Konspirasi Cinta

Konspirasi Cinta
Menutup diri


__ADS_3

Pagi-pagi sekali, Diandra sudah bersiap untuk meninggalkan apartemen yang merupakan milik saudara sepupu Yoshi. Ia saat ini membawa koper miliknya keluar dari ruangan kamar yang sudah dirapikan.


Bahkan semalaman ia tidak bisa tidur nyenyak karena hanya beberapa jam saja lalu dalam alam bawah sadar. Pukul empat pagi ia sudah bangun, padahal semalam tidur pukul 02.00 karena memikirkan tentang hidupnya yang penuh dengan liku-liku.


Akhirnya Diandra tidak melanjutkan tidurnya dan memilih untuk membersihkan semua ruangan di apartemen agar kembali seperti semula dan tetap bersih ketika ia pergi.


Sampai saat ia berjalan menuju ke arah pintu keluar, menghembuskan napas kasar karena merasa sangat berat meninggalkan tempat yang menjadi kenangan manis bersama dengan pria yang dicintai.


Sebelum membuka pintu, Diandra menaruh sebuah kertas berisi goresan pena yang merupakan isi hatinya untuk Yoshi di atas meja yang ada di ruangan depan.


"Saat masuk, kamu bisa melihat suratku ini," ucapnya dengan bola mata berkaca-kaca dan saat ini melirik mesin waktu di pergelangan tangan kirinya yang menunjukkan masih pukul 05.00 pagi.


Diandra rencana untuk pergi ke terminal, meskipun belum tahu tempat tujuan, tapi berpikir jika sudah sampai di sana, akan memilih untuk pergi ke mana.


Kini, ia berjalan keluar dengan membawa koper menuju ke arah sambil beberapa kali mengusap kasar pipinya yang sudah dihiasi oleh bulir air mata kesedihan.


"Semoga kuat menjalani semua cobaan yang Engkau berikan padaku, Tuhan. Aku yakin jika ada rencana yang lebih indah untukku dan sudah engkau atur sedemikian rupa untuk mengetes apakah pundakku kuat menjalani semua cobaan dari-Mu."


Diandra sangat takut jika Austin akan datang saat mentari menyemburkan senyumannya. Jadi, berpikir untuk segera pergi dari sana agar tidak melihat lagi pria yang dibenci itu.


"Ayah, ibu, maafkan aku karena harus menghilang untuk sementara waktu. Karena aku tidak bisa mematuhi perintah kalian untuk menikah dengan pria yang sangat kubenci," ucap Diandra sambil menatap angka digital yang bergerak menuju ke lantai dasar.


"Uang hasil menjual harga diriku bisa membuat ayah dan ibu tenang karena bisa melunasi utang serta biaya hidup sehari-hari dan juga membayar perawatan setelah keluar dari Rumah Sakit." Diandra saat ini mengeluarkan ponsel miliknya dan memesan taksi online.


Karena ia membawa koper dan suasana masih terlalu pagi, sehingga memilih untuk memesan taksi daripada naik ojek online. Saat bunyi denting lift terdengar dan beberapa saat kemudian pintu kotak bersih tersebut terbuka, sehingga membuatnya langsung melangkahkan kaki jenjangnya menuju ke arah lobi apartemen.


Selama menunggu taksi yang, lagi Dan lagi berbagai macam kenangan yang berhubungan dengan Yoshi membuatnya merasa sangat sesak.


Hingga berpikir bahwa ia tidak ditakdirkan untuk hidup bahagia bersama dengan orang yang tulus mencintainya.


"Aku tidak akan pernah jatuh cinta lagi karena rasanya sesakit ini ketika mencintai tidak bisa memiliki. Bahkan rasa rinduku terpatahkan oleh waktu dan takdir karena Yoshi sudah menjadi milik orang lain dan aku tidak berhak memiliki perasaan padanya." Diandra kembali menghembuskan napas kasar dan beberapa saat kemudian melihat taksi yang dipesan berhenti di hadapannya.


"Dengan Mbak Diandra?" tanya sopir taksi yang baru saja membuka kaca mobil.

