
Diandra mengakhiri ceritanya setelah mengungkapkan semua hal yang menjadi penyebab ia berakhir hamil. Bahkan ia berurai air mata saat menceritakan Yoshi karena sampai sekarang belum bisa melupakan pria yang membuatnya merasa menjadi satu dan dicintai teramat besar.
Meskipun takdir tidak berpihak padanya karena pria yang merupakan Dewa penyelamat untuknya bukanlah jodohnya. Kini, Diandra ingin mendengar apa pendapat dari pasangan suami istri yang sudah banyak makan asam garam di dunia.
Ia tidak perduli akan dihujat oleh banyak orang karena hamil diluar nikah, tapi pendapat dari pasangan suami istri tersebut sangat penting baginya. Apalagi ia saat ini tinggal di rumah mereka dan pastinya akan mendapatkan sebuah penghinaan karena mencemarkan nama baik mereka setelah kehamilannya diketahui banyak orang.
"Aku tidak ingin membuat nama baik kalian tercemar hanya gara-gara aku. Jadi, sebaiknya aku pergi karena kehamilanku ini lama-kelamaan akan membesar dan diketahui oleh banyak orang. Semua orang pasti akan mengusirku dari sini karena membuat nama kalian buruk."
Saat Diandra mengusap bulir air mata yang membasahi wajahnya, ia berusaha untuk mencoba kuat dan menyadari bahwa menggugurkan kandungan adalah perbuatan yang sangat dilaknat oleh Allah karena mengakhiri nyawa yang sudah dihadirkan di rahimnya.
Jika ia tadi berniat untuk menggugurkan kandungan begitu mengetahui hamil benih Austin, tapi setelah mendengar komentar dari pasangan suami istri tersebut, membuatnya merasa berdosa dan mengurungkan niat untuk mengakhiri nyawa yang telah dihadirkan di rahimnya.
Emran dan sang istri saling bersikap begitu mengetahui semua cerita perihal kisah perjalanan hidup Diandra yang memilukan. Hingga ia pun mengerti bagaimana perasaan seorang wanita yang harus berkorban demi menyelamatkan sang ayah.
Kini, Emran makin merasa iba pada Diandra dan mengungkapkan apa yang ada di pikirannya. "Diandra, kamu sama sekali tidak bersalah dalam hal ini dan juga hal demikian suatu hal pada janin yang sekarang tumbuh di rahimmu."
"Jadi, kamu harus menerima semua yang terjadi padamu dan tidak mengakhiri nyawa janin yang sama sekali tidak berdosa itu. Kami sama sekali tidak mempermasalahkan kehamilanmu, jangan berpikir untuk pergi saat kondisimu seperti ini."
"Tetaplah tinggal bersama kami dan kami akan merawatmu serta janin yang ada dalam rahimu agar tumbuh sehat dan bisa lahir ke dunia ini dengan selamat tanpa kekurangan suatu apapun." Menatap ke arah sang istri untuk meminta pendapat agar menyambung apa yang disampaikan.
Sementara itu, sosok wanita paruh baya yang saat ini masih berada di atas ranjang perawatan sebelah Diandra, saat ini menganggukkan kepala sebagai tanda persetujuan.
"Iya, kamu benar, Sayang. Aku tidak akan pernah mengizinkan Diandra pergi saat kondisinya hamil seperti ini." Kemudian beralih menatap ke arah Diandra yang terlihat pucat. "Aku sudah menganggapmu seperti putriku sendiri, mana mungkin membiarkanmu pergi dalam kondisi seperti ini."
Ia pun kembali memeluk erat tubuh lemah di antara untuk memberikan suntikan semangat agar tidak putus asa menghadapi cobaan yang menimpanya.
Diandra benar-benar merasa sangat terharu dengan kebaikan pasangan suami istri tersebut yang masih mau menerimanya meskipun saat ini tengah hamil di luar nikah.
"Nyonya, maafkan aku karena telah membuat Anda khawatir. Juga pada tuan Imran yang selalu baik padaku meskipun aku mempermalukan kalian. Apa yang harus kulakukan sekarang? Aku benar-benar tidak mau jika kalian mendapatkan dampak dari kehamilanku."
