Konspirasi Cinta

Konspirasi Cinta
Bercerai


__ADS_3

Austin mengurungkan niat untuk mencari tahu tentang Aksa sampai Diandra sadar. Ia berpikir masih mempunyai banyak waktu untuk bertanya pada pasangan suami istri yang tengah duduk di kursi yang ada di depan ruangan operasi sambil menunggu Diandra dipindahkan.


"Ayah, Ibu, saya pamit pulang dulu. Jika membutuhkan bantuan, telpon saja aku. Syukurlah operasi Diandra berjalan lancar." Austin kini memberikan sebuah kartu nama yang dikeluarkan dari dalam dompetnya.


Sebenarnya ia ingin terus berada di sana untuk menunggu Diandra, tapi merasa tidak enak karena bukan siapa-siapa untuk wanita yang berstatus sebagai istri Yoshi itu.


"Aku tidak ingin dianggap sebagai orang yang mengganggu kehidupan rumah tangga Diandra dengan Yoshi, jadi tidak bisa berlama-lama di sini." Austin kini membungkuk hormat sebagai salam terakhir sebelum melangkah pergi.


"Terima kasih karena telah membantu Diandra dengan membawa ke Rumah Sakit. Mungkin semuanya tidak akan seperti ini jika kamu tidak buru-buru membawanya ke sini. Semoga Diandra segera sadar dan lepas dari masa kritis." Pria paruh baya yang masih menggendong cucunya itu mengulurkan tangan meskipun agak kesusahan.


Buru-buru Austin mengulurkan tangan untuk menyambut tangan ayah Diandra dan sekilas melihat bocah laki-laki yang tertidur pulas. "Jangan sungkan, Ayah. Semua orang pasti akan melakukan hal seperti ini atas dasar kemanusiaan."


"Baiklah. Sekali lagi terima kasih." Pria paruh baya itu melepaskan tangannya dan melihat Austin melangkah pergi.


'Jika bukan karena janjiku pada putriku, aku pasti sudah mengatakan bahwa Aksa sebenarnya adalah putranya,' gumamnya di dalam hati dan menoleh pada sang istri.


Saat Austin berjalan meninggalkan orang tua Diandra, ia menepuk jidat kala melupakan satu hal penting dan akhirnya ia kembali berbalik badan. Ia menghampiri pasangan suami istri tersebut.


"Ayah, Ibu."


Orang tua Diandra yang kini menatap heran pada Austin karena kembali, berpikir ada sesuatu yang terlupa. Hingga mereka seketika membulatkan mata begitu melihat apa yang dilakukan oleh Austin.


Karena tidak ingin membuang waktu, kini Austin yang sudah berada di hadapan orang tua Diandra, buru-buru berlutut untuk memohon maaf karena dulu berbohong.


"Aku sudah ingat semuanya. Maaf karena berbohong saat datang ke Rumah Sakit tiga tahun lalu. Aku sekarang sudah mengingat semuanya. Mengenai apa yang kulakukan saat Diandra meminta tolong tiga tahun lalu." Austin merasa sangat takut jika mendapatkan kemurkaan dari pasangan suami istri tersebut.

__ADS_1


Apalagi ia telah menodai putri mereka dengan memberikan uang sebagai biaya operasi jantung yang ternyata malah tidak terpakai karena ada Yoshi yang langsung membantu Diandra.


Ia benar-benar sangat malu, tapi berpikir harus menebus kesalahannya. "Aku pun akan berlutut di depan Diandra nanti saat dia sudah sadar. Meskipun mungkin tidak akan mendapatkan maaf darinya, tapi akan terus melakukannya."


Saat ini, orang tua Diandra saling bersitatap dan merasa bingung harus menanggapi seperti apa. Tentu saja mereka sempat marah dan kecewa saat dulu mengetahui tentang hal yang sebenarnya menimpa putri mereka.


Namun, karena ini sudah berlangsung selama tiga tahun, seolah rasa itu kini terobati dengan perbuatan baik pria itu yang telah menyelamatkan putrinya tadi dari kecelakaan.


"Kami telah berhutang budi padamu karena berkatmu, Diandra masih hidup sampai sekarang. Mengenai permohonan maafmu, biar Diandra yang memutuskan diterima atau tidak. Sekarang berdirilah!" Ayah Diandra sebenarnya ingin membantu Austin berdiri, tapi tidak mungkin melakukannya karena tengah menggendong cucunya.


Tentu saja Austin saat ini tidak puas dengan jawaban tersebut, tapi menyembunyikan kekecewaannya dengan menyunggingkan senyuman penuh keterpaksaan.


"Terima kasih, Ayah karena tidak menghajarku habis-habisan. Aku sebenarnya sangat malu berhadapan dengan kalian, tapi harus memohon ampunan dari kalian terlebih dahulu sebelum Diandra." Austin kini bangkit berdiri dari posisinya yang awalnya berlutut dan merasa damai mendengar nasihat dari ibu Diandra.


