Konspirasi Cinta

Konspirasi Cinta
Redam amarahmu


__ADS_3

Sosok pria yang tak lain adalah Austin baru saja tiba di salah satu restoran yang menjadi salah satu tempat favoritnya.


Sengaja ia datang lebih awal karena tidak ingin membuat wanita yang selama ini sangat dicintai menunggu. Tidak hanya itu saja karena sebenarnya sangat bersemangat atas kejutan dari Diandra yang sudah diketahui olehnya.


Namun, hari ini berencana untuk membalik keadaan, yaitu membuat sosok wanita yang hendak memberikan kejutan tersebut semakin terkejut.


Jadi, bukan ia yang akan terkejut karena diberikan kejutan, tetapi sosok wanita dengan paras cantik dan membuatnya tergila-gila tersebut dibuatnya menangis karena bahagia.


Ia menatap ke arah mesin waktu yang melingkar di pergelangan tangan kiri. "Masih sepuluh menit lagi. Semoga Diandra tidak terlambat karena aku sudah tidak sabar memberikan sebuah kejutan."


Sementara itu, sosok wanita yang sedang ditunggu oleh Austin baru saja tiba di parkiran dan keluar dengan dibantu oleh sang ayah. Hari ini sengaja mengajak sang ayah untuk membantu dan meninggalkan setelah tiba di restoran.


Ia sengaja datang lebih cepat karena ingin segera bertanya pada Austin mengenai alasan mengapa hari ini berbohong padanya. Bahwa tadi mengetahui jika Aksa ternyata tidak diperbolehkan datang menemuinya.


Sebenarnya tadi ingin mengajak Aksa ke restoran, tapi berubah pikiran setelah berpikir jika nanti sosok anak laki-laki tersebut melihat pertengkarannya.


"Sudah, sampai di sini saja, Ayah," ucap Diandra begitu tiba di depan pintu masuk.


"Tidak! Ayah ingin mengantarkan sampai ke hadapan Austin," sahut sang ayah yang kini tidak ingin menuruti kemauan putrinya.


Karena tidak punya pilihan, akhirnya Diandra membiarkan sang ayah mendorong kursi roda dan beberapa saat kemudian melihat sosok pria dengan blazer hitam di sudut restoran.


Begitu menatapnya, refleks bangkit berdiri dan berjalan mendekat. Melihat Austin berjalan mendekat, kini Diandra teringat kata-kata calon ibu mertua, sehingga tidak sabar untuk membuat pria itu berbicara.


"Austin sudah mendekat, Ayah. Jadi, tidak perlu mengkhawatirkan aku dan bisa pulang."


"Baiklah. Sekarang Ayah tenang karena Austin sudah datang." Ia menatap ke arah calon menantu laki-laki yang baru saja dilihat. "Jaga putriku baik-baik."


Austin refleks tersenyum simpul dan menganggukkan kepala sebagai tanda persetujuan. "Tenang saja, Ayah. Percayakan Diandra padaku."


Kemudian melambaikan tangan begitu calon ayah mertua meninggalkan mereka dan ia langsung mendorong kursi roda ke kursi yang tadi di tempati.


"Sayang, kenapa tidak mengizinkan aku menjemputmu? Akhirnya kamu pergi diantar oleh ayah. Sebenarnya apa yang ingin kamu katakan padaku, hingga mengajak makan malam di restoran?"


Sementara itu, Diandra yang sama sekali tidak berniat untuk menjawab pertanyaan dari Austin, kini membuka suara, "Kenapa kamu melarang Aksa datang menemuiku hari ini?"

__ADS_1


"Apa alasannya? Ataukah kamu khawatir jika Aksa akan melupakan ibu kandungnya saat terlalu dekat denganku?" Hanya itu satu-satunya yang dipikirkan oleh Diandra saat ini.


Dari tadi berpikir dan hanya satu jawaban tersebut yang dianggap paling tepat. Bahkan merasa cemburu saat memikirkan jika Austin masih belum melupakan mantan kekasih yang merupakan ibu kandung Aksa.


Austin mengerjapkan kedua mata begitu tiba-tiba mendapatkan serangan pertanyaan yang sama sekali tidak ada dalam pikirannya. Apalagi sang ibu sama sekali tidak menceritakan mengenai hal itu.


"Sayang, kamu salah. Kenapa berbicara seperti itu? Aku sama sekali tidak pernah berpikir seperti itu karena selama ini hanya mencintaimu. Bahkan hanya kamu satu-satunya wanita yang ingin kunikahi."


Diandra hanya tertawa miris karena berpikir jika sosok pria di hadapannya penuh misteri dan bisa saja berbohong.


"Aku sama sekali tidak percaya. Selama ini aku tidak pernah menanyakan mengenai para mantan kekasihmu karena menganggap masa lalu adalah hal tidak penting, tapi hari ini berpikir itu mungkin akan menjadi benalu di kemudian hari dan menghancurkan hubungan kita."


"Kamu telah merusak rencanaku," seru Diandra yang saat ini benar-benar sangat kesal dan merasa emosi jika mengingat hari ini gagal bersikap manis untuk melamar sosok pria di hadapannya tersebut.


