Konspirasi Cinta

Konspirasi Cinta
Mau pergi ke mana?


__ADS_3

Diandra benar-benar sangat menyesali perbuatannya dan kali ini merasa bersalah, sehingga berjanji pada diri sendiri tidak akan mengulanginya. Hingga ia memikirkan pertanyaan dari sang suami mengenai apa yang dilakukan Yoshi setelah mengetahui tentang sang ibu yang menjadi dalang dibalik perpisahan mereka.


Ia menatap ke arah sosok pria yang saat ini masih menunggu jawaban darinya. "Kenapa kamu sangat yakin jika aku mengetahui apa yang dilakukan Yoshi?"


"Itu karena aku tahu jika dulu kamu mencintai dan membanggakannya. Mungkin jika dia tidak dijodohkan oleh orang tuanya, apakah kamu hidup bahagia bersamanya tanpa memiliki anak dan fokus membesarkan Aksa? Bukankah itu terlalu kejam untuk ayah biologisnya?" Sengaja Austin menyindir Diandra agar menyadari jika ia jauh lebih baik dibandingkan dengan pria yang mandul itu.


Berharap dengan begitu, tidak ada lagi bentuk pujian yang diungkapkan oleh sang istri pada Yoshi. Jujur saja ia merasa sangat cemburu jika sang istri mengatakan bahwa Yoshi adalah seorang pria yang baik. Bahkan dianggap lebih baik darinya.


"Sebenarnya apa yang kamu bilang memang benar." Diandra saat ini malah lebih suka melihat raut wajah pria di hadapannya tersebut seperti tengah menahan kekesalan begitu mengucapkan kalimat ambigu untuk mengerjai pria itu.


"Nah kan, benar! Issh ... menyebalkan! Apa tidak bisa kamu menutupinya untuk menjaga perasaan suamimu sendiri?" sarkas Austin yang saat ini memilih untuk menyendokkan satu sendok makanan ke dalam mulutnya karena sang istri sudah menggelengkan kepala tanda kenyang.


Benar apa yang dipikirkannya karena wanita yang tengah hamil benihnya tersebut hanya makan beberapa suap saja, jadi ia yang akan menghabiskannya tanpa merasa jijik jika itu adalah makan makanan bekas istri.


Saat mengunyah makanan dengan raut wajah masam, ia semakin bertambah kesal melihat ekspresi sang istri saat menertawakannya.


"Lihatlah pria yang cemburu ini. Seperti anak kecil yang tidak dituruti keinginannya." Diandra bahkan saat ini sudah mengarahkan tangannya untuk mencubit gemas pipi dengan rahang tegas itu.


Tanpa memperdulikan jika sang suami tengah mengunyah makanan di mulutnya. "Kamu kita akan menghabiskan makanan sisa. Tidak jijik kah?"


Austin kini membalas dendam dengan mengarahkan cubitan kecil pada lengan wanita yang masih terus tertawa dan mengakhirinya dengan hal yang konyol.

__ADS_1


"Apa kamu bilang, jijik? Bahkan aku sudah menikmatimu dari ujung kepala hingga kaki. Bagaimana bisa jijik hanya dengan makanan bekasmu? Bukankah itu adalah sebuah pertanyaan yang konyol?" ucapnya tanpa mempedulikan raut wajah sang istri yang meringis karena cubitannya.


Awalnya Diandra mengusap tangannya yang terasa nyeri, tapi seketika memerah wajahnya karena rasa malu mendominasi saat otaknya saat ini sudah terkontaminasi dengan perkataan bernada vulgar yang baru saja diungkapkan oleh pria yang melanjutkan ritual makannya.


"Dasar mesum!"


"Jawab saja pertanyaanku yang tadi! Kira-kira mantanmu itu marah pada mamanya atau menyimpannya rapat-rapat? Poin pertama atau terakhir?" Austin merasa jika jawaban Diandra adalah sebuah fakta yang terjadi karena sangat mengenal sosok Yoshi.


Hingga saat sang istri membuka suara, ia membuka lebar-lebar telinganya untuk mendengar apa yang diungkapkan.


"Poin kedua," sahut Diandra yang sudah sangat mengenal Yoshi.


