
Beberapa saat lalu, Austin yang mendapatkan telpon dari ayah Diandra mengenai Aksa yang memang tadi ditebak adalah darah dagingnya, merasa sangat bahagia hingga netra pekatnya seketika dipenuhi oleh bulir air mata.
Bukan air mata kesedihan, tapi air mata kebahagiaan karena perbuatannya dulu telah membuatnya memiliki keturunan laki-laki yang sangat tampan.
"Ternyata benar jika Aksa adalah putraku. Diandra dulu hamil benihku dan membesarkannya sendirian. Ya Allah, aku benar-benar telah berdosa karena membuat Diandra menderita dengan hamil tanpa suami. Bahkan putraku besar tanpa merasakan kasih sayang dari seorang ayah."
Austin masih berkaca-kaca dan antara kesedihan serta kebahagiaan kini bercampur menjadi satu saat ini. Namun, hal yang paling membuatnya berdosa serta bersalah adalah membiarkan Diandra hidup menderita.
"Pantas saja Diandra sangat membenciku. Aku memang pantas mendapatkan hukuman, yaitu kebencian dari Diandra." Austin kini bangkit dari ranjang memilih untuk mencuci muka terlebih dahulu.
Ia tidak ingin terlihat mengenaskan wajahnya saat bertemu dengan putranya. Beberapa saat kemudian, ia langsung berangkat ke Rumah Sakit lagi.
"Putraku, Papa datang, Sayang. Tunggu Papa karena akan menebus kesalahan dengan mencurahkan kasih sayang penuh padamu. Kalau soal materi, mamamu pasti sudah memberikan segalanya padamu."
Austin yang sudah berada di dalam lift, kini menatap angka digital yang menurutnya bergerak lambat. "Astaga! Kenapa lama sekali terbukanya! Aku ingin segera menggendong putraku."
"Pantas saja saat melihat Aksa, darahku berdesir. Ternyata darah lebih kental daripada air. Apa yang kurasakan adalah sebuah firasat seorang ayah rupanya," ucap Austin yang melangkah keluar begitu pintu kotak besi tersebut terbuka.
Tentu saja tanpa membuang waktu, langsung mengemudikan kendaraan menuju ke Rumah Sakit setelah masuk dalam mobil.
"Diandra, kamu bahkan mengalami hal yang sama sepertiku ketika amnesia. Semoga suatu saat nanti begitu ingatanmu kembali, kamu akan memaafkan aku setelah menunjukkan penyesalan dengan menjadi ayah yang baik untuk Aksa." Masih fokus menatap ke arah depan saat mengemudi.
Suasana malam hari di jalanan ibu kota yang masih penuh dengan lalu lalang kendaraan yang melintas, tidak menyurutkan semangatnya yang mengemudikan mobilnya dengan kecepatan diatas rata-rata.
Setelah menempuh perjalanan selama setengah jam, kini mobil berwarna putih itu sudah memasuki area rumah sakit. Bahkan hanya memasuki area Rumah Sakit saja sudah membuat hatinya bergetar saat ini.
'Tenang, Austin. Sebentar lagi kamu bisa memanggil Aksa putramu. Aku pun bisa menggendongnya beberapa menit lagi,' gumam Austin yang kini memarkirkan mobilnya di tempat yang tersedia.
__ADS_1
Begitu mematikan mesin mobil, ia beranjak dari kursi setelah melepaskan sabuk pengaman. Ia kini tengah mempraktekkan menyebut putraku dan juga akan menyuruh untuk memanggil papa.
"Bagaimana jika putraku takut padaku? Bagaimana jika Aksa membenciku karena selama ini tidak merawatnya dan memberikan kasih sayang seorang ayah? Bagaimana jika aku membuatnya takut?" Berbagai macam pertanyaan membuat Austin kebingungan saat ini.
Hingga pintu lift terbuka, malah semakin membuatnya gugup menjelang detik-detik bertemu dengan putranya.
Kini, Austin melangkah keluar dan mengedarkan pandangannya ke sekeliling untuk mencari ruangan ICU.
Hingga pemandangan tidak asing kembali dilihat, yaitu orang tua Diandra duduk di depan ruangan ICU.
'Putraku?' lirih Austin saat melihat bocah laki-laki duduk di kursi sambil menikmati es krim. 'Malam-malam begini putraku makan es krim? Apa itu tidak akan membuatnya demam?'
