Konspirasi Cinta

Konspirasi Cinta
Traumatis


__ADS_3

Beberapa saat lalu, Diandra menunggu sang suami kembali dan ingin mengetahui apakah ia diperbolehkan untuk pulang setelah merasa keadaannya sudah jauh lebih baik.


Apalagi saat ini tidak merasakan pusing seperti ketika pertama kali tiba-tiba kehilangan kesadaran karena semuanya terasa gelap saat melihat sang suami yang baru saja mengalami kecelakaan dan ternyata hanya menipunya demi bisa membuatnya tinggal.


Saat mengingat perbuatan sang suami yang menghalalkan segala cara agar ia tidak pergi, seketika tersenyum simpul dan wajahnya merona karena baru menyadari jika seorang Austin Matteo benar-benar mencintainya dengan tulus.


Ia bahkan saat ini berpikir jika tidak ada satupun wanita yang bisa merebut sang suami karena sangat mencintainya. "Aku tidak perlu takut pada para pelakor yang merajalela saat ini. Apalagi banyak kejadian yang membuat para istri dan juga anak kehilangan suami serta ayah hanya gara-gara wanita penggoda."


Merasa sangat beruntung karena dicintai begitu besar oleh pria yang bahkan tidak pernah melirik wanita lain semenjak jatuh cinta padanya, ia benar-benar mengucap syukur karena nasibnya yang dulu dianggap sangat buruk, kini telah berubah menjadi sebuah keberuntungan.


"Ya Allah, terima kasih atas semua kebahagiaan ini. Ampuni hamba karena dulu berpikir adalah seorang wanita paling menderita di dunia ini karena mendapatkan cobaan bertubi-tubi." Diandra saat ini menyadari jika dulu ia menjadi seorang wanita yang terlalu negatif thinking dan gegabah dalam melakukan apapun.


Saat ini ia menyadari jika tidak pandai menilai orang yang tulus dan tidak. Bahwa orang yang tulus dianggap tidak baik dan orang yang hanya memanfaatkannya dianggap tulus.


"Mungkin jika aku dulu tidak kabur dari Austin dan membiarkannya bertanggung jawab padaku tanpa mempertahankan egoku, mungkin semuanya tidak akan kacau sampai seperti ini."


Saat ia mengingat juga tentang Yoshi yang pernah membuatnya berani membuka hati dan mempercayai pria itu, kini menyadari jika perasaannya hanyalah merupakan sebuah pelampiasan semata.


"Aku mencari sosok pria yang bisa membuatku melampiaskan semua perasaan kecewa yang kurasakan pada Austin Matteo dan Yoshi yang menjadi tempatnya. Sekarang aku menyadari jika sama sekali tidak ingin kembali padanya meskipun sudah sembuh dan sadar dari koma." Embusan napas kasar mau lagi di perasaannya ketika mengingat hubungannya dengan Yoshi.


"Itulah kenapa Tuhan membuat kami berpisah karena ingin menyadarkanku jika jodohku adalah Austin Matteo. Dialah tulang rusukku, bukan Yoshi." Diandra yang kini menatap ke arah ruangan perawatan yang terasa sunyi karena sama sekali tidak ada orang yang menemaninya.


Ia masih menunggu dengan sabar sang suami, tapi saat detik berganti menit, sang suami tetap tidak terlihat juga dan membuatnya merasa khawatir jika terjadi sesuatu.


"Kenapa suamiku lama sekali? Apa yang sebenarnya terjadi? Apa ada pembicaraan serius dengan dokter yang menanganiku?" Ia saat ini merasa sangat kesal karena tidak bisa menghubungi sang suami ketika SIM card tadi sudah dipatahkan.


"Menyebalkan sekali! Harusnya mematahkan setelah membelikan nomor baru. Awas saja nanti jika kembali!" sarkas Diandra yang saat ini mencoba untuk bersabar dan berharap sang suami segera kembali.


Namun, setelah setengah jam, pria yang ditunggu-tunggu tidak kunjung kembali dan membuatnya semakin bertambah kesal. Apalagi saat ini moodnya bertambah buruk dan ingin sekali menarik rambut pria itu untuk melampiaskan amarah.


"Ke mana saja sih dia? Bilangnya mau berbicara dengan dokter, tapi kenapa sangat lama? Memangnya apa yang dibicarakannya dari tadi hingga tidak kunjung kembali?" Diandra masih menahan gejolak amarah yang seolah meletup-letup di dalam dirinya saat ini.