Diandra benar-benar merasa tidak ingat mendapatkan kebaikan dari dua orang yang sudah menjadi tempat ia berkeluh kesah tersebut. "Keluarga kalian akan mendapatkan sebuah penghinaan jika semua orang mengetahui kehamilanku ini. Aku harus pergi dan tidak ada orang yang bisa menghina kalian."
Karena merasa kesal saat Diandra tidak bisa dinasihati, refleks Citra mengarahkan tangannya untuk mencubit lengan wanita yang dianggap sangat berlebihan ketika memikirkan nama baik keluarga.
"Dasar bandel kalau dibilangin. Kamu tidak boleh pergi ke mana-mana dan harus tetap tinggal di rumah bersama kami, titik! Apa kamu paham?" Bahkan Citra mendengar suara kesakitan dari Diandra akibat perbuatannya.
Ia sama sekali tidak perduli karena merasa kesal ketika di Anda sangat sulit untuk dinasihati olehnya.
"Aaarggh ... Nyonya, sakit sekali!" Diandra seketika mengusap lengannya yang terasa panas sekaligus nyeri akibat hukuman dari wanita paruh baya yang sudah menganggapnya sebagai Putri sendiri dan dianggap sebagai ibu pengganti wanita yang melahirkannya.
Sementara itu, Emran hanya tertawa melihat interaksi antara sang istri dengan diantaranya seperti hubungan antara ibu dan anak yang penuh dengan kasih sayang dan terkadang diwarnai dengan perdebatan.
"Makanya nurut kalau dibilangin sama orang tua!" sarkas Citra yang saat ini hanya tertawa melihat raut wajah menggemaskan dari Diandra dan sudah tidak sepucat tadi.
"Iya, Nyonya. Maafkan aku karena selalu egois memikirkan diri sendiri." Diandra ingin mendengar solusi dari suami istri tersebut mengenai apa yang harus dilakukannya saat ini ketika ada nyawa yang harus dilindunginya.
__ADS_1
"Setelah mendengar semua hal yang terjadi padaku, apa kalian mempunyai solusi untuk masalahku? Kira-kira apa yang harus kulakukan?" Diandra mencoba untuk menerima saran dari orang lain dan tidak bersikap egois karena ia tahu bahwa saat ini tengah hamil benih Austin.
Bahkan saat ini berpikir untuk meminta pertanggungjawaban dari Austin yang dulu berjanji ingin menikahinya. Jika dulu ia menolak untuk dinikahi Austin karena tidak ingin hidup dengan pria yang sangat dibenci, tapi berbeda ketika ia menyadari jika janin yang ada di dalam rahimnya membutuhkan status agar tidak disebut sebagai anak haram.
"Aku tidak mau janin ini nanti disebut anak haram oleh semua orang dan pastinya anakku akan menjadi korban dari keegoisan orang-orang dewasa. Padahal seperti yang dikatakan oleh Tuan Emran tadi bahwa ia tidak aku dilahirkan dari rahim siapa." Diandra berpikir ingin menikah dengan Austin demi status janin yang ada dalam rahimnya.
Ia berniat untuk bercerai setelah bayi dilahirkan dan yang terpenting sudah mendapatkan status memiliki seorang ayah. Namun, ia masih berusaha untuk mendengar apa kira-kira pendapat dari pasangan suami istri yang diketahuinya adalah orang-orang bijak dan bisa berpikir jernih.
Hingga ia mendengar suara bariton dari pria paruh baya yang berdiri tak jauh dari tempatnya berbaring.
"Kamu tidak perlu berbuat apa-apa, Diandra. Biar aku yang membantumu untuk menyelesaikan masalah yang kamu hadapi. Sekarang katakan siapa nama pria yang merupakan ayah biologis dari janin yang ada dalam rahimmu."
"Biar aku yang berbicara dengannya untuk mengatakan bahwa dia harus bertanggung jawab menikahimu karena telah menghadirkan nyawa yang tidak berdosa di rahimmu." Emran merasa penasaran dengan siapa pria yang diketahui sangat mencintai Diandra dan ingin menikahinya.
Bahkan ia merasa jika masalah Diandra akan segera selesai begitu pria yang diketahui ingin menikahi diantara tersebut mengetahui memiliki keturunan yang akan hadir ke dunia.
Citra yang saat ini sependapat dengan sang suami, jika menganggukkan kepala sebagai tanda persetujuan. Ia yang tadi mendengar cerita, sudah bisa mengerti jika pria yang merupakan ayah biologis dari janin dalam rahim Diandra tersebut sangat mencintainya.