"Saat seorang manusia dengan yakin bertobat, Tuhan pun akan langsung memberikan ampunan. Begitu juga dengan kami yang hanya manusia biasa. Semoga suatu saat Diandra bisa melihat ketulusanmu dan mau memberikan maafnya."


Tidak ingin berakhir bertanya tentang jati diri Aksa, ia pun pergi meninggalkan pasangan suami istri tersebut dan bocah laki-laki tersebut.


'Kenapa rasanya sangat berat pergi meninggalkan Aksa? Apakah Aksa adalah darah dagingku? Hasil dari hubungan terlarang yang kulakukan pada Diandra tiga tahun lalu?' gumam Austin yang sudah melangkahkan kaki panjangnya meninggalkan area rumah sakit tanpa menoleh lagi ke belakang.


"Aku harus bersabar untuk bertanya pada Diandra saat dia sadar nanti," ucap Austin yang kini sudah tiba di lobi Rumah Sakit dan memesan taksi untuk mengantarkannya pulang.


Ia bahkan melihat penampilannya yang sangat kacau dan ada banyak darah Diandra di kemeja yang dikenakan. Akhirnya ia tidak jadi memesan taksi, tapi menghubungi asisten pribadinya agar menjemputnya.


"Supir taksi pasti akan mengira aku baru saja membunuh orang jika naik dengan penampilan seperti ini." Austin bahkan tidak perduli pada tatapan banyak orang saat melihat penampilannya.

__ADS_1


Sementara itu, di ruangan IGD, sosok wanita paruh baya yang tak lain adalah Asmita Cempaka, baru saja tersadar dari pingsan. Dengan melepaskan jarum infus yang saat ini ada di tangannya, ia ingin melihat bagaimana keadaan putranya.


"Aku ingin melihat putraku. Dia akan sadar dari komanya saat aku selalu menemani dan mengajaknya bicara," lirihnya dengan wajah dihiasi bulir air mata yang mewakili perasaannya yang hancur.


"Kakak, tenanglah. Yoshi pasti akan bangun. Tadi aku sudah bicara dengan dokter dan kita bisa membawanya ke luar negeri setelah lepas dari masa kritis. Semuanya pasti akan baik-baik saja," ucap pria yang baru saja kembali dari ruangan administrasi.


Refleks Asmita Cempaka menatap adiknya dan raut wajah yang tadinya sendu penuh kesedihan tersebut, kini seolah muncul secercah cahaya yang mengungkapkan sebuah harapan.


"Benarkah? Kalau begitu segera urus semuanya agar Yoshi segera dibawa ke luar negeri setelah lolos dari masa kritis. Berapapun uang yang dibutuhkan, aku tidak masalah karena bagiku, putraku yang paling utama." Ia yakin jika putranya akan kembali sembuh seperti semula dan bisa hidup bersama seperti dulu.


Bahkan saat ini ia berpikir tidak akan mengizinkan siapapun berhubungan dengan putranya karena yakin hanya akan membawa sial.


'Aku akan hidup bahagia bersama putraku. Aku tidak akan pernah membiarkan siapapun masuk ke dalam hubungan kami, termasuk wanita pembawa sial itu. Aku harus memisahkan putraku darinya,' gumam Asmita Cempaka yang saat ini menatap ke arah adiknya.


"Urus perceraian Yoshi karena aku tidak ingin berhubungan dengan keluarga Diandra setelah ini. Mereka hanya membawa penderitaan untuk putraku. Jika Yoshi tidak bertemu dengan Diandra, aku yakin jika dia tidak mengalami kecelakaan dan masih sehat sampai sekarang!"


Asmita Cempaka yang merasa sangat puas setelah mengungkapkan hal yang ada di pikirannya, kini berpikir jika adiknya seperti tidak menyukai apa yang dikatakannya.


"Jika kau tidak berani, biar aku sendiri yang menemui mereka dan mengatakan keinginanku!" Bangkit dari ranjang perawatan tanpa memperdulikan adiknya yang terlihat memijat pelipis.


"Astaga, bukan begitu, Kak." Sang adik yang ingin menghentikan kakaknya agar tidak membuat malu di rumah sakit ketika situasi tengah tidak baik, sehingga membuatnya ingin menahan kepergian wanita yang terlihat sangat marah tersebut.


"Kakak, tunggu! Jangan seperti itu!"


Sementara itu, Asmita Cempaka kini tidak perduli apapun karena berpikir harus segera menyelesaikan semuanya hari ini juga. "Yoshi akan baik-baik saja jika tidak berhubungan dengan Diandra. Jadi, semuanya harus berakhir hari ini juga agar mereka segera putus hubungan dengan bercerai!"

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2