
Diandra keluar dari apartemen pria yang telah membelinya pada pukul tiga pagi. Setelah Austin marah padanya saat ia hanya diam ketika ditanya, membuatnya harus kembali merasakan kebrutalan pria itu ketika berpura-pura tidur pulas.
Ia sama sekali tidak menyangka jika pria yang sangat dibencinya itu kembali menggaulinya untuk kedua kali dan membuat seluruh tubuhnya remuk redam.
Hingga ia tidak bisa memejamkan mata setelah pria itu tertidur pulas di sampingnya. Ia menunggu hingga merasa aman dan tidak membuat pria itu terbangun kala pergi diam-diam.
Hingga setelah dirasa pria itu tidak akan terbangun, Diandra berjalan mengendap-endap seperti seorang pencuri kala membuka pintu dan keluar dari apartemen dengan membawa tas dan ponsel di atas meja.
Beberapa saat kemudian, ia sudah tiba di lobi apartemen dan mencoba untuk mencari taksi atau ojek online yang masih mengangkut penumpang.
Dengan degup jantung berdetak sangat kencang, Diandra sangat takut jika tiba-tiba Austin tahu ia telah pergi tanpa pamit. 'Semoga bajingan itu tidak bangun selamanya!'
Kemudian ia menunggu sampai ada angkutan yang mengambil job untuk mengantarkannya pulang ke tempat kos. Bahkan ia berjalan dengan tertatih karena efek kesakitan luar biasa yang dirasakan pada bagian intinya.
'Sakit sekali. Bajingan itu bahkan melakukannya dengan sangat kasar dan brutal seperti binatang buas yang meremukkan tulang-tulangku!' umpat Diandra yang kini mendengar notifikasi dari ponsel dan merasa sangat lega karena sebentar lagi ada ojek online yang datang.
'Syukurlah masih ada yang bekerja di pagi buta saat banyak orang yang larut dalam alam mimpi.'
Kemudian Diandra berjalan dengan beberapa kali meringis menahan rasa sakit yang luar biasa akibat perbuatan liar pria yang telah membeli keperawanannya.
__ADS_1
Saat melihat pria dengan motor berwarna putih dan mengenakan jaket berwarna kuning, Diandra langsung melambaikan tangan untuk memberikan sebuah pembenaran bahwa ia lah yang memesan tadi.
"Dengan Mbak Diandra?" sapa pria yang kini mematikan mesin agar lebih mudah mendengar jawaban dari wanita itu.
"Iya, itu saya." Kemudian langsung naik ke atas motor dan memakai helm pelindung sebelum berangkat. "Kalau bisa, cepat dan ngebut saja, Mas. Tapi tetap harus hati-hati juga karena saya masih ingin hidup."
"Iya, Mbak. Tenang saja." Sang supir pun kembali menyalakan mesin motor dan mengendarainya keluar dari area apartemen membelah jalanan ibu kota yang kini masih tidak terlalu ramai seperti jam berangkat kerja.
Embusan angin pagi buta membelai wajah pucat Diandra yang kini sudah berurai air mata. Ia sengaja tidak menutup kaca helm karena memang sengaja membiarkan wajahnya terkena dinginnya angin di pagi buta.
Hingga ia hanya bisa mengeluarkan air mata penuh kesedihan kala mengingat nasibnya yang sangat tragis setelah bertemu dengan seorang Austin Matteo.
'Nasib baik aku menyimpannya dan tidak membuangnya ke tempat sampah karena biasanya menganggap tidak penting sebuah kartu nama.'
Mengingat pria baik itu, Diandra diam-diam sangat mengagumi sosok Yoshi dan berharap bisa berhubungan baik. 'Di zaman sekarang, sangat sulit menemukan pria sebaik tuan Yoshi. Aku harus mengatakan padanya bahwa akan menganggap uang itu sebagai utang dan akan mencicilnya.'
Meskipun ia tidak tahu sampai berapa lama akan mencicilnya, tetap saja tidak akan pernah berpikir jika itu adalah uang cuma-cuma dari Yoshi karena khawatir akan terjadi sesuatu hal yang buruk di kemudian hari.
'Sebenarnya aku bisa saja mengembalikan uang itu dengan menyuruh ibu mengirim lagi uangnya, tapi nanti malah akan curiga dan bertanya macam-macam padaku.'
__ADS_1
'Mungkin ibu belum menyadari bahwa ada uang dobel untuk biaya operasi jantung ayah. Pasti besok akan bertanya macam-macam padaku.' Diandra memikirkan cara untuk membohongi sang ibu dan ia tidak tahu harus mencari alasan yang tepat apa.
Hingga tanpa disadari, motor yang ditumpangi sudah berhenti di depan tempat kos.
"Di sini, kan Mbak?" tanya sang tukang ojek sambil mematikan mesin motor karena tidak ingin terdengar berisik dan mengganggu di area sekitar.
"Iya, Mas." Diandra turun dari motor dan langsung mengambil uang dari dalam tas. Kemudian memberikan pada sang tukang ojek. Terima kasih, Mas."
Diandra pun berjalan menuju ke arah pintu gerbang dan langsung ke kamar. "Aku harus buru-buru pindah dari sini karena tidak ingin bajingan itu menemukanku di sini setelah menyadari aku tidak ada."
Meski dengan tubuh letih dan tidak sehat, Diandra tetap bertekad untuk segera pergi tanpa berniat untuk beristirahat terlebih dahulu. Ia bahkan tidak tidur semalaman karena ingin selalu terjaga agar bisa segera kabur.
Beberapa saat kemudian, Diandra kini mengedarkan pandangan ke sekeliling area kamar kos yang bahkan baru ditempati.
"Ternyata aku tidak berjodoh tinggal di kamar ini. Lebih baik aku menginap di hotel saja karena khawatir jika bajingan itu mencariku dan memeriksa semua kamar kos di sekitar area ini untuk mencariku."
Diandra pun mulai mencari pemesanan hotel murah agar nanti tidak perlu ribet untuk chek in. Begitu ia sudah mendapatkan kode booking, kini merasa lega dan beralih memesan taksi karena jam sudah menunjukkan pukul setengah lima pagi dan harus pergi sebelum hari terang.
To be continued...
__ADS_1