"Pria itu pasti sangat mencintaimu hingga menghalalkan segala cara untuk bisa menikahimu karena pergi menemani menemui orang tuamu untuk melamarmu menjadi istrinya. Sekarang katakan siapa nama pria itu, Diandra. Biar suamiku pergi ke Jakarta untuk menemuinya."
"Kamu saat ini sedang tidak fit karena efek kehamilan trimester pertama, tidak perlu bersusah payah untuk menemui pria itu." Citra benar-benar penasaran penasaran dengan siapa sosok pria yang telah tergila-gila pada Diandra.
Meskipun dari cerita Diandra, ia tahu bahwa pria itu terobsesi dengan cintanya dan rela melakukan apapun untuk bisa mendapatkan wanita yang diinginkan. Seperti datang pada orang tua Diandra untuk meminta restu.
Akhirnya ia menyebutkan nama lengkap Austin dan pada pria paruh baya tersebut yang tadi mengatakan akan menemui Austin. "Pria itu adalah seorang pengusaha di Jakarta."
Emran kini kini terdiam beberapa saat begitu mendengar nama yang disebutkan oleh Diandra seperti sangat tidak asing di telinganya. "Sebentar, nama itu serasa tidak asing di telingaku.
Austin Matteo?"
Kemudian ia mengambil ponsel miliknya dan mencari di mesin pencarian mengenai nama itu. Hingga ia bisa melihat sosok pria yang sering dilihatnya di televisi serta media sosial, khususnya adalah sang ayah.
"Aaah ... benar apa yang kupikirkan bahwa aku pernah bertemu dengan ayahnya di Jakarta ketika menghadiri undangan para pengusaha. Perusahaan Matteo sangat terkenal di Jakarta dan sudah malah melintang selama puluhan tahun." Emran tidak menyangka jika ternyata dia yang menghamili Diandra adalah putra dari seseorang yang pernah dijumpainya dulu.
Sementara itu, Diandra yang belum pernah bertemu dengan ayah Austin sekalipun, diam karena tidak tahu seperti apa sosok Malik Matteo yang disebutkan oleh pria di hadapannya.
Hingga ia mendengar pertanyaan dari wanita paruh baya di hadapannya yang mewakili pertanyaannya juga.
"Memangnya pria seperti apa Malik Matteo itu? Bukankah akan lebih baik jika berbicara dengannya karena merupakan ayah dari Austin Matteo dan menjadi kakek janin di rahim Diandra?" tanya Citra yang saat ini merasa lega karena sang suami ternyata mengetahui tentang keluarga Matteo.
Diandra hanya dia menunggu jawaban dari pria itu karena jujur saja saat ini tidak tahu harus melakukan apa karena hidupnya terasa makin menderita dan tidak berharga saat hamil di luar nikah. Ia benar-benar menyesal karena tidak menerima Austin yang dulu ingin bertanggung jawab menikahinya.
Meskipun penyesalannya bukan karena ia mencintai Austin, memikirkan status anak haram yang akan disandang oleh janin di rahimnya ia sama sekali tidak bersalah apa-apa.
"Aku hanya butuh status dengan nama keluarga besar Matteo di belakang anak yang akan kulahirkan, tapi tetap saja harus mendapat persetujuan dari orang tua pria berengsek itu. Jadi, sepertinya benar apa yang dikatakan normal jika orang tua Austin harus mengetahuinya."
__ADS_1
Diandra sebenarnya ingin ikut pergi ke Jakarta untuk menemui Austin dan menuntut pertanggungjawaban, jika perkataan pasangan suami istri tersebut. Bahwa kondisinya sedang tidak fit akhir-akhir ini dan sering gampang lelah meskipun tidak melakukan apapun.
Membayangkan harus melakukan perjalanan jauh dari puncak ke Jakarta saat kondisinya tidak fit, membuatnya yakin hanya akan berakhir di rumah sakit.
"Pria bernama Malik Matteo sangatlah arogan yang sombong. Aku benar-benar sangat malas menemuinya karena nanti malah akan dianggap seperti seorang pengemis." Emran tidak bisa melupakan perbincangannya dulu dengan pria yang dianggap sangat sombong tersebut yang membanggakan bisnisnya di hadapan banyak orang.