Jiwa over protektif kini dirasakan oleh Austin begitu mengetahui bahwa ia adalah ayah dari Aksa. Namun, ia hanya bisa khawatir tanpa mengungkapkan secara langsung karena tidak ingin berlagak menggurui.
Ingin sekali ia menggendong putranya sekarang juga, tapi khawatir jika malah akan membuat Aksa ketakutan dan menolaknya. 'Aku harus bersabar dan tidak boleh gegabah. Aku harus berusaha mencuri hati putraku dulu dengan mendekatinya secara perlahan.'
Ayah Diandra yang kini menatap ke arah Austin, merasa sangat lega karena pria yang dari tadi ditunggu telah datang. "Aku khawatir kamu tidak datang, Nak Austin karena berpikir membenci kami ketika tidak memberitahu kenyataan sebenarnya tentang Aksa."
Bahkan ibu Diandra bisa melihat tatapan teduh dari seorang ayah pada seorang putra. Ia kini menatap ke arah cucunya yang hanya fokus menikmati es krim.
"Tadi cucuku menangis mencari Diandra, akhirnya aku menenangkannya dengan membelikan es krim kesukaannya. Kami ingin kamu merawatnya karena Diandra tidak boleh melihat Aksa." Ia terdiam ketika melihat pergerakan Austin yang berjongkok di depan Aksa.
Dari tadi, Austin hanya fokus pada bocah laki-laki yang duduk di kursi tunggu itu. Ia mengambil sapu tangan di dalam saku celananya dan membersihkan bekas es krim di mulut putranya.
"Biar Om bersihkan, ya Sayang. Nanti digigit semut jika tidak dibersihkan." Akhirnya ia menyebut diri sendiri seperti itu karena tidak mungkin langsung menyebut papa.
Takut membuat shock dan Aksa tidak mau berdekatan dengannya, sehingga panggilan om dirasa cocok. 'Hanya untuk sementara. Setelah terbiasa bersama dan dekat, aku akan menyuruhnya untuk memanggil papa.'
__ADS_1
Sementara itu, Aksa hanya diam saja saat mulutnya dibersihkan. Hingga ia pun membuka suara sambil menunjuk ke arah saku celana yang ada ponselnya.
"Hape."
"Hape?" tanya Austin yang langsung mengerti dengan keinginan putranya dan seketika bangkit berdiri untuk mengambil ponsel miliknya.
Kemudian ia tidak langsung menyerahkannya pada putranya karena ingin bisa sambil memangkunya. "Memangnya Aksa ingin nonton film kartun apa? Biar Om yang carikan."
Tanpa menunggu jawaban dari Aksa, Austin langsung berinisiatif untuk menggendong dan memangkunya sambil menunjukkan ponselnya.
"Pin pin," sahut Aksa yang ingin memberitahukan apa yang disukai.
"Pin pin?" Austin yang sama sekali tidak tahu tentang film kartun anak-anak, kini merasa kebingungan dan ia berjanji mulai hari ini akan mencari tahu tentang film animasi anak kecil.
Hingga ia mendengar suara bariton dari ayah Diandra yang menyahut dan terkekeh geli.
"Itu, Nak Austin. Film kartun kesukaan Aksa adalah upin-Ipin. Cari saja di YouTube."
Austin yang kini mengerti, langsung menuruti perintah dari ayah Diandra dan mendengar suara girang putranya yang merebut ponsel di tangannya. Bahkan sudah fokus pada film kartun dengan ciri khas botak itu.
"Jadi, Upin Ipin kesukaan Aksa. Nanti Om belikan boneka Upin Ipin, ya! Aksa mau ikut sama Om beli bonekanya? Nanti kita beli mobil-mobilan dan robot."
"Mau," sahut Aksa yang kini berbinar wajahnya begitu membayangkan bisa mendapatkan banyak mainan.
Sementara itu, pasangan suami istri yang melihat interaksi antara ayah dan anak itu untuk pertama kali, merasa terharu sekaligus bahagia. Namun, mereka seketika menoleh ke arah sosok wanita yang baru saja terlihat mendekat dan menyindir habis-habisan.
"Wah ... pemandangan yang sangat luar biasa. Ternyata kalian sudah menemukan menantu baru rupanya. Kalian benar-benar sangat licik!" sarkas Asmita Cempaka dengan raut wajah memerah karena kesal sekaligus marah.
__ADS_1
To be continued...