Konspirasi Cinta

Konspirasi Cinta
Merasa khawatir


__ADS_3

Sebenarnya Yoshi beberapa saat lalu ingin mengejar Rosalia yang murka padanya, tapi ia tidak punya daya kala kakinya seolah sangat lemas hari ini karena banyak hal berat yang dilewati.


Ia tahu menjadi seorang suami tidak bertanggungjawab saat membiarkan sosok wanita yang tak lain adalah istri sendiri tersebut pergi tanpa dirinya. Namun, ia masih tetap tidak bisa menghilangkan kekhawatiran yang jauh lebih besar dari Diandra.


"Aku harus melakukan sesuatu untuk menemukan Diandra. Setelah mengetahui ia berada di mana, aku baru bisa hidup tenang. Paling tidak, ia baik-baik saja saat ini dan tidak terjadi sesuatu padanya." Yoshi kini menghubungi seorang detektif yang biasa diminta tolong untuk menyelidiki sesuatu.


Jika biasanya ia selalu mengurus sesuatu yang berhubungan dengan perusahaan-perusahaan kliennya apakah bergerak di bidang berbahaya secara diam-diam atau tidak sebelum memutuskan untuk bekerja sama.


Ia mengirimkan semua hal yang berhubungan dengan Diandra. Bahkan foto wanita yang sangat dicintainya tersebut juga dikirimkan, tapi sekilas membuatnya berpikir ingin menghubungi Austin.


Namun, ia merasa sangat ragu karena membenci pria yang telah membuat Diandra terpuruk. Bahkan ia tidak menyangka akan melakukan hal serupa pada wanita tidak berdosa yang bernasib sangat malang itu.


"Aku sebenarnya ingin bekerja sama dengan Austin karena berada di pihak yang sama, yaitu sangat mengkhawatirkan Diandra dan tidak ingin terjadi sesuatu hal yang buruk padanya." Yoshi terdiam sejenak dan merasa sangat ragu akan keputusannya.


Menghubungi pria yang mungkin akan mengejeknya adalah seorang pecundang, sehingga membuatnya berpikir jika ia kali ini akan diejek habis-habisan oleh Austin.


Refleks ia menggelengkan kepalanya. "Tidak! Aku tidak akan pernah mengajaknya bekerja sama untuk mencari keberadaan Diandra. Semoga ia baik-baik saja."


Yoshi kini masih mengambil kembali surat dari Diandra yang tadi dimasukkan ke dalam saku kemeja setelah melipat kecil. Ia kini membuka dan membaca poin penting.


Yoshi tertawa miris kala mengingatnya. "Bisa-bisanya kamu menyuruhku untuk membahagiakan istri saat mengetahui bahwa aku sangat mencintaimu dan hanya menginginkanmu menjadi istriku."


"Apa saat menulis itu, kamu sama sekali tidak kasihan padaku, Sayang?" Iris tajam berkilat yang kini berkaca-kaca, sudah bisa dipastikan jika perasaannya benar-benar sedang tidak baik-baik saja.


Hingga ia pun kini menghapus kasar bulir kesedihan yang lolos tanpa seizinnya. "Seandainya kamu melihat ini, Sayang. Pasti kamu tidak akan pernah menuliskan itu."

__ADS_1


"Saat seorang laki-laki menangis karena wanita, sudah bisa dipastikan jika ketulusan lah yang menjadi jawabannya. Lalu apa kamu akan membenciku jika tidak bisa membahagiakan istriku." Yoshi kembali tertawa miris kala membayangkan bagaimana jika Diandra mengucapkannya secara langsung.


"Seharusnya kamu mengatakannya secara langsung karena aku pun butuh jawaban darimu. Bukan hanya melalui surat seperti ini dan menghilang tanpa jejak setelah pergi tanpa pamit." Kemudian berjalan menuju ke arah pintu utama.


Langkah kaki panjangnya menyusuri lorong apartemen yang sepi menuju ke arah lift. Saat memasuki pintu kotak besi tersebut, ia bahkan selalu terbayang wajah cantik Diandra.


Apalagi sempat beberapa kali ia melihat Diandra saat keluar dari lift atau bersama di dalam ruangan kotak besi tersebut.


"Sayang, aku sangat merindukanmu. Bagaimana aku bisa menjalani hidup tanpamu. Rasanya hidupku makin berwarna setelah mengenalmu, tapi kembali hampa begitu kepergianmu," lirih Yoshi yang kini bersandar di pojok kiri lift sambil menatap ke arah sepatu hitam miliknya.