"Kamu yakin jika dia tidak membuka rahasia mamanya setelah mengetahui kejahatannya?" Mendadak nafsu makan Austin hilang seketika karena tidak berhasil memberikan sebuah pelajaran pada wanita paruh baya yang tidak bisa ditolerir perbuatannya.


"Bukankah Yoshi akan merasa berdosa jika berbuat jahat pada wanita yang selama ini merawatnya dengan baik dan tidak menyerah hingga pulih dari koma? Apalagi seorang anak yang baik tidak akan durhaka pada orang tua dengan melawannya." Ia kini mengingat jika Yoshi meninggalkannya karena menuruti perintah orang tua.


"Aku pernah mendengar sesuatu, jika orang tua tidak pernah salah dan jika orang tua bersalah, kembali pada pasal 1 karena sejatinya mereka adalah orang yang harus dihormati. Rasa hormat pada orang tua tidak bisa dinodai oleh kesalahan mereka." Diandra saat ini menunjukkan arah botol air mineral di atas laci yang tidak bisa digapai.


Ia merasa tenggorokannya sangat kering karena tadi lupa belum minum setelah sarapan. Hingga ia tersenyum lebar begitu melihat sang suami kini sudah mengambilkan dan membuka botolnya sebelum memberikan padanya.


"Pelan-pelan agar tidak tersedak," ucap Austin yang juga ingin minum karena sudah berhenti makan.

__ADS_1


Diandra yang saat ini meneguk minuman dengan sedotan, merasa jika suami sangat perhatian. Hingga ia pun kini memberikan kode jika sudah selesai. "Terima kasih, Sayang."


Austin hanya mengangguk perlahan dan minum bekas air minum sang istri. Kemudian kembali menaruhnya di atas nakas sambil mengusap perutnya.


"Sarapan sedikit saja sudah kenyang." Ia kini beralih menatap ke arah ponsel yang ada di atas nakas. "Aku terpaksa harus mengganti nomormu lagi agar tidak diketahui oleh wanita jahat itu."


Kemudian ia mengambil benda pipih tersebut dan langsung mengeluarkan SIM card agar tidak ada yang bisa menghubungi lagi. Semenjak kejadian yang membuat mereka bertengkar, ia saat ini memilih untuk berhati-hati.


Sementara itu, Diandra hanya diam menatap ke arah sang suami yang baru saja berhasil mengeluarkan sim card miliknya. "Jadi, ini alasanmu dulu menyuruhku mengganti nomor? Tapi aku malah sengaja mengumpankan diri pada mamanya Yoshi."


"Sekarang kamu sudah sadar, kan? Jika aku melakukan semua ini demi kebaikan kita," ucap Austin yang kini langsung mematahkan SIM card di tangannya.


Diandra yang lagi-lagi merasa bersalah, hanya diam melihat pemandangan itu karena mengerti jika semua itu memang demi kebaikan mereka. "Iya, kan tadi aku sudah berjanji untuk tidak mengulanginya. Jadi, jangan membahas masalah ini lagi karena aku akan sangat kesal padamu."


Ia saat ini mengingat jika sang suami sudah melaporkan mantan mertuanya tersebut. "Apa Mama akan ditangkap ketika berada di London? Ataukah menunggu sampai kembali ke Jakarta?"


Austin kemarin sudah membicarakan itu dengan pengacara keluarga dan setelah mengajukan tuntutan dan membahas dengan pihak kepolisian, masih membutuhkan beberapa proses lagi. Hingga nanti ketika semuanya selesai, akan menangkap wanita itu, meski di manapun posisinya.


"Kita lihat saja nanti, Sayang. Biar polisi yang mengurusnya dan kamu fokus aja pada kandunganmu. Aku akan menyuruh orang untuk membelikan sim card baru agar tidak bosan berada di rumah sakit dengan diam saja," ucap Austin yang kini bangkit berdiri dari posisinya.


"Mau ke mana?" Diandra khawatir jika sang suami masih kesal padanya dan pergi.

__ADS_1


"Mau berbicara dengan dokter sebentar. Aku akan kembali sebentar lagi," ucap Austin yang kini tersenyum simpul dan melangkah keluar.


To be continued...


__ADS_2