Konspirasi Cinta

Konspirasi Cinta
Tidak hamil duluan


__ADS_3

Diandra baru saja membuka mata dan melihat ke sekeliling ruangan yang didominasi oleh warna putih tersebut. Ia yang mencoba untuk mengingat apa yang terjadi padanya, mendengar suara bariton dari seorang pria dan membuatnya menoleh.


"Syukurlah kamu sudah sadar." Pria paruh baya yang saat ini bernafas lega begitu melihat sosok wanita yang telah menyelamatkan cucunya tadi dari tertimpa papan banner.


Diandra yang awalnya mencari ke arah sumber suara bariton dari seorang pria yang sama sekali tidak dikenal, ia kini mengerutkan kening. "Anda siapa? Ini rumah sakit?"


Ia pun seketika mengingat kejadian di taman tadi. "Aaah ... sepertinya aku pingsan karena terkena papan tadi."


Diandra bahkan merasakan nyeri pada bagian belakang kepalanya. Ia bahkan saat ini berbaring miring ke kanan dan di bagian belakang ditopang oleh sebuah alat. Jadi, kesusahan untuk tidur telentang.


"Kepalaku?" Diandra meraba bagian belakang kepala yang ternyata ditutupi oleh perban dan mendengarkan penjelasan dari pria sepantaran ayahnya yang berdiri di hadapannya.


"Tadi kepalamu berdarah dan pingsan ketika menyelamatkan anak-anak yang hampir tertimpa papan banner. Salah satu dari anak kecil itu adalah cucuku. Jadi, aku beserta yang lain mengucapkan terima kasih atas kebaikan yang telah menyelamatkan mereka." Mengulurkan tangannya untuk memperkenalkan diri.


"Aku Emran Jazim, yang merupakan kakek dari cucu perempuanku yang tadi ikut fashion show. Aku mewakili yang lain mengucapkan terima kasih padamu karena telah mempertaruhkan nyawa untuk menyelamatkan anak-anak tidak berdosa itu." Emran menjelaskan bahwa para orang tua tadi ikut ke rumah sakit.


Namun, karena anak-anak mereka sudah mengantuk karena hari telah larut malam, berpamitan dan menitipkan salam serta sejumlah uang untuk diberikan pada wanita itu sebagai ucapan terima kasih.


"Besok, para orang tua akan datang ke sini. Sementara ini adalah uang sebagai bentuk ucapan terima kasih padamu karena telah menyelamatkan putra-putri mereka." Memberikan tempat amplop yang salah satunya dari dirinya.


"Tolong diterima karena ini bentuk rasa syukur ketika putra putri mereka diselamatkan baik-baik saja tanpa terluka sedikit pun." Masih menunggu wanita di hadapannya tersebut menerima amplop berisi sejumlah uang.


Sementara itu, Diandra yang tadinya langsung menyambut uluran tangan itu, kini menggelengkan kepala karena tidak mau menerimanya.


"Saya Diandra. Maaf karena tidak bisa menerimanya. Saya benar-benar ikhlas menolong tanpa pamrih dan semoga menjadi amal ibadah di dunia yang menyelamatkan saya saat di akhirat nanti." Diandra saat ini memang tidak membutuhkan ucapan terima kasih berupa uang.


Hanya sebuah ucapan terima kasih penuh ketulusan, sudah cukup baginya. "Bukan saya berlagak tidak ingin menerima uang itu, tapi benar-benar sangat tulus saat menolong tadi. Jadi, tolong Jangan nodai ketulusan saya dengan nominal uang."


Merasa terdampar dengan apa yang baru saja dikatakan oleh wanita baik hati seperti malaikat tersebut, seketika membuatnya merasa malu dan akhirnya tidak mau memaksa.


"Baiklah. Besok, aku akan mengembalikan uang ini pada pemiliknya. Sekali lagi terima kasih atas kebaikanmu telah menyelamatkan cucuku dan putra-putri yang lain." Emran memang sengaja menunggu di rumah sakit sampai wanita itu sadar.


Itu karena ia merasa sangat iba pada wanita itu yang sendirian tanpa ada yang menemani. "Kalau boleh tahu, apakah kamu tengah liburan di sini dan menginap di hotel?"


Diandra pun menceritakan tujuannya datang ke sini untuk mencari kerja setelah berlibur menenangkan pikiran selama satu hari di sana.