"Hanya sepatu ini yang tidak membuatku mengingatmu, Diandra. Aku pun akan selalu tersiksa dengan kenangan kita di Perusahaan. Saat aku kembali bekerja, bisa dipastikan jika setiap sudut ruanganku meninggalkan kenangan bersamamu."


Embusan napas kasar kini mewakili perasaannya saat ini. Begitu bunyi denting lift terdengar, mengingat akan proses operasi sang ayah.


"Apa semuanya berjalan lancar? Lebih baik aku bertanya pada mama." Saat Yoshi hendak mengambil ponsel di saku celana, mendengar suara dering ponsel miliknya dan berpikir jika itu adalah kabar operasi dari sang ayah.


Tanpa membuang waktu, kini Yoshi menggeser tombol hijau ke atas dan mendengar suara bariton dari pria yang sangat dibencinya berbicara.


Ia bahkan tidak bersuara karena ingin tahu apa yang diinginkan oleh Austin Matteo darinya.


"Yoshi! Apa kau sudah memeriksa apartemen? Aku ingin tahu apakah Diandra meninggalkan jejak atau tidak. Aku sudah menyuruh banyak orang mencari keberadaannya, tapi sepertinya tidak mudah mengetahui keberadaannya karena ia sangat pintar," ucap Austin dengan nada penuh amarah.


"Sepertinya Diandra sangat ahli dalam melarikan diri, jadi mengganti nomor agar tidak ada yang mengetahui lokasinya dari GPS ponselnya." Yoshi bahkan kini merasa sangat lemas karena dari semalam tidak nafsu makan.


Apalagi tadi gagal makan siang dengan Rosalia yang pergi dengan angkara murka. "Apa Diandra baik-baik saja di tempat yang baru? Aku berharap ia selalu dilindungi oleh Tuhan di manapun berada."

__ADS_1


Austin hanya mengaminkan perkataan Yoshi di dalam hati. Lalu kembali melanjutkan perkataannya.


"Jadi, apa Diandra sama sekali tidak meninggalkan petunjuk apapun di dalam apartemen?" tanya Austin yang sangat penasaran karena pertanyaan belum dijawab oleh Yoshi.


"Ada," sahut Yoshi singkat yang kini masuk ke dalam mobilnya dan duduk di balik kemudi.


"Apa? Cepat beritahu aku!" sarkas Austin yang kini merasa khawatir jika Yoshi bisa menemukan Diandra terlebih dahulu. Ia tidak ingin terulang untuk kedua kalinya dan kembali menjadi seorang pecundang yang dikalahkan oleh Yoshi.


Sementara itu, Yoshi yang merasa sangat malas menanggapi Austin karena seperti berpikir jika ia mengetahui keberadaan Diandra.


"Diandra hanya meninggalkan surat untukku. Apa kamu puas?"


"Belum. Aku baru puas saat mengetahui isi suratnya." Tentu saja Austin merasa sangat iri pada Yoshi karena mendapatkan sebuah pesan terakhir sebelum pergi.


Sementara ia dulu ditinggalkan tanpa pesan apapun. Mendadak rasa percaya dirinya runtuh seketika kala mengetahui hal itu.


'Aku memang sama sekali tidak berarti di hatimu, Diandra. Hingga kamu tidak membuatku merasa berhak dicintai olehmu,' gumam Austin yang kini merasa bahwa dirinya sama sekali tidak berharga di mata Diandra.


"Aku tidak bisa memberitahu isi surat Diandra karena ini sangat privasi," ucap Yoshi dengan langsung mematikan sambungan telpon karena ia tahu jika Austin tidak bisa membuatnya bisa menemukan sosok wanita yang sangat dicintai.


"Ternyata kami berpikir sama. Bahwa kami menganggap bisa sama-sama mendapatkan petunjuk, tapi nyatanya zonk." Yoshi pun kini beralih menelpon sang ibu dengan memasang earphone karena sambil mengemudikan kendaraan meninggalkan area apartemen menuju ke rumah sakit.


Ia ingin bertanya juga apakah Rosalia tadi menelpon atau tidak. Ia benar-benar merasa bingung bagaimana menghadapi seorang wanita yang sangat arogan berstatus sebagai istrinya tersebut.


"Semoga Rosalia tidak memberitahu semua keluarga tentang kejadian ini. Jika sampai terjadi sesuatu pada papa karena ini, aku akan makin menjadi seorang anak durhaka dan tidak berguna," lirih Yoshi yang kini mendengar suara lirih dari seberang telpon.

__ADS_1


Suara lirih yang menyayat hati itu membuat Yoshi merasa khawatir jika terjadi sesuatu karena sang ibu seperti sangat bersedih.


To be continued...


__ADS_2