, tak lupa dari tadi tangannya mengusap lembut punggung tangannya.
"Istriku sangat cantik sekali hari ini." Menunggu respon Diandra yang kini langsung menoleh padanya.
"Jadi, aku selama ini tidak cantik? Aku hanya cantik saat memakai gaun pengantin ini saja, kah?" Diandra sengaja mengerjai Yoahi yang tulus memujinya.
Senen ia merasa sangat lelah hari ini karena cukup lama berdiri menyalami para tamu undangan dan baru rehat sejenak sekarang.
Apalagi resepsi pernikahan dihadiri oleh sanak saudara, rekan bisnis, teman dari keluarga besar Narendra, sehingga ia benar-benar sangat lelah hari ini. Ia dari tadi mencari keberadaan putranya dan tersenyum simpul kala melihat Aksa tengah berada digendongan sang kakek dengan menikmati cake yang tadi baru saja dipotong.
"Issh ... bukan seperti itu, Sayang. Kamu adalah istriku yang paling cantik dan akan selalu terlihat cantik mau berpenampilan apapun." Yoshi berbicara
dengan tidak melepaskan genggaman tangannya.
"Hari ini adalah hari paling membahagiakan karena mimpiku untuk menikahimu menjadi kenyataan. Sepertinya Tuhan sudah mengatur semua ini. Bahwa hubungan kita awalnya berliku-liku dan berakhir dengan kebahagiaan."
Diandra masih menatap intens wajah Yoshi yang sebenarnya juga tak kalah rupawan, tapi tidak mengungkapkan pada pria itu.
Sebenarnya ia sangat tidak tega melihat Yoshi yang tidak akan pernah bisa mendapatkan anak kandung. "Aku selalu berpikir bahwa kita adalah jodoh yang tertunda."
Diandra tidak tahu dengan isi hatinya, apakah mencintai Yoshi atau tidak, tetapi sama sekali tidak menyesali keputusannya karena berpikir bahwa pria itu bisa menjadi ayah yang tepat untuk Aksa.
"Semoga kita selalu bersama dan hidup bahagia selamanya sampai maut memisahkan, Sayang," ucap Yoshi yang saat ini tengah memegang punggung tangan dengan jemari lentik itu.
__ADS_1
"Aamiin." Diandra membiarkan Yoshi berbuat apapun padanya saat meluruskan kakinya dan kembali mendengar keluh kesah dari sosok pria yang telah resmi menjadi suaminya tersebut.
"Selama ini, aku selalu terpuruk karena mempunyai sebuah kekurangan dan merasa hidup tidak berarti. Namun, saat kamu bilang setuju menikah denganku, aku benar-benar merasa seperti telah terlahir kembali. Semoga Tuhan mengabulkan doa dan harapan kita."
Yoshi kini mengakhiri ungkapan perasaannya saat ini setelah Diandra kembali mengamini doanya dan menunjuk ke arah Aksa.
"Lihatlah, dari dulu Aksa tidak pernah bosan menikmati cake. Ia paling suka dengan roti dan semua yang berbahan manis." Diandra sengaja mengatakan itu agar Yoshi peka bahwa putranya menyukai aneka jenis roti dan cake.
Yoshi masih tidak mengalihkan perhatian dari sosok bocah laki-laki yang terlihat seperti tengah fokus pada dunianya kala menikmati cake pernikahan yang tadi baru dipotong dengan sang istri.
"Aku akan selalu membelikannya jika suka dengan roti." Yoshi merasa lega karena saat pulang, selalu melewati toko roti dengan beraneka ragam bentuk dan rasa.
Sementara itu di sisi lain, Diandra saat ini merasa lega karena ternyata Yoshi benar-benar sangat peka. Hingga ia menatap intens wajah putranya dari singgasana.
'Aksa, maafkan mama. Semoga saat besar nanti, kamu akan mengerti bahwa semua yang mama lakukan ini demi kebaikanmu,' lirih Diandra di dalam hati ketika mengingat tentang hal yang membuatnya berakhir memisahkan ikatan darah antara putranya dengan Yoshi.
Beberapa saat kemudian, kembali para tamu undangan berdatangan. Kembali Yoshi dan Diandra bangkit berdiri dari posisinya dan mengulas senyuman. Tidak lupa melayani beberapa rekan dan sahabat yang ingin sekedar berfoto bersama
Sementara itu di tempat berbeda, yaitu ruangan terbaik di rumah sakit, terlihat sosok pria yang terbaring di atas ranjang. Ya, itu adalah Austin.
Setelah kejadian ia dibuat babak belur oleh Yoshi tanpa berniat melawan, ia yang mengalami cedera kepala dan harus dirawat di rumah sakit. Entah mengapa semenjak kejadian itu, ia selalu teringat akan Diandra yang menatapnya penuh kebencian.
Kini, Austin memegangi dadanya kala memikirkan sosok wanita yang tiba-tiba terlintas di pikirannya saat ini. "Aku sangat yakin jika dulu sangat mencintai wanita bernama Diandra itu. Hingga membuatnya berpisah dengan Yoshi."
"Meskipun aku tidak tahu apa yang kulakukan dulu karena mereka tidak berbicara jelas dan lebih spesifik padaku, tapi sepertinya sebuah hal fatal." Austin merasa masih ada sebuah rahasia yang tidak diketahuinya.
Ia kini berpikir ingin berbicara dengan kedua orang tuanya mengenai wanita bernama Diandra. Jadi, begitu melihat orang tuanya datang dengan pakaian formal, membuatnya mengerutkan kening.
