
"Biar Ibu yang menemanimu, Diandra. Jangan sampai kamu tiba-tiba pusing dan pingsan di kamar mandi," ucap wanita paruh baya dengan mengenakan gaun panjang berwarna hitam.
Ibu dari Diandra bisa melihat jika menantunya terlihat sangat mengkhawatirkan sang istri, sehingga kini berinisiatif untuk bergerak cepat membantu putrinya turun dari ranjang.
"Hati-hati, Sayang. Nanti biar Ibu bicara pada perawat agar dipasangkan kateter jika lama dirawat di sini." Berjalan masuk ke dalam toilet dan menutup pintu.
Hingga ia seketika terdiam begitu melihat putrinya yang mengarahkan tatapan tajam mengintimidasi. Kemudian berbicara lirih dengan berbisik.
"Ibu tidak perlu bersandiwara lagi di depanku karena aku sudah tahu semuanya! Kalian telah bekerjasama untuk membuat konspirasi besar atas hidupku. Bukankah Ibu tahu jika aku sangat membenci Austin?"
"Lalu kenapa malah menyerahkan aku padanya saat amnesia?" Diandra sebenarnya merasa tersiksa ketika berbicara dengan berbisik ketika amarah bergejolak hebat seperti gunung berapi yang hendak memuntahkan laharnya.
__ADS_1
Namun, ia tidak bisa meluapkan emosinya pada Austin yang baru sadar setelah mengalami kecelakaan dan juga ada mertua baru datang. "Aku sengaja berpura-pura bodoh tidak tahu apapun demi melindungi nama baik kalian sebagai orang tuaku."
Diandra menahan rasa sesak di dada kala mengingat semua hal yang terjadi padanya akibat adanya campur tangan dari orang tua. Bahkan bola mata berkaca-kaca kala menahan diri untuk tidak melampiaskan rasa kecewanya.
Ia kini memilih untuk mencuci muka agar tidak terlihat jelas ketika keluar dari sana. Apalagi ia bertambah kesal karena tidak ada komentar sepatah kata pun dari bibir sang ibu dan membuatnya miris.
"Aku sama sekali tidak menyangka jika ternyata Ibu sendiri tidak bisa menjelaskan. Lalu aku harus bertanya pada siapa? Aku ingin pulang ke rumah saja karena sekarang sudah baik-baik saja." Membayangkan harus merasakan sakit ketika dipasang kateter, membuatnya tidak ingin lama-lama berada di Rumah Sakit.
Diandra mengembuskan napas kasar kala ia merasa jika sang ibu tidak akan berpihak padanya. Entah mengapa sekarang seperti melihat kasih sayang orang tuanya telah berkurang dan berpindah pada Austin.
"Aku ingin bicara dengan Austin saja untuk menanyakan padanya secara langsung. Jadi, nanti kalian segera pulang dan jangan menginap di sini. Aku bisa jaga diri sendiri dan juga pria itu pun sama." Diandra sudah tidak kuat bersikap layaknya orang bodoh yang tidak tahu apapun.
__ADS_1
Jadi, ia sudah bertekad bulat untuk menyelesaikan masalah rumah tangganya hanya berdua tanpa melibatkan orang lain. Entah apa ia bisa menahan amarahnya atau tidak nanti, tetap saja merasa puas jika berbicara secara langsung.
"Sepertinya Ibu tidak bisa membantumu, Putriku karena pasti mertuamu ingin menjaga putranya malam ini. Lebih baik fokus pada kandunganmu karena itu jauh lebih baik daripada memikirkan hal-hal yang tidak perlu dipikirkan." Kemudian mengajak putrinya keluar dari toilet agar tidak menjadi pusat kecurigaan.
Hingga ia kembali melihat Austin yang masih pada posisi sama dan melakukan hal serupa.
"Maafkan aku, Sayang karena tidak bisa menggendongmu ke toilet. Bahkan wajahmu sangat pucat hari ini, pasti saat ini pusing, lemas dan kurang bersemangat dalam hal apapun," seru Austin yang tadi beberapa saat lalu berbicara dengan orang tuanya dengan sangat lirih.
Tentu saja untuk mencari sebuah saran dan dukungan dari orang tua mengenai apa yang harus dilakukan.
To be continued...
__ADS_1