Bahkan beberapa kali mengambil napas panjang dan mengeluarkannya dengan teratur. Berharap sosok pria yang dari tadi ditunggu cepat kembali.


Ia saat ini sebenarnya ingin berjalan keluar untuk memeriksa sendiri, tapi khawatir jika tiba-tiba merasa pusing dan kembali kehilangan kesadaran, sehingga berdampak buruk pada janin yang dikandungnya.


Akhirnya memilih untuk melampiaskan amarah dengan mengambil botol air mineral dan meneguknya. Sampai ia berpikir untuk terus membawa botol air mineral di tangannya dan tidak meletakkan kembali di atas laci.


"Awas saja. Aku akan melemparnya dengan ini begitu masuk ke dalam," sarkasnya yang di saat bersamaan mendengar suara ketukan pintu dan merasa yakin jika itu adalah sang suami.


Ia yang tidak mengalihkan pandangannya dari pintu masuk, sudah bersiap untuk melemparkan botol air mineral di tangannya. Hingga begitu sang suami terlihat, ia tidak membuang waktu dan langsung melampiaskan amarahnya.


Namun, melemparkan pada lantai di depan kaki karena tidak mungkin melakukannya di wajah pria yang sangat dicintainya tersebut. Ia hanya ingin meluapkan mood-nya yang berubah buruk karena ditinggal pergi terlalu lama dan membuatnya kesal.


Bahkan belum sempat rasa kesalnya hilang, semakin bertambah besar begitu melihat sosok wanita cantik yang kini berdiri di samping sang suami dan membuatnya memicingkan mata, lalu beralih menatap tajam.

__ADS_1


"Cepat katakan dari mana saja tadi! Kenapa lama sekali?" sarkas Diandra yang kemudian menunjuk ke arah sosok wanita dengan postur tubuh sangat tinggi tersebut. "Dan siapa dia?"


Puas meluapkan semua amarah yang membuncah dirasakan olehnya, kini ia masih menunggu mendapatkan sebuah jawaban yang bisa menenangkan hatinya karena jika tidak, benar-benar akan menarik rambut pria itu seperti yang dilakukannya ketika marah semalam.


Austin yang tidak berpikir jika sang istri akan semarah itu ketika ditinggal pergi hanya beberapa menit, kini seketika memijat pelipis dan menoleh ke arah sahabatnya. Ia pun memberikan kode pada Leony untuk memperkenalkan diri agar sang istri tidak bersikap kasar.


Leony yang tadinya berpikir jika istri dari ostimateo adalah seorang wanita elegan, berkelas dan jauh lebih cantik darinya, benar-benar sangat terkejut karena pemikirannya salah.


Ia bahkan saat ini melihat seorang wanita dengan raut wajah pucat yang hanya mengenakan seragam rumah sakit dan bersikap sangat kasar. Bahkan ia sudah bisa menebak jika wanita tersebut bukanlah seorang anak konglomerat seperti sahabatnya.


'Semua yang ditampilkan wanita ini sangatlah biasa dan tidak ada yang istimewa. Lalu, apa yang membuat Austin jatuh cinta padanya dan menikahinya? Kenapa wanita yang mengalahkanku sangat tidak selevel denganku?' gumam Leony yang saat ini mengerti dengan arti kode mata dari sahabatnya.


Ia sebenarnya masih sibuk memikirkan kekesalannya karena tidak terima dikalahkan dengan mudah oleh seorang wanita biasa seperti itu, tapi merasa kasihan pada sahabatnya dan akhirnya berjalan mendekat untuk memperkenalkan diri.


"Selamat siang, Nyonya Austin. Aku adalah Leony—sahabat baik Austin ketika kuliah dulu. Tadi dia menemui orang tuaku terlebih dahulu karena sudah sangat lama tidak bertemu dan kebetulan bisa berjumpa di rumah sakit ini. Papaku kebetulan dirawat di ruang sebelah," ucapnya yang menunjuk ke arah sebelah kanan.


Austin saat ini berjalan mendekati sang istri dan meraih pergelangan tangan wanita itu agar tidak marah padanya. "Maafkan aku karena sangat lama tadi ketika keluar. Aku janji tidak akan melakukannya lagi. Kebetulan tadi bertemu dengannya."


"Dia bahkan baru saja datang dari luar negeri karena memang bekerja di sana selama ini dan sekarang menjenguk sang ayah yang sedang sakit. Aku sedikit mengobrol bersama orang tuanya tadi di ruang sebelah, jadi maafkan aku, karena pergi sangat lama."