"Jadi, tadi saya keluar dari kamar untuk menghilangkan rasa bosan. Hingga melihat acara fashion show anak-anak yang sangat menggemaskan hingga kemalangan itu terjadi." Diandra menyadari rasa pusing di kepalanya berasal dari tertimpa papan banner tadi.


"Apakah luka di kepala saya tadi dijahit? Ini terasa nyeri." Menahan rasa nyeri dengan meringis menahan rasa sakit bagian belakang kepalanya.


Pria paruh baya yang merasa tertarik dengan cerita dari wanita itu, kini mendaratkan tubuhnya di kursi yang disediakan. "Iya, tadi mendapat luka jahitan sebanyak satu ruas jari telunjuk. Bisa dibilang cukup panjang."


"Oh ya, jadi kamu ke sini ingin mencari tempat tinggal baru serta berniat bekerja?" Ia ingin memastikan sebelum menanggapi.


Diandra mengangguk perlahan untuk membenarkan. "Rencana begitu. Saya sedang menunggu kabar baik dari salah satu pegawai hotel yang tadi mengatakan akan membantu untuk mencarikan pekerjaan di sekitar sini. Mungkin menjadi pemetik daun teh atau yang lainnya."


Saat ini, Emran yang merasa iba sekaligus ingin menolong wanita baik hati itu, seketika menawarkan pekerjaan.


"Kebetulan aku mempunyai beberapa lahan kebun teh. Jika kamu mau, bekerja saja di tempatku. Tidak akan ada interview atau ***** bengek yang lain karena kamu akan langsung diterima bekerja." Ia berharap wanita baik itu mau menerima tawarannya karena tidak mau diberikan uang sebagai ucapan terima kasih.

__ADS_1


Di sisi lain, wajah Diandra seketika berbinar begitu mengetahui jika pria yang berada di hadapannya memiliki lahan kebun teh dan keinginannya untuk bekerja menjadi pemetik daun teh menjadi kenyataan.


"Benarkah Anda mau menerima saya bekerja? Jika benar, saya sangat berterima kasih kepada Anda karena memberikan kesempatan dan percaya." Diandra bahkan saat ini ingin segera pulih dan keluar dari rumah sakit, agar bisa segera bekerja.


Emran saat ini hanya tersenyum simpul dan merasa lega karena wanita itu mau menerima dan dianggap sebagai sebuah balas budi atas kebaikan yang menyelamatkan cucunya.


"Tentu saja aku benar-benar menerimamu bekerja. Kamu bisa bekerja sepuas hati di tempatku setelah sembuh nanti. Di sana juga ada mess sebagai tempat tinggal para pekerja. Jadi, kamu bisa tinggal di sana tanpa memikirkan biaya karena aku tidak pernah menarik uang sewa."


Kemudian Emran mengeluarkan ponselnya. "Berapa nomor telponmu? Aku akan menyimpannya dan sewaktu-waktu bisa menghubungimu nanti."


Diandra yang mengingat ponselnya tadi berada di saku celana, meraba-raba untuk mencari. "Di mana ponselku?"


"Oh ya, ada di dalam laci karena tadi perawat yang mengeluarkannya dan menyimpan di sana. Jadi, tadi aku diberitahu oleh perawat agar memberitahumu." Emran masih menunggu untuk diberitahu nomor ponsel wanita itu.


Diandra yang seketika merasa lega karena tidak kehilangan ponsel miliknya, menyebutkan nomor barunya. "Itu nomor saya, Tuan Emran. Senang bisa ketemu dengan orang sebaik Anda."


Setelah berhasil menyimpan nomor milik wanita itu, ia pun langsung miscall agar nomornya masuk. "Jadi, itu nomorku. Nanti kamu simpan nomorku."


Diandra yang baru saja menganggukkan kepala, kini benar-benar bersyukur karena selalu bertemu dengan orang baik. Ia menatap ke arah pria paruh baya tersebut.


"Anda pulang saja karena saya tidak masalah sendiri di sini. Pasti Anda sudah lelah dari tadi berada di sini." Diandra akan saat ini melihat jika jarum jam menunjukkan pukul sebelas malam dan menegaskan bahwa ia sudah tidak sadarkan diri selama 3 jam.