Austin yang tadi sudah menyuruh waiters untuk membawakan es krim cake begitu Diandra datang dengan di dalamnya ada sebuah cincin.


Kejutan yang ingin dibuat hari ini karena jujur saja tidak ingin Diandra memenuhi keinginannya untuk melamar karena itu adalah mimpinya dari dulu, yaitu di tempat romantis mengungkapkan niat untuk menikahi wanita yang sangat dicintai.


Ia seketika bangkit berdiri dari posisinya karena ingin merubah acara hari ini karena kemurkaan Diandra. Di saat bersamaan, melihat salah satu waiters yang berjalan mendekat dan memberikan kode untuk mengulur waktu.


Austin lalu berjalan menuju ke arah panggung yang berada tak jauh dari tempat mereka duduk. Kini, telah berada di atas panggung berukuran kecil, di mana di sana sudah ada beberapa anak band yang akan mengisi acara.


Bahkan ia terlihat tengah berbicara dengan anggota band tersebut dan mulai mengambil sebuah mic.


"Tes... tes..."


Austin mencoba mengecek microphon untuk mengetesnya apakah alat itu berfungsi dengan baik.


Sontak semua pengunjung mengalihkan pandangannya ke arah Austin yang sudah berdiri di atas panggung sambil memegangi sebuah mic dan mengarahkan ke dekat bibir.


Begitu pun dengan Diandra yang sudah menatap dengan intens wajah pria yang membuatnya kesal malah pergi dan kini berada di atas panggung tanpa mengedipkan mata.


"Selamat malam semua dan selamat datang. Malam ini, saya akan mengungkapkan perasaan kepada seorang wanita melalui sebuah lagu. Lagu ini sangat mewakili perasaan saya pada seorang wanita yang sangat cantik yang memakai baju berwarna peach dan saat ini tengah duduk di kursi nomor lima."


Semua orang mulai mencari sosok wanita yang telah disebutkan oleh pria tampan yang berada di atas panggung, lalu bertepuk tangan setelah melihat wanita yang di maksud.

__ADS_1


Bunyi tepukan tangan dan sorakan dari semua pengunjung terdengar riuh rendah, dan membuat wajah Diandra merona karena merasa sangat malu, tetapi juga kesal karena tiba-tiba Austin naik ke atas panggung dan mengungkapkan perasaan.


'Padahal aku sangat kesal, tapi membuatku malu di depan semua orang. Bahkan hari ini semua orang memperhatikan aku,' gumam Diandra yang kini kembali mendengar Austin berbicara.


"Wanita cantik itu bernama Diandra Ishana. Merupakan wanita pertama yang telah berhasil membuat saya memutuskan untuk segera menikah.


Suara tepuk tangan mulai terdengar dan sorak sorai para pengunjung mulai bersahutan. Semua pengunjung menatap ke arah Diandra.


Diandra benar-benar tidak menyangka jika Austin akan memberikan sebuah hal yang tidak pernah terpikirkan olehnya.


Sementara itu, Austin mulai kembali bersuara karena ingin Diandra tidak salah paham lagi dan mengerti ketulusan hati yang dimiliki.


Beberapa saat kemudian, alunan musik pun berhenti saat Austin telah menyelesaikan nyanyian. Semua pengunjung merasa terpukau begitu mendengar suara emas Austin. Bahkan bunyi tepukan tangan mulai memenuhi area restoran.


Kemudian ia turun dari panggung dan kembali berbicara pada Diandra. Ia kini sudah duduk di sebelah wanita yang tampak berbinar begitu melihatnya.


"Aku tidak percaya kamu bisa menyanyi, tapi kenapa menunjukkan di depan banyak orang? Lihatlah, sekarang kita jadi pusat perhatian pengunjung restoran," lirih Diandra yang merasa sangat tidak nyaman dengan tatapan semua pengunjung restoran.


Austin mengikuti arah pandang Diandra dan melihat banyak orang memperhatikan mereka. "Hanya itu?"


Diandra mengerutkan kening karena merasa tidak mengerti dengan perkataan ambigu dari pria yang berada di sebelahnya. "Apa maksudmu hanya itu?"


"Aku akan menghitung sampai lima, kamu akan mengetahui jawabannya. Satu, dua, tiga, empat ..."


Austin tidak melanjutkan kalimat terakhir begitu melihat waiters yang berjalan mendekat dan menaruh es krim cake pesanan khusus hari ini.


"Silakan dinikmati, Nona. Ini adalah spesial dari kekasih Anda," sahut pria berseragam hitam tersebut sambil mengulas senyuman dan berlalu pergi tanpa menunggu tanggapan.


Diandra membulatkan kedua mata begitu melihat es krim cake kesukaan dan menatap Austin dengan heran. "Kamu tahu aku suka ini?"


Austin hanya mengangguk perlahan dan memberikan kode agar sosok wanita di hadapannya segera membelah es krim cake tersebut dan menemukan kejutan yang disiapkan.


"Makanlah dan redam amarahmu dengan kenikmatan es krim cake kesukaanmu itu, Sayang."


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2