Saat ia baru saja menutup mulut, kini merasa tertampar dan kebingungan karena tadi melupakan sesuatu hal yang sangat penting.


Diandra kini mencoba untuk tersenyum pada wanita yang baru saja memperkenalkan diri sebagai sahabat baik dari sang suami. Padahal sebenarnya di dalam hati merasa jika antara pria dan wanita tidak pernah bisa berteman karena pasti ada salah satu di antara mereka yang memiliki perasaan lebih.


Namun, ia tidak ingin memperlihatkan kecemburuannya di depan wanita itu karena nanti akan berbicara secara empat mata. "Senang bisa bertemu denganmu, Leony. Salam untuk orang tuamu dan semoga papamu segera sembuh dari sakitnya dengan diangkat segala penyakitnya oleh Allah."


Saat ia melihat ekspresi wajah sang suami seperti sangat terkejut dan tidak langsung menjawab apa yang ingin ia ketahui, seolah mengerti apa yang dilakukan pria di hadapannya tersebut.


"Kenapa? Jangan bilang jika tadi belum sempat berbicara dengan dokter!" sarkas Diandra yang semakin merasa kesal pada sang suami." Hingga ia seketika mencubit lengan kekar pria di hadapannya tersebut untuk memberikan sebuah hukuman.


"Sayang, aku tadi lupa setelah menelpon asistenku untuk menanyakan tentang perkembangan dari tuntutan kepada pihak kepolisian." Austin yang saat ini meringis menahan rasa nyeri pada lengannya, seketika menepuk jidat begitu mengingat sesuatu hal yang penting.


Austin beralih menoleh ke arah sahabatnya yang berdiri di sebelah kirinya. "Aaah ... aku bahkan tadi lupa untuk menanyakan pada papamu apakah mengenal para petinggi di kepolisian."


Saat Leony masih mencoba untuk menormalkan perasaan kesal yang dirasakan akibat melihat wanita yang tidak sesuai dengan ekspektasinya, ini mengerutkan kening karena tidak paham dengan apa yang dimaksud oleh Austin.


"Bukankah Kamu tahu jika papaku sudah pensiun dari kepolisian? Mana tahu tentang para petinggi yang sekarang pastinya juga sudah berubah. Memangnya kamu ingin berbuat apa?" tanya Leony yang saat ini terdiam di tempatnya karena merasa penasaran dengan apa yang terjadi pada Austin Matteo beserta sang istri.


Diandra yang kini tidak jadi marah karena berpikir jika sang suami terlalu banyak memikirkan masalah tentang ibunya Yoshi. Ia sebenarnya ingin menasihati, tapi khawatir jika pria itu akan kesal padanya dengan membahas tentang tidak menyadari bahaya mengintai keluarga kecil mereka.


Akhirnya kini hanya diam mendengarkan perkataan pria itu sambil sesekali menatap sosok wanita yang menurutnya sangat cantik seperti seorang artis. Bahkan bisa dibilang sangat elegan dan pastinya smart.


Hingga ia seperti langsung bisa bercermin dan menganggap sangat tidak sepadan dengan wanita yang membuatnya iri karena memiliki wajah sangat cantik.


'Apa suamiku pernah sempat menyukai sahabatnya ini? Ataukah sebaliknya? Apakah malah wanita ini yang menyukai suamiku? Aah ... aku jadi merasa penasaran dan ingin segera bertanya padanya.'

__ADS_1


'Nanti saja setelah dia keluar. Semoga dia segera keluar dan tidak lagi dekat-dekat dengan suamiku,' gumam Diandra yang masih tidak mengalihkan tatapannya pada wanita yang sangat tinggi tersebut.


Sementara itu, Austin yang saat ini menjelaskan tentang garis besar jika ia ingin melaporkan sesuatu yang berupa ancaman, tapi tersangka berada di luar negeri. Berharap kepolisian bisa segera membuat wanita itu pulang paksa dan mempertanggungjawabkan perbuatan di baluk jeruji besi.


"Tolong nanti tanyakan pada papamu apakah mempunyai kenalan yang bisa membantuku. Aku ingin orang jahat itu segera mendapatkan hukuman," sarkas Austin yang saat ini merasa benar-benar membutuhkan bantuan dari sahabatnya.


"Baiklah. Aku akan bertanya pada papa. Sekarang aku harus kembali ke ruangan papa. Aku sudah tahu seperti apa wanita beruntung yang memilikimu. Semoga kalian selalu bahagia." Kemudian ia beralih menatap ke arah wanita yang dianggap tidak ada yang spesial darinya.