Sementara itu, Emran yang memang berencana untuk pulang karena khawatir pada sang istri yang hanya tinggal bersama dengan cucunya. "Iya, aku akan pergi setelah orang yang kusuruh menemanimu di sini datang."


"Nanti ada wanita yang menemanimu di sini dan kamu bisa meminta bantuan apapun padanya. Aku tidak bisa menunggumu terlalu lama di sini karena istriku tinggal bersama dengan cucuku. Sementara putri dan menantu masih ada di luar negeri untuk menjalani pengobatan, jadi putrinya dititipkan di sini."


"Ternyata kamu panjang umur karena aku baru saja membicarakanmu dengannya."


"Benarkah, Tuan Emran. Semoga saya memiliki umur panjang seperti pepatah itu." Wanita bernama Marni tersebut membungkuk hormat untuk menyapa sang majikan dan juga pasien.


"Selamat malam, Nona. Saya yang akan menemani Anda di sini." Marni berusaha untuk bersikap akrab agar wanita itu tidak merasa canggung dengan kehadirannya.


Hingga Diandra yang merasa tidak enak merepotkan pria paruh baya serta wanita itu, kini tersenyum simpul. "Maafkan saya karena merepotkan Anda."


"Tidak perlu berbicara seperti itu, Diandra. Aku melakukan semua ini karena atas dasar kemanusiaan dengan menolongmu. Jadi, semua ada timbal balik karena cucuku tidak mengalami celaka hari ini." Hingga ia pun kini kembali mengulurkan tangan sebagai salam perpisahan.


"Aku pulang dulu dan besok datang ke sini lagi bersama dengan para orang tua yang lain karena belum mengucapkan terima kasih secara langsung padamu." Ia pun tersenyum simpul ketika Diandra selalu saja menolak.


"Sebenarnya tadi sudah mewakili semuanya dan tidak perlu datang ke sini lagi. Lagipula saya benar-benar tulus ikhlas menolong tadi karena kebetulan menatap ke arah papan tersebut." Diandra menurunkan tangan setelah berjabat tangan.


Emran tidak tahu apa yang akan dilakukan para orang tua lain ketika Diandra tidak mau menerima uang sebagai ucapan terima kasih. Rencananya akan membicarakan dengan mereka esok hari.


Apalagi tadi sudah menyimpan nomor-nomor para orang tua yang putra-putrinya diselamatkan oleh Diandra. Mungkin berniat untuk menggantinya dengan sesuatu yang tidak berhubungan dengan uang.


Ia berpikir mungkin makanan atau pakaian bisa diberikan sebagai ganti uang yang ditolak oleh Diandra. "Kamu tidak boleh menolak saat ada yang menjengukmu."


"Jadi, biarkan saja mereka datang dan mengucapkan terima kasih dengan tulus padamu karena telah menyelamatkan putra-putri mereka." Kemudian Emran tersenyum simpul setelah Diandra tidak lagi menolak dan menuruti nasihatnya.


Hingga ia pun kini mulai berjalan menuju ke arah pintu keluar setelah berpamitan pada dua wanita berbeda usia tersebut.

__ADS_1


Diandra saat ini masih menatap siluet belakang pria yang menghilang di balik pintu dan beralih pada sosok wanita yang akan menemaninya di rumah sakit.


"Mbak, terima kasih karena menemaniku di sini. Aku jadi tidak kesepian karena ada teman mengobrol." Diandra yang baru saja menutup mulut, malah menguap beberapa kali.


"Sepertinya kamu masih terbawa pengaruh obat. Jadi, sekarang mengantuk. Lebih baik kamu beristirahat saja karena orang sakit harus lebih banyak tidur agar cepat pulih. Aku akan menemanimu di sini," ujar Marni yang merasa tidak tega melihat beberapa kali menguap.


Diandra yang tadinya menolak untuk tidur, kelamaan bola matanya seperti dilapisi lem dan tidak kuat terbuka. Kini, ia menatap ke arah wanita di hadapannya dengan samar-samar.


"Sepertinya benar jika ini adalah pengaruh obat yang diberikan. Aku benar-benar sangat mengantuk." Saat Diandra baru saja menyelesaikan kalimatnya, kesadarannya mulai menghilang dan larut dalam alam bawah sadar.


