Konspirasi Cinta

Konspirasi Cinta
Lamaran


__ADS_3

Austin yang saat ini baru saja membukakan pintu mobil untuk calon ayah mertua dan mengetahui bahwa pria paruh baya tersebut tengah berbicara di telpon dengan putrinya. Merasa sangat penasaran, ingin segera mengetahui mengenai apa yang dibicarakan oleh Diandra.


Jadi, begitu pria paruh baya tersebut mematikan sambungan telpon, langsung mengungkapkan apa yang ingin diketahui.


"Kenapa Ayah berbohong pada Diandra dengan mengatakan bahwa saat ini sedang berada di toko untuk membeli pesanan? Memangnya apa yang ingin Diandra beli? Biar aku yang membelikan karena merupakan calon suaminya."


Ayah Diandra saat ini memasang sabuk pengaman dan menatap ke arah calon menantu idaman yang duduk di balik kemudi tersebut.


"Sebenarnya Diandra menyuruhku untuk merahasiakan hal ini darimu karena jika memberitahu, bukanlah menjadi sebuah kejutan."


"Aku justru ingin segera mengetahui daripada mendapatkan kejutan yang membuatku bertanya-tanya," sahut Austin tanpa pikir panjang karena benar-benar dikuasai oleh rasa ingin tahu.


Ayah Diandra saat ini mengingat pembicaraan dengan putrinya satu minggu yang lalu setelah pulang dari rumah sakit.


***


Satu minggu lalu ...


"Ayah, Ibu, setelah kupikirkan selama beberapa hari berada di rumah sakit, tidak ingin pergi ke luar negeri." Diandra yang baru saja menyelesaikan ritual makan malam bersama orang tua di apartemen yang kini sudah menjadi tempat tinggal mereka.


"Apa maksudmu? Apa kamu tidak setuju dengan niat baik dari calon suamimu yang ingin memberikan pengobatan terbaik agar segera bisa berjalan lagi?" tanya sang ibu yang sangat terkejut dengan perkataan putrinya yang begitu tiba-tiba.


Begitu juga dengan sang ayah yang merasa sangat terkejut karena saat ini berpikir bahwa putrinya tengah putus asa setelah mengalami kelumpuhan akibat kecelakaan, sehingga berubah pikiran untuk berobat karena pesimis bisa berjalan lagi.


Namun, melihat putrinya yang menggelengkan kepala, semakin membuat pasangan suami istri paruh baya tersebut merasa bingung dan kini saling bersitatap. Seolah sama-sama ingin segera mengetahui apa yang dimaksud oleh Diandra.


Diandra sama sekali tidak membenarkan pemikiran dari orang tuanya karena itu bertentangan dengan apa yang dimaksud.


"Bukan seperti itu yang membuatku tidak ingin pergi ke luar negeri untuk berobat agar bisa berjalan kembali. Sebenarnya aku mulai menyayangi Aksa seperti putra kandungku sendiri."


Refleks orang tua itu kembali saling bertatapan karena perkataan dari putri mereka benar-benar membangkitkan rasa bersalah sekaligus terharu karena ikatan batin antara ibu dan anak tidak bisa dibohongi ataupun dimusnahkan hanya dengan amnesia.


"Selama ini, Austin sudah banyak berkorban dan memberikan semua hal terbaik untukku. Jadi, sekarang aku ingin membalas budi semua hal yang dilakukan dengan membatalkan rencana pergi ke luar negeri untuk berobat."


"Aku tidak ingin Austin semakin banyak berkorban hanya demi wanita sepertiku. Jika kami benar-benar pergi berobat ke luar negeri, ia akan meninggalkan perusahaan, putranya dan semua orang yang dikasihi. Aku tidak ingin itu terjadi, khususnya memisahkan ayah dan anak."

__ADS_1


Selama berada di rumah sakit, sering dikunjungi oleh Aksa dan membuatnya merasa sangat menyayangi anak laki-laki yang dianggap sangat menggemaskan tersebut.


Apalagi terbiasa dipanggil mama dan benar-benar merasakan ada sesuatu yang menariknya hingga bisa membuatnya menyayangi Aksa seperti putra kandungnya sendiri.


Jadi, begitu Austin menceritakan semua rencana untuk mengajak pergi ke luar negeri untuk berobat agar bisa berjalan kembali, hal yang terpikirkan adalah Aksa.


Austin mengatakan hanya akan pergi tanpa membara Aksa dan hal itu membuatnya merasa sangat bersalah. Kini, Diandra menatap ke arah orang tuanya.


"Sebelum Austin melamarku secara langsung pada kalian, aku ingin memberikan sebuah kejutan. Jadi, membutuhkan bantuan Ayah dan Ibu."


"Bantuan?" tanya orang tua Diandra yang saat ini tengah merasa bingung dengan kejutan apa yang direncanakan oleh putri mereka saat ini.


Diandra tersenyum simpul sambil menganggukkan kepala. "Karena aku merasa hanyalah seorang wanita yang tidak pantas untuk pria sebaik Austin, jadi memutuskan melamar calon suamiku."


"Apa? Melamar?" teriak sang ibu yang saat ini membulatkan mata karena sama sekali tidak pernah menyangka jika putrinya akan melakukan hal yang tidak mungkin dilakukan oleh seorang wanita.


Karena setahunya yang selama ini terjadi, seorang pria yang melamar, bukan wanita. "Apa kamu yakin dengan keputusanmu, Putriku?"