"Jadi, lebih baik aku menemui Austin Matteo saja karena dari ceritamu, bisa kutebak bahwa dia sangat mencintaimu dan tidak akan keberatan untuk segera menikahimu." Ia perencanaan untuk berangkat besok pagi ke Jakarta menemui Austin Matteo.
Citra dan Diandra saling bersitatap begitu mengetahui semua cerita dari pria itu.
Khususnya Diandra yang sama sekali tidak keberatan dengan apapun yang dilakukan oleh pria paruh tersebut karena yang terpenting baginya hanyalah bisa segera mendapatkan status istri agar tidak dihina sebagai wanita murahan yang hamil diluar nikah.
Ia juga ingin anaknya tidak dihina sebagai anak haram setelah dilahirkan nanti karena memiliki seorang ayah. "Tapi aku hanya menginginkan status saja demi janin yang ada di rahimku ini, Tuan Emran."
"Jadi, tolong katakan itu pada Austin agar dia sadar bahwa aku melakukan ini demi nyawa yang dihadirkan di sini." Diandra mengusap perutnya yang masih datar dan berusaha untuk menerima kehamilannya.
Hingga ia merasa jiwanya jauh lebih tenang begitu menerima kehamilan yang sama sekali tidak diinginkan.
"Janin ini akan terus berkembang dan lama-kelamaan perutku membuncit, lalu melahirkan nyawa baru ke dunia. Semoga aku bisa menjadi ibu yang baik untuk anakku suatu saat nanti," lirih di antara yang mendengar pasangan suami istri tersebut mengaminkan harta yang baru saja diungkapkan.
Hingga ia pun kini berpikir jika sesuatu hal yang berhubungan dengan kehamilannya harus diketahui oleh ayah biologis dari janin di rahimnya tersebut.
"Apa kamu mempunyai nomor pria itu, Diandra?" tanya Emran yang saat ini berpikir untuk menghubungi terlebih dahulu sebelum datang ke Jakarta.
Refleks Diandra menggelengkan kepala karena ia sudah menghapus nomor Austin sertai Yoshi karena berpikir ingin membuka lembaran baru di tempat yang baru.
"Tidak ada, Tuan Emran," dari ciandra yang menyesalkan perbuatannya, sudah terlambat menyesali semuanya.
"Baiklah. Kalau begitu, besok pagi aku akan berangkat ke Jakarta untuk menemui Austin Matteo," ucap Emran yang saat ini merasa jika penyesalan Diandra saat tidak melanjutkan rencana untuk menggugurkan kandungan sudah cukup baik.
Bahwa nasihatnya didengar oleh Diandra yang tadi terlihat sangat mengenaskan ketika pertama kali mendengar kehamilan.
Sementara itu, Citra saat ini berpikir jika permasalahan Diandra sudah selesai dan melihat wanita itu tidak sepucat tadi, sehingga membuatnya merasa sangat lega.
"Semoga semuanya berjalan lancar dan kamu bisa segera mendapatkan status sebagai seorang istri dan janin di rahimmu juga tidak akan disebut anak haram oleh orang-orang. Meskipun aku tahu bahwa kata anak haram adalah sebuah hal yang sangat salah dan tidak berperasaan."
"Karena janin yang hadir di dunia karena perbuatan orang-orang dewasa adalah tidak bersalah. Namun, dogma anak haram sudah menjadi kebiasaan di masyarakat kita, seolah sudah mendarah daging dan tidak bisa dirubah."
Citra saat ini mengusap punggung tangan Diandra agar tidak lagi merasa bersedih ketika memikirkan tentang berbagai pendapat orang lain mengenai kehamilannya. "Jadi, memang jauh lebih baik jika kamu menikah dengan Austin meskipun itu demi sebuah status janin yang berada di rahimmu."
Diandra hanya mengangguk lemah dan pasrah dengan takdir yang membawanya sampai ke titik di mana ia kini hamil benih Austin. "Iya, Nyonya. Setelah hari ini, aku hanya akan hidup demi kebahagiaan anakku."
"Aku akan berusaha menjadi ibu yang baik dan memberikan segalanya padanya agar ia tidak menyesal memiliki seorang ibu sepertiku." Diandra saat ini hanya untuk menetap ke arah perutnya yang masih datar dan berusaha untuk menerima semua takdir yang harus dijalani dengan baik.
To be continued...
__ADS_1