Konspirasi Cinta

Konspirasi Cinta
Tatapan teduh


__ADS_3

Tentu saja tingkah konyol yang seolah mengurangi wibawa seorang Yoshi, membuat Diandra seketika mengarahkan telapak tangan pada bibir yang mengerucut seperti bebek dan malah membuatnya tertawa terbahak-bahak.


"Astaga! Bisa-bisanya aku melihat sikap konyolmu ini." Kemudian ia mengarahkan tatapan tajam pada sosok pria yang terlihat sangat polos dan ia merasa menjadi seorang wanita beruntung karena melihatnya.


"Jangan macam-macam atau aku akan mencubitmu seperti ini!" umpat Diandra yang saat ini tengah menahan tawa kala melihat Yoshi seperti seorang anak kecil yang ingin diajari untuk berciuman, seolah ia adalah seorang wanita berpengalaman.


Padahal kenyataannya, ia sendiri saja bukanlah seorang wanita yang sering berciuman dengan para pria. Apalagi ciuman pertamanya dirampas paksa oleh pria yang sampai saat ini membuatnya khawatir.


Bahwa sosok pria yang dipikir sudah tiba di rumah sakit dan berbicara dengan orang tuanya tersebut, membuatnya penasaran mengenai kira-kira apa tujuannya.


"Apa kamu pikir aku adalah seorang wanita yang sangat ahli dalam berciuman? Hingga bertanya padaku mengenai itu." Karena gemas pada pria yang kini sudah tidak lagi mengerucutkan bibirnya seperti beberapa saat lalu, Diandra sudah mencubit pinggang kokoh Yoshi.


Yoshi yang tadinya sama sekali tidak berniat apa-apa karena semuanya terjadi begitu saja secara natural. Hingga ia berpura-pura meringis kesakitan akibat cubitan Diandra. Padahal sebenarnya hanya sedikit geli saja.


"Isssh ... Sayang, lepaskan! Sakit sekali cubitanmu. Pasti kulitku sudah memerah ini." Yoshi masih berpura-pura mengusap bekas cubitan Diandra yang terus menertawakannya.


"Aku sama sekali tidak berpikir seperti itu. Hanya saja, karena aku belum pernah merasakan bagaimana berciuman, jadi bertanya padamu karena pasti sudah melakukannya, meski itu ... terpaksa." Yoshi kini menepuk jidat untuk merutuki kebodohannya.

__ADS_1


Karena malah mengingatkan pada kejadian yang berhubungan dengan seorang Austin Matteo. 'Dasar bodoh! Gara-gara melihat bibir sensual Diandra tadi, sehingga membuatku kehilangan akal. Hingga membuat Diandra mengingat bajingan itu.'


"Maafkan aku, Diandra. Aku benar-benar sangat bodoh!" umpat Yoshi yang kini memasang wajah memelas dan menyatukan telapak tangan. "Aku tidak akan mengulanginya lagi, Sayang. Jadi, lupakan apa yang tadi kukatakan."


Saat ini, Diandra bisa melihat jika Yoshi benar-benar sangat menyesal. Apalagi tatapan mata teduh yang seolah bisa menenggelamkan dirinya pada lautan asmara hanya dengan menatap iris tajam berkilat di hadapannya.


Diandra kini menurunkan telapak tangan Yoshi yang memohon maaf darinya. "Aku tahu jika kamu sama sekali tidak punya niat buruk padaku. Jadi, tidak perlu meminta maaf."


Kemudian Diandra yang berada di hadapan Yoshi, semakin mendekat dan tanpa membuang waktu, berjinjit untuk mengecup pipi putih dengan rahang tegas tersebut.


"Aaah ... maafkan aku?" ujarnya sambil bergerak mundur beberapa langkah karena posisinya saat ini sangat intim dengan pria yang baru saja diciumnya.


Jika Diandra merasa sangat malu, berbeda dengan Yoshi yang saat ini tengah berbunga-bunga dan tidak berhenti tersenyum kala merasakan sebuah kecupan dari wanita yang dicintai pada pipinya.


Bahkan ia terlihat beberapa kali mengusap pipinya sambil tersenyum lebar. "Sayang, kenapa harus meminta maaf? Kamu bisa melakukannya berkali-kali jika mau dan aku tidak akan merasa keberatan."


"Bahkan mencium bukan hanya di pipi pun tidak akan membuatku marah padamu. Jadi, jangan meminta maaf padaku, oke!" Yoshi kini melangkah ke depan hingga mendekati sosok wanita yang terlihat sangat gugup itu.

__ADS_1


Kemudian langsung mengungkung posisi Diandra dengan melingkarkan tangannya pada bagiah belakang tubuh wanita di hadapannya. Tanpa memperdulikan wajah wanita yang terlihat memerah seperti kepiting rebus itu.


"Yoshi, apa yang kamu lakukan? Jangan begini," ujar Diandra yang saat ini tengah berusaha melepaskan tangan Yoshi agar bisa melepaskan diri.


"Apa kamu takut padaku?" Yoshi sangat menyukai berada pada posisi sangat intim dengan Diandra.


Ia ingin tahu seperti apa pemikiran seorang Diandra padanya, tapi belum sempat menjawab, mendengar suara dering berbunyi.


Yoshi mencari ke arah sumber suara dan di saat bersamaan, melihat Diandra yang melepaskan diri darinya karena ingin mengambil ponsel yang berada di atas kulkas.


"Sepertinya ayah yang menelpon," sahut Diandra yang buru-buru ingin melihat siapa yang menghubungi dan begitu benar apa yang dipikirkan, seketika menunjukkan pada Yoshi. "Benar, kan?"


"Angkat saja! Biar kita tahu apa yang tadi dilakukan oleh si berengsek itu!" sahut Yoshi yang sama sekali tidak takut karena akan melakukan apapun untuk bisa menikahi Diandra.


"Aku akan selalu ada untukmu, Diandra. Jadi, jangan takut selama aku ada di sini, oke!" ucapnya dengan tak lupa mengarahkan tatapan teduh untuk menenangkan perasaan sang kekasih yang ia ketahui tidak baik-baik saja.


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2