Lalu mengulurkan tangan sebagai salam perpisahan sebelum keluar dari ruangan. "Senang bertemu denganmu, Diandra. Semoga kalian selalu bahagia. Aku harus kembali ke ruangan papaku."


Diandra yang tadi tidak menyebutkan namanya, karena wanita itu ternyata sudah mengetahuinya. "Apa suamiku tadi yang memberitahukan namaku?"


"Iya, kenapa?" Leony kini menganggukkan kepala dan merasa aneh ketika menganggap wanita itu sangat ribet.


Diandra hanya menggelengkan kepala karena rasa ingin tahunya sudah terjawab. "Tidak. Kan aku tadi lupa tidak memberitahukan namaku karena kesal. Maaf karena sepertinya ini adalah pengaruh dari hormon kehamilan. Jadi, mood gampang berubah."


Ia sengaja mengatakan hal itu untuk menyadarkan wanita di hadapannya agar tidak sedikitpun mempunyai rencana untuk menggoda sang suami. Apalagi ia seperti bisa melihat pandangan dari wanita itu padanya.


Seolah menunjukkan jika ia tidaklah sebanding dengan Austin Matteo. Ia bisa melihat tatapan macam dari wanita yang memiliki paras cantik serta semua hal yang melebihi dirinya.


Hingga tatapan itu berubah jadi rasa terkejut begitu ia berbicara jujur mengenai dirinya. Bahwa penampilannya saat ini sangat kusam karena tengah mengandung, bukan karena tidak bisa merawat diri.


"Apa? Hamil? Jadi, kamu dirawat di sini karena hamil?" tanya Leony merasa sangat syok dengan apa yang baru saja didengarnya.


Ia bahkan tadinya berpikir jika wanita itu sakit biasa, makanya sekarang sangat terkejut begitu mengetahuinya karena Austin juga tidak menceritakannya. Ia bahkan saat ini meninju lengan kekar sahabatnya.


"Kenapa tidak bilang jika istrimu hamil? Tahu begini, aku tidak akan ke sini karena khawatir jika kondisinya memburuk gara-gara melihatku. Soalnya aku pernah merasakan pengalaman buruk dengan ibu hamil," ucapnya yang saat ini mengingat kejadian satu tahun lalu.


Austin yang merasa bersalah karena tadi lupa menjelaskan tentang sang istri dirawat karena kehamilan yang lemah, kini membuat gerakan jari membentuk simbol peace.


"Memangnya apa yang terjadi?" Ia merasa sangat penasaran, tapi merasa kecewa ketika sahabatnya seperti tidak mau menceritakan padanya.


"Aah ... Lupakan. Aku pergi!" Kemudian Leony melambaikan tangannya dan tersenyum pada dua orang yang membuat perasaannya tidak menentu.


Hingga ia pun kini berjalan keluar dengan embusan napas kasar ketika sekarang mood-nya yang berubah buruk. "Saat melihat istri Austin pertama kali, rasanya ingin sekali aku menarik rambutnya."


"Bahkan dia tidak jauh lebih cantik dariku. Kenapa seorang Austin Matteo bisa menyukainya? Aku rasanya benar-benar terhina, tapi sialnya tidak bisa melakukan apa-apa," sarkas Leony yang kini semakin bertambah kesal karena mengingat tentang masalah kehamilan.


Ia karena saat ini berhenti dan berpegangan pada dinding. Kejadian satu tahun lalu kini membuat kepalanya seperti berputar. Dulu ia menabrak seorang wanita yang tengah hamil hingga mengalami keguguran dan semenjak saat itu merasa sangat syok dan menjaga jarak dari wanita hamil.


Makanya tadi ia buru-buru pergi karena tidak ingin wajah pucatnya dilihat oleh sahabat serta sang istri yang tidak disukainya. Ia ya saat ini masih berusaha untuk menormalkan perasaannya, mengedarkan pandangan untuk mencari toilet di sekitarnya.


Namun, seketika menepuk jidat karena menyadari kebodohannya. Bahwa ia saat ini berada di lantai khusus pasien VVIP yang hanya ada toilet di dalam kamar perawatan. Akhirnya ia berusaha untuk mengambil napas teratur agar tidak terlihat buruk ketika kembali ke ruangan ayah.


"Sial! Kenapa wanita itu harus hamil dan aku mengetahuinya pada detik-detik terakhir seperti ini? Ini benar-benar sangat menyebalkan," sarkas Leony berusaha untuk melupakan traumatis yang diderita.

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2