Sang ayah yang saat ini hanya diam saja karena tengah mencerna apa yang baru saja dikatakan oleh putrinya. 'Putriku seolah menjadi orang lain begitu mengalami amnesia.'


Kemudian menatap ke arah putrinya untuk menegaskan sesuatu yang membuatnya ragu.


"Jadi, sekarang kamu rela untuk menghabiskan seumur hidup di atas kursi roda? Bukankah itu akan semakin menambah pengorbanan Austin untukmu karena harus mengurus istri yang tidak bisa berjalan?"


"Aku akan tetap melakukan pengobatan agar bisa berjalan seperti dulu, tapi di negara ini. Aku sangat yakin ada dokter terbaik di negara ini yang bisa menyembuhkanku dari kelumpuhan." Diandra berencana untuk kembali bekerja di perusahaan sambil melakukan terapi karena ingin menyibukkan diri.


Berpikir bahwa dengan menyibukkan diri, akan sedikit mengobati rasa sedihnya ketika melihat kedua kaki yang cacat jika tidak ada kegiatan selama di apartemen.


Bahkan merasa sangat bosan jika harus seharian di rumah tanpa melakukan kegiatan apapun. Berpikir agak sedikit terhibur jika disibukkan oleh pekerjaan mulai dari pagi hingga sore hari ketika bekerja di kantor seperti dulu.


Kemudian pulang ke rumah dan merasakan kepenatan, sehingga akan langsung pergi tidur dan tidak banyak membuang waktu dengan meratapi nasib malang yang dialami.


"Aku ingin Ayah membelikan cincin untuk Austin karena tidak mungkin pergi karena harus banyak beristirahat seperti saran dari dokter."


Saat mulai mengerti dengan keinginan dari putri mereka, orang tua Diandra memilih untuk menuruti apapun yang diinginkan agar selalu merasa senang dan tidak kecewa.

__ADS_1


Apalagi melihat keadaan putri mereka yang hanya bisa menghabiskan waktu di atas kursi roda, tentu saja benar-benar tidak tega.


Kini, sang ayah tersenyum simpul dan mengiyakan apa yang baru saja dikatakan oleh putrinya. "Kalau begitu, besok akan Ayah belikan cincin untuk lamaranmu pada Austin. Namun, Ayah tidak menjamin apakah ukuran bisa pas atau kebesaran."


"Tidak apa-apa, Ayah karena yang penting adalah kejutan lamaranku dan jika nanti kebesaran di jari Austin, bisa menukarkan ke toko perhiasan." Diandra sebenarnya merasa ragu untuk mengungkapkan pemikiran itu pada orang tuanya.


Namun, berpikir bahwa waktu akan semakin dekat untuk pergi ke luar negeri demi membuatnya bisa berjalan kembali, sehingga memutuskan untuk segera memberitahu orang tua.


Ia benar-benar sangat yakin saat ini karena sama sekali tidak ada keraguan untuk menyerahkan seluruh hidupnya pada sosok pria yang selama ini dianggap sangat mencintainya dengan teramat besar karena masih mau menerima keadaannya yang cacat.


***


Ayah Diandra mengakhiri cerita dan saat ini masih melihat Austin belum menyalakan mesin mobil untuk melaju meninggalkan tempat mereka bertemu.


"Jadi, seperti itu ceritanya dan aku gagal untuk menjaga rahasia putriku yang ingin memberikan kejutan untukmu. Sekarang kita beli cincin untukmu." Ia sebenarnya merasa perasaan kali ini benar-benar diliputi keharuan luar biasa saat bisa mengungkapkan hal yang seharusnya adalah sebuah rahasia tersebut.


Namun, sekaligus bangga karena mempunyai calon menantu baik hati dan sangat mencintai putrinya, sehingga tidak ada alasan untuk menolak ataupun tidak memberikan restu.


"Aku menyerahkan tanggung jawab untuk membahagiakan Diandra padamu." Kemudian menepuk bahu kokoh pria yang dari tadi hanya diam tanpa berkomentar apapun.


Sementara itu, Austin saat ini berjuang untuk tidak menunjukkan rasa haru luar biasa begitu mengetahui jika wanita yang selama ini dipuja, perencanaan untuk memberikan sebuah kejutan luar biasa.


Bahkan tidak bisa berkomentar apapun karena jujur saja saat ini sebenarnya ingin sekali keluar dari mobil dan berteriak dengan sangat kencang untuk meluapkan kebahagiaan yang dirasakan.


Kemudian ia menoleh ke arah ayah dari wanita yang ingin dibahagiakan olehnya. "Ayah, aku akan mengikuti akting kalian untuk tidak mengetahui mengenai kejutan dari Diandra."


"Aku berjanji akan membahagiakan Diandra selamanya," ucap Austin yang saat ini mengulas senyuman dan begitu melihat respon dari calon ayah mertua yang menganggukkan kepala sebagai persetujuan, lalu menyalakan mesin mobil dan mengemudikan kendaraan menuju ke toko perhiasan.


Bahkan meskipun saat ini tengah fokus menatap ke arah jalanan, ia tidak bisa menyembunyikan kebahagiaan luar biasa yang dirasakan.


'Diandra, aku bahkan tidak pernah menyangka jika kamu bisa berpikir seperti itu. Meskipun saat ini kamu berubah menjadi orang lain saat amnesia, tapi aku berharap saat kamu sembuh nanti, tetap akan mencintaiku sebesar ini.'


'Meskipun hanya berobat di sini, akan kupastikan kamu kembali bisa berjalan lagi,' gumam Austin yang saat ini tengah fokus mengemudi dengan menatap jalanan.


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2