__ADS_1


Diandra seketika menganggukkan kepala dan masuk ke dalam mobil dengan duduk di kursi belakang. Ia hanya diam saja melihat kendaraan melaju meninggalkan area apartemen yang dari tadi ditatapnya.


'Selamat tinggal kenangan. Yoshi, maafkan aku karena pergi tanpa pamit padamu. Seolah adalah seorang wanita yang tidak tahu balas budi karena pergi tanpa menceritakan bahwa aku sudah mengetahui semuanya,' gumam Diandra yang saat ini menoleh ke belakang dan bisa melihat bangunan megah berdiri menjulang yang beberapa hari menjadi tempat tinggalnya.


Saat ini, ia memilih untuk menonaktifkan ponselnya dan tidak ingin ada siapapun yang menghubungi, termasuk kedua orang tuanya yang telah memberikan restu penuh pada pria yang dibenci.


Hingga ia terdiam sambil memikirkan mengenai tempat tujuan yang akan menjadi pilihannya menenangkan diri sementara waktu.


'Aku sekarang harus pergi ke mana? Aku bahkan tidak punya teman di luar kota untuk menjadi tempat tujuan pergi.' Diandra saat ini terdiam dan menatap ke arah pria di balik kemudi.


"Maaf Mas, apakah aku boleh bertanya sesuatu?"


Sang supir yang masih terlihat muda tersebut melirik ke arah spion dan membuka masker. "Iya, Mbak. Mau tanya tentang apa?"


"Apakah Mas ada rekomendasi tempat yang bagus untuk menenangkan diri?" Diandra merasa bingung harus menjelaskan bagaimana, tapi yang jelas iya ingin menenangkan diri terlebih dahulu selama beberapa hari sebelum kembali mencari pekerjaan agar bisa memenuhi kebutuhan hidupnya.


Tentu saja pria yang merupakan sopir taksi tersebut mengerutkan kening karena merasa bingung untuk menjawab. Hingga akhirnya ia membuka suara untuk menjelaskan sesuatu hal yang ada di pikirannya saat ini.


"Kalau menurut saya, Mbak pergi saja ke tempat yang suasananya indah dan menenangkan jika ingin mencari ketenangan. Contohnya seperti di daerah perbukitan atau pegunungan, pantai maupun kebun teh di puncak. Kebetulan saya berasal dari puncak dan memilih untuk merantau ke Jakarta karena bosan hidup di sana."


Sementara itu, Diandra membenarkan apa yang baru saja didengarnya. "Kenapa tidak terpikirkan hal seperti itu di pikiranku? Sepertinya menghabiskan waktu di tempat dengan pemandangan indah, akan lebih baik."


Akhirnya Diandra yang kini sudah menemukan tempat tujuan, merasa lega. "Terima kasih, Mas. Karena aku ingin mencoba sesuatu yang membuat Mas bosan berada di puncak, sepertinya aku akan ke sana."


Kini, Diandra sudah membayangkan banyak hal yang akan dilalui ketika berada di area puncak yang menjadi tempat favorit para keluarga menghabiskan weekend.


Ia tahu bahwa menginap di villa yang ada di puncak membutuhkan banyak uang dan pasti akan menguras tabungannya. Namun, ia ingat bahwa Austin dulu mentransfer uang sebagai biaya makan satu bulan dan sama seperti gajinya beberapa bulan bekerja di perusahaan.


Jadi, berniat untuk memanfaatkan itu dan menghabiskannya untuk menenangkan diri tanpa memperdulikan jika itu adalah uang dari pria yang dibenci.


"Kalau begitu, selamat menikmati hidup di daerah pegunungan dengan banyaknya tanaman teh di kanan kiri yang pastinya akan membuat bosan," ucap sang sopir yang saat ini merasa heran pada wanita yang duduk di belakang tersebut.


Padahal jelas-jelas mengatakan sangat bosan berada di daerah puncak, tapi malah penumpangnya tersebut ingin mencoba seperti apa rasa bosan yang ia alami.