"Papa dan Mama mau ke mana? Tumben rapi," ucap Austin yang kini mengerutkan kening.
Sementara itu, pria paruh baya yang saat ini menyuruh sang istri mengeluarkan undangan di dalam tas dan menunjukkan pada putra mereka. "Hari ini salah satu putra dari almarhum rekan bisnis Papa menikah. Namun, sama sekali tidak menyangka jika pengantin wanita adalah wanita itu."
Malik Matteo bahkan masih sangat hafal dengan nama sosok wanita yang pernah diceritakan oleh putranya, jadi begitu membaca undangan pernikahan itu, langsung paham. Bahwa pengantin wanita yang bernama Diandra Ishana adalah wanita yang pernah dicintai oleh putranya.
Austin saat ini terdiam kala menerima undangan pernikahan itu dari sang ibu. "Jadi, sekarang adalah pernikahan mereka?"
Karena mengingat sesuatu yang ingin diketahui dari sang ayah, kini Austin menatap ke arah pria paruh baya itu. "Sekarang tolong Papa jujur padaku tentang wanita bernama Diandra ini. Aku ingin tahu semua hal mengenai Diandra tanpa terkecuali!"
Hanya embusan napas berat mewakili perasaan dari seorang ayah yang melihat putranya seolah tidak punya semangat hidup semenjak bertemu lagi dengan Diandra.
__ADS_1
Akhirnya ia pun mulai menceritakan hal yang diketahuinya. Bahwa putranya sangat tergila-gila pada Diandra. "Papa tahu kamu sangat terobsesi memiliki Diandra, tapi sekarang lupakan niatmu itu karena dia sudah menjadi istri pria lain. Masih banyak wanita di dunia ini selain dia."
"Seandainya semuanya semudah itu, Pa. Papa lihat sendiri, kan? Sekarang aku hidup dalam bayang-bayang masa lalu dan rasa bersalah begitu mengetahui semuanya. Bahkan meskipun aku hilang ingatan sekalipun, hatiku bergetar saat melihatnya. Bukankah ini menegaskan jika aku sangat mencintai wanita itu?"
Austin mengacak frustasi rambutnya untuk meluapkan kekesalannya yang kehilangan sesuatu yang membuatnya selalu bertanya-tanya di dalam hati.
Sementara itu Malik Matteo yang tadinya tidak pernah mau menerima wanita dari keluarga biasa untuk putranya, kini menyadari kesalahannya setelah sang istri selalu menasihatinya panjang lebar .
Ia terlihat sangat menyesali perbuatannya. "Melihatmu seperti ini, membuat Papa menyadari bahwa kebahagiaanmu adalah satu-satunya hal yang paling penting.
Malik Matteo tahu jika putranya memiliki perasaan sangat besar untuk Diandra, sehingga berniat untuk bertemu dengan wanita itu. "Maafkan Papa. Kamu lebih baik tidak ke sana karena itu hanya akan membuatmu makin tersiksa."
Austin saat ini tidak berniat mengeluarkan sepatah kata pun.
Hari ini, ia mengetahui segalanya dari sang ayah. Ia bahkan sangat syok mendengar hal itu.
'Aku membeli keperawanan Diandra untuk biaya operasi ayahnya di Rumah Sakit?' gumam Austin yang kini mengamati kedua orang tuanya sudah berjalan keluar dari ruangan.
Ingin ia marah pada perbuatan di masa lalu, tapi sadar jika itu percuma saja dan tidak ada gunanya lagi. "Pantas saja Diandra terlihat sangat membenciku."
"Kenapa aku bisa berbuat segila ini? Pantas saja selama beberapa tahun saat kehilangan sebagian ingatanku, aku sama sekali tidak mempunyai ketertarikan sama sekali pada seorang wanita."
"Sepertinya aku dihantui rasa bersalah dari perbuatanku di masa lalu yang ingin aku lupakan." Ia kini memijat pelipisnya karena merasa sangat pusing saat terlalu memforsir otaknya.
Austin memilih untuk memejamkan kedua matanya, berharap bisa segera tidur dan melupakan semua keburukan yang dulu dilakukannya. Namun, selama beberapa jam berlalu, ia sama sekali tidak bisa tidur dan semakin merasa frustasi.
"Aku memang seorang pengecut yang bersembunyi di balik ketakutanku. Bukankah aku seperti pria yang tidak tahu malu karena bersembunyi di sini? Aku harus pergi ke acara Diandra untuk meminta maaf dan mengucapkan selamat untuk mereka."
Berpikir harus meminta maaf sebelum wanita itu selesai acaranya, kini Austin tengah berjalan dan segera bangkit dari ranjang, lalu mencabut kasar selang infus tanpa memperdulikan rasa sakit saat mencabut jarum.
"Tidak mungkin aku memakai baju rumah sakit." Kemudian ia memakai baju seadanya dan berpikir yang penting rapi.
Karena pergi diam-diam, ia pun meraih ponsel untuk mengirimkan pesan pada asistennya agar segera datang ke rumah sakit, yaitu mengurus administrasi dan membereskan semua barang-barangnya.
"Semoga aku tidak terlambat karena waktu sudah larut," ucap Austin yang berjalan menyusuri koridor Rumah Sakit.
Saat hendak memesan taksi untuk mengantarkannya ke hotel tempat resepsi pernikahan Diandra, ia merasa bahwa waktu berlalu begitu cepat.
"Semoga aku tidak dihantui oleh bayangan rasa berdosa seumur hidupku."
__ADS_1
To be continued...