Di sisi lain, sosok wanita yang masih berdiri di sebelah kiri pasien dengan kelopak mata tertutup itu, sangat iba karena tidak mempunyai siapa-siapa yang bisa dihubungi untuk menjaganya.


"Wanita ini bahkan membuat tuan Emran yang selama ini terkenal diktator untuk para pekerja, terlihat berbeda ketika berinteraksi dengan Diandra. Tuan Emran akan terlihat sangat sabar ketika menjelaskan sesuatu pada Diandra tadi."


Kemudian ia bangkit berdiri dan berjalan, lalu mendaratkan tubuhnya di atas sofa karena juga sudah mengantuk dan ingin tidur setelah pasien tertidur pulas karena pengaruh obat.


"Aaah ... aku pun harus tidur agar besok pagi pagi sekali bangun." Saat ia merebahkan tubuhnya, malah mendengar suara notifikasi dari ponsel miliknya dan memeriksa pesan tak lain dari bosnya.


Jaga baik-baik wanita itu dan laporkan padaku jika terjadi sesuatu.


Karena tidak ingin menunda membalas karena takut dipecat, kini ia mengetikkan pesan bahwa Diandra sudah tertidur pulas.


Kemudian menaruh benda pipih tersebut di atas meja yang ada di hadapannya dan kembali merebahkan tubuhnya yang saat ini sudah sangat mengantuk.


Hingga beberapa saat kemudian, suara napas teratur menghiasi ruangan kamar perawatan tersebut karena dua wanita yang ada di sana sudah larut dalam alam bawah sadar.


Hingga beberapa jam telah berlalu dan pada pukul tiga pagi, terlihat pergerakan dari seseorang yang berada di ranjang perawatan. Diandra seketika membuka mata begitu mengetahui jika yang baru saja membuat degup jantungnya berdetak melebihi batas normal itu karena mengalami mimpi buruk.


Ia yang tadinya tertidur pulas, bermimpi menggendong bayi dan membuatnya merasa sangat takut jika itu benar-benar terjadi. 'Tidak mungkin! Itu hanyalah sebuah mimpi semata dan tidak perlu diingat-ingat.'


Diandra saat ini mencoba untuk menghapus bulir peluh yang membasahi wajahnya. Ia saat ini terdiam sejenak dan menatap ke arah perutnya yang datar.


'Aku tidak akan hamil hanya karena Austin melakukan itu dua kali padaku, tapi jika itu benar, apa yang harus kulakukan? Aku tidak mungkin bisa bekerja jika dalam posisi hamil.' Diandra seperti merasa mempunyai feeling jika ada nyawa di rahimnya.


Namun, ia tetap berusaha untuk berpikir positif agar tidak sampai terjadi sesuatu yang akan semakin membuatnya tersiksa karena dibayang-bayangi oleh perbuatan Austin jika sampai hamil benih pria itu.


'Apakah aku bisa menerima jika sampai di dalam perutku ini ada nyawa? Aku pun tidak tahu apa yang akan terjadi nanti jika itu benar-benar menimpaku.' Diandra kembali memejamkan mata karena mengetahui jika hari masih terlalu pagi untuk bangun dari istirahat.


Hingga saat memejamkan mata, tetap saja merasa khawatir dan tidak akan pernah tenang sebelum memeriksakan diri nanti.


"Kenapa harus nanti? Bukankah sekarang bisa? Cari dokter yang berhubungan dengan kehamilan. Kira-kira apa bisa aku meminta pertolongan seorang dokter kandungan untuk memeriksa apakah ada nyawa di sini." Diandra masih sibuk mengusap perutnya yang datar.


Ia berharap mendapatkan sebuah keajaiban atas hidupnya dan tidak ingin semakin menderita jika benar-benar hamil benih Austin. Hal yang selalu dilihatnya di televisi adalah para wanita pasti hamil jika diperkosa atau melakukan sekali saja.


Namun, faktanya ada banyak perempuan yang terlantar karena tidak kunjung mempunyai keturunan setelah bertahun-tahun menikah. Sebuah hal yang selalu menjadi misteri illahi, merupakan contoh keajaiban yang diharapkannya.


'Aku berharap menjadi seorang wanita yang tidak merasakan hamil duluan. Semoga tidak ada apapun di rahimku saat ini.'


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2