__ADS_1


"Mas, di perkebunan teh itu Apakah sewaktu-waktu membuka lowongan untuk menambah pekerja?" Diandra berpikir bahwa setelah ia menenangkan diri, berniat untuk bekerja di perkebunan teh.


Ia yakin tidak akan ada yang mengenalinya dan Austin serta Yoshi tidak akan pernah menemukan keberadaannya.


"Kalau Mbak memang ingin bekerja di kebun perkebunan teh, Saya punya kenalan dan memiliki nomornya. Ia adalah salah satu pekerja di sana dan mungkin bisa membantu mbaknya untuk bekerja setelah berbicara dengan pemilik perkebunan."


Sang supir saat ini membuka ponsel miliknya begitu sampai di lampu merah karena ingin mencari kontak dari orang tua salah satu temannya. Kemudian langsung membacakan nomor tersebut agar disimpan oleh penumpang wanita di belakang itu.


"Terima kasih, Mas. Tuhan akan membalas kebaikanmu padaku," sahut Diandra yang baru saja selesai menyimpan nomor yang akan ia minta tolong untuk mencari pekerjaan setelah menenangkan diri.


Ia benar-benar merasa sangat bersyukur karena bisa bertemu dengan salah satu orang baik yang membantunya. Hingga ia berniat untuk memberikan uang lebih ketika nanti membayar.


"Hanya sebuah hal kecil saja, Mbak. Tidak perlu sungkan. Oh ya, nanti katakan saja bahwa mbaknya adalah temanku di Jakarta. Namaku Seftya," ucap yang saat ini berbicara sambil terus menatap ke arah jalanan yang dilalui.


Jika berapa beberapa saat lalu matahari belum menyembulkan senyuman, tapi sekarang suasana yang tadinya gelap sudah berangsur cerah dan rembulan mulai perlahan tenggelam.


Diandra yang saat ini tersenyum simpul, merasa sangat lega begitu menemukan tempat tujuan dan berhasil meninggalkan dua pria yang bertolak belakang dan meninggalkan banyak kenangan untuknya, baik itu buruk maupun manis.


Ia kembali mengucapkan terima kasih dan saat ini bersandar pada punggung mobil serta memejamkan kedua mata yang terasa pedas karena hanya tidur selama dua jam saja.


'Pusing sekali," keluh Diandra yang saat ini terlihat memijat pelipis.


Saat ia sibuk memijat pelipis dengan kedua mata terpejam, kembali mendengar suara dari sang supir dan membuatnya seketika membuka kelopak mata.


"Apa aku boleh meminta nomor Mbak?" tanya sang sopir yang berharap bisa berhubungan lebih dekat dengan wanita yang menurutnya memiliki paras yang cantik itu.


Apalagi ia sampai sekarang masih jomblo dan belum mempunyai tambatan hati. Jadi, berpikir Tidak ada salahnya untuk mendekati seseorang yang duduk di belakang tersebut. Namun, jawaban dari sang penumpang membuatnya merasa kecewa.


"Maaf, Mas. Aku saat ini ingin menenangkan diri dan tidak ingin berhubungan dengan siapapun," ucap Diandra dengan jujur karena tidak ingin memberikan harapan pada seseorang.


Apalagi berjanji tidak akan membuka hati lagi karena tidak ingin terluka untuk kesekian kalinya. Apalagi setelah mencatat nomor ponsel dari salah satu pekerja di kebun teh itu, kembali menonaktifkan ponselnya agar tidak ada yang bisa menghubungi.


Bahkan ia akan mengganti nomor baru agar tidak ada siapapun yang mengetahui keberadaannya. 'Aku tidak ingin memakai nomor yang lama karena bisa diketahui keberadaanku melalui GPS yang ada di ponsel.'

__ADS_1


"Aaah ... seperti itu? Baiklah, Mbak. Aku pun karena tipe pria yang suka memaksa meminta nomor wanita. Semoga saja kita bisa bertemu di puncak saat aku pulang." Pria yang saat ini tengah menatap sekilas ke spion, ingin melihat ekspresi wajah dari wanita yang terkesan menutup diri itu.


To be continued...


__ADS_2